Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Ganjar Pranowo saat memberi salam AHY di rumah dinas Gubernur Jateng, Puri Gedeh Semarang, Rabu (02/12/2020). (Dok Humas Pemprov Jateng)
Hai GanSis! Saya pikir beberapa GanSis disini uda paham apa yg dimaksud Mercy & Banteng. Ini tidak sedang lagi bicarakan sebuah rasi bintang maupun simbol sekte pemuja kerang ajaib. Melainkan dua buah logo partai politik.
Langsung saja ya, Mercy untuk Demokrat & Banteng untuk PDIP. Masih 2021 kok uda bahas politik aja. Tenang GanSis, ini masih warming up.
Saya pernah dengar politik itu gak ada baiknya, semuanya busuk. Gak tahu deh pastinya, meski kelihatannya memang begitu.
Tapi setidaknya, politik yg saya lihat akhir-akhir ini agak lebih mending daripada keadaan 5 tahun kebelakang.
Walaupun kondisinya lagi Pandemi. Para politikus tetap berusaha mencari panggung. Meski kelihatannya gaduh, tetapi gaduhnya mereka tetap di lingkaran mereka sendiri. Tidak merembet terlalu jauh kemana-mana.
Begini, lihatlah Mercy & Banteng.
Mercy
Partai biru ini, menurut ingatan saya pribadi. Merupakan parpol perdana yg disorot publik lumayan akbar di masa Pandemi. Masih ingatkah dengan "kudeta Demokrat" kemarin itu. Saya berpandangan itu biasa saja.
Terlepas apapun tujuan dibaliknya. Nyatanya setelah kudeta itu, Demokrat mendapat perhatian lebih dari publik. Meski tidak mengenalkan capres, tetapi setidaknya publik jadi tahu kalau partai tersebut kini ketum-nya sudah dipegang AHY.
Keuntungan sudah jelas didapat partai berslogan "katakan tidak pada korupsi" tersebut. Walaupun terlihat ada keretakan internal. Namun pada akhirnya kepengurusan resmi tetaplah milik AHY.
Banteng
Kalau cerita partai merah ini beda lagi, walaupun ada sedikit "keretakan" tetapi tidak hingga kudeta. Hanya sentil-sentil manja saja.
Jadi ada "petugas partai lainnya" yg digadang memiliki peluang akbar jadi penerus Jokowi. Tapi dari atasan sana sudah punya calonnya sendiri. Dilema dong jadinya.
Kesannya memang seperti ada "keretakan". Tapi sisi positifnya, jadi dapat pentas untuk mengenal bakal atau malah bibit-bibit calon. Secara bersamaan mulai menguak nama Ganjar, Puan, Tri Rismaharini hingga Prabowo.
Hitung-hitung itu sebagai tes ombak. Tinggal mengapungkan nama, lalu lihat seperti apa reaksi publik selanjutnya. Enaknya partai akbar begitu, tidak perlu pusingkan lagi cari koalisi, tinggal nyodorkan nama saja.
Tanpa bermaksud berpihak pada partai politik tertentu. Saya disini cuma menyampaikan opini. Bagi saya tetaplah berpolitik yg seperti itu.
Maksudnya kalau harap menarik perhatian publik, sekalipun dengan kegaduhan, maka buatlah kegaduhan yg melibatkan orang-orang di lingkaran tertentu saja. Jangan merembet kemana-mana. Apalagi menyinggung isu SARA.
Tapi bukan berarti tidak boleh berbicara soal SARA. Hanya saja jangan mencampur adukkan masalah.
Dicontohkan lagi seperti Mercy, kudeta di partai tersebut walau sempat menyeret Istana. Namun kegaduhan tetap di ranah internal mereka.
Mungkin ada baiknya politik itu seperti prokes Covid-19. Yaitu karantina & jaga jarak. Meski kegaduhan terdengar hingga kemana-mana. Namun "virusnya" tidak menyebar luas & bermutasi.
Intinya bagi saya, ya terserah saja politikus bikin gaduh. Jika yg gaduh mereka-mereka saja. Sementara masyarakat cukup melihat, menilai & beropini.
Karena menurut saya gimmick & sensasi bukanlah suatu yg hina. Jika sudah dapat panggung, maka pakailah dengan sebaik mungkin. Jangan justru jadi ajang provokator & hasutan saja demi kepentingan pribadi & kelompok.
*Judul diatas cuma berlaku pada konteks postingan ini saja
@riandaprayoga
Binjai, 6 Juni 2021 Hari ini 12:43
Ganjar Pranowo saat memberi salam AHY di rumah dinas Gubernur Jateng, Puri Gedeh Semarang, Rabu (02/12/2020). (Dok Humas Pemprov Jateng)
Hai GanSis! Saya pikir beberapa GanSis disini uda paham apa yg dimaksud Mercy & Banteng. Ini tidak sedang lagi bicarakan sebuah rasi bintang maupun simbol sekte pemuja kerang ajaib. Melainkan dua buah logo partai politik.
Langsung saja ya, Mercy untuk Demokrat & Banteng untuk PDIP. Masih 2021 kok uda bahas politik aja. Tenang GanSis, ini masih warming up.
Saya pernah dengar politik itu gak ada baiknya, semuanya busuk. Gak tahu deh pastinya, meski kelihatannya memang begitu.
Tapi setidaknya, politik yg saya lihat akhir-akhir ini agak lebih mending daripada keadaan 5 tahun kebelakang.
Walaupun kondisinya lagi Pandemi. Para politikus tetap berusaha mencari panggung. Meski kelihatannya gaduh, tetapi gaduhnya mereka tetap di lingkaran mereka sendiri. Tidak merembet terlalu jauh kemana-mana.
Begini, lihatlah Mercy & Banteng.
Mercy
Partai biru ini, menurut ingatan saya pribadi. Merupakan parpol perdana yg disorot publik lumayan akbar di masa Pandemi. Masih ingatkah dengan "kudeta Demokrat" kemarin itu. Saya berpandangan itu biasa saja.
Terlepas apapun tujuan dibaliknya. Nyatanya setelah kudeta itu, Demokrat mendapat perhatian lebih dari publik. Meski tidak mengenalkan capres, tetapi setidaknya publik jadi tahu kalau partai tersebut kini ketum-nya sudah dipegang AHY.
Keuntungan sudah jelas didapat partai berslogan "katakan tidak pada korupsi" tersebut. Walaupun terlihat ada keretakan internal. Namun pada akhirnya kepengurusan resmi tetaplah milik AHY.
Banteng
Kalau cerita partai merah ini beda lagi, walaupun ada sedikit "keretakan" tetapi tidak hingga kudeta. Hanya sentil-sentil manja saja.
Jadi ada "petugas partai lainnya" yg digadang memiliki peluang akbar jadi penerus Jokowi. Tapi dari atasan sana sudah punya calonnya sendiri. Dilema dong jadinya.
Kesannya memang seperti ada "keretakan". Tapi sisi positifnya, jadi dapat pentas untuk mengenal bakal atau malah bibit-bibit calon. Secara bersamaan mulai menguak nama Ganjar, Puan, Tri Rismaharini hingga Prabowo.
Hitung-hitung itu sebagai tes ombak. Tinggal mengapungkan nama, lalu lihat seperti apa reaksi publik selanjutnya. Enaknya partai akbar begitu, tidak perlu pusingkan lagi cari koalisi, tinggal nyodorkan nama saja.
Tanpa bermaksud berpihak pada partai politik tertentu. Saya disini cuma menyampaikan opini. Bagi saya tetaplah berpolitik yg seperti itu.
Maksudnya kalau harap menarik perhatian publik, sekalipun dengan kegaduhan, maka buatlah kegaduhan yg melibatkan orang-orang di lingkaran tertentu saja. Jangan merembet kemana-mana. Apalagi menyinggung isu SARA.
Tapi bukan berarti tidak boleh berbicara soal SARA. Hanya saja jangan mencampur adukkan masalah.
Dicontohkan lagi seperti Mercy, kudeta di partai tersebut walau sempat menyeret Istana. Namun kegaduhan tetap di ranah internal mereka.
Mungkin ada baiknya politik itu seperti prokes Covid-19. Yaitu karantina & jaga jarak. Meski kegaduhan terdengar hingga kemana-mana. Namun "virusnya" tidak menyebar luas & bermutasi.
Intinya bagi saya, ya terserah saja politikus bikin gaduh. Jika yg gaduh mereka-mereka saja. Sementara masyarakat cukup melihat, menilai & beropini.
Karena menurut saya gimmick & sensasi bukanlah suatu yg hina. Jika sudah dapat panggung, maka pakailah dengan sebaik mungkin. Jangan justru jadi ajang provokator & hasutan saja demi kepentingan pribadi & kelompok.
*Judul diatas cuma berlaku pada konteks postingan ini saja
@riandaprayoga
Binjai, 6 Juni 2021 Hari ini 12:43