• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

The Butterfly Effect: Virus Korona

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Quote:
0.jpg



Pernah mengpakai ramalan cuaca gan?
Sehari-hari, ane mengpakai ramalan cuaca untuk memperkirakan waktu yg tepat untuk menjemur baju & merencanakan perjalanan

The Butterfly Effect: Virus Korona


Tapi apakah ramalan cuaca benar-benar dapat dipercaya?
Faktanya, ramalan cuaca sering kali berubah. Jika saya melihat ramalan cuaca bahwa sore ini akan terjadi hujan, dapat saja kalau saya melihatnya lagi nanti siang, tiba-tiba ramalan berubah jadi sebaliknya.

Dengan perhitungan, kita dapat memprediksi secara pasti datangnya Komet Halley puluhan tahun ke depan.
Memprediksi gerhana ratusan tahun ke depan.
Juga memprediksi pergerakan tata surya kita hingga ribuan tahun ke depan. Ft: benda angkasa

Tapi cuaca?
Kita bahkan tidak dapat memastikan apa yg akan terjadi dalam beberapa jam ke depan.

Pergerakan benda angkasa yg ratusan juta kilometer, atau bahkan tahunan cahaya jauhnya, dapat kita perkiraan secara pasti. Sedangkan cuaca, yg terjadi di lapisan yg sama dengan atmosfer yg udaranya kita hirup, di lapisan yg sama dengan tempat kita hidup sehari-hari, masih jadi teka teki. Bagaimana dapat?

The Butterfly Effect: Virus Korona


Baik pergerakan planet maupun cuaca di masa mendatang, semuanya bergantung pada "initial condition" atau kondisi awal. Tapi untuk memperkirakan posisi komet atau planet di masa mendatang, membutuhkan variabel yg tidak banyak. Posisi, kecepatan, & letak pusat massa, sudah cukup untuk memprediksinya.
Sedangkan untuk memperkirakan cuaca secara akurat?
Mmmmm, kita perlu mengetahui kondisi dari setiap molekul udara yg ada di atmosfer bumi, bagaimana molekul tersebut berinteraksi satu sama lain, & bagaimana itu semua akan mempengaruhi satu sama lain.
Karena itu, sangatlah tidak mungkin untuk memprediksi cuaca lebih dari seminggu ke depan.
Faktanya, menganggap cuaca di pekan depan akan sama dengan cuaca pada tanggal yg sama di tahun lalu, dapat lebih seksama daripada perkiraan berdasarkan initial condition yg kita ketahui sekarang.

The Butterfly Effect: Virus Korona


Pada tahun 1960, seorang pakar meteorologi bernama Ed Lorentz mencoba menciptakan sebuah simulasi sederhana atmosfer bumi pada komputernya. Dia memasukkan 12 rumus & 12 variabel, seperti temperatur, kelembaban, tekanan udara, pergerakan, dll. Simulasi tersebut menggambarkan perubahan variabel tersebut dari waktu ke waktu, diprint dalam sebuah tabel yg tiap langkah waktu mengandung 12 kolom variabel.
Setelah itu Lorentz mencoba mengulangi simulasinya kembali untuk yg ke dua kali. Namun kali ini, supaya lebih cepat, beberapa variabel awal dia masukkan secara manual. Saat sedang menjalankan simulasinya, dia pergi sebentar untuk menciptakan secangkir kopi, & ketika dia kembali untuk melihat hasilnya, dia terpaku.

Hasil ke dua ini pada awalnya mirip dengan hasil pertama, namun semakin lama menghasilkan angka yg sangat jauh berbeda. Keduanya menggambarkan kondisi atmosfer yg sangat berbeda, alias cuaca yg jauh berbeda. Pikiran yg perdana muncul di kepala Lorentz saat itu, mungkin terdapat kesalahan pada komputernya, atau data yg diinputnya. Namun sebenarnya tidak.

Alasan sebenarnya adalah karena data yg dia print cuma memprint 3 angka di belakang koma, sedangkan pada simulasi yg perdana komputer menghitung dengan 6 angka di belakang koma. Maka ketika dia memasukkan kondisi awal dari printer tadi, terdapat disparitas kurang dari 0,001. Namun disparitas itu menghasilkan cuaca yg sangat jauh berbeda cuma pada jangka waktu yg relatif singkat.

Setelah itu Lorentz mencoba menyederhanakan persamaannya dengan cuma memasukkan 3 variabel dengan 3 persamaan. Tapi ternyata, yg dia dapati sama saja. Jika dia mengubah angkanya bahkan sedikit saja, maka akan menghasilkan kondisi atmosfer yg jauh berbeda. Sekarang fenomena seperti itu diketahui sebagai sensitive dependence on initial condition. Inilah yg kemudian diketahui sebagai "The Butterfly effect" atau "The Chaos Theory".

The Butterfly Effect ini sangat terkenal dalam budaya populer. Sangking populenya, di IMDB sendiri sekarang tercatat ada 65 film yg mengandung mengatakan "Butterfly Effect" pada judulnya.

Sebuah contoh kecil dari butterfly effect adalah di pertandingan bola. Jika saja Segio Ramos digantikan pada final Liga Champions antara Madrid & Dortmund, mungkin tidak akan ada yg mencetak gol di menit ke-94. Maka, dortmundlah yg jadi juara. Jika itu terjadi, mungkin Lewandosi akan tetap bermain untuk dortmund, & mungkin dortmund akan menarik banyak pemain hebat untuk bermain di liga jerman.

The Butterfly Effect: Virus Korona


Sekitar satu zaman yg lalu, seorang ilmuwan bernama Alexander Fleming meninggalkan labnya selama satu bulan untuk liburan.
Fleming adalah seorang ilmuwan yg sangat berantakan.
Selama liburan, di laboratoriumnya dia meninggalkan tumpukan cawan petri yg masih berisi bakteri staphylococci.

Ketika kembali dari liburan, dia mendapati bahwa terdapat satu cawan yg di dalamnya sedang berkembang bakteri yg baru. Yang, mungkin saja masuk ke sana melalui angin yg masuk dari jendela.
Fleming kemudian mengetahui bahwa bakteri yg berkembang tersebut adalah penicillium notatum, & bakteri tersebut menghentikan perkembangan bakteri yg sudah ada sebelumnya, staphylococci.
Fleming dapat saja langsung mencuci cawannya & membuang bakteri yg mengganggu keberadaan bakteri yg sudah ada tersebut.

The Butterfly Effect: Virus Korona


Namun, dia justru menelitinya, & mengembangbiakkannya lebih banyak lagi.
Sejak saat itu, triliunan antibiotik sudah diproduksi hingga saat ini.
Dan diperkirakan antibiotik yg ditemukannya sudah menyelamatkan hidup ratusan juta orang, lebih dari 200 juta.

Berbicara mengenai butterfly effect, ada yg mengatakan bahwa satu kepakan sayap kupu-kupu di brazil dapat menyebabkan tornado di Texas.
Pada kenyataannya, sama sekali tidak terbukti bahwa satu kepakan sayap kupu-kupu dapat menyebabkan badai atau tornado di belahan bumi yg lain.
Kenyataannya, butterfly effect ditemukan oleh pakar meteorologi Edward Lorentz pada tahun 1969. Dia menciptakan sebuah model matematika untuk memprediksi jalur yg dilewati oleh tornado. Dia menyadari bahwa perubahan initial condition yg sangat kecil dapat merubah jalur tersebut secara drastis. Ketika simulasinya dia jalankan sebanyak ratusan kali, dia menyadari bahwa hasilnya akan terlihat seperti kupu-kupu.
Tapi contoh mengenai kepakan kupu-kupu tersebut dapat jadi metafora yg cukup menggambarkan betapa dahsyatnya butterfly effect.

Jika saja Fleming tidak meninggalkan cawannya, atau dia langsung membersihkan cawannya ketika terkontaminasi, maka tidak akan ada antibiotik. Kesalahan kecil, tindakan kecil, yg nampaknya sangatlah tidak berarti, dapat menyelamatkan ratusan juta jiwa. Inilah contoh dari butterfly effect yg sebenarnya.
Belum lagi kalau ratusan juta orang yg diselamatkan tadi menciptakan butterfly effect mereka masing-masing. Keputusan kecil untuk tidak membuang cawan yg terkontaminasi, membawa sejarah ke arah yg jauh berbeda.

Tiap keputusan kecil yg anda buat sehari-hari, dapat saja menyebabkan efek yg luar biasa di masa depan.
Setiap hal kecil yg anda lakukan, setiap tatapan kepada seseorang, setiap kali anda salah belok, setiap kali anda mengpakai uangmu, setiap kali anda menyapa seseorang, dapat saja menyebabkan sesuatu yg luar biasa di masa depan. Tapi mungkin anda tidak akan pernah menyadarinya.

Mungkin anda akan bilang bahwa saya lebay dengan mengatakan bahwa anda dapat merubah dunia akibat salah belok. Sama sekali tidak.
Itulah hal yg menyebabkan dua perang dunia yg kita pelajari di pelajaran sejarah.

Pada tanggal 28 Juni 1914, Archduke Franz Ferdinand makan siang di suatu warung makan di Sarajevo. Ketika meninggalkan warung makan tersebut, sopirnya salah belok, & Ferdinand dibunuh oleh seorang pembunuh bernama Gavrilo Princip. Pembunuhan inilah yg jadi awal dari perang dunia pertama, yg kemudian berlanjut jadi perang dunia ke 2. Princip sudah merencanakan pembnuhan tersebut, & sudah memperkirakan jalan yg akan dilewati oleh mobil Ferdinand untuk pulang. Namun sebenarnya, dia salah menebak jalan. Jika saja sopir Ferdinand tidak salah belok, maka mobil Ferdinand tidak akan melewati jalan yg diperkirakan Princip, & pembunuhan tersebut tidak akan pernah terjadi. Namun sayangnya, dia berbelok ke arah yg salah, & menciptakan pembunuhan itu terjadi. Pembunuhan Franz Ferdinand menyebabkan efek domino kepada politik dunia, yg menyebabkan perang dunia pertama.

The Butterfly Effect: Virus Korona


Jika saja sopir Ferdinand berbelok ke arah yg benar, maka kemungkinan akbar perang dunia tidak akan pernah terjadi sama sekali.
Dan tanpa perang dunia pertama, tidak akan ada perang dunia ke dua
Tidak akan ada Hitler
Tidak ada perang dharap
Tidak akan ada komputer
Tidak akan ada satelit
Tidak akan ada manusia yg menginjakkan kaki di bulan
Tidak akan ada internet
Karena perang dunia menyebabkan tekanan militer, yg memaksa perkembangan teknologi secara pesat
Mungkin bom atom juga tidak akan pernah ditemukan
Tak akan ada penyerangan Jepang ke sekutu
Indonesia & negara-negara lain juga mungkin tidak akan merdeka di tahun 1945.

Dan baru-baru ini, kita digemparkan oleh virus corona. Virus ini sudah menyebar ke ratusan negara. Hampir seluruh negara di dunia, bahkan.
Virus ini perdana kali terdeteksi di Kota Wuhan, di China.
Kabarnya, awal mula virus ini menjangkin manusia, adalah karena seseorang memakan kelelawar liar.
Pernahkah anda membayangkan, kalau suatu ketika, akan ada seseorang yg puluhan ribu kilometer jauhnya dari rumahmu, memakan hewan liar, & menyebabkan jalan-jalan di sekitar rumahmu ditutup?
Menyebabkan tetanggamu kehilangan pekerjaan
Menyebabkan saudara jauhmu meninggal
Menyebabkan sekolah/kampusmu ditutup sementara
Menyebabkan masjid di dekat rumahmu tidak lagi mengadakan solat jumat
Menyebabkan anda & milyaran orang lainnya merasa bosan berada di rumah
Semua itu terjadi akibat seseorang, yg puluhan ribu kilometer jauhnya dari rumahmu, memakan hewan liar.

Kamu juga ikut ambil bagian dalam semua ini. Dengan tetap di rumah aja, anda sudah menolong mengurangi akibat dari covid-19 ini.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tiap orang yg terkena covid-19 rata-rata menularkan ke 2,25 orang. Oke, supaya lebih simpel anggap saja 2 orang.
Bayangkan apabila anda ke luar rumah & tidak menerapkan Physical Distancing. Kamu mungkin tidak akan terkena penyakit karena imunmu kuat. Tapi dapat saja anda menularkan ke orang lain. Misalnya anda menularkan 2 orang, seperti rata-rata. Beberapa hari kemudian, masing-masing 2 orang tersebut menularkan ke 2 orang lagi, sehingga total ada 6 orang. 4 orang baru tersebut masing-masing menularkan ke 2 orang juga, & yg tertular tersebut lagi-lagi masing-masing menularkan ke 2 orang, & seterusnya. Pada akhirnya, dapat saja ribuan orang tertular, cuma karena anda tidak #DiRumahAja

The Butterfly Effect: Virus Korona


Dan tahukah kamu, kebanyakan dari orang yg terjangkit covid-19 tidak menunjukkan gejala sama sekali.
Menurut worldmeters.info, 80% orang yg terjangkit tidak terkena gejala apapun.
Terutama bagi kaum muda yg imunnya kuat

The Butterfly Effect: Virus Korona


Tapi tentu saja. Siapapun yg terjangkit, baik bergejala ataupun tidak, dapat dengan mudah menularkannya ke orang lain.
Dan yg rentan untuk terkena akibat dari penyakit ini adalah orang-orang yg berumur 50 tahun ke atas.
Orangtua kita, kakek-nenek kita

Maka dari itu, kalau anda memang sayang dengan mereka, jangan mudik.
Jika anda dapat menahan dirimu untuk tidak mudik sekarang, anda mungkin akan berjumpa mereka di mudik-mudik selanjutnya.
Namun kalau anda memilih untuk mengerjakannya saat ini, dapat saja anda jadi penyebab kematian mereka, & tidak akan pernah melihat mereka lagi di tahun-tahun selanjutnya.

Karena itu
Mari kita di rumah aja
Tidak perlu ke luar rumah kalau tidak mendesak
Selalu pakai masker ketika bepergian
Selalu bawa hand sanitizer ke manapun anda pergi
Sering-seringlah mencuci tangan
Jangan mudik
Mari kita #DiRumahAja

Dan last but not least, jangan lupa untuk share trit ini & video di atas, sehingga dapat memulai butterfly effectmu sendiri.

Karena aksi kecil, yg mungkin terlihat sepele, tanpa kita sadari, sangat akbar dampaknya.


Thanks for the read gan!
Hari ini 01:07
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.