• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Tentang Agama Dan Rasa Kemanusiaan (Opini Pribadi)

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Tentang Agama Dan Rasa Kemanusiaan (Opini Pribadi)

Gbr diambil dr : Kompas.com​

(Disclaimer: TS menulis trit ini setelah membaca trit lain di kaskus ttg pendidikan atheisme di Irlandia, sehingga jadi tergelitik utk membahas ttg suatu ajaran agama & pengaruhnya pada penganut agama tsb).

Negara Indonesia punya dasar Pancasila, dari satu sila ke sila berikutnya, saling berkaitan & seperti belajar fisika, tiap sila merupakan turunan dari yg sebelumnya (rumus laju jadi rumus percepatan, dst; ini pemahaman TS ya... monggo kalau punya opini berbeda).

Contohnya adalah Sila : Ketuhanan Yang Maha Esa, yg disusul dengan sila kedua : Kemanusiaan Yang Adil & Beradab.

Kenapa muncul rasa kemanusiaan? Karena menyadari Tuhan Yang Maha Pencipta, memahami sekalian manusia sebagai sesama ciptaan, sebagai sesama saudara yg sederajat, memiliki martabat & hak yg sama. Demikian pula seterusnya, dari kemanusiaan lahir persatuan, dst, dst.

Akan tetapi dalam kenyataan-nya kita dipaksa untuk melihat realita yg tidak sesuai dengan "teori". Teori-nya ketika seseorang itu ber-agama, ber-Tuhan, maka dia jadi berperi kemanusiaan. Tetapi sajian berita yg kita baca, seringkali justru menampilkan sosok yg katanya beragama, ternyata justru jadi beringas & tidak berperi kemanusiaan.

Lalu apakah teori-nya itu salah?

Atau cara-cara orang itu dalam ber-agama-nya yg salah?

--------

Daripada menjawab secara langsung, TS harap menyajikan sesuatu yg mungkin dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sementara jawaban dari pertanyaan tersebut, silahkan dijawab oleh masing-masing pembaca.

Ada sebuah eksperimen sosial, di Tuczon, Arizona, di mana 22 orang hakim dibagi jadi dua kelompok.

Kelompok pertama, sebelum mereka diminta untuk mengambil keputusan, terlebih dahulu diminta untuk menjawab sebuah quesioner yg topiknya adalah kematian. Jadi mereka diminta untuk mendeskripsikan perasaan mereka tentang kematian mereka, proses kematian, dst.

Sementara kelompok kedua tidak.

Setelah menjalani prosedur yg berbeda tersebut, ke 22 hakim itu, diminta memutuskan sebuah kasus perkara prostitusi.

Hasilnya, kelompok yg pertama, yg dihadapkan pada kematian mereka sebelum mengambil keputusan, memberikan sanksi denda yg jauh lebih akbar dari kelompok kedua.

Ada banyak eksperimen psikologi lain yg serupa, yg kurang lebih membuktikan bahwa ketika seseorang "dicekam" atau dibayangi oleh rasa takut, orang tersebut akan kehilangan empati kepada manusia lain, khususnya kepada mereka yg dipandang jadi ancaman bagi dirinya atau kelompoknya, atau jadi ancaman kepada cara hidup & tatanan masyarakat yg ada.

Kalau dipikir-pikir, itu sesuatu yg wajar ya? Bahwa rasa takut, dalam kasus ini rasa takut kepada kematian, yg terjadi di alam bawah sadar, dapat mempengaruhi perilaku & emosi kita dalam berhubungan dengan manusia lain.
Tentang Agama Dan Rasa Kemanusiaan (Opini Pribadi)

Gbr diambil dr : popsci.com​

------------------

Lalu apa hubungannya dengan agama & kemanusiaan? Bagaimana eksperimen-eksperimen psikologi di atas berkaitan dengan pertanyaan yg TS ajukan di awal tulisan?

Jadi menurut opini TS, salah satu peranan agama bagi sebuah masyarakat, adalah untuk mendamaikan antara rasa takut seseorang pada kematian, dengan realita akan kepastian datangnya kematian itu sendiri.

Agama memberikan sebuah frame di mana kematian itu jadi tidak "menakutkan". Kematian sebagai masa transisi pada bentuk kehidupan yg baru. Atau dalam kepercayaan tertentu yg mempercayai reinkarnasi, maka kematian hanyalah satu periode dalam sebuah siklus. Kematian dalam frame setiap agama, bukanlah sebuah akhir.

Dalam kerangka berpikir semacam ini, artinya dia jadi obat penawar rasa takut, & karena rasa takut (dalam alam bawah sadar) sudah diobati, maka penganut agama ini pun, jadi dapat lebih ber-empati pada sesama-nya.

Sehingga agama kemudian hadir, membawa kedamaian pada masyarakat di mana agama tersebut dianut.

Ketika pengajaran agama memperkenalkan "Tuhan" yg Maha Pengasih, Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Pemurah, dst; maka penganutnya akan merasakan kedamaian, rasa aman, dst, yg kemudian sebagai efeknya, dia jadi sosok manusia yg lebih punya empati, jadi sosok manusia yg pemurah, dst.

Sampai di sini, masih cocok dengan teori, bahwa agama membawa damai. Ketuhanan Yang Maha Esa, berlanjut pada Kemanusiaan Yang Adil & Beradab.

Lalu di bagian mana kok kemudian meleset, sehingga justru kehadiran agama membawa kekerasan?

--------

Mengacu pada eksperimen psikologi yg sama, maka TS ber-opini, bahwa ada sisi lain dari agama, yg seringkali justru memperbesar rasa takut & bukan meredakan rasa takut pada penganutnya.

Tentang Agama Dan Rasa Kemanusiaan (Opini Pribadi)
Gbr diambil dr : TribunNews.com​


Selain memberikan "jaminan" akan keselamatan, dan/atau memberikan kerangka berpikir yg damai tentang kematian. Agama juga memiliki peranan dalam memberikan tatanan nilai hidup & cara hidup dalam bermasyarakat.

Agama mengatur tentang hubungan antar manusia, & hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya. Di sinilah sisi hukum & sisi lain dari Tuhan ditampilkan.

Tergantung pada pengajar-nya, tergantung pada ajaran agamanya. Dalam beberapa kasus, Tuhan ditampilkan menakutkan & di satu sisi ada citra tentang surga yg memberi kedamaian, tetapi di sisi lain ada citra tentang neraka yg bahkan lebih mengerikan dari kematian fisik.

Diperparah lagi, terkadang diajarkan bahwa seseorang bukan cuma bertanggung jawab atas dosa-dosanya secara pribadi, tetapi juga bertanggung jawab secara kolektif kepada dosa-dosa lain yg terjadi di sekitarnya.

Di sinilah kemudian, agama kemudian hadir bukan memberikan kedamaian, tetapi menghadirkan rasa takut yg lebih besar, & seperti yg terbukti dalam banyak eksperimen-eksperimen psikologis, rasa takut menciptakan seseorang kehilangan empati & jadi lebih "kejam".

Dalam opini pribadi TS, ketika agama hadir dalam konteks tersebut, di situlah kemudian terjadi kontradiksi, bagaimana sebuah agama yg semestinya membawa kedamaian, justru membawa kekerasan.

Jadi apakah agama membawa pada perdamaian, atau kekerasan? Menurut TS, hal itu tergantung pada bagaimana ajaran agama itu di-interpretasi-kan. Ketika seorang pengajar agama menyampaikan ajaran, sosok Tuhan seperti apa yg diajarkan pada pendengarnya? Sosok Tuhan seperti apakah yg diketahui atau dialami secara pribadi oleh seseorang?

Apakah sosok Tuhan Yang Maha Pengampun, Penyayang, dst?

Atau sosok Tuhan yg marah & akan menghukum seseorang, bahkan untuk dosa/kesalahan, yg dilakukan oleh orang di luar dirinya?

---------------------

Sebagai penutup tulisan, ini cuma opini pribadi. Terbuka untuk dikritik, didiskusikan & diperdebatkan.




Sumber referensi :
1. https://www.researchgate.net/publica...agement_Theory Hari ini 13:32
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.