• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Ternyata Bandung ada Pelosoknya

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Ternyata Bandung ada Pelosoknya


Cangkeman.net -Sebelum masuk ke inti cerita, tulisan ini terinspirasi sama artikel Cangkeman yg ditulis saudara Galih soalculture shockselama tinggal di Cianjur. Rasanyarelatedan pengen nambahin apa yg saya rasain selama tinggal di sebuah desa terpencil di Bandung. Hehe, makasih Mas Galih, saya jadi punya bahan tulisan wkwk.

Bandung mungkin familiar dengan tempat-tempatnya yg ikonik seperti Braga, Cihampelas, Dago, DU (Dipatiukur) & daerah lainnya yg biasa dijadikan muda-mudi tempat tongkrongan. Buat rekreasi alam sendiri, Bandung terkenal dengan daerahnya yg sejuk di Pangalengan, Ciwidey, & Lembang.

Nah, sayangnya saya gak tinggal di tampat-tempat di atas tersebut. Satu bulan lalu, saya pindahan ke suatu desa terpencil bernama Pinggirsari yg berjarak 25 kilometer dari pusat kota Bandung. Iya, migrasi kota-desa. Gakculture shockgimana buat saya yg bertahun-tahun tinggal di pinggir kota, tiba-tiba hidup di pelosok Bandung, hahaha.

Ketimbang disebutculture shock, beberapa poin ini jadi hal unik tersendiri buat sayayang tentunya jarang ditemukan di pusat kota, khususnya Bandung.
1. Nikah setelah lulus SMA
Di kampung saya sendiri, gak ada satupun lulusan SMA yg kuliah. Usia 18 tahun itu batas maksimal perkawinan untuk perempuan. Di usia saya, rata-rata mereka udah hamil anak kedua. Bayangkan nasib saya yg terkesan jadi 'perawan tua' di umur yg masih 22 tahun!

2. Hamil berjamaah
Yang ini gokil & bikin saya tercengang, sih. Saya kira cuma satu-dua orang yg kebetulan hamil barengan. Setelah dikit-dikit kenal, ternyata ada sekitar 10 warga kampung yg hamil dengan rentan usia yg gak jauh beda. Ehem, siap-siap harus ngado nih saya
emoticon-Smilie


3. Sikap gotong-royong yg sangat kental
Di hari saya pindahan, satu RT bantu-bantu angkut barang dari jalan utama ke rumah yg aksesnya bukan main naik-turun & terjal. Tapi, gak ada satupun yg mau dikasih upah, bahkan anak-anak kecil sekalipun.

Gak hingga di sana, keesokan harinya banyak warga yg berkunjung cuma buat 'say hai', ngasih buah pertanian, sampe nawarin bantuan kalo-kalo ada yg diperlukan. Jelas jauh sama tempat tinggal lama saya, yg hubungannya lebih ke masing-masing aja.

4. Ibu-ibu & bapak-bapak perkasa
Satu cerita pas pindahan, saya & keluarga dibuat kaget ngeliat salah seorang warga yg mengangkut lemari berbahan jati sendirian. Lewat jalan setapak yg curam, memanggul lemari yg beratnya gak main-main. Jantungan saya!

Eh, usut punya usut, ternyata warga di sini emang segitu kuatnya. Karena di kecamatan Arjasari dipenuhi kebun jagung, mereka terbiasa memanggul karung berisi jagung dengan berat 60-80 kg.

Ibu-ibunya sendiri pada jagoan bawa motor di jalanan yg menurut saya ekstrim. Kalangan pesayangoff-roadudah jelas kalah dibandharap para ibu tangguh ini. Cuma bermodal motormatic, dengan mudahnya mereka menaklukkan gunung lewati lembah demi nganterin anak sekolah, wkwk. Salut, deh!

5. Para sepuh yg masih aktif beraktivitas
Liat nenek-nenek gendong tumpukkan rumput, bersepatu boot, topi bertani, & memegang arit, udah pemandangan yg sangat biasa di sini. Salutnya lagi, ada seorang kakek berumur 98 tahun yg masih eksis denganoutfitnyentriknya bernuansa Rock n Roll.

6. Penduduknya yg sedikit
Di tanah yg sangat luas, beberapa akbar ditanami kebun-kebun & peternakan warga. Jadi gak heran kalo warganya pun terbilang sedikit & itu-itu aja.

7. Menyampaikan informasi dari mulut ke mulut
Ini berhubungan dengan jumlah penduduknya yg minim & berjauhan antar kampung. Sebagai contoh kecil, berita kepindahan saya yg menyebar satu desa Pinggirsari.

Hari perdana nganter adek sekolah, saya disapa oleh sepasang sepuh di sana."Neng yg pindahan dari kota itu, ya?"(Wanjay kota wkwk). Padahal, jarak sekolah dari rumah itu jauh & ngelewatin beberapa kampung. Kesini-sini, jadi gak heran lagi kalo dalam radius 5 kilo, ada orang asing yg tiba-tiba kenal saya heuheu.

8. Susah sinyal
Ini bukan judul film ya, tetapi emang nyata adanya. Di antara banyaknya operator seluler, cuma satu yg jaringannya lumayan bagus. Yaa ... meskipun pas mati lampu, jaringan ikut padam juga. Mirisnya, layangan internet sekelas Indihome aja gak nyampe loh ke sini. Keren, kan? Hahahaha.

9. Rumah dengan desain khas
Setiap rumah di sini pasti punya jendela di semua ruangannya. Ini mungkin berhubungan sama daya listrik yg rata-rata cuma mengpakai 450 watt. Jadi, kalo siang rumah saya diterangi sinar mentari langsung.

Kamar mandinya pun beberapa akbar gakfulltertutup, pasti ada celah yg kalo mandi itu dapat sambil menikmati pemandangan langit wkwk. Kalo yg ini, saya masih belum tau pasti alasannya.

Selain itu, setiap rumah dilengkapi dengan hawu. Kamu yg kebetulan tinggal di pedesaan pasti gak asing dengan tempat masak tradisional Sunda ini. Di rumah pun ada, tetapi saya sendiri masih belajar menghidupkan api dengan kayu bakar.

10. Banyak anjing bebas berkeliaran
Di kota, anjing sengaja dijadiin hewan peliharaan, atau sebagai anjing penjaga yg diamnya di pekarangan rumah. Lah di sini, anjing udah kaya kucing jalanan yg bebas bertamasya ke mana aja.

Ya itu tadi, anjing-anjing ini sekaligus bertugas jaga kebun & peternakan warga. Setiap ada orang asing, mereka gak berhentinya menggonggong. Iya, termasuk ke penduduk baru seperti saya, wkwk.

Itu dia hal-hal yg hampir gak pernah saya temuin selama tinggal di kota. Di setiap tempat tenggal tentu adaplus-minus-nya sendiri. Tinggal di kampung terpencildaripada diambil pusing, kenapa gak dianggap sebagai anugerah aja? Ya ... itung-itunghealingyekan.

Tulisan ini ditulis oleh Thiara diCangkemanpada tanggal 4 Agustus 2022
Hari ini 13:18
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.