Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
CERITA CINTA PERTAMA
Seperti yg ane ceritakan, Friska itu cakep banget gan. Rambut ikal sebahu, kulit putih, tinggi semampai, pintar lagi. Siapa sih yg ga terbuai. Tapi yah itu, kaya cerita sinetron, Friska diam2 mengagumi laki2 di kampung halamannya. Padahal, tidak perlu jauh mencari, cowok2 kampus berderet memujanya. Friska santuy & memilih untuk loyal dengan lelaki yg dia sayangi itu. Sebuat saja namanya Erik.
Erik kuliah di Bandung, mengambil jurusan yg sama dengan Friska. Awal rasa sayang itu, Friska sendiri yg bercerita. Diaminkan oleh Silvi yg diklaim sebagai saksi hidup sayang mereka.
Klasik gan, katanya waktu SMA, pas study tour ke museum di kota Jay*pur*, Friska duduk disamping Erik. Temen sekelas, saling kenal, tetapi yah jarang komunikasi, kalapun saling sapa, ala kadarnya saja.
Nah, pas perjalan pulang naik bus, Friska capek banget & ketiduran gan, ternyata ketidurannya di bahu si Erik dong. Eriknya anteng aja, tidak berusaha membangunkan Friska, begitu Friska bangun, justru Erik meminjamkan jaketnya sebagai pengganti selimut, supaya Friska ga kedharapan.
Semenjak saat itu, Friska jatuh hati dengan Erik.
Jaim & malu, rasa itu tidak pernah di utarakan Friska sampe kelulusan tiba, & mereka berpisah dong gan, yg satu ke Malang, yg satunya ke Bandung.
Terima kasih Fac*bo*k yg mempertemukan Friska & Erik lagi. Sebenarnya Friska punya nomer Hpnya Erik, tetapi jaim dong kirim pesan duluan, kalo lewat Fb kan lebih casual.
Percakapan diantara mereka berdua pun dimulai. Silvi & ane regu hore dibelakang kisah mereka berdua.
Setelah 3 bulan intens 'surat-suratan', Erik berjanji mengunjungi kita di Malang. Tiga hari saja, kalau ga salah itu long weekend. Senang bukan kepalang, kita mulai lobby temen kampus cowok yg kali aja mau berbagi kamar dengan Erik selama dia tinggal di Malang. Lumayan uang hotel dapat kita pake ngopi2 di Batu.
Cocok, sahabat kampus ane, Irgo, bersedia berbagi kamar dengan Erik, dengan catatan, dua kali nasi lalapan gratis dari kita, kondusif pokoknya.
Kami sambut Erik dengan gembira, Silvi & Friska kelihatan lebih kompak, karena memang temen sekelas & bahasa pengantar mereka sama. Ane cuma berjabat tangan saja, sambil sembari memperkenalkan diri.
Kita ajak Erik keliling kota, alun2, shopping ke MTS, nonton bioskop sama2, trus makan lesehan di depan unibr**.
Erik kelihatan sangat menikmati kunjungan singkatnya, Friska juga terlihat bahagia dapat quality time dengan Erik.
Malam terkhir kita mengajak Erik mengunjungi kota batu, menikmati bandrek & jagung bakar sambil memandang lampu kelap kelip dari perumahan warga.
Friska & Silvi pamit ke toilet, meninggalkan saya & Erik berdua.
'kita harap anda datang lagi mengunjungi kita rik' mengatakan ku
'beneran anda pengen saya datang lagi?' katanya sambil tersenyum
'iyah dong, kita seneng anda menyempatkan diri main ke Malang, next time kalo kita ke Bandung,wajib di servis bak sultan yah' kataku lagi
Erik mengangguk setuju sembari menyeruput bandreknya
'Ly...' katanya
'kamu kalo ke bandung, ngajak cowokmu ga?' tanyanya lagi
'aduhhh Erik, paras begini mah permanen single' kataku sembari tertawa
Erik kemudian meletakkan bandreknya & berkata lirih
'kalo gitu, ko sama saya saja'
Kaget dong saudara-saudara....itu bandrek anget ampe muncrat dari mulut ane.
Teringat bagaimana perjuangan maksimal Friska menunjukkan ketertarikannya dengan Erik. Bahkan naik ke Batu malam ini, Friska memberanikan diri untuk duduk diboncengan Erik. Silvi & ane naik motor berboncengan.
Ane jadi teringat lagi, waktu kita makan di Pizzah*t, Friska memohon supaya Silvi & ane pulang kekosan berdua, supaya Erik & Friska dapat ngobrol hati kehati tanpa gangguan duo nyamuk ini.
Dengan gegap gempita dong kita jabanin semua permintaan Friska, tujuan kita, sebelum Erik cabut lagi ke Bandung, minimal hatinya dapat luluh melihat perjuangan Friska.
Dan sekarang, pada saat Friska kebelet pipis, Erik menyatakan sayang ke ane.
Ane beneran ga enak hati.
Jujur ane ga ada rasa ama Erik, tetapi ane jadi tau kalo semua perjuangan Friska itu sia2.
Sambil melotot ane buru2 menjawab Erik
'aihhh pace, ko tra dapat liat ka kalo Friska ada hati sama ko'
Ane berharap Friska ga cuma pipis, tetapi boker sekalian, jadi ane dapat agak lama memaki2 Erik
Erik mengerutkan kening, tanda tak percaya
'Friska sang tuan Putri ada rasa sama saya?' tanyanya lagi
Ane mengiyakan dengan cepat
'jadi bagaimana ini, ko masa tra liat, dia su buat macam2 to. Ajak nonton, ajak makan. Sa pu mata hingga sakit melihat' mengatakan saya lagi
'ko buta kah??' mengatakan ane tajam
Erik menunduk tak percaya
'ihh tetapi saya tidak ada rasa, mau bagaimana' katanya lagi
Aduh, ane ga tau harus bagaimana gan, betul sayang tidak dapat dipaksa.
'ko tra dapat coba kah pace, ko kasih waktu dua bulan dulu, ko coba' mengatakan saya lagi
Erik menggelengkan kepalanya, dia bilang Friska betul2 bukan wanita idamannya & tidak mau menyianyiakan hati & waktu. Justru tidak baik, katanya lagi.
Kami tidak dapat melanjutkan pembicaraan ini, karena Silvi & Friska datang dari toilet.
Masih dengan paras penuh sayang dong, Friska duduk disamping Erik.
Silvi duduk disamping ane, sambil berbisik.. 'tonight is the night ly, Friska mau bilang perasaannya dengan Erik'
Ane ga dapat banyak bicara, karena keadaan tidak memungkinkan.
Dan betul, bak sudah dirancang sedemikan rupa, Silvi mengeluh sakit perut & minta diantar pulang ke kos2an.
Dengan 'tidak enak hati' kami pamit meninggalkan Friska & Erik saja.
Waktu Erik mengantarkan ku ke parkiran, secepat kilat ane melemparkan kode melotot kearahnya sembari berbisik, Silvi masih di dalam warung berbincang dengan Friska , memberi support & wejangan terakhir dengan dalih mengambil helm. malam ini harus sukses, titik! mengatakan Silvi
'kau itu pejantan asli kan, kau coba dulu lah, kalo kau memang betul ..hingga akhir, rasa itu tidak ada,kau pergi baik2 jangan patahkan hatinya, pecah kepala kau nanti' kataku dengan logat sumatra.
Erik mengangguk, sembari mengucapkan selamat malam. Rencananya besok kami masih akan mengantar Erik ke stasiun Malang.
Sehingga di kamar kos, ane tidak dapat menceritakan hal ini dengan Silvi, ane masih bingung apa lebih bagus menutup rapat pengakuan Erik atau berterus terang dengan Silvi.
Akhirnya ane putuskan, lebih baik menunggu sampe Friska mengupdate kami dengan kelanjutan 'date'nya dengan Erik.
Silvi sudah terlelap tidur, jam juga sudah menunjukan jam setengah dua pagi. Ane mulai kuatir, kenapa Friska belum pulang2 juga.
Tadi pagi kami bertiga sudah menghadap ibu kos, meminta kelonggaran dapat malam ini, kunci cadangan pagar depan boleh kami pegang, alasannya kami akan menghadiri pesta ulang tahun saudara ku di Gondanglegi.
Sekitar jam dua, Friska menelpon hapeku, lima menit lagi dia sampe, katanya.
Cepat ane bangunkan Silvi, mana berani ane melewati lorong kos2an sendirian, mengingat cerita & kejadian seram yg lalu2.
Ketika ane membuka pintu pagar, ane udah takut aja Friska bakal bersimbah airmata menangis sesegukan.
Kenyataannya beda, Friska terlihat sumringah, kami kembali saling berpamitan dengan Erik. Motor diparkir rapi, Erik juga sudah berjalan menuju kos2an Irgo yg berjarak cuma 300m. Pintu istana ditutup!
'kami jadiaaaaaannnn' mengatakan Friska sambil memeluk ku erat
Ane bengong dong yah, Silvi ikut menari2 dengan riang, cepat2 saya memberi komando supaya kami lebih tenang, sebelum semua penghuni baik yg kasat mata maupun yg tidak kasat mata terbangun.
Masih tidak percaya, ane berjalan beriringan menuju kamar kos.
'bagaimana cerita lengkapnya ska?' tanya Silvi
Ane pun ikut penasaran.
'jadi kita lagi nunggu roti bakar pesananku' mengatakan Friska
'tiba-tiba Erik tanya apa kita juga mau mengunjungi dia di Bandung next time'
'trus sa jawab, pastinya, tetapi dia wajib ajak kita jalan-jalan keliling bandung'
'dia bilang, no problem teman'
'trus dia tanya, apa saya datang dengan cowok ka, ato sendiri saja'
'saya kaget, trus saya bilang, saya masih single bemooooo!!!ehhh dia tembak dong'
'Dia bilang, ya sudah ko sama saya saja kah'
Mendengar cerita yg bak dejavu, ane bahagia bercampur bingung.
Ini pace pemain sejatikah ato dia memang ikutin saran ane jadi pejantan tangguh.
Tapi intinya, ane bahagia melihat perjuangan Friska akhirnya tidak sia2, & cuma berharap sayang yg ditawarkan Erik memang tulus.
Keesokan harinya, pada saat kita mengantar Erik di stasiun Malang, ane menyempatkan diri berbicara empat mata dengan dia. Lagi-lagi Friska kebelet pipis, & minta ditemani Silvi.
'selamat yah rik, sudah resmi dengan Friska' kataku
Erik mendesah lirih
'ko yg suruh to, semoga bahagia teman' katanya lagi
Ane merasa tidak puas dengan jawaban Erik sekaligus tidak enak hati
'aih pace, ko jangan begitu, kemaren malam saya bilang, kalo memang tidak suka, OK, tetapi kau bilang baik2. jangan sampe Friska sakit hati'
Erik terdiam
Ane jadi tambah ga enak
'ya sudah, sa minta maaf, kalo ko jadi merasa tertekan' mengatakan ane lagi
Erik masih diam
Ane jadi ga enak plus gusar, kembali ane berharap semoga Friska ga cuma kebelet pipis tetapi sekalian boker juga, jadi agak lamaan.
'Ly, sa tidak ada asa kah dengan ko' katanya
Ane kaget & secepat kilat memastikan kiri kanan, kalo Silvi & Friska bener2 belum kembali ke spot kami.
'maaf jo pace, lagian mana mungkinlah, masa tiga hari saja kita langsung naksir2an, Friska sudah berbulan2 loh suka'
Belum sempat ane panjang lebar berceramah, Friska & Silvi udah terlanjur menampakkan batang hidungnya
KA yg ditunggu hingga, Erik berjalan menuju gerbong tujuannya, disamping Erik sudah pasti Friska, ane & Silvi berjalan perlahan dari belakang.
Ane yakin apa yg ada dibenak Silvi berbeda dengan yg ada di benak ane. Erik menyalam & memeluk Friska & Silvi bergantian.
Giliran ane, Erik memegang tangan ane erat, mencondongkan bibirnya ke telinga ane, sembari berbisik
'ko perempuan sejati to, ko coba dulu lah, kalo memang hingga akhir.. rasa itu tidak ada, kau pamit baik2, jangan buat sa pu hati patah'
Dan Erikpun pergi
Friska & Silvi mendesak ane, tentu mereka pengen tahu apa yg dibisikkan Erik ketelingaku.
Tak sanggup ane mengatakan yg sebenarnya gan, akhirnya ane bilang aja, Erik meminta ane buat menjaga Friska baik2 hingga kita berjumpa lagi di Bandung. kedua pemirsah tepuk tangan bahagia, ane manyun dalam hati saja.
Friska & Erik jadian selama 6bulan, kita belum sempat mengunjungi bandung, mereka sudah putus duluan.
Dan hingga hari ini, ane tidak pernah tau dimana & bagaimana kabar Erik lagi.
ane tidak akan pernah lupa percakapan kami di stasiun Malang, dengan segala kerendahan & ketulusan hati, ane berdoa semoga Erik sehat & bahagia dengan wanita pujaannya. mungin dengan keluarga kecilnya. terima kasih sudah jadi bagian dari cerita di tabula rasa hidupku rik! raise the glass for you!
'kau itu pejantan asli kan, kau coba dulu lah, kalo kau memang betul hingga akhir rasa itu tida ada,kau pergi baik2 jangan patahkan hatinya, pecah kepala kau nanti'
'ko perempuan sejati to, ko coba dulu lah, kalo memang hingga akhir rasa itu tidak ada, kau pamit baik2, jangan buat sa pu hati patah'
Disclaimer: maafkan logat ane yg mungkin tidak pas dengan logat asli Papua, ane menulis yg ane ingat aja gan. Tidak ada unsur sara, ini cuma cerita saja.
Next time, ane post lagi, Tabula rasa chapter malang dengan kisah yg lainnya... Stay tuned
.
salam rolemodel 2020
Hari ini 20:30
Seperti yg ane ceritakan, Friska itu cakep banget gan. Rambut ikal sebahu, kulit putih, tinggi semampai, pintar lagi. Siapa sih yg ga terbuai. Tapi yah itu, kaya cerita sinetron, Friska diam2 mengagumi laki2 di kampung halamannya. Padahal, tidak perlu jauh mencari, cowok2 kampus berderet memujanya. Friska santuy & memilih untuk loyal dengan lelaki yg dia sayangi itu. Sebuat saja namanya Erik.
Erik kuliah di Bandung, mengambil jurusan yg sama dengan Friska. Awal rasa sayang itu, Friska sendiri yg bercerita. Diaminkan oleh Silvi yg diklaim sebagai saksi hidup sayang mereka.
Klasik gan, katanya waktu SMA, pas study tour ke museum di kota Jay*pur*, Friska duduk disamping Erik. Temen sekelas, saling kenal, tetapi yah jarang komunikasi, kalapun saling sapa, ala kadarnya saja.
Nah, pas perjalan pulang naik bus, Friska capek banget & ketiduran gan, ternyata ketidurannya di bahu si Erik dong. Eriknya anteng aja, tidak berusaha membangunkan Friska, begitu Friska bangun, justru Erik meminjamkan jaketnya sebagai pengganti selimut, supaya Friska ga kedharapan.
Semenjak saat itu, Friska jatuh hati dengan Erik.
Jaim & malu, rasa itu tidak pernah di utarakan Friska sampe kelulusan tiba, & mereka berpisah dong gan, yg satu ke Malang, yg satunya ke Bandung.
Terima kasih Fac*bo*k yg mempertemukan Friska & Erik lagi. Sebenarnya Friska punya nomer Hpnya Erik, tetapi jaim dong kirim pesan duluan, kalo lewat Fb kan lebih casual.
Percakapan diantara mereka berdua pun dimulai. Silvi & ane regu hore dibelakang kisah mereka berdua.
Setelah 3 bulan intens 'surat-suratan', Erik berjanji mengunjungi kita di Malang. Tiga hari saja, kalau ga salah itu long weekend. Senang bukan kepalang, kita mulai lobby temen kampus cowok yg kali aja mau berbagi kamar dengan Erik selama dia tinggal di Malang. Lumayan uang hotel dapat kita pake ngopi2 di Batu.
Cocok, sahabat kampus ane, Irgo, bersedia berbagi kamar dengan Erik, dengan catatan, dua kali nasi lalapan gratis dari kita, kondusif pokoknya.
Kami sambut Erik dengan gembira, Silvi & Friska kelihatan lebih kompak, karena memang temen sekelas & bahasa pengantar mereka sama. Ane cuma berjabat tangan saja, sambil sembari memperkenalkan diri.
Kita ajak Erik keliling kota, alun2, shopping ke MTS, nonton bioskop sama2, trus makan lesehan di depan unibr**.
Erik kelihatan sangat menikmati kunjungan singkatnya, Friska juga terlihat bahagia dapat quality time dengan Erik.
Malam terkhir kita mengajak Erik mengunjungi kota batu, menikmati bandrek & jagung bakar sambil memandang lampu kelap kelip dari perumahan warga.
Friska & Silvi pamit ke toilet, meninggalkan saya & Erik berdua.
'kita harap anda datang lagi mengunjungi kita rik' mengatakan ku
'beneran anda pengen saya datang lagi?' katanya sambil tersenyum
'iyah dong, kita seneng anda menyempatkan diri main ke Malang, next time kalo kita ke Bandung,wajib di servis bak sultan yah' kataku lagi
Erik mengangguk setuju sembari menyeruput bandreknya
'Ly...' katanya
'kamu kalo ke bandung, ngajak cowokmu ga?' tanyanya lagi
'aduhhh Erik, paras begini mah permanen single' kataku sembari tertawa
Erik kemudian meletakkan bandreknya & berkata lirih
'kalo gitu, ko sama saya saja'
Kaget dong saudara-saudara....itu bandrek anget ampe muncrat dari mulut ane.
Teringat bagaimana perjuangan maksimal Friska menunjukkan ketertarikannya dengan Erik. Bahkan naik ke Batu malam ini, Friska memberanikan diri untuk duduk diboncengan Erik. Silvi & ane naik motor berboncengan.
Ane jadi teringat lagi, waktu kita makan di Pizzah*t, Friska memohon supaya Silvi & ane pulang kekosan berdua, supaya Erik & Friska dapat ngobrol hati kehati tanpa gangguan duo nyamuk ini.
Dengan gegap gempita dong kita jabanin semua permintaan Friska, tujuan kita, sebelum Erik cabut lagi ke Bandung, minimal hatinya dapat luluh melihat perjuangan Friska.
Dan sekarang, pada saat Friska kebelet pipis, Erik menyatakan sayang ke ane.
Ane beneran ga enak hati.
Jujur ane ga ada rasa ama Erik, tetapi ane jadi tau kalo semua perjuangan Friska itu sia2.
Sambil melotot ane buru2 menjawab Erik
'aihhh pace, ko tra dapat liat ka kalo Friska ada hati sama ko'
Ane berharap Friska ga cuma pipis, tetapi boker sekalian, jadi ane dapat agak lama memaki2 Erik
Erik mengerutkan kening, tanda tak percaya
'Friska sang tuan Putri ada rasa sama saya?' tanyanya lagi
Ane mengiyakan dengan cepat
'jadi bagaimana ini, ko masa tra liat, dia su buat macam2 to. Ajak nonton, ajak makan. Sa pu mata hingga sakit melihat' mengatakan saya lagi
'ko buta kah??' mengatakan ane tajam
Erik menunduk tak percaya
'ihh tetapi saya tidak ada rasa, mau bagaimana' katanya lagi
Aduh, ane ga tau harus bagaimana gan, betul sayang tidak dapat dipaksa.
'ko tra dapat coba kah pace, ko kasih waktu dua bulan dulu, ko coba' mengatakan saya lagi
Erik menggelengkan kepalanya, dia bilang Friska betul2 bukan wanita idamannya & tidak mau menyianyiakan hati & waktu. Justru tidak baik, katanya lagi.
Kami tidak dapat melanjutkan pembicaraan ini, karena Silvi & Friska datang dari toilet.
Masih dengan paras penuh sayang dong, Friska duduk disamping Erik.
Silvi duduk disamping ane, sambil berbisik.. 'tonight is the night ly, Friska mau bilang perasaannya dengan Erik'
Ane ga dapat banyak bicara, karena keadaan tidak memungkinkan.
Dan betul, bak sudah dirancang sedemikan rupa, Silvi mengeluh sakit perut & minta diantar pulang ke kos2an.
Dengan 'tidak enak hati' kami pamit meninggalkan Friska & Erik saja.
Waktu Erik mengantarkan ku ke parkiran, secepat kilat ane melemparkan kode melotot kearahnya sembari berbisik, Silvi masih di dalam warung berbincang dengan Friska , memberi support & wejangan terakhir dengan dalih mengambil helm. malam ini harus sukses, titik! mengatakan Silvi
'kau itu pejantan asli kan, kau coba dulu lah, kalo kau memang betul ..hingga akhir, rasa itu tidak ada,kau pergi baik2 jangan patahkan hatinya, pecah kepala kau nanti' kataku dengan logat sumatra.
Erik mengangguk, sembari mengucapkan selamat malam. Rencananya besok kami masih akan mengantar Erik ke stasiun Malang.
Sehingga di kamar kos, ane tidak dapat menceritakan hal ini dengan Silvi, ane masih bingung apa lebih bagus menutup rapat pengakuan Erik atau berterus terang dengan Silvi.
Akhirnya ane putuskan, lebih baik menunggu sampe Friska mengupdate kami dengan kelanjutan 'date'nya dengan Erik.
Silvi sudah terlelap tidur, jam juga sudah menunjukan jam setengah dua pagi. Ane mulai kuatir, kenapa Friska belum pulang2 juga.
Tadi pagi kami bertiga sudah menghadap ibu kos, meminta kelonggaran dapat malam ini, kunci cadangan pagar depan boleh kami pegang, alasannya kami akan menghadiri pesta ulang tahun saudara ku di Gondanglegi.
Sekitar jam dua, Friska menelpon hapeku, lima menit lagi dia sampe, katanya.
Cepat ane bangunkan Silvi, mana berani ane melewati lorong kos2an sendirian, mengingat cerita & kejadian seram yg lalu2.
Ketika ane membuka pintu pagar, ane udah takut aja Friska bakal bersimbah airmata menangis sesegukan.
Kenyataannya beda, Friska terlihat sumringah, kami kembali saling berpamitan dengan Erik. Motor diparkir rapi, Erik juga sudah berjalan menuju kos2an Irgo yg berjarak cuma 300m. Pintu istana ditutup!
'kami jadiaaaaaannnn' mengatakan Friska sambil memeluk ku erat
Ane bengong dong yah, Silvi ikut menari2 dengan riang, cepat2 saya memberi komando supaya kami lebih tenang, sebelum semua penghuni baik yg kasat mata maupun yg tidak kasat mata terbangun.
Masih tidak percaya, ane berjalan beriringan menuju kamar kos.
'bagaimana cerita lengkapnya ska?' tanya Silvi
Ane pun ikut penasaran.
'jadi kita lagi nunggu roti bakar pesananku' mengatakan Friska
'tiba-tiba Erik tanya apa kita juga mau mengunjungi dia di Bandung next time'
'trus sa jawab, pastinya, tetapi dia wajib ajak kita jalan-jalan keliling bandung'
'dia bilang, no problem teman'
'trus dia tanya, apa saya datang dengan cowok ka, ato sendiri saja'
'saya kaget, trus saya bilang, saya masih single bemooooo!!!ehhh dia tembak dong'
'Dia bilang, ya sudah ko sama saya saja kah'
Mendengar cerita yg bak dejavu, ane bahagia bercampur bingung.
Ini pace pemain sejatikah ato dia memang ikutin saran ane jadi pejantan tangguh.
Tapi intinya, ane bahagia melihat perjuangan Friska akhirnya tidak sia2, & cuma berharap sayang yg ditawarkan Erik memang tulus.
Keesokan harinya, pada saat kita mengantar Erik di stasiun Malang, ane menyempatkan diri berbicara empat mata dengan dia. Lagi-lagi Friska kebelet pipis, & minta ditemani Silvi.
'selamat yah rik, sudah resmi dengan Friska' kataku
Erik mendesah lirih
'ko yg suruh to, semoga bahagia teman' katanya lagi
Ane merasa tidak puas dengan jawaban Erik sekaligus tidak enak hati
'aih pace, ko jangan begitu, kemaren malam saya bilang, kalo memang tidak suka, OK, tetapi kau bilang baik2. jangan sampe Friska sakit hati'
Erik terdiam
Ane jadi tambah ga enak
'ya sudah, sa minta maaf, kalo ko jadi merasa tertekan' mengatakan ane lagi
Erik masih diam
Ane jadi ga enak plus gusar, kembali ane berharap semoga Friska ga cuma kebelet pipis tetapi sekalian boker juga, jadi agak lamaan.
'Ly, sa tidak ada asa kah dengan ko' katanya
Ane kaget & secepat kilat memastikan kiri kanan, kalo Silvi & Friska bener2 belum kembali ke spot kami.
'maaf jo pace, lagian mana mungkinlah, masa tiga hari saja kita langsung naksir2an, Friska sudah berbulan2 loh suka'
Belum sempat ane panjang lebar berceramah, Friska & Silvi udah terlanjur menampakkan batang hidungnya
KA yg ditunggu hingga, Erik berjalan menuju gerbong tujuannya, disamping Erik sudah pasti Friska, ane & Silvi berjalan perlahan dari belakang.
Ane yakin apa yg ada dibenak Silvi berbeda dengan yg ada di benak ane. Erik menyalam & memeluk Friska & Silvi bergantian.
Giliran ane, Erik memegang tangan ane erat, mencondongkan bibirnya ke telinga ane, sembari berbisik
'ko perempuan sejati to, ko coba dulu lah, kalo memang hingga akhir.. rasa itu tidak ada, kau pamit baik2, jangan buat sa pu hati patah'
Dan Erikpun pergi
Friska & Silvi mendesak ane, tentu mereka pengen tahu apa yg dibisikkan Erik ketelingaku.
Tak sanggup ane mengatakan yg sebenarnya gan, akhirnya ane bilang aja, Erik meminta ane buat menjaga Friska baik2 hingga kita berjumpa lagi di Bandung. kedua pemirsah tepuk tangan bahagia, ane manyun dalam hati saja.
Friska & Erik jadian selama 6bulan, kita belum sempat mengunjungi bandung, mereka sudah putus duluan.
Dan hingga hari ini, ane tidak pernah tau dimana & bagaimana kabar Erik lagi.
ane tidak akan pernah lupa percakapan kami di stasiun Malang, dengan segala kerendahan & ketulusan hati, ane berdoa semoga Erik sehat & bahagia dengan wanita pujaannya. mungin dengan keluarga kecilnya. terima kasih sudah jadi bagian dari cerita di tabula rasa hidupku rik! raise the glass for you!
'kau itu pejantan asli kan, kau coba dulu lah, kalo kau memang betul hingga akhir rasa itu tida ada,kau pergi baik2 jangan patahkan hatinya, pecah kepala kau nanti'
'ko perempuan sejati to, ko coba dulu lah, kalo memang hingga akhir rasa itu tidak ada, kau pamit baik2, jangan buat sa pu hati patah'
Disclaimer: maafkan logat ane yg mungkin tidak pas dengan logat asli Papua, ane menulis yg ane ingat aja gan. Tidak ada unsur sara, ini cuma cerita saja.
Next time, ane post lagi, Tabula rasa chapter malang dengan kisah yg lainnya... Stay tuned
salam rolemodel 2020
Hari ini 20:30