Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Penulis: Angga Prasetyo
Editor: Fatio Nurul Efendi
Cangkeman.net -Orang Italia mengajarkanku bahwa di atas Tuhan, di atas anak-anak, di atas istrinya, & di atas ibunya, yg paling utama dari seorang pria adalah mensayangi penisnya.
Ungkapan di atas yg dikemukakan oleh tokoh fiksi dalam drama seri Peaky Blinders bernama Jack Nelson. Diakui atau tidak, diungkapkan secara frontal atau samar-samar, setiap lelaki pasti mensayangi penisnya lebih dari apa pun. Namun, bagaimana kalau kepunyaanmu bermasalah?
Bujang, bukan nama sebenarnya. Tahun depan, tiga puluh dua usianya. Kebetulan sedang mampir ke ibu kota. Sedang perjalanan dinas, katanya. Karena sama-sama sanggup meluangkan waktu, kami berjumpa & berujung membicarakan sesuatu yg tak lazim. Tentang penis.
Sebagai seseorang yg punya takdir hidup di negara religius, seksualitas merupakan tema pembicaraan yg tabu. Setidaknya, sanggup menciptakan suasana canggung menggantung, tetapi perasaan ini sepertinya cuma saya saja yg merasakan.
Lha, katanya lagi tak tau mau nulis apa. Ini loh kubantu. Tulis saja perkara ini.
Sebelumnya, saya memandang ke bawah. Tempat si jagoan berkandang. Barulah ku pandang paras laki-laki di hadapan saya,Ada apa dengan penismu, Jang?
Mikropenis & Kriptorkismus
Permasalahan penis yg dialami Bujang sudah ada sejak lahir. Ukurannya tidak sesuai standar. Dunia kedokteran mengistilahkan sebagai mikropenis. Idealnya, rata-rata ukuran penis laki-laki dewasa sekitar sembilan senti. Terdapat pendapat lain mengatakan tujuh senti masih dibilang normal. Pada wawancara dadakan yg kami lakukan, Bujang mengklaim, kepunyaannya kurang dari tujuh senti.
Sebetulnya, saya harap sekali memastikan klaim Bujang secara langsung. Biar betulan riil gitu, tetapi kok rasanya gimanaaa gitu, ya.Mosok iya, saya bilang sambil seakan-akan mau me-rudupaksa dia,Ah, nggak percaya gue, Jang. Coba sini, sini, gue lihat.Akhirnya, saya cuma dapat percaya saja dengan klaimnya. Saya pikir, ini keputusan yg teramat bijak.
Namun, Bujang punya masalah lain. Suatu kondisi yg disebut kriptorkismus. Seharusnya kedua buah zakar atau testis berkandang di kantong skrotum, sementara dalam kasus Bujang, salah satu testisnya melayang-layang di tempat lain.
Kriptorkismus atauundescended testisterjadi lantaran salah satu testis telat turun dari rongga perut ke kantong skrotum. Sama seperti kasus mikropenis, kriptorkismus sudah dapat dipastikan oleh dokter ketika bayi laki-laki baru saja lahir. Tidak dapat dipastikan betul-betul penyebab Bujang bernasib demikian. Sebuah kasus medis yg langka memang. Diperkirakan dalam 25 kelahiran bayi laki-laki, satu bayi akan berpotensi mengalami kriptorkismus.
Dari Semangat Berobat Hingga Putus Asa
Bujang tidak ingat betul usia ia mulai melaksanakan berbagai terapi demi alat reproduksinya normal. Biar seperti laki-laki kebanyakan. Namun, ia yakin sudah dimulai sejak masuk sekolah dasar.
Bujang mesti menghadapi jarum suntik seminggu sekali. Juga, menelan berbagai pil pahit yg harus ditebus setiap rawat jalan. Entah rumah sakit sebelumnya sudah angkat tangan atau memang yg terbaik, ia dirujuk ke rumah sakit yg lebih besar.
Di rumah sakit yg kedua, Bujang mendapatkan terapi yg lebih serius. Dia naik ke meja operasi saat duduk di kelas tiga sekolah dasar. Dengan tujuan si buah zakar yg gemar bertandang itu kembali berkandang. Menurut ingatannya, ini adalah masalah perdana yg harus dituntaskan oleh pihak rumah sakit. Selanjutnya, ia dirawat dua pekan sebelum diizinkan pulang.
Ternyata hasil operasinya gagal.
Si buah zakar tak betah berlama-lama di kandang. Dia kembali berpetualang. Malang betul nasib si Bujang. Punya buah zakar yg gemar wara-wiri.
Awalnya kawanku ini tak begitu memahami akibat dari kelakuan si buah zakar. Maklum, pada waktu itu masih bocah. Pada akhirnya, ia tahu akibat yg harus ditanggung: tidak punya sperma & tak punya bulu halus. Mau ketawa tetapi kok sungkan.
Mungkin, tujuan operasi tersebut supaya alat reproduksi yg kupunya tetap normal, meski ukurannya tidak sesuai rata-rata.
Barangkali anggapan yg dikatakan olehnya ada benarnya juga. Bujang lanjut bercerita tentang pengobatan yg terus dilakukan hingga masuk era putih biru, alias SMP. Pada tahap inilah ia merasa harus mengibarkan bendera putih. Menyerah.
Sebuah keputusan yg dibuat bukan atas ego sendiri, katanya.Aku melihat ibu sudah mulai putus asa. Jadi, kuputuskan menyerah & tidak mau menjalankan terapi pengobatan lagi. Biarlah begini adanya.
Sambil klepas-klepus menikmati sebatang rokok, dia menambahkan,Fungsi penisku sejauh ini cuma sebatas jalur air seni.
Gambaran Tekanan atauStressoryang dialami Bujang
Malu dengan Kondisinya
Seandainya seperangkat alat reproduksi kondisinya sama denganmu saja, misalkan, bukan tidak mungkin saat ini, saya sudah mengawini perempuan.
Menjalankan hidup dengan punya nasib mikropenis & kriptorkismus bukanlah perkara mudah. Serangan rasa malu karena kondisi kelaminnya yg begitu adanya terkadang muncul tanpatedeng aling-aling.
Pandangan begitu mempengaruhi bagaimana Bujang bersikap dengan orang lain. Dia mengklaim akibat kondisinya yg demikian, sering malu bila berhadapan dengan orang lain, khususnya perempuan yg sekiranya punya tanda-tanda harap mengerjakan hubungan lebih dekat.
Enggan Berhubungan Lebih Lanjut dengan Perempuan
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, Bujang sering tidak memperdulikan kaum perempuan yg punya maksud harap berhubungan lebih lanjut.
Bukannya merasa sok ganteng, biar kondisiku begini, perkara potensi jodoh tak terlalu mengenaskan.
Bujang mengorek-ngorek kenangan beberapa kali mendapatkan kesempatan saat perempuan menyatakan perasaan. Dia merasa bahagia pada awalnya. Namun, mengingat kondisinya seperti itu, dia sering menolak untuk menjalani hubungan lebih lanjut.
Lah, buat apa memberikan kesempatan pada seseorang kalau ujungnya nanti kemungkinan akbar bubar. Perkara menjalin hubungan dengan orang lain, jangan main-main.
Bagi Bujang, suatu hubungan dibalut romansa pasti akan berakhir duduk bersama di pelaminan. Kondisi alat reproduksinya yg tidak normal jadi alasan ia menutup rapat-rapat potensi hubungan macam itu. Alasan lainnya, Bujang sangat yakin bahwa ia tidak sanggup memberikan nafkah seksual kepada perempuan manapun.
Mandapatkan Pandangan Negatif
Memangnya siapa yg mau punya nasib seperti ini?
Punya penderitaan mikropenis & kriptorkismus terkadang dapat jadi bahan ejekan. Bujang memberikan persamaan bahwa laki-laki yg memiliki ukuran penis normal, misalkan, akan marah saat dicela kalau ukurannya dianggap kecil. Begitupun dirinya. Hal yg lebih menyebalkan lagi, hal tersebut dihinggakan oleh keluarga besarnya sendiri. Rasa malu terbalut sakit hati dapat terasa berlipat-lipat.
Merasa Kesepian
Bujang mengatakan, perasaan kesepian kian menguat ketika baru masuk usia tiga puluh. Sebuah perasaan yg menurutnya berasal dari menjalani hidup seorang diri. Kesepian & kesendirian merupakan suatu kondisi yg secara umum, dapat dihilangkan kalau terdapat seseorang yg dapat mengisi keseharian. Juga, memiliki benefit untuk diajak bertukar pikiran, atau sekadar mengobrol hal-hal remeh hingga saling memberikan dukungan & berbagai saran.
Menjalani hari tanpa adanya kekasih rasanya sepi banget. Apalagi kalau kondisi finansial memang sudah baik & layak berumah tangga. Kadang, ya, pengen punya pacar bahkan istri, tetapi mengingat kondisinya begini, nggak mungkin.
Strategi Bujang Menghadapi Tekanan
Mengalihkan Stressor ke Aktivitas Lain
Untuk mengalihkan berbagai tekanan, baik bersifat internal dan/atau eksternal, Bujang mengerjakan berbagai kegiatan lain.
Misalkan, saat perasaan sepi hadir, ya, tinggal ditenggelamkan dengan fokus menyelesaikan berbagai pekerjaan.
Pekerjaan yg dimaksud tentunya profesi yg dipunya saat ini sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta. Bujang juga bercerita, tak jarang saat tidak ada pekerjaan lain yg harus dituntaskan, ia meminta pekerjaan tambahan. Bujang mengklaim sukarela lembur. Selama sanggup menghilangkan berbagai pikiran & perasaan negatif, tidak jadi soal.
Mencari Kompensasi
Mengalami kondisi mikropenis & kriptorkismus, bagi Bujang merupakan dua daftar dari berbagai kekurangan yg dipunya. Menurutnya, dibutuhkan kompensasi tertentu untuk menutup kekurangan yg dipunya.
Pernah denger nggak, saat seseorang punya suatu kelemahan atau kekurangan tertentu, ternyata moncer di aspek lain dalam hidupnya? Nah, itulah yg kulakukan.
Dalam diri manusia, terdapat dorongan untuk menaklukan suatu hal. Tujuanya supaya dipandang secara utuh. Sehingga, orang lain tidak cuma sibuk menilai cuma dari aspek kekurangan, melainkan juga berbagai kelebihan yg dikembangkan sepanjang hidup.
Dalam kasus Bujang, kompensasi yg harus didapatkan demi menutupi kekurangannya, salah satunya melalui jenjang karir. Bagi saya pribadi, karir Bujang sangat moncer. Pasca lulus strata satu, mendapatkan kesempatan karir programManagement Trainee.Sekarang, Bujang menduduki Kepala Cabang. Keharapannya saat ini setelah jadi Kacab selama beberapa tahun, harap menduduki jabatanSubject Matter Expertatau SME. Suatu jabatan yg menurutnya sangat fenomenal di perusahaannya.
Berusaha Menerima Kondisi Diri
Sebetulnya sekarang dapat saja kembali menjalani pengobatan & berbagai terapi. Namun nggak kulakukan hingga sekarang. Bisa jadi, karena sudah mulai nyaman.
Memang proses penerimaan diri terkadang dianggap klise. Namun buat Bujang, tak ada salahnya untuk hidup membujang sepanjang waktu hingga maut menjemput. Memang, saat menjalankan keputusan yg diambil, berbagai hal negatif dapat hadir. Namun baginya, ini hanyalah risiko yg terkandung atas pilihan.
Tak masalah sesekali mengeluh. Buatku, normal. Toh, pada akhirnya, berbagai keluhan itu akan lenyap.
'Mengangkat Anak'
Inilah strategi terbaru yg dilakukan Bujang. Dia mengatakan, baru-baru ini mengangkat anak dalam artian tertentu. Menurutnya, strategi ini sangat berdampak positif.
Kan, mengangkat anak secara official, prosesnya ruwet banget. Lagipula, nggak dapat juga. Karena salah satu persyaratannya harus suami-istri. Sementara saya nggak begitu kondisinya.
Bujang menjelaskan maksud dari mengangkat anak. Jadi, kawanku ini jadi donatur di salah satu panti asuhan. Sebagai donatur, Bujang berhak memilih salah satu anak yg akan dibantu biaya hidup minimal sebulan sekali. Nah, uang yg diberikan nantinya untuk dibelikan berbagai tetek-bengek penunjang kehidupan si anak. Misalkan: popok, susu, & lain sebagainya.
Pihak panti asuhan setiap saat akan mengirimkan kabar & dokumentasi berupa foto atau video mengenai kondisi anak yg dipilih donatur.
Kemudian, Bujang juga bercerita tentang kabar si anak bahwa sudah dapat buang air di toilet sendiri.
Tau, nggak, denger kabar begitu doang, rasanya seneng banget. Jadi nggak sabar kedepannya si anak dapat apa lagi. Muncul perasaan hangat & nyaman, serta berpikir kalau kehidupanku bertambah lagi maknanya.
Penutup
Setiap orang pasti punya masalah masing-masing dalam hidup. Dalam kasus Bujang, mesti menghadapi mikropenis & kriptorkismus sepanjang waktu. Jelas, sangat memampukan lahir berbagai tekanan, seperti: malu dengan kondisinya, enggan berhubungan serius dengan perempuan, mendapatkan berbagai pandangan negatif dari berbagai pihak, hingga dirajam sepi.
Dari berbagaistressoryang didapatkan, Bujang menerapkan bermacam-macam strategi dalam menanggulanginya. Namun, yg mengesankan bagi saya, adanya upaya memanfaatkan dorongan menaklukan di dalam dirinya ke arah yg positif. Hal ini sangat penting. Mengingat setiap orang punya hendaya atau kelemahan tertentu, mengambil suatu aspek & mengembangkan sepanjang waktu hingga dapat dibanggakan merupakan strategi jenius.
Terlepas apa pun kekurangan yg kita punya, jangan pernah lupa bahwa kita punya kesempatan untuk menciptakan diri jadi lebih positif. Barangkali, kalau lupa atau merasa tidak pernah bahagia, kita akan mendapatkannya melalui cara seperti ini.
Sebagai penutup wawancara kami, saya bertanya,Lantas dengan kondisimu yg begitu adanya, anda tetap pede menyebut dirimu tetaplah lelaki?
Kemudian dia membalas,Ya jelas dong. Perkara ini kan takdir yg nggak dapat diubah. Ini adalah bukti diri seksual yg sudah diberikan kepada Yang Maha Kuasa kepadaku, terlepas bagaimanapun kondisinya.
Tak lupa, Bujang memberikan saya nasehat bagai orang tua, punya anak laki-laki yg bodoh betul dalam menggaet perempuan.Kamu itu, ya, Ngga [Angga maksudnya. Merupakan nama saya], usia sudah tinggi, masih saja jomblo. Hati-hati loh, nanti burungmu menciut, testismu lenyap. Buruan cari pasangan. Atau mau dibantu? Saya ada nih
Asem!
Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 27 November 2022.
Kemarin 23:29