yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
SURABAYA- Hidup jauh dari fasilitas dan perhatian pemerintah, itulah yang kini dirasakan oleh Isahtiningsih. Perempuan berusia 76 tahun yang saat ini tinggal di Jalan Jetis Kulon VII, surabaya, Jawa Timur, merupakan anak kandung dari Pahlawan Nasional Dokter Soetomo.
Kini perempuan renta itu hanya terbaring di tempat tidurnya. Isah sendiri merupakan anak tunggal Dokter Soetomo dari pernikahannya dengan Musni.
"Dr Soetomo itu menikahi ibu saya (Musni) setelah istrinya Everdina Soetomo Bruring meninggal. Ibu saya dinikahi Dr Soetomo pada 1935 dan saat itu ibu saya masih berumur 13 tahun atau beda 25 tahun dengan bapak saya (Dr Soetomo)," kata Isah ditemui di kediamannya, Jalan Jetis Kulon VII Surabaya, Rabu (15/5/2013).
Meski sebagai anak seorang pahlawan nasional Isah pun tidak pernah merasakan perhatian pemerintah sejak dilahirkan hingga saat ini. Pasalnya, beberapa dokumen-dokumen kepemilikannya itu hilang ketika Indonesia dianda revolusi perang pada 1942. Parahnya lagi, ada perseteruan dari keluarga besar Dokter Soetomo.
Yuswatingsih, salah satu cucu Dokter Soetomo, menuturkan, permusuhan keluarga itu terjadi karena pernikahan Dokter Soetomo dengan Musni tidak mendapat persetujuan dari beberapa keluarganya. Sebab, Musni merupakan gadis Desa lugu yang saat itu tinggal di Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang.
Didampingi anak-anaknya, Isah berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah bahwa dia adalah benar-benar anak dari Pahlawan Nasional. Sejumlah dokumen-dokumen pun mulau ditelusuri satu persatu.
Rupanya, perjuangan itu tidak berjalan mulus pasalnya sejumlah keluarga besar dari mendiang Dokter Soetomo pun tak henti-hentinya menentang dan meneror.
"Memang pada waktu perkawinan Eyang Tomo (Dokter Soetomo) dengan Eyang Musni ada penentangan, karena memang Ibu saya bukan golongan darah biru hanya gadis desa biasa yang dulu sempat ikut di rumah eyang tomo ketika masih beristrikan Everdina Soetomo Bruring," katanya.
Perjuangan itu hingga ke Mahkamah Agung, namun akhirnya kandas karena mendapat pertentangan dari cucu keponakkan mediangan Dokter Soetomo.
Perempuan yang berprofesi sebagai guru itu menuturkan, perjuangannya untuk memperoleh pengakuan ini bukan atas dasar pamrih terhadap sejumlah aset-aset Dokter Soetomo yang kini tidak jelas keberadaanya. Perjuangan ini adalah semata-mata untuk meluruskan fakta sejarah yang tersembunyi.
"Kalau soal nasib ibu saya (Isah) tidaklah penting. Saya masih kuat untuk merawat tapi fakta sejarah perlu diluruskan agar tidak dimanfaatkan oleh kepentingan yang tidak bertanggung jawab," ujarnya.
Dia mencontohkan, salah satu aset adalah Rumah Sakit Simpang yang saat ini berubah menjadi Delta Plaza. Menurut Yuswatiningsih, rumah sakit tersebut adalah hadiah dari pemerintah Belanda kepada Dokter Soetomo terhadap penemuan obat untuk penyakit Pes.
"Rumah sakit itu murni milik eyang Tomo. Saya tahu-tahu ternyata RS Dokter Soetomo itu berpindah di Karang Menjangan saat ini," tambanya.
Ibunya tidak ingin aset-aset tersebut. Asalkan bermanfaat bagi orang lain, sebesar apapun aset itu tidak akan dipermasalahkan. Hal itu tentu memaknai perjuangan Dokter Soetomo yang selalu peduli terhadap rakyat miskin.