Assalaamu'alaikum !
Sobat... Segala yang anda uraikan adalah sekumpulan keterangan dari beberapa kitab para ulama tertentu. Dalam beberapa konsep diskusi pendapat2 tsb di antaranya telah mendapat bantahan dari beberapa pola pemikiran tertentu pula. Tapi anda punya hak jika ingin meyakini alur kisah dari uraian anda itu. Dan saya menghormati pilihan anda.
Yang harus kita ingat dalam menilai satu hadits adalah bahwa hadits tidaklah dapat berdiri sendiri tanpa adanya Al Qur-an sebagai sumber rujukan (Inna ilaa Rabbika ruj'aa). Ini penting, karena di antaranya adalah YAHUDI yang telah memiliki peranan penting atas beredarnya sejumlah kitab dan hadits yang telah bececeran di kalangan umat Islam. Sebagaimana Nabi Saw telah menegaskan bahwa : "Setiap orang YAHUDI berkemampuan membuat 4000 hadits". Terlebih dalam rangka aksi mereka dalam melakukan penghadangan terhadap tegaknya Al Qur-an, maka mereka melakukan sejumlah pemutarbalikan fakta dan sejarah. Anda bisa lihat An Nisaa : 46.
Maka di antara keterangan yang anda uraikanpun terdapat beberapa pertentangan dengan isi Al Qur-an. Di antaranya adalah :
1. Pengertian Dajjal yang cenderung diartikan sebagai sosok makhluk mengerikan yang bermata satu, raksasa, rambut ikal dan mukanya merah. Sepertinya ini masuk pada pemahaman Hinduisme seperti halnya sosok BUTO. Sedangkan dalam arti kamus, Dajjal berarti "Pengkawinan dua hal yang dilarang". Memang istilah Dajjal tidak ada dalam Al Qur-an, namun prinsip kerjanya Al Qur-an telah menjelaskan tentang pencampuradukan antara HAQ dengan BATHIL yang melahirkan kemusyrikan / nilai hukum yang abu-abu, putih hitam sudah tidak kelihatan lagi. Contohnya adalah pada ritual yang meminjam istilah dari Allah (Bismillah/ do'a dll) namun tidak ada tuntunannya dari Rasulullah). Maka Dajjal berarti pengkawinan antara HAQ dengan Kebathilan, yang seharusnya ini adalah dua sifat yang saling bertolak belakang, tidak dapat dijadikan satu.
2. Tentang turunnya kembali Isa As dari langit. Ini nampaknya telah masuk pada pemahaman KRISTENISME, bahwa Yesus bangkit dari kubur (Resurection), juga masuk pada pemahaman ANIMISME bahwa orang yang telah mati rohnya akan bergentayangan. Dan ini bertentangan dengan Al Qur-an. Dikatakan dalam Al Qur-an bahwa semua yang bernyawa akan merasakan mati (Kullu nafsin dzaa-iqatul mauut). Dan tidak dijelaskan oleh Allah jika Nabi Isa As akan hidup kembali di alam dunia. Maka yang dimaksud dengan "turun kembali" adalah Sunnah Isa yang akan kembali tegak, sebagaimana telah disinggung oleh Nabi Saw "Khairu qarnun qarnii wa qarnun min ba'dii" (Seindah-indah kurun adalah kurunku / Madinatul Munawarah, dan kurun setelahku). Artinya suatu saat nanti Al Qur-an akan tegak kembali, dan prinsip Al Qur-an adalah kelanjutan dari Sunnah Isa As.
3. Pengertian "IMAM MAHDI" yang cenderung pula diterjemahkan sebagai sosok manusia yang akan berkolaborasi dengan Nabi Isa As. Istilah IMAM MAHDI merupakan satu bentuk Kata majemuk yang membentuk satu frase. Maka harus ditinjau dari segi tata bahasa yaitu bentuk kata benda atau kata kerja.
Istilah "IMAM" kita dapat merujuk pada hadits. Di kala Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad Saw :
"Wa maa Imaamuka ? (Siapa/apa Imammu?)", yang dijawab oleh Nabi Saw :
" AL Qur-aanu Imaamii ! (Al Qur-aan adalah Imam-ku !)".
Maka arti IMAM yang dimaksud adalah AL Qur-an.
Kemudian istilah MAHDI / MAHDIYYUN merupakan bentuk kata benda (isim maf'uulun) yang berarti "YANG MENDAPATKAN HIDAYAH / PETUNJUK".
Maka Istilah IMAM MAHDI nilainya akan berlaku jamak, yaitu "ORANG-ORANG YANG MENDAPATKAN HIDAYAH AL QUR-AN". Inilah mereka yang kelak akan melakukan pemberantasan terhadap DAJJAL. Merekalah yang kelak akan melakukan pembersihan / pemurnian kembali Ajaran Islam dari segala bentuk kemusyrikan (kelabu). Karena syarat mutlak berdiri tegaknya Al Qur-an adalah harus dalam kondisi steril dari segala kemusyrikan. Seperti contoh sejarah, kenapa Al Qur-an Nabi tegakkan di Madinnah ? Kenapa harus hijrah ? Itu karena Mekkah tidak steril dari Musyrik !.
Maka tanda-tanda kiamat yang riil yang telah Nabi Muhammad jelaskan di antaranya :
- Pembantu melahirkan anak majikan
- laki-laki menyerupai perempuan begitupun sebaliknya
- anak membunuh bapaknya begitupun sebaliknya
- merajalelanya insest (perkawinan antara hubungan darah dalam keluarga)
- kemaksiatan sudah menjadi hal yang biasa / tidak lagi tabu
- orang berlomba-lomba merumbai-rumbai / menghias masjid
- pedagang mencurangi timbangannya
- bencana yang silih berganti
- peperangan di mana-mana
- dan lain-lain hingga terbitnya matahari di tempat tenggelamnya.
Maka segala bentuk keterangan haruslah kita timbang terlebih dahulu yaitu dengan merujuknya ke Al Qur-an.
Maaf, ini bukan debat, melainkan satu bentuk diskusi dan saling berbagi wawasan yang Ilmiah.
Wassalaamu'alaikum !