Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Credit Photo/PakTaniDigital
Hai GanSis!! Pernah ketemu pertanyaan seperti ini: "mengapa masih ada orang susah di Indonesia, padahal tanah Indonesia subur?" atau kadang dibalik "katanya kekayaan alam Indonesia melimpah, tetapi kok rakyatnya masih ada yg miskin?".
Awalnya saya tertarik sama topik bahasan seperti itu. Tapi lama-lama MUAK. Bosen dengernya. Sumpah!!
Saya pernah lihat di salah satu platform tanya jawab online. Ada yg tanya pertanyaan seperti diatas. Dan jawabannya sekitaran: karena korupsi, dikuasai asing, hasil alamnya dijual ke asing & utang negara.
Dan ternyata jawaban yg seperti itu juga sering saya temukan di dunia nyata. Ribet sekali. Kenapa kita tidak berpikir sederhana saja. Inikan soal tanah Indonesia yg subur, yg katanya tongkat kayu & batu jadi tanaman. Kail & jala cukup menghidupinya.
Tapi beberapa akbar masyarakat Indonesia mengartikannya sebagai "tanah surga", maksudnya surga dalam artian tidak ngapa-ngapain tetapi segala kebutuhan sudah terpenuhi.
Tinggal di negara yg gemah Ripah lohjinawi seperti Indonesia, tidak ada jaminan auto kaya. Sumber daya alam yg melimpah saja gak cukup untuk jadi sejahtera & makmur. Tapi juga perlu adanya sumber daya manusia yg (sangat) memadai. Dan duit yg banyak sebagai modal. Nah di kita, berpikirnya negara Indonesia ini super kaya raya, sehingga merasa anti utang luar negeri.
Gimana ya, emang benar tanah kita, Indonesia ini subur. Tapi kalau rakyatnya lebih banyak yg suka jadi PNS ketimbang petani, maka tanah tetaplah tanah. Meskipun tanahnya subur, tetapi kalau tidak ada yg mengolah, ya tidak mungkin muncul buah-buahan dengan sendirinya.
Jika sadar tanah Indonesia subur, maka jadilah petani. Kembangkan teknologi pertanian, perbagus sistem pemasarannya & jagalah alam.
Kenyataannya kini jumlah petani di Indonesia terus menurun. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020 ada sekitar 33,4 juta petani yg bergerak di semua komoditas sektor pertanian. Angka tersebut jumlahnya jauh lebih kecil kalau dibandingkan jumlah petani pada 2019 yg mencapai 34,58 juta.
Jika dibanding 2018 jumlah itu juga turun yg tercatat 35,70 juta orang. Jika kondisi terus begini, maka 10-15 tahun lagi Indonesia akan mengalami krisis petani.
Nah, gak dapat disalahkan juga kenapa rakyatnya tidak mau bertani. Karena faktor utamanya itu penghasilan yg tidak menentu.
Btw, rumah saya yg saya tinggali sekarang dulunya sawah milik nenek. Namun sekarang sudah berhenti bertani. Bukan gak mau lanjut lagi. Memang sawahnya sudah susah ditanami padi, karena tidak ada irigasi. Jadi full berharap pengairan dari turunnya hujan. Jika tidak begitu, ya harus pompa sumur bor. Dan itu memerlukan biaya gede.
Setidaknya dari sini saya berharap pesan saya terhinggakan pada siapapun yg baca. Bahwa jangan sering terjebak dalam angan-angan berada di tanah surga. Sehingga berpikir semuanya jadi mudah. Berpasrah pada pemerintah untuk mengolahnya & hasilnya untuk semua rakyat. Hmm.. tidak semudah itu Florentino!! Sementara Anda sendiri ogah mengolah kesuburan tanah Bumi Pertiwi ini.
Ini opini saya pribadi. Jadi bebas untuk di diskusikan. Secara ini juga forum Kasak Kusuk.
Rianda Prayoga
#NapaweiPost
Binjai, 23 April 2021
Spoiler for sumber & referensi:
radartegal.com
Hari ini 20:35
Credit Photo/PakTaniDigital
Hai GanSis!! Pernah ketemu pertanyaan seperti ini: "mengapa masih ada orang susah di Indonesia, padahal tanah Indonesia subur?" atau kadang dibalik "katanya kekayaan alam Indonesia melimpah, tetapi kok rakyatnya masih ada yg miskin?".
Awalnya saya tertarik sama topik bahasan seperti itu. Tapi lama-lama MUAK. Bosen dengernya. Sumpah!!
Tapi ya itulah gw, uda tau bosen tetapi masih dibuat thread juga. Ya biasalah..
Saya pernah lihat di salah satu platform tanya jawab online. Ada yg tanya pertanyaan seperti diatas. Dan jawabannya sekitaran: karena korupsi, dikuasai asing, hasil alamnya dijual ke asing & utang negara.
Dan ternyata jawaban yg seperti itu juga sering saya temukan di dunia nyata. Ribet sekali. Kenapa kita tidak berpikir sederhana saja. Inikan soal tanah Indonesia yg subur, yg katanya tongkat kayu & batu jadi tanaman. Kail & jala cukup menghidupinya.
Tapi beberapa akbar masyarakat Indonesia mengartikannya sebagai "tanah surga", maksudnya surga dalam artian tidak ngapa-ngapain tetapi segala kebutuhan sudah terpenuhi.
Tinggal di negara yg gemah Ripah lohjinawi seperti Indonesia, tidak ada jaminan auto kaya. Sumber daya alam yg melimpah saja gak cukup untuk jadi sejahtera & makmur. Tapi juga perlu adanya sumber daya manusia yg (sangat) memadai. Dan duit yg banyak sebagai modal. Nah di kita, berpikirnya negara Indonesia ini super kaya raya, sehingga merasa anti utang luar negeri.
Gimana ya, emang benar tanah kita, Indonesia ini subur. Tapi kalau rakyatnya lebih banyak yg suka jadi PNS ketimbang petani, maka tanah tetaplah tanah. Meskipun tanahnya subur, tetapi kalau tidak ada yg mengolah, ya tidak mungkin muncul buah-buahan dengan sendirinya.
Jika sadar tanah Indonesia subur, maka jadilah petani. Kembangkan teknologi pertanian, perbagus sistem pemasarannya & jagalah alam.
Kenyataannya kini jumlah petani di Indonesia terus menurun. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020 ada sekitar 33,4 juta petani yg bergerak di semua komoditas sektor pertanian. Angka tersebut jumlahnya jauh lebih kecil kalau dibandingkan jumlah petani pada 2019 yg mencapai 34,58 juta.
Jika dibanding 2018 jumlah itu juga turun yg tercatat 35,70 juta orang. Jika kondisi terus begini, maka 10-15 tahun lagi Indonesia akan mengalami krisis petani.
Nah, gak dapat disalahkan juga kenapa rakyatnya tidak mau bertani. Karena faktor utamanya itu penghasilan yg tidak menentu.
Btw, rumah saya yg saya tinggali sekarang dulunya sawah milik nenek. Namun sekarang sudah berhenti bertani. Bukan gak mau lanjut lagi. Memang sawahnya sudah susah ditanami padi, karena tidak ada irigasi. Jadi full berharap pengairan dari turunnya hujan. Jika tidak begitu, ya harus pompa sumur bor. Dan itu memerlukan biaya gede.
Setidaknya dari sini saya berharap pesan saya terhinggakan pada siapapun yg baca. Bahwa jangan sering terjebak dalam angan-angan berada di tanah surga. Sehingga berpikir semuanya jadi mudah. Berpasrah pada pemerintah untuk mengolahnya & hasilnya untuk semua rakyat. Hmm.. tidak semudah itu Florentino!! Sementara Anda sendiri ogah mengolah kesuburan tanah Bumi Pertiwi ini.
Ini opini saya pribadi. Jadi bebas untuk di diskusikan. Secara ini juga forum Kasak Kusuk.
Rianda Prayoga
#NapaweiPost
Binjai, 23 April 2021
Spoiler for sumber & referensi:
Jumlah Petani Hanya Tersisa 33,4 Juta Orang, Julukan Indonesia Negara Agraris Bisa Hilang - radartegal.com
Bahkan, Negeri yang dikenal sangat subur ini diprediksi bakal mengalami krisis petani dalam kurun waktu 10-15 tahun ke depan.
radartegal.com