Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sudah lama nggak buat tulisan, sekalinya bikin tulisan dapetnya tema yg mengusik relung hati & pikiran. Ah, sungguh brengsek memang KOMPAK (Komunitas Menulis Aktif Kreatif) ini. Tema yg harus ditulis adalah KEHILANGAN. Sungguh menjebak & akupun terjebak untuk mencurahkan sedikit isi hati.
Hmmm, harus mulai darimana ya? Akupun juga bingung, karena dalam hidup, kita pasti banyak merasakan kehilangan. Kehilangan dompet seisinya sudah pernah. Kehilangan percaya diri sudah pernah. Kehilangan kepercayaan kepada orang lain sudah pernah. Kehilangan sayang. Kehilangan orang yg disayang juga. Semuanya terdengar sedih ya? Mungkin kehilangan berat badan adalah satu-satunya hal yg paling diharapkan, hehehe.
Jadi kehilangan barang, perasaan, & orang yg disayang pun sudah. Uang masih dapat dicari lagi, perasaan galau & gundah gulana masih dapat diobati, pun kalau kehilangan pacar atau pasangan masih dapat digantikan. Namun kehilangan yg paling membekas adalah kehilangan papa, yg kita sudah berbeda dunia.
Mungkin kalian pernah dengar pepatah KETIKA KEHILANGAN, KAMU AKAN MENGERTI ARTI MEMILIKI
Yup, pepatah itu bener banget. Walaupun sebenernya selama hidup, beliau jarang ngobrol sama saya hingga deep talk, tetapi sosoknya sering hangat dimataku. Beliau diam-diam memujiku, diam-diam mengajariku untuk mandilu. Setelah beliau berpulang, kami sangat merasa kehilangan. Kehilangan sosok yg usil, yg tindakannya kami rindukan. Seperti menciptakan kegaduhan di pagi hari untuk membangunkan adikku.
Medio 2008, saat divonis sakit gagal ginjal yg mengharuskannya cuci darah, belum ada BPJS seperti sekarang ini & kami pun tidak memiliki asuransi atau askes. Otomatis semua harta benda yg kami punya, habis untukpengobatan. Nggak masalah, asal Papa dapat bertahan hidup. Sayangnya, saya belum selesai berkuliah. Jadi belum dapat banyak membantu.
Tapi, kami sadar bahwa sewaktu-waktu kami dapat saja kehilangan beliau, jadi sedapat mungkin waktu yg ada kami pakai untuk menciptakan memori. Kami mau memori kami tentang beliau tetap baik untuk sisa masa hidup kami. Beliau pun walaupun sakit, tetap mencoba beraktivitas seperti biasa. Nggak mau merasa jadi beban.
Namun satu setengah tahun dari saat divonis sakit, papa dipanggil Allah SWT. Sedih banget, tetapi yg bikin lebih sedih pada saat itu, kami telat untuk jadwal papa cuci darah, karena memang sudah kehadapatn uang & sudah sering meminta bantuan keluarga. Nyesek, wah jangan ditanya! Apalagi papa belum sempat datang ke wisudaku saat itu, padahal baru berselang seminggu dari sidang kelulusanku. Tapi gimanapun sudah jadi kehendak-Nya. Kita ini kecil di mata-Nya.
Walau kehilangan ini masih terasa, kami semua nggak boleh larut dalam kesedihan. Kehidupan harus tetap berjalan, karena bumi terus berputar
Thanks sudah dapat bikin saya nulis Kemarin 23:56