yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Udara di dalam ruang yang berfungsi sebagai bale rumah milik Musamsi mantan Kepala Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, itu memang tidak sesegar udara di luar.
Cahaya yang menyinari ruangan juga tidak melimpah. Satu-satunya jalan masuk untuk oksigen dan sinar matahari hanyalah dari pintu depan. Itupun jika papan kayu bermodel tangkup yang menempel di sebelah kanan dan kiri bangunan berdesain joglo itu dibuka. Tidak ada ventilasi atau jendela untuk sirkulasi udara.
Ketika kaki masuk ke dalam ruangan, pertama kali menyergap adalah aroma kotoran sapi yang menyengat hidung. Bau tak sedap yang sepertinya terjebak tidak bisa keluar itu berasal dari kandang sapi yang berjarak hanya sedepo dari lokasi belajar mengajar.
“Ya seperti ini, mengajar sambil membaui kotoran sapi, sebab udara di dalam ruangan memang lembab,“ tutur Sukirman (40), guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah sembari terkekeh masam.
Hujan lebat yang beberapa hari mengguyur wilayah Kabupaten Trenggalek, membuat permukaan sungai Nglinggis mencapai titik tertingginya. Arus sungai yang lebih deras dari biasanya, menggerus tubir bantaran (sungai) tempat gedung MI Islamiyah berada.
Rongga-rongga rawan erosi bermunculan. Bahkan sepanjang bantaran tempat gedung sekolah berada telah ambrol dan mengakibatkan tiga unit rumah warga lenyap terseret arus sungai.
Meski tidak ada korban jiwa, namun karena takut mengalami nasib serupa, dua pemilik rumah yang tidak jauh dari lokasi juga memilih pergi.
“Karena khawatir hal-hal yang tidak diinginkan, kita juga memilih mengungsikan siswa dari gedung sekolah. Apalagi tiga ruang kelas juga sudah rusak,“ terang Sukirman.
Sudah tiga hari ini, sekira 40 orang siswa kelas 5 dan 6 belajar di rumah Musamsi. Sementara siswa yang lain masih belajar di ruang kelas yang dinilai masih aman dari abrasi.
Untuk siswa Taman Kanak-Kanak yang berjumlah 22 siswa diajar di lingkungan pondok pesantren tidak jauh dari sana. Seperti diketahui sekolah swasta di bawah naungan yayasan pendidikan Maarif NU ini memiliki 75 anak didik setara sekolah dasar.
Bangunan pendidikan ini relatif bagus. Bertingkat dan seperti lazimnya sekolah dasar memiliki enam ruang kelas plus halaman. Hanya saja lokasi menimba ilmu itu tepat berada di bibir bantaran sungai Nglinggis yang bermata air di pegunungan sekitar lereng Gunung Wilis.
Meski situasi alam tidak memungkinkan, proses belajar mengajar tidak boleh ditinggalkan. Karenanya, begitu Musamsi menawarkan bagian depan rumahnya (bale) untuk dijadikan ruang kelas sementara, pihak sekolah langsung menyambutnya.
“Kita tidak memiliki pilihan lain, karenanya meski berdekatan dengan empat ekor sapi di kandang, semua ini tetap kita lakukan. Toh ini sifatnya sementara,“ paparnya.
Ruang bale yang cukup luas itu disekat dengan tirai kain. Sebelah kiri untuk kelas 5 dan sebelah kanan untuk kelas 6. Ada papan tulis sebagai alat mengajar dan bangku kelas disusun dengan pola berbanjar.
Selain lembab, gelap, dan bau tidak sedap kotoran sapi, sebagian besar siswa juga mengeluhkan banyaknya nyamuk di dalam ruangan. Situasi yang minim cahaya membuat serangga penghisap darah itu bersarang dengan nyaman.
Namun sepintas, para siswa terlihat ceria. Mereka juga melakukan proses belajar seperti biasa. Masuk pada pukul 07.00 WIB dan pulang pada pukul 12.00 WIB. Pada jam istirahat para siswa juga bermain di halaman “kelas”, meski didekatnya bergelantungan jemuran pakaian pemilik rumah.
“Kita menasehati anak didik untuk bersabar, Karena keadaanya memang seperti ini,“ jelasnya.
Siska Aprilia, siswi kelas 5, mengatakan, selain lembab dan udara terasa dingin, suasana belajar terlalu berisik. Tidak sedikit siswa mengaku tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar.
Maklumlah dalam ruangan yang tidak terlalu lebar tersebut digunakan untuk dua kelas yang hanya tersekat tirai kain. “Ramai sekali. Yang pasti kita tidak bisa belajar dengan tenang,“ tuturnya.
Agus Muslih (35), tokoh masyarakat setempat, mengatakan bahwa ancaman longsor akibat abrasi sungai Nglinggis sudah berlangsung bertahun-tahun. Sepengetahuanya, longsor terjadi sejak 2001 lalu.
“Dan terhitung sejak tahun itu (2001) hingga sekarang, sudah ada 60 KK yang meninggalkan rumahnya untuk membuat rumah baru,“ terangnya.
Agus mengaku tidak tahu pasti kenapa pemerintah Kabupaten Trenggalek tidak pernah memberikan solusi yang yang bersifat permanen untuk mengatasi musibah alam tersebut.
“Yang dilakukan pemerintah sejauh ini hanya memberi bantuan sembako, tanpa berpikir solusi seperti apa untuk menanggulangi masalah ini,“ ujarnya.