Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Api yg berada di tempat terbuka normalnya tidak akan dapat menyala lama. Bahkan untuk kasus kebakaran hutan sekalipun, biasanya apinya akan padam dengan sendirinya setelah beberapa pekan atau bulan. Namun di tempat-tempat ini, apinya justru dapat tetap menyala hingga bertahun-tahun lamanya. Berikut ini adalah 4 letak di mana apinya sudah berkobar tanpa padam selama bertahun-tahun hingga sekarang.
Gerbang Neraka
Karakum adalah nama dari gurun pasir yg terletak di negara Turkmenistan, Asia Tengah. Seperti halnya gurun kebanyakan, Karakum juga memiliki iklim yg kering & panas. Namun panas yg ada pada gurun ini masih bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Gerbang Neraka yg terdapat di tengah-tengah gurun ini.
Gerbang Neraka adalah sebutan untuk suatu lubang berdiameter 69 meter yg terletak di dekat Darvaza, suatu desa keci yg cuma dihuni oleh 350 orang. Sahabat anehdidunia.com sebutan Gerbang Neraka bukanlah sebutan yg tak berdasar. Sebabnya adalah di bawah lubang tersebut, terdapat kobaran api akbar yg cahayanya dapat terlihat hingga kejauhan.
Api yg menyala di Gerbang Neraka sudah berkobar selama lebih dari 40 tahun & masih belum padam hingga sekarang. Gerbang Neraka sendiri pada awalnya tercipta secara tidak sengaja ketika pada tahun 1971, regu penambang minyak Uni Soviet mengerjakan pengeboran di letak tersebut.
Saat bor mereka mengenai suatu cekungan gas raksasa, mendadak tanah di atasnya runtuh & perlengkapan bor minyak yg ada di atasnya juga turut ambruk ke bawah. Gas beracun yg ada di dalam cekungan kemudian bocor ke permukaan.
Supaya gas beracun yg berasal dari tempat tersebut tidak menyebar terlalu jauh, otoritas Uni Soviet kemudian menyalakan api di lubang tersebut. Mereka mengira kalau api yg menyala di sana nantinya akan padam dengan sendirinya saat cadangan gas di bawahnya sudah terbakar habis.
Namun hingga puluhan tahun berlalu, ternyata api yg ada di lubang tersebut masih saja menyala terang & belun menunjukkan tanda-tanda akan padam dalam waktu dekat. Sekarang Gerbang Neraka jadi tempat yg ramai dikunjungi oleh turis dari dalam & luar negeri.
Yanar Dag
Marco Polo adalah seorang penjelajah asal Italia yg pernah mengerjakan perjalanan lintas benua pada zaman ke-13. Satu dari sekian banyak tempat yg pernah dikunjungi oleh Marco Polo adalah Baku, kota yg sekarang jadi ibukota negara Azerbaijan.
Saat berada di Semenanjung Abseron, Marco Polo melihat kalau ada sejumlah tempat di letak tersebut yg mengeluarkan api secara misterius tanpa diketahui sumbernya. Dari pemandangan itulah, muncul julukan Tanah Apiuntuk menyebut negara Azerbaijan.
Karena api-api tersebut muncul secara alamiah & menunjukkan kobaran yg besar, tidak mengherankan kalau kemudian penduduk sekitar pada masa itu merasa begitu takjub. Sejarawan pun menduga kalau api yg ada di Azerbaijan jadi penyebab munculnya agama Zoroastrian atau Majusi, agama antik yg praktik keagamaannya berkaitan dengan api.
Kendati jumlah penganutnya sudah jauh berkurang, penganut agama Zoroastrian masih ada hingga sekarang. Bahkan agama tersebut kini diakui sebagai salah satu agama minoritas resmi di Iran & memiliki jatah kursi di parlemen.
Banyaknya api alami yg menyala di Azerbaijan diduga kuat tercipta akibat banyaknya cadangan minyak di bawah negara tersebut. Sahabat Kaskus sekaliansaat aktivitas penambangan minyak berlangsung di Azerbaijan, banyak dari api tersebut yg kemudian padam akibat terjadinya perubahan tekanan di bawah tanah.
Namun tidak semua api alami di Azerbaijan mengalami pemadaman. Yanar Dag adalah salah satu api alami di Azerbaijan yg masih menyala hebat hingga sekarang. Dengan tinggi lidah api mencapai 10 meter, api Yanar Dag tidak pernah gagal memukau orang-orang yg menyaksikannya langsung.
Api di Yanar Dag sendiri baru tercipta pada tahun 1950-an. Menurut cerita warga lokal, api di Yanar Dag pada awalnya muncul ketika seorang penggembala melemparkan rokoknya ke tanah. Mendadak kobaran api akbar muncul dari bawahnya & api tersebut masih menyala terang hingga sekarang.
Bukit Asap
Kutub Utara diketahui dengan iklimnya yg dharap. Namun kondisi yg sedikit berbeda dapat dijumpai di Bukit Asap. Terletak di Kanada barat laut & berbatasan langsung dengan Samudera Arktik, Bukit Asap justru memiliki permukaan panas yg berwarna merah membara. Lengkap dengan asap yg membubung.
Orang Eropa perdana yg mengetahui keberadaan Bukit Asap adalah penjelajah Irlandia yg bernama Robert McClure pada tahun 1800-an. McClure yg merasa takjub kemudian menuliskan catatan kesaksiannya tersebut.
Menurut dugaan McClure & rekan-rekannya, asap tersebut muncul dari aktivitas vulkanis. Namun sebenarnya ada penjelasan lain di balik munculnya asap tersebut. Cekungan minyak yg ada di bawah tanah kaya akan kandungan sulfur & batubara cokelat. Sebagai akibatnya, setiap kali terjadi pengikisan di permukaan bukit, oksigen yg masuk akan bereaksi & menciptakan panas.
Seiring berjalannya waktu, sulfur dioksida yg tercipta dari reaksi ini mengubah tingkat keasaman di letak tersebut sehingga ekosistem di tempat tersebut nampak jauh berbeda dari daratan sekitarnya. Paparan panas secara berangsur-angsur mengubah warna bebatuan di atasnya jadi merah & jingga.
Bukit Asap sendiri bukanlah pemandangan asing bagi suku pribumi setempat yg sudah lama memanfaatkan tempat ini untuk mengumpulkan batu bara. Oleh suku Inuit, tempat tersebut mereka beri nama Paulatuk (Tempat Batubara).
Sumur Api Chamchamal
Api normalnya akan padam begitu terkena air. Namun hal tersebut tidak berlaku di sebuah mata air yg terletak di luar kota Chamchamal, Kurdistan Irak. Penyebabnya adalah karena di mata air tersebut, api nampak berkobar di permukaannya.
Layaknya negara-negara Timur Tengah lainnya, Irak memiliki kandungan minyak & gas alam yg amat melimpah. Saking banyaknya, di sejumlah tempat minyak hingga merembes keluar begitu saja. Kasus itulah yg jadi penyebab timbulnya api di mata air Chamchamal ini.
Kemunculan mata air berapi ini bermula ketika pada tahun 2015, dilakukan pengeboran sumber air supaya airnya dapat dipakai untuk keperluan irigasi penduduk setempat. Namun hal yg tidak diduga kemudian terjadi. Sahabat anehdidunia.comair yg menuju permukaan ternyata bercampur dengan gas metan sehingga api dapat menyala di air tersebut.
Api di mata air tersebut diperkirakan menyerap 2.200 liter gas alam setiap harinya sehingga dapat tetap menyala secara terus menerus. Kendati terlihat unik & spektakuler, kemunculan api ini membawa akibat negatif yg tidak diharapkan oleh warga sekitar. Api tersebut turut melepaskan polusi udara yg memiliki akibat negatif bagi orang-orang di sekitarnya.
Kemunculan api ini juga merupakan akibat tidak langsung dari aktivitas penambangan minyak yg sudah berlangsung di Irak sejak zaman ke-20. Akibat kegiatan penambangan, terjadi peningkatan tekanan gas di wilayah tersebut yg salah satu dampaknya adalah kemunculan api ini.
Pagar pembatas sekarang dipasang di sekeliling mata air supaya tidak ada orang yg mendekati api tersebut. Api yg muncul dari mata air Chamchamal ini memiliki intensitas yg sangat panas. Hanya dengan berdiri di dekatnya saja, orang sudah akan langsung berkeringat hebat.
Sumber :
Quote:
www.thetripgoeson.com
Hari ini 07:51
Gerbang Neraka
Karakum adalah nama dari gurun pasir yg terletak di negara Turkmenistan, Asia Tengah. Seperti halnya gurun kebanyakan, Karakum juga memiliki iklim yg kering & panas. Namun panas yg ada pada gurun ini masih bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Gerbang Neraka yg terdapat di tengah-tengah gurun ini.
Gerbang Neraka adalah sebutan untuk suatu lubang berdiameter 69 meter yg terletak di dekat Darvaza, suatu desa keci yg cuma dihuni oleh 350 orang. Sahabat anehdidunia.com sebutan Gerbang Neraka bukanlah sebutan yg tak berdasar. Sebabnya adalah di bawah lubang tersebut, terdapat kobaran api akbar yg cahayanya dapat terlihat hingga kejauhan.
Api yg menyala di Gerbang Neraka sudah berkobar selama lebih dari 40 tahun & masih belum padam hingga sekarang. Gerbang Neraka sendiri pada awalnya tercipta secara tidak sengaja ketika pada tahun 1971, regu penambang minyak Uni Soviet mengerjakan pengeboran di letak tersebut.
Saat bor mereka mengenai suatu cekungan gas raksasa, mendadak tanah di atasnya runtuh & perlengkapan bor minyak yg ada di atasnya juga turut ambruk ke bawah. Gas beracun yg ada di dalam cekungan kemudian bocor ke permukaan.
Supaya gas beracun yg berasal dari tempat tersebut tidak menyebar terlalu jauh, otoritas Uni Soviet kemudian menyalakan api di lubang tersebut. Mereka mengira kalau api yg menyala di sana nantinya akan padam dengan sendirinya saat cadangan gas di bawahnya sudah terbakar habis.
Namun hingga puluhan tahun berlalu, ternyata api yg ada di lubang tersebut masih saja menyala terang & belun menunjukkan tanda-tanda akan padam dalam waktu dekat. Sekarang Gerbang Neraka jadi tempat yg ramai dikunjungi oleh turis dari dalam & luar negeri.
Yanar Dag
Marco Polo adalah seorang penjelajah asal Italia yg pernah mengerjakan perjalanan lintas benua pada zaman ke-13. Satu dari sekian banyak tempat yg pernah dikunjungi oleh Marco Polo adalah Baku, kota yg sekarang jadi ibukota negara Azerbaijan.
Saat berada di Semenanjung Abseron, Marco Polo melihat kalau ada sejumlah tempat di letak tersebut yg mengeluarkan api secara misterius tanpa diketahui sumbernya. Dari pemandangan itulah, muncul julukan Tanah Apiuntuk menyebut negara Azerbaijan.
Karena api-api tersebut muncul secara alamiah & menunjukkan kobaran yg besar, tidak mengherankan kalau kemudian penduduk sekitar pada masa itu merasa begitu takjub. Sejarawan pun menduga kalau api yg ada di Azerbaijan jadi penyebab munculnya agama Zoroastrian atau Majusi, agama antik yg praktik keagamaannya berkaitan dengan api.
Kendati jumlah penganutnya sudah jauh berkurang, penganut agama Zoroastrian masih ada hingga sekarang. Bahkan agama tersebut kini diakui sebagai salah satu agama minoritas resmi di Iran & memiliki jatah kursi di parlemen.
Banyaknya api alami yg menyala di Azerbaijan diduga kuat tercipta akibat banyaknya cadangan minyak di bawah negara tersebut. Sahabat Kaskus sekaliansaat aktivitas penambangan minyak berlangsung di Azerbaijan, banyak dari api tersebut yg kemudian padam akibat terjadinya perubahan tekanan di bawah tanah.
Namun tidak semua api alami di Azerbaijan mengalami pemadaman. Yanar Dag adalah salah satu api alami di Azerbaijan yg masih menyala hebat hingga sekarang. Dengan tinggi lidah api mencapai 10 meter, api Yanar Dag tidak pernah gagal memukau orang-orang yg menyaksikannya langsung.
Api di Yanar Dag sendiri baru tercipta pada tahun 1950-an. Menurut cerita warga lokal, api di Yanar Dag pada awalnya muncul ketika seorang penggembala melemparkan rokoknya ke tanah. Mendadak kobaran api akbar muncul dari bawahnya & api tersebut masih menyala terang hingga sekarang.
Bukit Asap
Kutub Utara diketahui dengan iklimnya yg dharap. Namun kondisi yg sedikit berbeda dapat dijumpai di Bukit Asap. Terletak di Kanada barat laut & berbatasan langsung dengan Samudera Arktik, Bukit Asap justru memiliki permukaan panas yg berwarna merah membara. Lengkap dengan asap yg membubung.
Orang Eropa perdana yg mengetahui keberadaan Bukit Asap adalah penjelajah Irlandia yg bernama Robert McClure pada tahun 1800-an. McClure yg merasa takjub kemudian menuliskan catatan kesaksiannya tersebut.
Menurut dugaan McClure & rekan-rekannya, asap tersebut muncul dari aktivitas vulkanis. Namun sebenarnya ada penjelasan lain di balik munculnya asap tersebut. Cekungan minyak yg ada di bawah tanah kaya akan kandungan sulfur & batubara cokelat. Sebagai akibatnya, setiap kali terjadi pengikisan di permukaan bukit, oksigen yg masuk akan bereaksi & menciptakan panas.
Seiring berjalannya waktu, sulfur dioksida yg tercipta dari reaksi ini mengubah tingkat keasaman di letak tersebut sehingga ekosistem di tempat tersebut nampak jauh berbeda dari daratan sekitarnya. Paparan panas secara berangsur-angsur mengubah warna bebatuan di atasnya jadi merah & jingga.
Bukit Asap sendiri bukanlah pemandangan asing bagi suku pribumi setempat yg sudah lama memanfaatkan tempat ini untuk mengumpulkan batu bara. Oleh suku Inuit, tempat tersebut mereka beri nama Paulatuk (Tempat Batubara).
Sumur Api Chamchamal
Api normalnya akan padam begitu terkena air. Namun hal tersebut tidak berlaku di sebuah mata air yg terletak di luar kota Chamchamal, Kurdistan Irak. Penyebabnya adalah karena di mata air tersebut, api nampak berkobar di permukaannya.
Layaknya negara-negara Timur Tengah lainnya, Irak memiliki kandungan minyak & gas alam yg amat melimpah. Saking banyaknya, di sejumlah tempat minyak hingga merembes keluar begitu saja. Kasus itulah yg jadi penyebab timbulnya api di mata air Chamchamal ini.
Kemunculan mata air berapi ini bermula ketika pada tahun 2015, dilakukan pengeboran sumber air supaya airnya dapat dipakai untuk keperluan irigasi penduduk setempat. Namun hal yg tidak diduga kemudian terjadi. Sahabat anehdidunia.comair yg menuju permukaan ternyata bercampur dengan gas metan sehingga api dapat menyala di air tersebut.
Api di mata air tersebut diperkirakan menyerap 2.200 liter gas alam setiap harinya sehingga dapat tetap menyala secara terus menerus. Kendati terlihat unik & spektakuler, kemunculan api ini membawa akibat negatif yg tidak diharapkan oleh warga sekitar. Api tersebut turut melepaskan polusi udara yg memiliki akibat negatif bagi orang-orang di sekitarnya.
Kemunculan api ini juga merupakan akibat tidak langsung dari aktivitas penambangan minyak yg sudah berlangsung di Irak sejak zaman ke-20. Akibat kegiatan penambangan, terjadi peningkatan tekanan gas di wilayah tersebut yg salah satu dampaknya adalah kemunculan api ini.
Pagar pembatas sekarang dipasang di sekeliling mata air supaya tidak ada orang yg mendekati api tersebut. Api yg muncul dari mata air Chamchamal ini memiliki intensitas yg sangat panas. Hanya dengan berdiri di dekatnya saja, orang sudah akan langsung berkeringat hebat.
Sumber :
Quote:
How to Visit Yanar Dag (Fire Mountain) in Azerbaijan
All you need to know about Yanar Dag, the mysterious "fire mountain" in Azerbaijan. How to visit from nearby Baku and what else to see.
www.thetripgoeson.com
Hari ini 07:51