Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
GanSis
Hidup merupakan anugerah terbesar yg diberikan oleh Tuhan, lantas apakah setelah kita mendapatkanya menyia-nyiakan begitu saja? Semoga tidak ya gansis. Karena hidup terlalu singkat apabila membiarkan mengalir begitu saja, tanpa mengerti arah tujuan hidup.
Saya harap berbagi cerita, segilintir kisah pilu yg dahulu pernah menimpa. Apa yg terjadi? Saya salah satu korban selamat dari peristiwa tersambar petir Gunung Arjuno 5 tahun silam di akhir tahun 2016. Cukup menciptakan hati & pikiran bertikai soal bagaimana mungkin saat itu saya masih dapat hidup. Apakah kebetulan semata? Hmm, kurasa tidak, masih banyak yg perlu dibenahi untuk melanjutkan hidup, hingga ajal menjemput.
Bermula libur sekolah diumumkan, saya langsung saja menghubungi beberapa kawan untuk mengerjakan pendakian Gunung Arjuno? Lalu di mana letaknyaterletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, & Kabupaten Pasuruan. Tidak terlalu jauh dari Kota Surabayamenjadi latarbelakang tujuan sekaligus dambaan, karena tinggi di atas 3000 mdpl ditambah dengan biaya relatif tidak menguras kantong untuk sekelas "anak sekolah".
Kami sepakat mengerjakan pendakian Gunung Arjuno di pertengahan bulan Desember. Dengan beranggotakan empat orang: Iyan (saya), Oncom (Faisal), Cak Londo (Fiki), Totok. Semua berasal dari Surabaya, & kami memilih mendaki melalui jalur Tretes, karena jalur tersebut sudah sangat biasa sekali di kalangan pendaki.
Di hari perdana pendakian, hujan turut beberapa kali mengguyur namun tak jadi masalah karena dengan ritme hujan yg pada umumnya tidak disertai angin ataupun petir.
Di hari kedua, kami berjumpa dengan kelompok pendaki ber-anggotakan 8 orang, mereka ternyata mahasiswa Unesa. Tanpa pikir panjang kami pun bergabung jadi satu kelompok, lalu tiba tiba kabut tebal nan gelap menyelimuti rimbunya belantara (alas lali jiwo). Suatu pertanda akan terjadi hujan teramat deras batinku dalam hati.
Benar saja beberapa jam kemudian, hujan teramat deras langsung mengguyur dengan cepat. Serta acapkali petir berbunyi gemuruh di tengah perjalanan, lantas menciptakan kami tergesa-gesa untuk turun dari puncak. Tiga orang di depan: Bintara, Cak Londo, Sayasebagai penunjuk jalan pulang menuju pos 3 (pondokan). Sembilan lainya di belakang untuk mengikuti, dengan suasana hujan terus membasahi dengan begitu kencangnya.
Ketika sehingganya di atas watu gede, tiba-tibat kilat berwana putih kekuningan dengan begitu cepat menciptakan kami bertiga jatuh tak berdaya. Tubuh tidak dapat digerakan sama sekali, telinga berdenging, jantung berdegup cepat, mulut tidak dapat terucap mengatakan sepatah apapun. Hanya kedua mata yg masih dapat bergerak melirik keadaan saat itu.
Kawan yg di belakang berhamburan ke depan untuk memastikan keadaan kita bertiga, namun salah satu dari kami meninggal dunia di tempat ia merupakan salah satu mahasiswa Unesa. Suasana haru, tangis, turut mengiri atas kepergiannya di tengah derasnya hujan. Semua bersedih, walaupun kami berempat baru saja mengenalnya beberapa jam yg lalu.
Lalu kesokan harinya, kami dievakuasi oleh Basarnas untuk turun gunung. Dalam hati terselip perasaan penuh dengan ketidakpercayaan akan hal kejadian tersebut. Sangat membekas sekali di ingatan ditambah dengan luka bengkak pada tangan yg kubawa pulang. Sedih/syukur campur jadi satu, entah mengatakan apa yg tepat untuk mewakili keadaan diri.
Sumur foto: Google
Sumur: Pengalaman pribadi +KLIK BERITA
Hari ini 18:33