Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Sebentar lagi, salah satu universitas kondang di Amerika Serikat, Stanford University, akan kehilangan presidennya karena sebuah kasus yg berkaitan dengan publikasi penelitian. Marc Tessier-Lavigne mengumumkan secara publik bahwa ia akan mundur dari jabatannya setelah investigasi internal SU menghasilkan bukti-bukti mengenai manipulasi data yg ia lakukan pada publikasi penelitiannya. Meskipun manipulasi ini tidak serta merta dapat dilabeli sebagai pemalsuan, namun manipulasi yg beliau lakukan tetap dianggap menciderai jati diri SU sebagai salah satu institusi penelitian terbaik di dunia.
Manipulasi yg dilakukan Tessier-Lavigne ini berkaitan dengan beberapa gambar yg ditampilkan pada publikasi beliau.
Salah satu hasil terduga manipulasi
Salah satunya adalah gambar di atas, di mana seorang perintas anonim menemukan kejanggalan dari hasil Western Blot yg dicantumkan Tessier-Lavigne. Menurut perintas tersebut, gambar yg ditampilkan ada indikasi copy-paste, & anggapan perintas ini juga dibenarkan beberapa perintas anonim lain.
Ekor dari penemuan ini adalah nama Tessier-Lavigne jadi keruh. Beliau adalah seorang ilmuwan, jadi kenapa dapat beliau mengerjakan manipulasi kepada hasil penelitian? Kemudian, pasti akan ada pertanyaan lain seperti:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Kondisi akademia & profesi ilmuwan yg notabene tertutup menciptakan pertanyaan seperti itu terasa justified, atau terasa wajar. Padahal ada banyak sekali anggapan keliru tentang ilmuwan & keilmuan sains yg datang baik dari kasus seperti Tessier-Lavigne & tanggapan kepada berita tersebut. Untuk mendapat titik terang dari masalah ini, kita harus menarik benang merah mengenai definisi dari apa yg disebut sebagai seorang ilmuwan.
Sebelum lanjut cendolnya dulu
Quote:
Etimologi Kata Ilmuwan
Sebelum mendefinisikan ilmuwan, ada baiknya kita mengulik dulu sejarah mengatakan "ilmuwan" atau "scientist". Istilah ini perdana kali dipakai pada zaman ke-19. Sebelum istilah "ilmuwan", perseorangan yg terlibat dalam pengejaran ilmiah sering disebut dengan berbagai gelar tergantung pada bidang studinya, contohnya orang yg berilmu dalam hal alam disebut filsuf alam.
Kata "ilmuwan" dikreditkan ke seorang polymath bernama William Whewell, yg adalah seorang ilmuwan, filsuf, & sejarawan sains Inggris. Dia memperkenalkan istilah tersebut dalam ulasannya pada tahun 1834 tentang buku Mary Somerville "On the Connexion of the Physical Sciences." Dalam ulasannya, Whewell berpendapat bahwa harus ada mengatakan yg berbeda untuk menggambarkan mereka yg mempelajari & mempraktikkan sains, seperti "seniman" untuk mereka yg berkecimpung di bidang seni & "ekonom" untuk mereka yg berkecimpung di bidang ekonomi. Dia mengusulkan "ilmuwan" sebagai istilah baru untuk mengisi celah ini.
William Whewell
Whewell menuliskan mengatakan "ilmuwan" (scientist) dari mengatakan Latin "scientia," yg berarti "pengetahuan" atau "keterampilan." Ia menambahkan akhiran -ist untuk menunjukkan seseorang yg berkecimpung dalam pencarian ilmu atau terampil dalam bidang tertentu.
Jadi dapat dikata, definisi mengatakan ilmuwan secara etimologi adalah seseorang yg "terampil dalam ilmu". Jika dilihat kondisi akademia sekarang, maka sudah cocok saja dengan definisi ini. Para ilmuwan yg bekerja 24/7 untuk mencari penemuan-penemuan baru memang terampil dalam ilmu mereka masing-masing.
Permasalahan muncul ketika kita melihat kasus seperti Tessier-Lavigne. Apa yg menciptakan seorang ilmuwan seperti beliau hingga harus mengubah gambar cuma untuk publikasi?
Quote:
Ilmuwan & Publikasi
Hubungan antara ilmuwan & publikasi hasil penelitian terdapat pada kaidah metode saintifik yg dianut oleh seluruh ilmuwan di dunia. Metode saintifik didesain supaya terjadi pengulangan eksperimen yg terus terjadi, & setiap pengulangan eksperimen diberitahukan melalui presentasi & publikasi. Hal ini terjadi untuk menyokong fungsi dari seorang ilmuwan: mencari kebenaran saintifik.
Sejatinya seorang ilmuwan memang harus mempublikasi penemuannya. Ia harus mencantumkan dasar pikir yg menciptakannya mengerjakan eksperimen, & menguraikan langkah yg ia ambil dalam eksperimennya. Setelah eksperimen dilakukan, maka seorang ilmuwan juga harus secara jujur menampilkan hasil dari eksperimen tadi dalam publikasinya.
Metode ini sudah cukup memadai untuk mencari kebenaran saintifik selama bertahun. Bagaimana kalau ternyata eksperimen gagal? Tidak apa-apa, karena metode saintifik menyatakan setelah publikasi, seorang ilmuwan harus bertanya lagi mengenai eksperimen yg barusan dipublikasi.
Setiap publikasi sebenarnya akan menimbulkan banyak pertanyaan tambahan. Satu judul saja, dengan berbagai variabel yg terdapat di judul tersebut, menimbulkan pertanyaan turunan bagi seorang ilmuwan. Masalah datang saat ada orang awam yg tidak paham tentang metode ini masuk ke ranah eksperimen.
Maksudnya, ada seseorang (mau itu investor, perusahaan, atau siapapun yg meminta ilmuwan meneliti tentang sesuatu) yg tidak memahami bahwa hasil nol dari sebuah eksperimen adalah hasil juga. Pertanyaan selanjutnya bukan "apakah eksperimen dapat diulang hingga tidak lagi hasil nol?", melainkan "mengapa hasil nol terjadi?". Perbedaan antara dua pertanyaan ini sangat signifikan.
Di ilmu sosial, hasil nol jarang dipublikasikan
Hasil nol bukan berarti eksperimen gagalmelainkan pertanda bahwa ada variabel di eksperimen tersebut yg perlu diubah. Sayangnya, ilmuwan yg kadang perlu dukungan eksternal biasanya tidak dapat meyakinkan para investor akan hal tersebut. Makanya terbentuk anggapan bahwa hasil nol dari sebuah eksperimen berarti eksperimen harus diulang hingga terdapat hasil.
Itu, atau hasil harus ada, bagaimanapun caranya.
Sebenarnya apa sih ilmuwan itu, dalam konteks sumbangsihnya kepada masyarakat? Kita sering mendengar mungkin sumbangsih seorang politikus atau pejabat kepada khalayak umum, & sumbangsih mereka terlihat di mata. Apapun bentuknya, baik itu berupa materi, infrastruktur, atau kepemimpinan yg baik, semuanya dapat diukur dengan data kontinu yg memberikan citra biasa kepada apa yg dicapai.
Ilmuwan tidak memiliki kemewahan itu. Pekerjaan ilmuwan semestinya dinilai berdasarkan kebaruan & pembaruan penelitiannya, sesuatu yg tidak dapat diukur dengan penghitungan sekilas. Harus ada rembuk & diskusi antar para pakar pada suatu bidang dulu, barulah dapat diputuskan hasil kerja ilmuwan pada judul tertentu dapat diterima sebagai sebuah sumbangsih yg berarti.
Versi kecilnya mungkin adalah konsep persidangan pada akhir masa kuliah mahasiswa. Mahasiswa membawa sebuah judul yg disidangkan kepada para pakar di kampus terkait judul itu, & bila dianggap bahwa judul itu memadai barulah mahasiswa dihadiahi dengan publikasi & gelar. Bayangkan hal seperti itu, dilakukan setiap saat & setiap waktu, dengan ribuan keahlian dari bidang ilmu yg beragam.
Tapi hal seperti itu tidak diketahui mereka yg tidak pernah menginjakkan kaki di ranah sains.
Quote:
Mencari Kebenaran atau Hilang
Para pelaku sains pasti pernah mengecap diskusi mengenai kebenaran. Ren Descartes berpendapat bahwa kita dapat mengetahui keberadaan Tuhan karena ide tentang Tuhan begitu sempurna sehingga tidak mungkin datang dari kita. Pendapat Descartes tersebut menjelaskan mengenai salah satu sumber kebenaran: wahyu. Kebenaran ini adalah kebenaran mutlak, absolut, tidak dapat diubah.
Kebenaran lainnya adalah kebenaran konsensus. Kebenaran berdasarkan pemahaman bersama atau konsensus adalah teori kebenaran yg berpendapat bahwa suatu pernyataan benar kalau secara biasa diterima benar oleh sekelompok orang. Contohnya kebenaran grammar & urutan kalimat (SPOK). Bisa saja seseorang menuliskan kalimat yg melanggar SPOK, tetapi secara konsensus kita menyatakan bahwa hal tersebut seakan salah.
Sementara yg dicari oleh orang seperti Tessier-Lavigne & ilmuwan lainnya semestinya adalah kebenaran saintifik. Kebenaran saintifik bersifat tidak tetap & cair, mengikuti penemuan terbaru. Sudah dijelaskan di atas bahwa sains adalah proses penyelidikan, bukan kumpulan pengetahuan. Para ilmuwan harus sering mengajukan pertanyaan & mencari bukti baru untuk mendukung atau menyangkal teori mereka.
Bisa kita lihat bahwa definisi ilmuwan & kenyataan di lapangan bertolak belakang. Proses penyelidikan yg dilakukan ilmuwan itu berarti menerima kesalahan & tetap mempublikasi hasil nol, tetapi kenyataannya, hasil nol yg diterima Tessier-Lavigne dimanipulasi cuma demi publikasi.
Mentalitas Publish or Perish mengacu pada tekanan di dunia akademis untuk mempublikasikan karya akademis secara cepat & terus-menerus guna mempertahankan atau memajukan karier seseorang. Tekanan ini dapat menimbulkan berbagai masalah, termasuk manipulasi data penelitian, seperti yg terlihat pada kasus Marc Tessier-Lavigne. Tekanan untuk mempublikasikan juga dapat menyebabkan masalah lain seperti jalan pintas, plagiarisme, & bentuk pelanggaran akademis lainnya.
Ada beberapa alasan mengapa budaya "Publish or Perish" merupakan racun kepada kebenaran saintifik. Pertama, budaya ini menciptakan tekanan untuk mempublikasikan penelitian, meskipun penelitian tersebut belum siap untuk dipublikasikan. Hal ini dapat menyebabkan peneliti mengambil jalan pintas atau mempercepat penelitiannya, sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan. Kedua, budaya ini mendorong peneliti untuk fokus pada kuantitas dibandingkan kualitas; peneliti menerbitkan banyak paper dengan temuan kecil, dibandingkan berfokus pada tulisan berkualitas tinggi dengan hasil signifikan. Ketiga, budaya ini dapat menciptakan peneliti enggan mempublikasikan hasil nol. Hasil nol sering kali dianggap kurang dapat dipublikasikan dibandingkan hasil positif, & peneliti mungkin takut dikenakan sanksi karena mempublikasikannya, mengakibatkan tertutupnya informasi ilmiah yg penting.
Quote:
Siapa Menyalahkan Siapa
Kasus Tessier-Lavigne ini adalah buntut dari budaya racun yg sudah menjalar di dunia akademik sejak entah kapan. Dampak dari ilmuwan & investor yg tidak memahami kebenaran santifik yg harusnya dicari oleh para ilmuwan. Tentunya adayang salah di sini, & sudah jadi kebiasaan kita untuk mencari siapa yg salah.
Dalam kasus ini jelas yg salah adalah Tessier-Lavigne. Beliau sudah mengerjakan pelanggaran berat kepada kode saintifik yg mengedepankan kejujuran dalam publikasi data. Tapi ada latar belakang dari perilaku beliau, entah itu posisi, uang, atau faktor lain.
Terbukanya hal seperti ini jelas akan menciptakan komunitas di luar komunitas saintifik bertanya tentang penelitian yg selama ini dilakukan. Bukan cuma oleh Stanford, tetapi juga oleh para ilmuwan secara umum. Apakah hal ini baik atau buruk? Tergantung.
Publik yg skeptis kepada data & hasil penelitian itu secara konseptual baik, karena akan memberikan insentif bagi para ilmuwan untuk jujur kepada penelitian mereka. Carilah hasil publikasi di Indonesia, & telaah berapa banyak yg mengerjakan manipulasi data.
Tapi belajar dari sejarah & keadaan ranah saintifik sekarang, di masa depan skeptisisme publik kepada sains ini justru perlu diwaspadai. Budaya "Publish or Perish" itu datang dari konsekuensi metode saintifik, yg harus mempresentasikan penemuannya. Sesuatu yg berawal baik tetapi dirusak & dipelintir oleh waktu.
Hari ini 10:34
Sebentar lagi, salah satu universitas kondang di Amerika Serikat, Stanford University, akan kehilangan presidennya karena sebuah kasus yg berkaitan dengan publikasi penelitian. Marc Tessier-Lavigne mengumumkan secara publik bahwa ia akan mundur dari jabatannya setelah investigasi internal SU menghasilkan bukti-bukti mengenai manipulasi data yg ia lakukan pada publikasi penelitiannya. Meskipun manipulasi ini tidak serta merta dapat dilabeli sebagai pemalsuan, namun manipulasi yg beliau lakukan tetap dianggap menciderai jati diri SU sebagai salah satu institusi penelitian terbaik di dunia.
Link Artikel
Marc Tessier-Lavigne
Marc Tessier-Lavigne
Manipulasi yg dilakukan Tessier-Lavigne ini berkaitan dengan beberapa gambar yg ditampilkan pada publikasi beliau.
Salah satu hasil terduga manipulasi
Salah satunya adalah gambar di atas, di mana seorang perintas anonim menemukan kejanggalan dari hasil Western Blot yg dicantumkan Tessier-Lavigne. Menurut perintas tersebut, gambar yg ditampilkan ada indikasi copy-paste, & anggapan perintas ini juga dibenarkan beberapa perintas anonim lain.
Ekor dari penemuan ini adalah nama Tessier-Lavigne jadi keruh. Beliau adalah seorang ilmuwan, jadi kenapa dapat beliau mengerjakan manipulasi kepada hasil penelitian? Kemudian, pasti akan ada pertanyaan lain seperti:
Quote:
Publikasi mana lagi yg ternyata hasilnya dimanipulasi?
Quote:
Siapa lagi peneliti yg kerap memanipulasi hasil tanpa ketahuan?
Quote:
Itu baru manipulasi gambar, bagaimana dengan hasil berupa angka & perhitungan?
Quote:
Bagaimana mungkin kita dapat percaya dengan sains kalau ternyata hasil penelitian dapat dimanipulasi?
Kondisi akademia & profesi ilmuwan yg notabene tertutup menciptakan pertanyaan seperti itu terasa justified, atau terasa wajar. Padahal ada banyak sekali anggapan keliru tentang ilmuwan & keilmuan sains yg datang baik dari kasus seperti Tessier-Lavigne & tanggapan kepada berita tersebut. Untuk mendapat titik terang dari masalah ini, kita harus menarik benang merah mengenai definisi dari apa yg disebut sebagai seorang ilmuwan.
Sebelum lanjut cendolnya dulu
Quote:
Etimologi Kata Ilmuwan
Sebelum mendefinisikan ilmuwan, ada baiknya kita mengulik dulu sejarah mengatakan "ilmuwan" atau "scientist". Istilah ini perdana kali dipakai pada zaman ke-19. Sebelum istilah "ilmuwan", perseorangan yg terlibat dalam pengejaran ilmiah sering disebut dengan berbagai gelar tergantung pada bidang studinya, contohnya orang yg berilmu dalam hal alam disebut filsuf alam.
Kata "ilmuwan" dikreditkan ke seorang polymath bernama William Whewell, yg adalah seorang ilmuwan, filsuf, & sejarawan sains Inggris. Dia memperkenalkan istilah tersebut dalam ulasannya pada tahun 1834 tentang buku Mary Somerville "On the Connexion of the Physical Sciences." Dalam ulasannya, Whewell berpendapat bahwa harus ada mengatakan yg berbeda untuk menggambarkan mereka yg mempelajari & mempraktikkan sains, seperti "seniman" untuk mereka yg berkecimpung di bidang seni & "ekonom" untuk mereka yg berkecimpung di bidang ekonomi. Dia mengusulkan "ilmuwan" sebagai istilah baru untuk mengisi celah ini.
William Whewell
Whewell menuliskan mengatakan "ilmuwan" (scientist) dari mengatakan Latin "scientia," yg berarti "pengetahuan" atau "keterampilan." Ia menambahkan akhiran -ist untuk menunjukkan seseorang yg berkecimpung dalam pencarian ilmu atau terampil dalam bidang tertentu.
Jadi dapat dikata, definisi mengatakan ilmuwan secara etimologi adalah seseorang yg "terampil dalam ilmu". Jika dilihat kondisi akademia sekarang, maka sudah cocok saja dengan definisi ini. Para ilmuwan yg bekerja 24/7 untuk mencari penemuan-penemuan baru memang terampil dalam ilmu mereka masing-masing.
Permasalahan muncul ketika kita melihat kasus seperti Tessier-Lavigne. Apa yg menciptakan seorang ilmuwan seperti beliau hingga harus mengubah gambar cuma untuk publikasi?
Quote:
Ilmuwan & Publikasi
Hubungan antara ilmuwan & publikasi hasil penelitian terdapat pada kaidah metode saintifik yg dianut oleh seluruh ilmuwan di dunia. Metode saintifik didesain supaya terjadi pengulangan eksperimen yg terus terjadi, & setiap pengulangan eksperimen diberitahukan melalui presentasi & publikasi. Hal ini terjadi untuk menyokong fungsi dari seorang ilmuwan: mencari kebenaran saintifik.
Sejatinya seorang ilmuwan memang harus mempublikasi penemuannya. Ia harus mencantumkan dasar pikir yg menciptakannya mengerjakan eksperimen, & menguraikan langkah yg ia ambil dalam eksperimennya. Setelah eksperimen dilakukan, maka seorang ilmuwan juga harus secara jujur menampilkan hasil dari eksperimen tadi dalam publikasinya.
Metode saintifik didesain untuk terus berulang
Metode ini sudah cukup memadai untuk mencari kebenaran saintifik selama bertahun. Bagaimana kalau ternyata eksperimen gagal? Tidak apa-apa, karena metode saintifik menyatakan setelah publikasi, seorang ilmuwan harus bertanya lagi mengenai eksperimen yg barusan dipublikasi.
Setiap publikasi sebenarnya akan menimbulkan banyak pertanyaan tambahan. Satu judul saja, dengan berbagai variabel yg terdapat di judul tersebut, menimbulkan pertanyaan turunan bagi seorang ilmuwan. Masalah datang saat ada orang awam yg tidak paham tentang metode ini masuk ke ranah eksperimen.
Maksudnya, ada seseorang (mau itu investor, perusahaan, atau siapapun yg meminta ilmuwan meneliti tentang sesuatu) yg tidak memahami bahwa hasil nol dari sebuah eksperimen adalah hasil juga. Pertanyaan selanjutnya bukan "apakah eksperimen dapat diulang hingga tidak lagi hasil nol?", melainkan "mengapa hasil nol terjadi?". Perbedaan antara dua pertanyaan ini sangat signifikan.
Di ilmu sosial, hasil nol jarang dipublikasikan
Hasil nol bukan berarti eksperimen gagalmelainkan pertanda bahwa ada variabel di eksperimen tersebut yg perlu diubah. Sayangnya, ilmuwan yg kadang perlu dukungan eksternal biasanya tidak dapat meyakinkan para investor akan hal tersebut. Makanya terbentuk anggapan bahwa hasil nol dari sebuah eksperimen berarti eksperimen harus diulang hingga terdapat hasil.
Itu, atau hasil harus ada, bagaimanapun caranya.
Sebenarnya apa sih ilmuwan itu, dalam konteks sumbangsihnya kepada masyarakat? Kita sering mendengar mungkin sumbangsih seorang politikus atau pejabat kepada khalayak umum, & sumbangsih mereka terlihat di mata. Apapun bentuknya, baik itu berupa materi, infrastruktur, atau kepemimpinan yg baik, semuanya dapat diukur dengan data kontinu yg memberikan citra biasa kepada apa yg dicapai.
Ilmuwan tidak memiliki kemewahan itu. Pekerjaan ilmuwan semestinya dinilai berdasarkan kebaruan & pembaruan penelitiannya, sesuatu yg tidak dapat diukur dengan penghitungan sekilas. Harus ada rembuk & diskusi antar para pakar pada suatu bidang dulu, barulah dapat diputuskan hasil kerja ilmuwan pada judul tertentu dapat diterima sebagai sebuah sumbangsih yg berarti.
Versi kecilnya mungkin adalah konsep persidangan pada akhir masa kuliah mahasiswa. Mahasiswa membawa sebuah judul yg disidangkan kepada para pakar di kampus terkait judul itu, & bila dianggap bahwa judul itu memadai barulah mahasiswa dihadiahi dengan publikasi & gelar. Bayangkan hal seperti itu, dilakukan setiap saat & setiap waktu, dengan ribuan keahlian dari bidang ilmu yg beragam.
Tapi hal seperti itu tidak diketahui mereka yg tidak pernah menginjakkan kaki di ranah sains.
Quote:
Mencari Kebenaran atau Hilang
Para pelaku sains pasti pernah mengecap diskusi mengenai kebenaran. Ren Descartes berpendapat bahwa kita dapat mengetahui keberadaan Tuhan karena ide tentang Tuhan begitu sempurna sehingga tidak mungkin datang dari kita. Pendapat Descartes tersebut menjelaskan mengenai salah satu sumber kebenaran: wahyu. Kebenaran ini adalah kebenaran mutlak, absolut, tidak dapat diubah.
Kebenaran lainnya adalah kebenaran konsensus. Kebenaran berdasarkan pemahaman bersama atau konsensus adalah teori kebenaran yg berpendapat bahwa suatu pernyataan benar kalau secara biasa diterima benar oleh sekelompok orang. Contohnya kebenaran grammar & urutan kalimat (SPOK). Bisa saja seseorang menuliskan kalimat yg melanggar SPOK, tetapi secara konsensus kita menyatakan bahwa hal tersebut seakan salah.
Sementara yg dicari oleh orang seperti Tessier-Lavigne & ilmuwan lainnya semestinya adalah kebenaran saintifik. Kebenaran saintifik bersifat tidak tetap & cair, mengikuti penemuan terbaru. Sudah dijelaskan di atas bahwa sains adalah proses penyelidikan, bukan kumpulan pengetahuan. Para ilmuwan harus sering mengajukan pertanyaan & mencari bukti baru untuk mendukung atau menyangkal teori mereka.
Bisa kita lihat bahwa definisi ilmuwan & kenyataan di lapangan bertolak belakang. Proses penyelidikan yg dilakukan ilmuwan itu berarti menerima kesalahan & tetap mempublikasi hasil nol, tetapi kenyataannya, hasil nol yg diterima Tessier-Lavigne dimanipulasi cuma demi publikasi.
Mentalitas Publish or Perish mengacu pada tekanan di dunia akademis untuk mempublikasikan karya akademis secara cepat & terus-menerus guna mempertahankan atau memajukan karier seseorang. Tekanan ini dapat menimbulkan berbagai masalah, termasuk manipulasi data penelitian, seperti yg terlihat pada kasus Marc Tessier-Lavigne. Tekanan untuk mempublikasikan juga dapat menyebabkan masalah lain seperti jalan pintas, plagiarisme, & bentuk pelanggaran akademis lainnya.
Ada beberapa alasan mengapa budaya "Publish or Perish" merupakan racun kepada kebenaran saintifik. Pertama, budaya ini menciptakan tekanan untuk mempublikasikan penelitian, meskipun penelitian tersebut belum siap untuk dipublikasikan. Hal ini dapat menyebabkan peneliti mengambil jalan pintas atau mempercepat penelitiannya, sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan. Kedua, budaya ini mendorong peneliti untuk fokus pada kuantitas dibandingkan kualitas; peneliti menerbitkan banyak paper dengan temuan kecil, dibandingkan berfokus pada tulisan berkualitas tinggi dengan hasil signifikan. Ketiga, budaya ini dapat menciptakan peneliti enggan mempublikasikan hasil nol. Hasil nol sering kali dianggap kurang dapat dipublikasikan dibandingkan hasil positif, & peneliti mungkin takut dikenakan sanksi karena mempublikasikannya, mengakibatkan tertutupnya informasi ilmiah yg penting.
Quote:
Siapa Menyalahkan Siapa
Kasus Tessier-Lavigne ini adalah buntut dari budaya racun yg sudah menjalar di dunia akademik sejak entah kapan. Dampak dari ilmuwan & investor yg tidak memahami kebenaran santifik yg harusnya dicari oleh para ilmuwan. Tentunya adayang salah di sini, & sudah jadi kebiasaan kita untuk mencari siapa yg salah.
Dalam kasus ini jelas yg salah adalah Tessier-Lavigne. Beliau sudah mengerjakan pelanggaran berat kepada kode saintifik yg mengedepankan kejujuran dalam publikasi data. Tapi ada latar belakang dari perilaku beliau, entah itu posisi, uang, atau faktor lain.
Terbukanya hal seperti ini jelas akan menciptakan komunitas di luar komunitas saintifik bertanya tentang penelitian yg selama ini dilakukan. Bukan cuma oleh Stanford, tetapi juga oleh para ilmuwan secara umum. Apakah hal ini baik atau buruk? Tergantung.
Publik yg skeptis kepada data & hasil penelitian itu secara konseptual baik, karena akan memberikan insentif bagi para ilmuwan untuk jujur kepada penelitian mereka. Carilah hasil publikasi di Indonesia, & telaah berapa banyak yg mengerjakan manipulasi data.
Tapi belajar dari sejarah & keadaan ranah saintifik sekarang, di masa depan skeptisisme publik kepada sains ini justru perlu diwaspadai. Budaya "Publish or Perish" itu datang dari konsekuensi metode saintifik, yg harus mempresentasikan penemuannya. Sesuatu yg berawal baik tetapi dirusak & dipelintir oleh waktu.