• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Takdir

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
Hari ini kumpul dengan keluarga. Diantaranya 2 orang keponakan yang sebenarnya justru sebaya denganku. Keduanya lumayan sukses sekarang, paling tidak ada mobil sebagai tunggangan mereka seakrang.

Menarik. Keduanya adalah Muslim yang sedang merayakan Idul Fitri di kampung halamannya di tempatku untuk mengunjungi ibu mereka (kakakku) yang sudah menikah dengan ayah tiri mereka saat ini.

Ayah mereka baru saja berpulang, sekitar sebulan yang lalu. Sedikit polemik terjadi saat meninggalnya abang iparku ini. Karena semasa hidupnya setelah bercerai dengan kakak perempuanku, dia juga menikah lagi dengan wanita lain yang juga Muslim dan sekarang meninggalkan dua anak sebagai adik tiri keduanya.

Kedua ponakanku ini adalah manusia-manusia tabah. Sedikit kaget namun sangat taat pada kedua orang tua mereka yang sebenarnya tidak berhasil mendidik mereka dengan benar, karena perceraian keduanya puluhan tahun yang lalu.

Abang ipaku juga laki-laki yang tangguh aku kira. Ada alasan sangat prinsipil mungkin yang mengakibatkan hancurnya keluarga ini dulu.

Obrolan kembali ke masa lalu. Teringat saat abang iparku bagaimana membela anak-anaknya dulu. Pasca perceraian dengan kakak perempuanku. Abang iparku menggelandang di sekitar Medan, dengan 3 orang anak laki-laki remaja yang sudah pasti putus sekolah.

Sore itu, kelaparan sudah melanda ke 3 keponakanku dan abang iparku itu. Sudah sejak pagi mereka tidak makan. Dan si bapak (abang iparku) dengan senyum cengengesan berusaha untuk tampil meyakinkan, memasuki sebuah kedai/toko yang menjual sembako/kelontong. Tangannya sigap mengambil sebungkus kue bolu lalu menuju kasir.

“Maaf ko… saya bermaksud menjual kue ini, saya bisa kasih harga murah… tolonglah…. saya sekarang sangat kesusahan” abang iparku membual pada kasir kedai dengan meninggalkan ketiga anak laki-lakinya tak jauh dari toko/kedai.

Kasir manatap abang iparku dengan tatapan selidik, lalu berkata mantap, “maaf pak…. kue seperti itu sudah masuk ke kami dari si polan….”

Abang iparku memasang tampang kecewa, dan keluar dari toko tersebut dengan kue bolu di tangannya. Menghampiri ketiga anaknya, dan bergegas cepat sebelum pemilik toko menyadari bahwa mereka sudah mencuri sebungkus kue bolu dari toko tersebut.

Dan hari itu terlewatkan dengan pengganjal perut dari kue curian.

Apa yang bisa aku renungkan. Begitulah seorang laki-laki yang sudah menajdi bapak dalam membela anak-anaknya. Sementara ibu mereka sedang menajdi pengantin baru dengan laki-laki lain. Mengharukan.

Demikianlah mengapa ketiga anak laki-laki yang keponakanku itu bisa menjaga bhakti mereka pada ayah mereka. Polemik terjadi sebulan yang lalu saat ayah mereka meninggal. Yah… abang iparku itu meninggal.

Dengan meninggalkan seorang istri dan 2 orang anak. BerKTP Muslim. Namun pesan terakhirnya kepada anak-anaknya adalah, dia ingin dimakamkan dengan cara Buddha dan agar anak-anaknya mencarikan suami pada ibu tiri mereka, serta jangan pernah lupa pada kedua adik tiri mereka.

Pesan pertama sangat sulit. Bahkan sempat tarik urat pada petugsa kelurahan dan kepala Lingkungan, karena KTP Islam sang ayah. Demikian juga sempat adu argumentasi karena pihak Vihara Buddha ternyata juga tidak berani gegabah untuk menguruskan upacara penguburan jenazah dengan cara Buddha pada orang yang berKTP Islam.

Perjuangan luar biasa, akhirnya melalui debat panjang, pesan terakhir sang ayah terlaksana tanpa halangan apapun. Abang iparku meninggal sebagai pemeluk Buddha, dimakamkan di pekuburan Tanjung Morawa Medan.

Kisah masih berlanjut…..

Obrolan kami kemudian berbelok beberapa kali menyentuh tpik-topik lain seperti keperkasaan China sekarang. Susu bermelamin. Teroris… Laporan Pertanggung Jawaban Presiden SBY yang isinya antara lain bahwa, Angka Kemiskinan menurun.

Ini yang menarik disimak…. Angka kemiskinan menurun… Bagaimana bisa menurun? Dengan gelak tawa, aku nyelutuk kejam…. gimana gak turun, orang miskinnya mati keinjek…. mati di gang… mati kelaparan…. terakhir mati loncat dar menara…..

Intermeso.

Lalu, dalam berlebaran kali ini ke kotaku. Menjumpai ibu kandung dan ayah tiri mereka. Mengapa adik tiri dari ayah mereka tidak dibawa serta?

“Kami mau membawa keduanya, tapi tidak dapat izin ibunya…….”

“Kenapa?”

“Takut mamak marah…..nanti ribut lagi….”

Alangkah bijaksananya….

Lalu, kembali ke renungan…. Jangan kalian menganggab bahwa 2 orang adik yang ditinggalkan ayahmu itu adalah beban…. Mereka itu harta paling berharga yang bisa diwariskan oleh ayahmu untuk kalian.

Ayah meninggalkan ladang untuk berbuat kebajikan… Bukan beban….

Ziarah…. atau sembahyang kuburan bagi pemeluk Buddha hanyalah ritual untuk kepentingan yang melakukan. Kepuasan psikologi…. kedua adikmulah sebenarnya yang harus diurus dan dipelihara.

Keduanya terdiam lama…. seakan menyimak apa yang keluar begitu saja dari mulutku. Juga begitu dengan abangku no 10 yang menyimak pembicaraan itu. Bukan apa-apa… kedua orangtuaku yang sudah meninggalkan memang hanya mewariskan aku pada mereka…. Yang sampai saat ini masih melajang, belum kepikiran untuk berumah tangga.

Orang tua akan lebih sayang pada anaknya daripada adiknya. Sudah demikian kodratnya. Rasa tanggung jawab pasti lebih tercurah kepada anak daripada adik.

Anak mati bisa dibuat lagi…. bagaimana bila adik yang mati? Ingin kau suruh ayahmu membuatkannya lagi untukmu? Itu takdir yang tak mungkin.

Karena itulah kedua adikmu itu adalah ladang kebajikan paling mulia yang diwariskan ayahmu, laki-laki penuh tanggung jawab itu atas kalian sekeluarga abang beradik.

Aku ngos ngosan berkata demikian. Mungkin mirip Zainuddin MZ saat ceramah. Dan, terus terang setelah selsai acara ngobrol, kok kayanya agak berlebihan ucapanku tadi…. Tidakkah itu bisa menjadi ada perasaaan bahwa aku seperti memohon simpati juga. Walau pada kenyataannya aku sudah mandiri dan lumayan lah saat ini.

Aku merenung sendiri.

Ladang kebajikan…..

Orang tuaku tidak mewariskan itu kepadaku. Selain untuk diriku sendiri. Ibarat kewajiban…. aku juga hak… sama seperti kedua adik tiri kedua keponakanku yang sedang ngobrol denganku tadi.

Melintas Ami, istri keponakanku yang nomor dua.

“Mi…. kalau laki mu ini mau kawin lagi….” ponakan yang kumaksud memandangku heran. Begitu juga dengan si Ami, istri ponakanku itu.

“Kau kasih tahu aku secepatnya…. terus bilang sama dia, jangan kurang ajar!!!! aku saja pamannya belum pernah kawin sekalipun, dia sudah mau dua kali…. apa itu bukan ngejek namanya….”

Keduanya tertawa terbahak… demikian juga ponakanku yang besar dan abangku yang nomor 10 yang ikut ngobrol.

Memang beberapa waktu yang lalu. Pernah terdengar kabar ponakanku ini ingin kawin lagi. Istilahnya sempat ada desas-desus dia punya simpanan. Biasalah orang kaya baru…. Dan… untungnya berita itu tidak menjadi takdir untuk terjadi.

Sekian…. semoga tidak ada yang tersinggung atas ceritaku.

Kevin R. G. Lubis
 
Tar Aja deh bacanya...ijin masukin ke blog FS saya hehehe
 
Wew panjang bener nih, tar aja deh bacanya gw copy dulu aja...
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.