Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Gambar illustrasi
Slamet Gundul dianggap sebagai legenda perampok di Pulau Jawa pada 1980-1990. Spesialis perampok nasabah bunk ini licin bak belut.
Quote:
Tangkap Slamet Gundul, hidup atau mati! begitu perintah Direktur Reserse Mabes Polri Brigjen Koesparmono Irsan kepada seluruh jajaran reserse polisi di seluruh wilayah Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Lampung, hingga Sumatera bagian selatan pada 1987. Ia begitu geram atas polah buron bandit nomor wahid yg paling dicari polisi: Slamet Gundul.
Saat itu jarang sekali Mabes Polri mengeluarkan perintah yg begitu keras untuk menangkap seorang buron. Bahkan perintah itu masih berlanjut dua tahun kemudian, ketika Irsan menjabat Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur pada 1989. Kisah perintah penangkapan Slamet Gundul hidup atau mati itu dituangkan di dalam buku Kriminologi Suatu Pengantar karya Nursarini Simatupang & Faisal terbitan 2017.
Siapa Slamet Gundul? Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, itu memiliki nama asli Supriadi. Namun namanya sering berubah-ubah. Kadang Slamet Santoso, lain waktu Samsul Gunawan. Tapi yg terkenal adalah Slamet Gundul. Ia memiliki ciri fisik pipi tembam, hidung yg lebar, & tanpa lipatan kelopak mata. Wajahnya polos, tak sangar seperti kebanyakan bromocorah. Ia sering tersenyum.
Dia merupakan bos kawanan garong nasabah bunk bersenjata api pada 1980-an hingga 1991. Setiap aksi yg dilakukannya sering menciptakan geger di berbagai kota akbar di Pulau Jawa. Menariknya, dari setiap aksi perampokan yg dilakukannya, tak satu pun korban dilukainya. Polisi begitu mati-matian mengejarnya. Tapi Slamet Gundul sering berhasil lolos, licin bak belut.
Di kalangan teman-temannya, Slamet kerap disapa Nyo atau Gundul, karena sering memotong rambutnya hingga kepalanya plontos. Ia mengawali perjalanan di dunia kriminalitas sejak usia remaja. Beberapa di antaranya dilakukan di wilayah Jakarta. Ia pernah ditahan satu bulan di Polres Jakarta Utara, delapan bulan di Polres Jakarta Selatan, & empat bulan di Polda Metro Jaya.
Slamet Gundul di sel tahanan polisi pada 1991 - Foto: Rini/Tempo
Keluar-masuk sel tahanan polisi tak menciptakan Slamet Gundul jera. Ia malah meningkatkan modus & tipe kejahatannya, merampok. Dari catatan yg ada, ia sebelas kali membegal di Jakarta. Hal itu menciptakan polisi Polda Metro Jaya geram. Pada Januari 1987, polisi mengendus keberadaan Slamet Gundul di rumah kontrakan di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Puluhan polisi mengepung rumah tersebut. Begitu pintu diketuk polisi, yg keluar cuma istrinya.
Slamet Gundul, yg menggenggam dua pistol revolver Colt kaliber 32 & 38, melompati tembok setinggi 2 meter yg membatasi kamar mandi dengan dapur tetangga. Dua polisi yg sudah menunggu di rumah tetangga pun ia kelabui. Karena kalah cepat, polisi & Slamet Gundul beradu tembak.
Slamet Gundul menembaki polisi dengan membabi buta & berhasil meloloskan diri dari pagar betis polisi. Ia berhasil menyambar & membawa Metromini yg tengah dicuci & kabur. Tapi, tak lama, pada awal 1987 itu pula, Slamet Gundul bersama dua rekannya, Jarot & Sahut, sempat tertangkap.
Ketiganya diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Hakim memvonis masing-masing tiga tahun penjara. Slamet, Jarot, & Sahut dimasukkan ke mobil tahanan di parkiran halaman pengadilan. Saat itu, ketiganya berhasil mendorong petugas pengawal hingga terjatuh. Slamet & Jarot berhasil kabur dengan menumpang sepeda motor. Sementara itu, Sahut dapat diringkus kembali.
Dalam pelariannya, Slamet & Jarot pindah ke Kota Semarang, Jawa Tengah. Di kota itu, mereka tinggal di kawasan Barutikung, Semarang Utara, yg diketahui sebagai sarang preman. Ia memulai babak baru mengumpulkan semua temannya untuk meningkatkan aksi kejahatannya. Merampok bunk, nasabah bunk, & sejumlah orang kaya di Jawa Tengah.
Sepanjang 1989, total hasil rampokannya mencapai Rp 159,5 juta atau setara dengan puluhan miliar bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini. Dari jumlah itu, di antaranya hasil merampok juragan tembakau di Kendal senilai Rp 23 juta, juragan ikan Rp 40 juta, menggondol uang milik Universitas Islam Sultan Agung (Unisula) Semarang Rp 34 juta, nasabah bunk BCA Peterongan senilai Rp 28,5 juta, & Rp 34 juta dari karyawan PT Nyonya Meneer Semarang.
Slamet Gundul sering dapat meloloskan diri dari sergapan polisi Polrestabes Semarang. Modusnya, ia sering lari ke daerah permukiman padat penduduk sambil menebarkan uang hasil rampokannya ke jalan. Warga kampung yg turun ke jalan berebut uang, sehingga menghalangi polisi yg mengejarnya. Selicin-licin Slamet Gundul, ia sempat tertangkap juga.
Ia & kawanannya disergap Tim Unit Sidik Sakti (USS) Satuan Resmob Polda Jawa Tengah. Slamet Counter Strike, yg akan beroperasi di kawasan Klaten, disergap di SPBU Pandansimping, Klaten. Saat itu terjadi kontak tembak sekitar 15 menit. Ia bersama tiga rekannya. Jarot mati dihujani lima butir timah panas, sedangkan Subagio & Sugeng tertangkap dengan luka tembak.
Slamet Gundul, yg mengalami luka tembak di bahu, berhasil melarikan diri dengan menumpang sepeda motor. Dikejar di Jawa Tengah, Slamet Gundul kembali lari ke Jakarta. Di kota metropolitan, Slamet malah mengerjakan operasi lagi dengan membegal karyawan CV Bambu Gading, yg sedang membawa gaji karyawan Rp 10 juta, di Kampung Bali, Jakarta Pusat.
Kejadian itu disaksikan langsung dua anggota kepolisian yg mencoba menangkap Slamet dkk. Dua perampok kawanan Slamet tewas ditembak. Sementara itu, seorang polisi bernama Letnan Dua Soewito tewas tertembak peluru di bagian bawah matanya. Slamet kembali melarikan diri untuk bersembunyi di kota kelahirannya, Malang, Jawa Timur.
Slamet Gundul dikawal polisi di Polwiltabes Surabaya, Jawa Timur, 1991 - Foto: Kelik M Nugroho/Tempo
Setelah malang melintang selama delapan tahun di dunia kejahatan, Slamet Gundul tercatat sudah 55 kali mengerjakan perampokan. Terakhir, Slamet terendus keberadaannya di Surabaya pada 1991. Mulanya, polisi menangkap tujuh orang terduga perampok bersenjata api di Pasar Turi. Salah satunya bernama Supriadi, tetapi dilepas karena tidak ada bukti.
Ternyata, di kemudian hari, polisi baru sadar Supriadi yg sebelumnya ditangkap & dilepas adalah Slamet Gundul. Jajaran polisi Polrestabes Surabaya pun membentuk regu spesifik untuk mengejar Slamet Gundul di Putat Jaya, Surabaya, tetapi lolos. Ia memang sering berpindah-pindah selama tinggal di Surabaya.
Tim Resmob Polrestabes Surabaya dipimpin Kapten Oerip Sugianto mengerjakan pengintaian selama satu pekan di kawasan Moroktembangan. Baru pada 16 Juni 1991, sekitar 30 polisi mengerjakan pengintaian & penyamaran di sepanjang Jalan Rajawali, Jalan Gresik, Jalan Krembangan Bhakti, & di sekitar Pasar PPI Surabaya. Akhirnya, setelah lebih dari satu jam, Slamet Gundul muncul, turun dari angkutan umum. Ia disergap & ditangkap tanpa perlawanan.
Slamet Gundul diperiksa di tiga wilayah kepolisian berbeda: Surabaya, Semarang, & Jakarta. Ia dibawa ke Jakarta dengan pesawat Cessna dengan penjagaan ketat. Setelah disidik, kasusnya disidangkan di Jakarta. Ia akhirnya mendekam di LP Cipinang, Jakarta Timur, pada akhir 1991.
Quote:
Saya merasa kejahatan saya ini biasa-biasa saja. Tapi sekarang saya sudah kapok & tak harap meloloskan diri lagi, ucap Slamet Gundul seperti dikutip dari Tempo edisi 29 Juni 1991.
sumber
Hari ini 16:33