• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Terapi Plasma Darah Telah Masuki Fase Akhir Penelitian

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Terapi Plasma Darah Telah Masuki Fase Akhir Penelitian

Wakil Kepala LBM Eijkman David Handojo Muljono menyatakan terapi plasma konvalesen atau plasma darah untuk mengobati pasien virus corona Covid-19 sudah memasuki fase akhir. Dia menyebut terapi itu sedang uji klinis di RSPAD Gatot Soebroto.

"Saya umumkan yg di Indonesia sudah memasuki fase akhir dilakukan di RSPAD. Dan di Universitas Indonesia saya kira juga sudah mulai & beberapa tempat yg lain," ujar David dalam diskusi virtual AIPKI, Jumat (29/6).

Sejauh ini, David menuturkan hasil pengobatan Covid-19 dengan terapi plasma konvalesen relatif aman. Akan tetapi, dia menyampaikan pengobatan itu baru dilakukan dalam skala kecil, sporadik, & tidak ada protokol pengobatannya.

Selain itu, dia menyampaikan terapi itu belum memiliki indikasi, target pasien, derajat penyakit, dosis, & saat atau jadwal pemberiannya.

"Karena itulah FDA, WHO, perhimpunan penyakit Amerika Serikat, & International Society of Blood Transfusion memperbolehkan, tetapi di dalam uji klinik," ujarnya.

Di sisi lain, David menjelaskan plasma mengandung albumin, beragam protein, antibodi, antiinflamasi, hingga cytogen. Setelah diteliti, dia menyebut plasma darat mengandung Neutralizing antibodies & Immunomodulator.

"Jadi (Immunomodulator) mengembalikan ke jalan yg benar. Tadinya disregulasi maka dengan beberapa materi yg ada di plasma ini seperti Pro-inflammatory cytokines dapat dinetralisir, Complement & lain-lain. Ini yg terjadi keuntungan dari pada plasma yg sedang akan kita uji coba," ujar David.

Berdasarkan riset yg dipublikasikan di JAMA, dia mengatakan terapi plasma konvalesen tidak memberikan hasil yg signifikan pada pasien dalam kondisi parah. Sedangkan penelitian dalam Journal Watch NEJM, dia menyatakan terapi itu dianjurkan untuk pasien yg belum parah.

"Inilah target kita not too early, not too late. Jadi kami akan memilih timingnya sebelum dia memasuki fase yg lebih parah, di mana sudah terjadi tanda-tanda mengarah kegawatan," ujarnya.

David menambahkan uji klinik kepada terapi plasma konvalesen harus dilakukan untuk mengetahui secara pasti apakah mengandung antibodi spesifik atau tidak & jumlah titernya.

"Kalau ada non spesifik & titer rendah ada non neutralizing antibodi justru akan mencelakakan pasiennya," ujar David.

Lebih dari itu, dia menyebut non neutralizing dapat merangsang cytogen & beberap hal lain yg membahayakan.

Hari ini 10:33
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.