Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cinta Tuhanlah yg Menguatkan
Sebelum bertolak kembali ke tanah air, sosok pria dengan langkah lunglai menyusuri pinggir sungai yg sudah merampas senyum sumringah dari wajahnya. Dharapnya air tak menyurutkan langkahnya, berharap menemukan putra tersayang. Meskipun sang belahan jiwa ditemukan dalam keadaan tak bernyawa pun beliau sudah ikhlas. Namun, takdir menggariskan beliau tak menemukannya sebelum ia bertolak kembali ke tanah air.
Di sisi lain, sang ibunda menuliskan pesan haru untuk putra tersayang, yg barangkali ada jutaan mata sembab membaca pesan haru tersebut. Merelakan putra untuk tak jelas di mana pembaringan terakhirnya. Hati orangtua mana yg tak terkoyak, berharap sang putra berangkat untuk menjemput cerita suksesnya. Namun, kenyataan takdir menghadirkan cerita memilukan.
Tak ada yg dapat tau sedalam apa rasa sakitnya, tak seorangpun yg sanggup mengukur seberapa akbar rasa perihnya. Tak ada yg sanggup menggambarkan rasa kehilangan yg mereka rasakan. Jutaan moment tercipta dalam hidup manusia yg datang silih berganti dengan tawa & terkadang dengan air mata. Ibarat membangun istana pasir, akan ada saatnya samudra akan kembali mengambil apa yg sudah jadi haknya. Sejatinya setiap makhluk yg terlahir di permukaan bumi, hanyalah sebuah titipan, yg pada akhirnya yg paling berhak adalah sang pemilik-Nya. Pada akhirnya perjalanan panjang manusia akan bermuara pada kematian & saat itu, ikhlas adalah jalan terbaik, jalan paling tersulit untuk dilalui, tetapi itulah jalan yg paling menenangkan. Tak ada opsi lain kecuali berpasrah & sandarkan hidup pada-Nya, karena sejatinya sandaran terkuat hanyalah kepada-Nya.
Kehidupan di dunia, barangkali kita bagian dari orang-orang hebat, seorang milyarder bahkan tokoh penting. Tetapi, bagi malaikat maut, kita cuma deretan orang-orang yg sejatinya sedang antri menanti giliran untuk menghadap mempertanggungjawabkan sekecil apapun kebaikan & keburukan kita di dunia.
Emmeril Kahn Mumtadz, putra sulung dari orang nomor satu Jawa Barat, bertolak dari tanah air menuju Swiss untuk melanjutkan pendidikan, tetapi siapa sangka perjalanan itu adalah perjalanan menjemput ajal yg sudah Allah gariskan pada perjalanan hidupnya. Seorang anak dari tokoh penting negeri, nyatanya bukan tolak ukur tertundanya ajal menjemput. Tuhan sudah menggariskan kehidupannya serba berkecukupan dalam hal materi, yg sanggup mengantarkan ia ke negeri seberang demi menuntut ilmu. Tetapi, jalan itu pulalah yg mengantarkan ia menghadap sang khalik. Semoga, jutaan doa tulus yg terus dilantunkan & menggema di setiap hembusan napas jadi jalan terang bagimu untuk menghadap pada Rabbmu. Semoga Tuhan senantisa mendekapmu dalam sayang-Nya, hingga dharapnya swiss tak lagi engkau rasakan. Cinta Tuhan, akan senantiasa menghangatkamu & sayang Tuhan pulalah yg menguatkan orang-orang yg menyayangimu.
Dari sanalah kita belajar bahwa sehebat apapun rencana manusia, sehebat & sekuat apapun pangkat & jabatan pada akhirnya, akhir dari cerita di dunia Allahlah yg punya kuasa. Semoga Allah senantiasa menguatkan. Cukuplah peristiwa memilukan disekeliling kita menjadikan pembelajaran untuk lebih dekat pada-Nya. Sungguh kita adalah milik Allah, & kepada-Nya pulalah kita akan kembali (Q.S Al-Baqarah : 156)
Sinjai, 04 Juni 2022 Hari ini 20:25
Sebelum bertolak kembali ke tanah air, sosok pria dengan langkah lunglai menyusuri pinggir sungai yg sudah merampas senyum sumringah dari wajahnya. Dharapnya air tak menyurutkan langkahnya, berharap menemukan putra tersayang. Meskipun sang belahan jiwa ditemukan dalam keadaan tak bernyawa pun beliau sudah ikhlas. Namun, takdir menggariskan beliau tak menemukannya sebelum ia bertolak kembali ke tanah air.
Di sisi lain, sang ibunda menuliskan pesan haru untuk putra tersayang, yg barangkali ada jutaan mata sembab membaca pesan haru tersebut. Merelakan putra untuk tak jelas di mana pembaringan terakhirnya. Hati orangtua mana yg tak terkoyak, berharap sang putra berangkat untuk menjemput cerita suksesnya. Namun, kenyataan takdir menghadirkan cerita memilukan.
Tak ada yg dapat tau sedalam apa rasa sakitnya, tak seorangpun yg sanggup mengukur seberapa akbar rasa perihnya. Tak ada yg sanggup menggambarkan rasa kehilangan yg mereka rasakan. Jutaan moment tercipta dalam hidup manusia yg datang silih berganti dengan tawa & terkadang dengan air mata. Ibarat membangun istana pasir, akan ada saatnya samudra akan kembali mengambil apa yg sudah jadi haknya. Sejatinya setiap makhluk yg terlahir di permukaan bumi, hanyalah sebuah titipan, yg pada akhirnya yg paling berhak adalah sang pemilik-Nya. Pada akhirnya perjalanan panjang manusia akan bermuara pada kematian & saat itu, ikhlas adalah jalan terbaik, jalan paling tersulit untuk dilalui, tetapi itulah jalan yg paling menenangkan. Tak ada opsi lain kecuali berpasrah & sandarkan hidup pada-Nya, karena sejatinya sandaran terkuat hanyalah kepada-Nya.
Kehidupan di dunia, barangkali kita bagian dari orang-orang hebat, seorang milyarder bahkan tokoh penting. Tetapi, bagi malaikat maut, kita cuma deretan orang-orang yg sejatinya sedang antri menanti giliran untuk menghadap mempertanggungjawabkan sekecil apapun kebaikan & keburukan kita di dunia.
Emmeril Kahn Mumtadz, putra sulung dari orang nomor satu Jawa Barat, bertolak dari tanah air menuju Swiss untuk melanjutkan pendidikan, tetapi siapa sangka perjalanan itu adalah perjalanan menjemput ajal yg sudah Allah gariskan pada perjalanan hidupnya. Seorang anak dari tokoh penting negeri, nyatanya bukan tolak ukur tertundanya ajal menjemput. Tuhan sudah menggariskan kehidupannya serba berkecukupan dalam hal materi, yg sanggup mengantarkan ia ke negeri seberang demi menuntut ilmu. Tetapi, jalan itu pulalah yg mengantarkan ia menghadap sang khalik. Semoga, jutaan doa tulus yg terus dilantunkan & menggema di setiap hembusan napas jadi jalan terang bagimu untuk menghadap pada Rabbmu. Semoga Tuhan senantisa mendekapmu dalam sayang-Nya, hingga dharapnya swiss tak lagi engkau rasakan. Cinta Tuhan, akan senantiasa menghangatkamu & sayang Tuhan pulalah yg menguatkan orang-orang yg menyayangimu.
Dari sanalah kita belajar bahwa sehebat apapun rencana manusia, sehebat & sekuat apapun pangkat & jabatan pada akhirnya, akhir dari cerita di dunia Allahlah yg punya kuasa. Semoga Allah senantiasa menguatkan. Cukuplah peristiwa memilukan disekeliling kita menjadikan pembelajaran untuk lebih dekat pada-Nya. Sungguh kita adalah milik Allah, & kepada-Nya pulalah kita akan kembali (Q.S Al-Baqarah : 156)
Sinjai, 04 Juni 2022 Hari ini 20:25