yophi
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 45381
- Sejak
- 5 Jun 2008
- Pesan
- 512
- Nilai reaksi
- 15
- Poin
- 18
Tel Aviv - Presiden AS, George W. Bush, selama ini ternyata jadi boneka Israel. Dia begitu gampang dikendalikan kaum Yahudi. Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, mempertontonkan hal itu di depan publik.
Olmert mengemukakan dialah yang meminta Bush untuk tidak mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB, pekan lalu.
"Saya katakan kepadanya AS tak boleh menyetujuinya. Tak boleh setuju dengan resolusi semacam itu. Dia langsung memanggil Menteri Luar Negri dan memintanya untuk tidak menyetujuinya," ungkap Olmert di Ashkelon, Senin (12/1).
Kamis lalu, DK PBB mengadopsi Resolusi 1860, meminta gencatan senjata langsung antara pasukan Hamas dan Israel di Jalur Gaza. Resolusi juga mendesak pasukan Israel mundur dari Gaza.
AS adalah satu-satunya anggota DK PBB yang tak menyetujui resolusi itu. Sementara 14 negara lainnya setuju. Menurut Olmert, Bush memerintahkan Menlu Condolezza Rice untuk abstain.
Tel Aviv - Betapa hebatnya pengaruh Yahudi dalam keputusan-keputusan Presiden AS, George W. Bush, kian terbukti. Dia bahkan mau menghentikan pidatonya hanya untuk menerima telepon Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert. Bagai 'anjing geladak' saja.
Olmert mengemukakan kejadian yang berlangsung menjelang keluarnya Resolusi 1860 Dewan Keamanan PBB soal konflik Palestina. Resolusi keluar setelah 14 negara anggota DK PBB menyetujuinya. Hanya AS yang abstain.
Menurut Olmert, di malam antara Kamis dan Jumat, saat Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice ingin menyetujui resolusi yang meminta kedua pasukan gencatan senjata, dia membelokkan keputusan itu. Olmert mendesak Bush untuk memerintahkan Rice agar tidak menyetujui resolusi tersebut.
"Saya bilang, sambungkan telepon saya ke Presiden Bush. Mereka katakan dia sedang berpidato di Philadelphia. Saya bilang, saya tak peduli. 'Saya harus berbicara dengannya sekarang'. Dia mundur dari podium dan berbicara dengan saya," ujarnya.
Meskipun seluruh dunia mengecam agresi militer Israel di Gaza, pemerintahan Bush malah menyalahkan Hamas. Mereka menuding Hamas memprovokasi Tel Aviv dengan meluncurkan roket ke wilayah Israel.
Hamas, pemerintahan demokratis di Jalur Gaza, menuntut pengunduran penuh pasukan Israel, pembukaan perbatasan sebagai syarat untuk berdamai.
Olmert mengemukakan dialah yang meminta Bush untuk tidak mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB, pekan lalu.
"Saya katakan kepadanya AS tak boleh menyetujuinya. Tak boleh setuju dengan resolusi semacam itu. Dia langsung memanggil Menteri Luar Negri dan memintanya untuk tidak menyetujuinya," ungkap Olmert di Ashkelon, Senin (12/1).
Kamis lalu, DK PBB mengadopsi Resolusi 1860, meminta gencatan senjata langsung antara pasukan Hamas dan Israel di Jalur Gaza. Resolusi juga mendesak pasukan Israel mundur dari Gaza.
AS adalah satu-satunya anggota DK PBB yang tak menyetujui resolusi itu. Sementara 14 negara lainnya setuju. Menurut Olmert, Bush memerintahkan Menlu Condolezza Rice untuk abstain.
Tel Aviv - Betapa hebatnya pengaruh Yahudi dalam keputusan-keputusan Presiden AS, George W. Bush, kian terbukti. Dia bahkan mau menghentikan pidatonya hanya untuk menerima telepon Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert. Bagai 'anjing geladak' saja.
Olmert mengemukakan kejadian yang berlangsung menjelang keluarnya Resolusi 1860 Dewan Keamanan PBB soal konflik Palestina. Resolusi keluar setelah 14 negara anggota DK PBB menyetujuinya. Hanya AS yang abstain.
Menurut Olmert, di malam antara Kamis dan Jumat, saat Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice ingin menyetujui resolusi yang meminta kedua pasukan gencatan senjata, dia membelokkan keputusan itu. Olmert mendesak Bush untuk memerintahkan Rice agar tidak menyetujui resolusi tersebut.
"Saya bilang, sambungkan telepon saya ke Presiden Bush. Mereka katakan dia sedang berpidato di Philadelphia. Saya bilang, saya tak peduli. 'Saya harus berbicara dengannya sekarang'. Dia mundur dari podium dan berbicara dengan saya," ujarnya.
Meskipun seluruh dunia mengecam agresi militer Israel di Gaza, pemerintahan Bush malah menyalahkan Hamas. Mereka menuding Hamas memprovokasi Tel Aviv dengan meluncurkan roket ke wilayah Israel.
Hamas, pemerintahan demokratis di Jalur Gaza, menuntut pengunduran penuh pasukan Israel, pembukaan perbatasan sebagai syarat untuk berdamai.