yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Sebuah kisah yang luar biasa tentang seorang pendeta yang melepaskan kasih karunia kepada seorang perampok.
Suatu malam tiba-tiba pintu rumah pendeta itu digedor dengan kasar.
Sang pendeta yang sedang beristirahat segera bangun untuk membukakan pintu rumah. Belum sepenuhnya pintu terbuka… seorang pria kekar berkulit hitam menerobos masuk ke dalam tanpa permisi.
Pria itu mengacungkan pistol ke arah sang pendeta, sambil berbisik kasar dengan nada memaksa, “Serahkan semua barang berhargamu atau kau kubunuh mati!” Sang pendeta kemudian menunjuk sebuah almari di sudut ruangan itu. Segera sang perampok menuju ke almari tersebut sambil tetap mengacungkan pistolnya.
Dengan tergesa-gesa dibukanya lemari itu dan ketika dilihatnya ada banyak alat-alat berlapis emas untuk upacara di gereja, segera dibukanya karungnya, dan disambarnya semua barang berharga itu. Dengan segera ia pergi meninggalkan pendeta itu dan hilang dibalik kegelapan malam.
Pendeta yang masih terengah-engah karena menahan debaran jantungnya yang berdetak kencang itu segera menutup pintu rumahnya cepat-cepat. Belum habis jantungnya berdebar-debar, tiba-tiba terdengar lagi suara ketukan di pintu rumahnya, kali ini suaranya jauh lebih sopan.
Reflek, sang pendeta menyambar sebuah piala perak yang masih tertinggal di meja dekat pintu, sambil ia membuka pintu pelan-pelan. Beberapa petugas polisi ada didepan pintu rumahnya sambil menyeret seorang laki-laki kekar yang baru tadi merampoknya. “Maaf pak pendeta, kami menangkap pria ini yang telah melakukan perampokan di rumahmu. Sekarang kami ingin mengembalikan peralatan gereja yang sudah dicurinya, kami kuatir peralatan ini penting untuk segera dipakai di gereja. Kami akan memberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah ia perbuat.”
Sang pendeta, mengambil nafas panjang, dengan lebih tenang ia berkata, “Maaf pak polisi, Anda salah, pria ini adalah sahabat baik saya, baru saja saya akan pergi mengejarnya untuk membawakan piala peraknya yang masih tertinggal.
Terimakasih karena Anda sudah membawanya kemari….” Pandangan mata pria kekar itu cepat-cepat tertuju kepada sang pendeta, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bukan hanya pria itu saja yang tidak percaya, para polisipun mulanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang pendeta.
Tetapi setelah diyakinkan oleh sang pendeta, beberapa saat kemudian para polisi itu pergi meninggalkan rumah pendeta… dan meninggalkan pria kekar yang tadi merampok itu juga disana… Sang pendeta memberikan isyarat kepada pria itu untuk masuk ke rumahnya.
Setelah ditutupnya pintu, pendeta itu membuatkan secangkir teh untuk pria itu, sementara pria itu masih seperti tidak sadar akan dirinya. “Minumlah, pasti kamu haus setelah semuanya ini….” Pria itu meneguk teh yang ada di cangkirnya.
Setelah diam beberapa saat, dengan suara yang berat pria ini bertanya, “Mengapa engkau melakukan itu?” Sang pendeta, mendekatkan wajahnya kepada pria itu sambil berkata, “Itulah yang dilakukan Yesus… Dia mengampuni kita ketika kita masih berdosa… Sekarang pulanglah, dan jangan berbuat dosa lagi…”
Tahukah Anda kisah selanjutnya dari pria tersebut?
Pria itu akhirnya menjadi seorang pengerja di gereja yang mengabdikan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan.
Suatu malam tiba-tiba pintu rumah pendeta itu digedor dengan kasar.
Sang pendeta yang sedang beristirahat segera bangun untuk membukakan pintu rumah. Belum sepenuhnya pintu terbuka… seorang pria kekar berkulit hitam menerobos masuk ke dalam tanpa permisi.
Pria itu mengacungkan pistol ke arah sang pendeta, sambil berbisik kasar dengan nada memaksa, “Serahkan semua barang berhargamu atau kau kubunuh mati!” Sang pendeta kemudian menunjuk sebuah almari di sudut ruangan itu. Segera sang perampok menuju ke almari tersebut sambil tetap mengacungkan pistolnya.
Dengan tergesa-gesa dibukanya lemari itu dan ketika dilihatnya ada banyak alat-alat berlapis emas untuk upacara di gereja, segera dibukanya karungnya, dan disambarnya semua barang berharga itu. Dengan segera ia pergi meninggalkan pendeta itu dan hilang dibalik kegelapan malam.
Pendeta yang masih terengah-engah karena menahan debaran jantungnya yang berdetak kencang itu segera menutup pintu rumahnya cepat-cepat. Belum habis jantungnya berdebar-debar, tiba-tiba terdengar lagi suara ketukan di pintu rumahnya, kali ini suaranya jauh lebih sopan.
Reflek, sang pendeta menyambar sebuah piala perak yang masih tertinggal di meja dekat pintu, sambil ia membuka pintu pelan-pelan. Beberapa petugas polisi ada didepan pintu rumahnya sambil menyeret seorang laki-laki kekar yang baru tadi merampoknya. “Maaf pak pendeta, kami menangkap pria ini yang telah melakukan perampokan di rumahmu. Sekarang kami ingin mengembalikan peralatan gereja yang sudah dicurinya, kami kuatir peralatan ini penting untuk segera dipakai di gereja. Kami akan memberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah ia perbuat.”
Sang pendeta, mengambil nafas panjang, dengan lebih tenang ia berkata, “Maaf pak polisi, Anda salah, pria ini adalah sahabat baik saya, baru saja saya akan pergi mengejarnya untuk membawakan piala peraknya yang masih tertinggal.
Terimakasih karena Anda sudah membawanya kemari….” Pandangan mata pria kekar itu cepat-cepat tertuju kepada sang pendeta, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bukan hanya pria itu saja yang tidak percaya, para polisipun mulanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang pendeta.
Tetapi setelah diyakinkan oleh sang pendeta, beberapa saat kemudian para polisi itu pergi meninggalkan rumah pendeta… dan meninggalkan pria kekar yang tadi merampok itu juga disana… Sang pendeta memberikan isyarat kepada pria itu untuk masuk ke rumahnya.
Setelah ditutupnya pintu, pendeta itu membuatkan secangkir teh untuk pria itu, sementara pria itu masih seperti tidak sadar akan dirinya. “Minumlah, pasti kamu haus setelah semuanya ini….” Pria itu meneguk teh yang ada di cangkirnya.
Setelah diam beberapa saat, dengan suara yang berat pria ini bertanya, “Mengapa engkau melakukan itu?” Sang pendeta, mendekatkan wajahnya kepada pria itu sambil berkata, “Itulah yang dilakukan Yesus… Dia mengampuni kita ketika kita masih berdosa… Sekarang pulanglah, dan jangan berbuat dosa lagi…”
Tahukah Anda kisah selanjutnya dari pria tersebut?
Pria itu akhirnya menjadi seorang pengerja di gereja yang mengabdikan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan.
TETAP MENGASIHI bahkan memberkati SEKALIPUN ORANG ITU TIDAK LAYAK menerimanya, mampu MENYELAMATKAN orang-orang YANG SEHARUSNYA TIDAK BISA DISELAMATKAN.