yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
SOLO – Penataan pedestrian Gladak- Pasar Gede dalam proyek koridor Sudirman mulai dikerjakan awal September 2012. Pagar bangunan di jalan sepanjang 300 meter itu akan dikepras.
“Ada 15 bangunan lebih di sisi barat dan timur Jalan Sudirman. Temboknya diminta dibongkar dan diganti dengan vegetasi. Seluruh pemilik persil telah dikomunikasikan dan mereka memahami,”kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo Budi Suharto,kemarin. Pengerjaan koridor Sudirman meliputi penataan Jalan Sudirman (Gladak-Pasar Gede), Jalan Mayor Kusmanto, dan Jalan Kapten Mulyadi.
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum memberi bantuan Rp7 miliar untuk pengerjaan tahap awal. Pada tahap ini,Pemkot Solo mengerjakan pedestrian Gladak- Pasar Gede sepanjang 300 meter di Jalan Sudirman.Adapun pedestrian berkonsep terbuka mengharuskan semua bangunan di sepanjang rute ini tidak berpagar.
Budi menyebutkan, resistensi pemilik bangunan terhadap rencana pengeprasan pagar tak akan membuat pemkot menunda proyek tersebut. “Proyek itu tahun ini harus selesai. Pro dan kontra pasti ada,hanya saja bagaimana kita mengonsolidasikan dan mematangkan aplikasi. Mereka khawatir aspek keamanan jika tak memiliki pagar,” jelasnya.
Mengenai penolakan pembongkaran tembok, kata Budi, hal itu bisa dinegosiasi.Dia menyebut pengelola Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Penabur di Jalan Jenderal Sudirman ingin mempertahankan temboknya karena faktor keamanan.“ Perlu melihat kepentingan ini di sisi makro. Solusinya, bisa diberi tanaman rambat yang melapisi tembok?” lanjutnya.
Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo Ahyani menambahkan, tembok milik GKKK dipersilakan tetap berdiri. Hanya saja perlu dimundurkan dan diturunkan ketinggiannya. “Kami meminta untuk dimundurkan beberapa meter, sekaligus lebih rendah. Selain gereja,pemilik yang lain bersedia tanpa tembok. Ini sudah kami sosialisasikan sebelumnya,” terang Ahyani.
Sementara itu, Wali Kota Solo Joko Widodo atau Jokowi menegaskan, proyek penataan koridor Sudirman tak boleh ditunda lagi. Sebelumnya, pemkot sempat putus asa merealisasikan kawasan koridor Sudirman karena dana dari kementerian PU tidak juga cair.
“Dana dari Cipta Karya sudah turun Rp7 miliar. Memang total kebutuhan dana untuk merealisasikan koridor cukup banyak, lebih dari jumlah bantuan itu. Yang Gladak- Pasar Gede dulu kita kerjakan, sehingga setelah selesai harapannya bisa diberi bantuan lagi,” imbuh Jokowi.
Sambil menunggu penyelesaiannya, pemkot bakal bernegosiasi kembali dengan pemilik bangunan di kawasan Pasar Gede.Terutama di sepanjang Jalan RE Martadinata.Selama ini,pemilik bangunan di sepanjang jalur di kawasan itu menolak mengepras bangunannya untuk kepentingan penataan koridor.
“Ada 15 bangunan lebih di sisi barat dan timur Jalan Sudirman. Temboknya diminta dibongkar dan diganti dengan vegetasi. Seluruh pemilik persil telah dikomunikasikan dan mereka memahami,”kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo Budi Suharto,kemarin. Pengerjaan koridor Sudirman meliputi penataan Jalan Sudirman (Gladak-Pasar Gede), Jalan Mayor Kusmanto, dan Jalan Kapten Mulyadi.
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum memberi bantuan Rp7 miliar untuk pengerjaan tahap awal. Pada tahap ini,Pemkot Solo mengerjakan pedestrian Gladak- Pasar Gede sepanjang 300 meter di Jalan Sudirman.Adapun pedestrian berkonsep terbuka mengharuskan semua bangunan di sepanjang rute ini tidak berpagar.
Budi menyebutkan, resistensi pemilik bangunan terhadap rencana pengeprasan pagar tak akan membuat pemkot menunda proyek tersebut. “Proyek itu tahun ini harus selesai. Pro dan kontra pasti ada,hanya saja bagaimana kita mengonsolidasikan dan mematangkan aplikasi. Mereka khawatir aspek keamanan jika tak memiliki pagar,” jelasnya.
Mengenai penolakan pembongkaran tembok, kata Budi, hal itu bisa dinegosiasi.Dia menyebut pengelola Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Penabur di Jalan Jenderal Sudirman ingin mempertahankan temboknya karena faktor keamanan.“ Perlu melihat kepentingan ini di sisi makro. Solusinya, bisa diberi tanaman rambat yang melapisi tembok?” lanjutnya.
Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo Ahyani menambahkan, tembok milik GKKK dipersilakan tetap berdiri. Hanya saja perlu dimundurkan dan diturunkan ketinggiannya. “Kami meminta untuk dimundurkan beberapa meter, sekaligus lebih rendah. Selain gereja,pemilik yang lain bersedia tanpa tembok. Ini sudah kami sosialisasikan sebelumnya,” terang Ahyani.
Sementara itu, Wali Kota Solo Joko Widodo atau Jokowi menegaskan, proyek penataan koridor Sudirman tak boleh ditunda lagi. Sebelumnya, pemkot sempat putus asa merealisasikan kawasan koridor Sudirman karena dana dari kementerian PU tidak juga cair.
“Dana dari Cipta Karya sudah turun Rp7 miliar. Memang total kebutuhan dana untuk merealisasikan koridor cukup banyak, lebih dari jumlah bantuan itu. Yang Gladak- Pasar Gede dulu kita kerjakan, sehingga setelah selesai harapannya bisa diberi bantuan lagi,” imbuh Jokowi.
Sambil menunggu penyelesaiannya, pemkot bakal bernegosiasi kembali dengan pemilik bangunan di kawasan Pasar Gede.Terutama di sepanjang Jalan RE Martadinata.Selama ini,pemilik bangunan di sepanjang jalur di kawasan itu menolak mengepras bangunannya untuk kepentingan penataan koridor.