Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Buat yg pernah ikutan baca, atau mungkin ikutan debat di tritnya Gan @c4punk1950..., mungkin judul di atas langsung bikin Agan2 tersebut ingat kembali dengan perdebatan itu. Sibuk bahas soal takdir & kehendak bebas manusia.
(Ane lupa waktu itu siapa aja yg ikutan bahas, kalau ga salah sih ini nih manusianya : @jw.89 @damel88 @iidpriimee793)
Balik ke topik, jadi mana nih yg bener? Manusia punya kehendak bebas & dapat mengubah nasibnya? Atau segala sesuatu dalam kehidupan manusia itu sudah ditakdirkan & manusia tidak dapat mengubahnya?
Untuk menjawab pertanyaan itu tanpa mengutak-atik dogma & doktrin kepercayaan tertentu, ane mau perkenalkan istilah yg namanya : "Kebenaran Pragmatis."
Jadi "apa itu kebenaran" adalah salah satu pertanyaan filosofis yg dibahas para filsuf dari masa ke masa.
Namanya juga filsuf, kalau nggak bikin pertanyaan yg susah & jawaban yg lebih susah lagi buat dimengerti, bukan filsuf namanya (j/k)
Singkat kata, dari berbagai macam perdebatan & usaha untuk menjawab "apa itu kebenaran", ada seorang filsuf yg mengajukan sebuah pendapat yg di kemudian hari diketahui dengan nama "Pragmatic Truth" (C.S. Peirce, 1878, sumber referensi no 5), atau "Kebenaran Pragmatis". Di mana kebenaran itu dikatakan benar atau tidak, dinilai bukan dari secara logika, bukan dari secara pembuktiam empiris, dst; akan tetapi dinilai dari : apakah versi kebenaran tersebut membawa manfaat?
Atau mungkin kalau di sini, istilahnya : banyakan manfaatnya apa mudharat-nya?
Nah silahkan di kolom komen yg mau berdebat, tentang "Pragmatic Truth" ini. Apa kekurangan & apa kelebihannya.
--------------
Setelah memperkenalkan sedikit mengenai "Pragmatic Truth", maka kita masuk ke bahasan kedua. Mana yg benar?
1. Manusia memiliki kehendak bebas & dapat mengubah nasibnya.
Vs
2. Segala sesuatu dalam kehidupan manusia itu sudah ditakdirkan & manusia tidak dapat mengubahnya.
Ada berbagai percobaan sosial & eksperimen psikologi (sumber referensi 2-4), atau ringkasannya dapat dibaca di sumber referensi no 1 (ane sih milih baca ringkasannya aja, maklum otak lelet).
Terbukti, ketika seseorang percaya bahwa kehidupannya itu sepenuhnya sudah dituliskan alias ditakdirkan, & opsi serta perbuatannya itu tidak memiliki pengaruh/konsekuensi pada perjalanan & khir hidupnya, maka orang tersebut akan cenderung pada yg namanya kejahatan (mudah selingkuh, males bersedekah, dst).
Hal yg sebaliknya terjadi, ketika seseorang percaya bahwa dirinya memiliki kehendak bebas, & perilaku, keputusan yg dia ambil, dll; memiliki pengaruh kepada kehidupannya & kehidupan orang lain, di masa depan.
Jadi berdasarkan hasil-hasil penelitian itu, secara "Kebenaran Pragmatis", maka pernyataan no 1 : "manusia memiliki kehendak bebas", itu benar. Sementara pernyataan no 2 : "Semua sudah ditakdirkan." itu salah.
Salaaam mumet
Sumber referensi
1. https://theconversation.com/the-psyc...ree-will-97193
2. https://journals.sagepub.com/doi/abs...0.2008.02045.x
3. https://journals.sagepub.com/doi/abs...46167208327217
4. https://journals.sagepub.com/doi/abs...46167214549322
5. https://plato.stanford.edu/entries/t...uth-pragmatic/
Hari ini 11:01
(Ane lupa waktu itu siapa aja yg ikutan bahas, kalau ga salah sih ini nih manusianya : @jw.89 @damel88 @iidpriimee793)
Balik ke topik, jadi mana nih yg bener? Manusia punya kehendak bebas & dapat mengubah nasibnya? Atau segala sesuatu dalam kehidupan manusia itu sudah ditakdirkan & manusia tidak dapat mengubahnya?
Untuk menjawab pertanyaan itu tanpa mengutak-atik dogma & doktrin kepercayaan tertentu, ane mau perkenalkan istilah yg namanya : "Kebenaran Pragmatis."
Jadi "apa itu kebenaran" adalah salah satu pertanyaan filosofis yg dibahas para filsuf dari masa ke masa.
Namanya juga filsuf, kalau nggak bikin pertanyaan yg susah & jawaban yg lebih susah lagi buat dimengerti, bukan filsuf namanya (j/k)
Singkat kata, dari berbagai macam perdebatan & usaha untuk menjawab "apa itu kebenaran", ada seorang filsuf yg mengajukan sebuah pendapat yg di kemudian hari diketahui dengan nama "Pragmatic Truth" (C.S. Peirce, 1878, sumber referensi no 5), atau "Kebenaran Pragmatis". Di mana kebenaran itu dikatakan benar atau tidak, dinilai bukan dari secara logika, bukan dari secara pembuktiam empiris, dst; akan tetapi dinilai dari : apakah versi kebenaran tersebut membawa manfaat?
Atau mungkin kalau di sini, istilahnya : banyakan manfaatnya apa mudharat-nya?
Nah silahkan di kolom komen yg mau berdebat, tentang "Pragmatic Truth" ini. Apa kekurangan & apa kelebihannya.
--------------
Setelah memperkenalkan sedikit mengenai "Pragmatic Truth", maka kita masuk ke bahasan kedua. Mana yg benar?
1. Manusia memiliki kehendak bebas & dapat mengubah nasibnya.
Vs
2. Segala sesuatu dalam kehidupan manusia itu sudah ditakdirkan & manusia tidak dapat mengubahnya.
Ada berbagai percobaan sosial & eksperimen psikologi (sumber referensi 2-4), atau ringkasannya dapat dibaca di sumber referensi no 1 (ane sih milih baca ringkasannya aja, maklum otak lelet).
Terbukti, ketika seseorang percaya bahwa kehidupannya itu sepenuhnya sudah dituliskan alias ditakdirkan, & opsi serta perbuatannya itu tidak memiliki pengaruh/konsekuensi pada perjalanan & khir hidupnya, maka orang tersebut akan cenderung pada yg namanya kejahatan (mudah selingkuh, males bersedekah, dst).
Hal yg sebaliknya terjadi, ketika seseorang percaya bahwa dirinya memiliki kehendak bebas, & perilaku, keputusan yg dia ambil, dll; memiliki pengaruh kepada kehidupannya & kehidupan orang lain, di masa depan.
Jadi berdasarkan hasil-hasil penelitian itu, secara "Kebenaran Pragmatis", maka pernyataan no 1 : "manusia memiliki kehendak bebas", itu benar. Sementara pernyataan no 2 : "Semua sudah ditakdirkan." itu salah.
Salaaam mumet
Sumber referensi
1. https://theconversation.com/the-psyc...ree-will-97193
2. https://journals.sagepub.com/doi/abs...0.2008.02045.x
3. https://journals.sagepub.com/doi/abs...46167208327217
4. https://journals.sagepub.com/doi/abs...46167214549322
5. https://plato.stanford.edu/entries/t...uth-pragmatic/
Hari ini 11:01