• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Teroris Selandia Baru Mendarat di Lampung

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Spoiler for Alfin Andrian Penusuk Syekh Ali Jaber:
Teroris Selandia Baru Mendarat di Lampung




Kejadian Hari Minggu 13 September 2020 di acara Wisuda Tahfidz Al Quran Masjid Falahudin, Lampung, mungkin akan jadi kejadian yg terus diingat Syekh Ali Jaber. Pasalnya saat harap berswafoto dengan salah satu santri di acara, seorang pria berperawakan kurus berkaus biru mendekatinya.

Awalnya ia menduga pemuda itu akan meminjamkan handphone untuk berfoto. Tapi ternyata tikaman pisau yg ia terima. Untung saja ulama kelahiran Madinah 44 tahun yg lalu itu dapat menghindar, sehingga pisau cuma mengenai bahu kanannya.

Pria itu kemudian mencoba menusuk Syekh Ali lagi, namun para jemaah bergerak dengan sigap & memukuli si penyerang. Syekh Ali yg kasihan meminta massa berhenti memukuli & meminta jemaah segera menyerahkan penyerangnya kepada pihak yg berwenang.

Lantas siapakah pemuda kerempeng yg nekat menyerang Syekh Ali tersebut? Penyerang bernama Alfin Andrian, seorang pemuda asli warga RT 007 Kelurahan Sukajawa, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar Lampung.

Ketua RT, Jumawan mengaku Alfin Andrian adalah warganya & tinggal bersama kakeknya. Namun Alfin sudah lama tak terlihat di kampung itu, karena tiga tahun terakhir ia kabarnya tinggal di Mesuji. Ketua RT bahkan terkejut insiden penusukan itu melibatkan Alfin. "Tahu-tahu ada kabar dia (pelaku) nujah (menusuk). Lho kok ada di sini, kapan datangnya," mengatakan Jumawan.

Ketika pihak keluarga ditanya tentang sosok Alfin Andrian, mereka mengatakan Alfin mengalami gangguan jiwa sejak lama. Namun ketika menjalani pemeriksaan, Alfin sanggup menjawab pertanyaan dengan lancar.

Banyak pihak termasuk Syekh Ali tak yakin bahwa pelaku gila. Syekh Ali lantas menceritakan keanehan saat mengalami penusukan. Ia menilai pelaku bukan orang gila & memiliki motif kuat yg menciptakan dirinya jadi sasaran. (Pelaku) bukan orang yang, maaf, gila sembarangan. Pertama, dari segi kekuatan, badannya kurus, kecil. Tidak mungkin kalau melihat tubuhnya dapat ada kekuatan hingga separuh pisau menusuk, mengatakan ulama keturunan Arab itu.

Sumber :Kompas [7 Fakta Pemuda Penusuk Syekh Ali Jaber, 3 Tahun Tinggalkan Kampung & Dijerat 2 Pasal]

Sikap skeptis banyak pihak bukan tanpa alasan. Sebab penusukan ulama mengpakai senjata tajam dengan modus gangguan kejiwaan bukanlah hal baru di Indonesia.

Pada Februari 2018 lalu, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan tak sepenuhnya percaya kalau kasus penyerangan ulama dilakukan orang gila. Sebab pura-pura sudah jadi modus operandi untuk mengerjakan kekerasan. Saat itu, Sutiyoso menduga ada operator yg mengarahkan pelaku penyerangan kepada ulama.

SUmber :Detik [Sutiyoso Bicara Modus Pura-pura Gila di Kasus Penyerangan Ulama]

Teror kepada ulama dengan modus pura-pura gila dibenarkan pula oleh mantan terpidana kasus terorisme, Abu Tholut alias Mustofa pada Maret 2018 yg lalu. Aksi-aksi teror kepada ulama dapat dibaca polanya oleh Abu Tholut. Pertama, pelaku sering memakai senjata tajam. Kedua, sasarannya tokoh agama. Terakhir, faktor kegilaan tiba-tiba dimunculkan saat pelaku tertangkap.

Sumber :Tribunnews [Ini Kata Mantan Teroris Abu Tholut Soal Teror Orang Gila dengan Sasaran Tokoh Agama]

Tapi meskipun begitu, ada satu pertanyaan yg belum terjawab dari pola terorisme yg sudah-sudah dengan modus gangguan jiwa seperti ini. Yakni siapakah yg menggerakkan? Bagaimana caranya pelaku bergerak, apakah yg menggerakkan pelaku untuk mengerjakan aksi teror? Sementara hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelaku tidak memiliki keterkaitan dengan jaringan teroris mana pun. Dengan mengatakan lain, ia bergerak sendiri.

Namun, bukankah tindakan terorisme perseorangan Alfin Andrian serupa dengan pelaku terorisme penembakan masjid Selandia Baru, Brenton Tarrant?

Sebelum melakkukan aksi terornya, Brenton Tarrant berpergian ke luar negeri di beberapa negara Asia & Eropa. Bahkan pekerjaannya sebagai pekerja di gym tak menunjukkan dirinya seperti seseorang yg memiliki minat pada senjata api & terorisme. Manajer gym tempat Brenton bekerja, Tracey Grey menduga ada hal yg berubah dalam diri Brenton selama bertahun-tahun menghabiskan waktunya berpergian ke luar negeri.

Serupa dengan penusuk Syekh Ali bukan? Berpindah dulu ke suatu tempat sebelum kembali ke tempat asalnya.

Dalam mengerjakan aksinya, Tarrant mengaku terinspirasi dari Anders Behring Breivik, seorang teroris dari Norwegia yg mengerjakan penembakan di Oslo. Tarrant bahkan menulis manifesto yg berlandaskan teori konspirasi The Great Replacement. Sebuah teori yg konspirasi yg dipercaya kaum kanan tentang berkurangnya populasi warga kulit putih Perancis & Eropa secara sistematis akibat imigrasi massal warga Timur Tengah & Afrika sub-Sahara.

Sumber :Tirto [The Great Replacement yg Melandasi Aksi Teror Brenton Tarrant]

Kemungkinan pola terorisme perseorangan ini pula yg terjadi pada penusuk Syekh Ali. Ia dapat saja terinspirasi dari perlakuan teror yg dilakukan penusuk ulama dengan modus pura-pura gila, atau kalau kita menelisik lebih jauh lagi, Alfin Andrian dapat saja terinspirasi dari teror ninja & Operasi Naga Hijau tahun 1998.

Apalagi pelaku dikatakan sering kali melihat video ceramah Syekh Ali melalui TV maupun langsung setahun terakhir. Dengan mengatakan lain, ia sudah mengerjakan observasi kepada Syekh Ali & mengetahui apa saja yg dilakukan Syekh Ali dalam mengerjakan ceramah. Selain itu, setelah tiga tahun berada di Mesuji, mengapa ia dengan sengaja kembali ke Lampung seminggu sebelum acara yg mendatangkan Syekh Ali diselenggarakan? Bukankah itu tandanya ia tengah bersiap menunggu kedatangan Syekh Ali ke kampungnya guna melancarkan aksi teror.
Hari ini 08:43
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.