Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Di saat tertentu, adakalanya manusia butuh didengarkan. Membutuhkan ruang untuk meluapkan segala perasaan yg tertahan & mengendap di jiwa. Alias curhat.
Seorang pendengar yg baik, dipercaya sanggup mengurangi beban yg bersarang di dada. Biasanya, orang yg rentan dijadikan tempat curhat ialah sahabat.
Apa sih, pengertian sahabat itu?
Quote:
Bang Capunk :
"Persahabatan bagai kepompong,
mengubah ulat jadi kupu-kupu.
Persahabatan bagai kepompong,
hal yg tak mudah berubah jadi indah.
Persahabatan bagai kepompong,
maklumi teman hadapi perbedaan."
Nyanyi, Bang?
Quote:
Masnukho :
"Persahabatan itu bagai hidung dengan paru-paru. Saling membutuhkan, berhubungan, meskipun berjarak."
Quote:
Katsu :
"Gua gak punya sahabat. Mindset gua, sahabat tuh kayak awan. Datang sesukanya, pergi semaunya.
Prinsip gua,
If you treat well, i'll behave try you much better!"
And you?
Para pakar berpendapat bahwa, manusia membutuhkan seorang sahabat untuk dijadikan tempat berbagi suka maupun duka. Berbagi masalah hati ataupun berbagi materi. Atau dengan mengatakan lain dapat dijadikan teman curhat.
Kegiatan curhat disinyalir memiliki manfaat bagi kesehatan mental. Hal ini diutarakan oleh seorang pakar psikolog klinis & psikoterapis Henny Wirawan.
Menurut Beliau, ada sejumlah keuntungan kalau kita memiliki sahabat untuk mencurahkan hati & pikiran.
Tidak bermaksud untuk mendebat, tetapi memang sepatutnya, kita harus memilah mana yg boleh dibuat curhat & mana yg harus tetap jadi personal secret.
Menurut ekonomis saya, sedekat apapun kita dengan seseorang, tetap saja kita harus menyimpan rahasia pribadi sendirian. Karena, terkadang ada hal yg cuma kita & Tuhan sajalah yg boleh tau.
Ini bukan tentang seberapa akbar kadar kepercayaan kita pada seseorang. Melainkan memang sudah semestinya menyimpan sebuah rahasia. Karena, tidak lagi dikatakan sebuah rahasia, ketika kita sudah menceritakannya pada seseorang.
Ane adalah type orang yg mudah percaya pada siapa pun. Tetapi, untuk masalah pribadi lebih suka menelannya sendirian. Terkecuali kalau sudah menyeret kehidupan orang lain. Alih-alih mencari tempat curhat, ane biasanya lebih suka mendiskusikannya langsung dengan orang yg bersangkutan.
Atau anda lebih memilih mendiskusikan dengan-Nya dalam sujud di sepertiga malam? That's a good idea.
Jika Gansist sudah jadi seseorang yg ketergantungan akan teman curhat & harap menguranginya. Boleh memakai trik ane berikut ini.
Pertama silakan Gansist mengerjakan podcast sesuka hati. Keluarkan semua unek-unek, mau nangis kek, mau marah kek, atau bahkan teriak-teriak juga boleh. Hanya saja, pastikan berada di ruangan yg kedap udara atau di tempat yg sunyi.
Setelah itu, silakan dengarkan curhatan Gansist tadi. Jika perlu, putar berulang-ulang hingga merasa plong. Karena mendengarkan rekaman sendiri serasa seperti sedang berkeluh kesah kembali. Setelah itu saya jamin anda bakal ilfeel pada diri sendiri.
Efeknya, kelak, ketika Gansist berpikir pharap curhat, ane yakin akan berpikir ulang. Jika kita sendiri dapat ilfel, apa kabar orang lain?
Oh ya, jangan lupa hapus rekaman tadi, atau paling kondusif simpan di draft. Hati-hati ke-posting.
Atau, dapat juga curhat dengan mengpakai media alat tulis. Sebenarnya cara ini biasa dilakukan oleh generasi zaman old. Yang harus diperhatikan adalah pastikan diary tersebut memiliki gembok supaya tidak ada orang yg dapat membukanya.
Belakangan ini, kids zaman now lebih menggandrungi sesi curhat di laman media sosial. Ane juga sering sih, tetapi itu kalo ane lagi khilaf, Gansist.
Manusia memang makhluk sosial yg mustahil hidup sendirian. Namun, kita patut mengetahui batasan yg tidak boleh dilanggar. Mulailah menata diri dengan belajar berdikari tanpa menyusahkan orang lain, dimulai dari hal-hal kecil.
Demikian thread ane kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Thanks sudah berkenan mampir, see you next time, Insya Allah and papay ....
Opini pribadi
Referensi : Here
Sumber gambar : Pinterest
Kunjungi Blog Group Kompak di Kaskus. Klik banner di bawah ini.
Hari ini 04:47
Seorang pendengar yg baik, dipercaya sanggup mengurangi beban yg bersarang di dada. Biasanya, orang yg rentan dijadikan tempat curhat ialah sahabat.
Apa sih, pengertian sahabat itu?
Quote:
Bang Capunk :
"Persahabatan bagai kepompong,
mengubah ulat jadi kupu-kupu.
Persahabatan bagai kepompong,
hal yg tak mudah berubah jadi indah.
Persahabatan bagai kepompong,
maklumi teman hadapi perbedaan."
Nyanyi, Bang?
Quote:
Masnukho :
"Persahabatan itu bagai hidung dengan paru-paru. Saling membutuhkan, berhubungan, meskipun berjarak."
Quote:
Katsu :
"Gua gak punya sahabat. Mindset gua, sahabat tuh kayak awan. Datang sesukanya, pergi semaunya.
Prinsip gua,
If you treat well, i'll behave try you much better!"
And you?
Para pakar berpendapat bahwa, manusia membutuhkan seorang sahabat untuk dijadikan tempat berbagi suka maupun duka. Berbagi masalah hati ataupun berbagi materi. Atau dengan mengatakan lain dapat dijadikan teman curhat.
Kegiatan curhat disinyalir memiliki manfaat bagi kesehatan mental. Hal ini diutarakan oleh seorang pakar psikolog klinis & psikoterapis Henny Wirawan.
Menurut Beliau, ada sejumlah keuntungan kalau kita memiliki sahabat untuk mencurahkan hati & pikiran.
Tidak bermaksud untuk mendebat, tetapi memang sepatutnya, kita harus memilah mana yg boleh dibuat curhat & mana yg harus tetap jadi personal secret.
Menurut ekonomis saya, sedekat apapun kita dengan seseorang, tetap saja kita harus menyimpan rahasia pribadi sendirian. Karena, terkadang ada hal yg cuma kita & Tuhan sajalah yg boleh tau.
Ini bukan tentang seberapa akbar kadar kepercayaan kita pada seseorang. Melainkan memang sudah semestinya menyimpan sebuah rahasia. Karena, tidak lagi dikatakan sebuah rahasia, ketika kita sudah menceritakannya pada seseorang.
Ane adalah type orang yg mudah percaya pada siapa pun. Tetapi, untuk masalah pribadi lebih suka menelannya sendirian. Terkecuali kalau sudah menyeret kehidupan orang lain. Alih-alih mencari tempat curhat, ane biasanya lebih suka mendiskusikannya langsung dengan orang yg bersangkutan.
Atau anda lebih memilih mendiskusikan dengan-Nya dalam sujud di sepertiga malam? That's a good idea.
Jika Gansist sudah jadi seseorang yg ketergantungan akan teman curhat & harap menguranginya. Boleh memakai trik ane berikut ini.
Pertama silakan Gansist mengerjakan podcast sesuka hati. Keluarkan semua unek-unek, mau nangis kek, mau marah kek, atau bahkan teriak-teriak juga boleh. Hanya saja, pastikan berada di ruangan yg kedap udara atau di tempat yg sunyi.
Setelah itu, silakan dengarkan curhatan Gansist tadi. Jika perlu, putar berulang-ulang hingga merasa plong. Karena mendengarkan rekaman sendiri serasa seperti sedang berkeluh kesah kembali. Setelah itu saya jamin anda bakal ilfeel pada diri sendiri.
Efeknya, kelak, ketika Gansist berpikir pharap curhat, ane yakin akan berpikir ulang. Jika kita sendiri dapat ilfel, apa kabar orang lain?
Oh ya, jangan lupa hapus rekaman tadi, atau paling kondusif simpan di draft. Hati-hati ke-posting.
Atau, dapat juga curhat dengan mengpakai media alat tulis. Sebenarnya cara ini biasa dilakukan oleh generasi zaman old. Yang harus diperhatikan adalah pastikan diary tersebut memiliki gembok supaya tidak ada orang yg dapat membukanya.
Belakangan ini, kids zaman now lebih menggandrungi sesi curhat di laman media sosial. Ane juga sering sih, tetapi itu kalo ane lagi khilaf, Gansist.
Manusia memang makhluk sosial yg mustahil hidup sendirian. Namun, kita patut mengetahui batasan yg tidak boleh dilanggar. Mulailah menata diri dengan belajar berdikari tanpa menyusahkan orang lain, dimulai dari hal-hal kecil.
Demikian thread ane kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Thanks sudah berkenan mampir, see you next time, Insya Allah and papay ....
Opini pribadi
Referensi : Here
Sumber gambar : Pinterest
Kunjungi Blog Group Kompak di Kaskus. Klik banner di bawah ini.