• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sutradara Hollywood vs. Platform Streaming Film

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Sutradara Hollywood vs. Platform Streaming Film


Menonton film melalui platform streaming sudah jadi alternatif hiburan terbaru selama satu dekade ke belakang & masih berlanjut. Semakin banyak platform streaming international maupun lokal hadir dengan opsi paket berlangganan dengan tarif terjangkau.

Pada awal kemunculannya, platform streaming film seperti Amazon Prime, Netflix, Hulu, & platform streaming international lainnya memiliki tarif cukup tinggi dengan sistem pembayaran cukup rumit bagi kita yg berada di Indonesia. Namun sekarang, memiliki akun Netflix atau Disney+ Hostar sudah sangat biasa & bukan lagi fasilitas mewah yg cuma dimiliki masyarakat modern menengah ke atas. Belum lagi banyaknya platform streaming lokal seperti Vidio & Mola TV yg lebih murah lagi.

Alternatif platform ini semakin bersinar & sukses pada tahun 2020, dimana industri perfilman tak luput dari krisis distribusi maupun produksi. Setelah penundaan tanggal rilis yg berlarut-larut, beberapa film akhirnya memutuskan untuk rilis di platform streaming. Salah satu berita yg cukup sensasional adalah ketika Warner Bros. memutuskan untuk menjual seluruh judul film yg belum rilis ke HBO Max untuk segera dirilis tahun ini.

Setelah menciptakan beberapa sutradara Hollywood mengungkapkan kritik & rasa keberataan, isu ini kembali menimbulkan perdebatan antara platform streaming film vs. sutradara Hollywood. Bukan perdana kalinya, ada beberapa nama sutradara kawakan yg sebelumnya sudah mengkritisi model bisnis Netflix untuk mendistribusikan film. Lantas, apa sebetulnya alasan para sutradara papan atas ini anti Netflix & kawan-kawannya?

Platform Streaming Tidak Memberikan Experience Seperti di Bioskop

Sebelum menyebut HBO Max sebagai platform streaming terburuk, Netflix sudah mendapat kritikan pedas terlebih dahulu dari Christopher Nolan. Melalui wawancaranya dengan GQ, sutradara dari film Tenet ini mengungkapkan bahwa Netflix memiliki model kebijakan tidak masuk akal.

Mereka (Netflix) memiliki kebijakan tidak masuk akal dimana semuanya harus dirilis (di bioskop) & distream secara bersamaan, ungkap Nolan. Baginya, sebuah film semestinya memiliki kesempatan untuk dirilis terlebih dahulu di bioskop, setidaknya selama 90 hari semenjak tanggal rilis (menurut standar film untuk kualifikasi Oscar).


Sutradara Hollywood vs. Platform Streaming Film


Nolan juga sangat menjunjung tinggi hak penonton untuk mengalami experience film dengan menonton di layar lebar. Memang banyak sutradara yg sangat mengimpikan film mereka untuk tampil di layar lebar, baik untuk alasan profit maupun nilai seni film yg juga melibatkan experience penonton untuk menontonnya di bioskop; dengan layar akbar & sound system dengan standard khusus.

Pendapat tersebut dilontarkan oleh Nolan pasca perilisan Okja karya Bong Joon-ho di Netflix pada tahun 2017 silam. Baginya, akan ada disparitas akbar dengan menonton film ini di layar lebar dengan di layar laptop berukuran 15 inch. Okja, sosok gajah raksasa tak akan memberikan kesan yg menggugah kalau ditonton di layar laptop, dimana Nolan dapat jadi benar akan poin ini.

Baca Juga: Horror Masterpiece di Era Perfilman Modern: Ari Aster, Robert Eggers, Jordan Peele

Beberapa film memang didesain untuk memberikan pengalaman tertentu dengan ditonton di bioskop. Beberapa contoh film lain yg akan lebih maksimal ditonton di layar lebar adalah film 1917 (2019), Everest (2015), The Revenant (2015), & masih banyak lagi. Christopher Nolan juga bersikeras bahwa film terbarunya Tenet wajib ditonton di layar lebar.

Tidak Mengpakai Tolak Ukur Kesuksesan Melalui Penjualan Tiket

Salah satu tolak ukur kesuksesan sebuah film adalah penjualan tiket bioskop, berapa banyak orang rela mengeluarkan kocek untuk menonton film tertentu. Hal ini sangat berarti bagi sutradara Hollywood & rumah produksi. Penjualan tiket sebuah film akan dibandingkan dengan biaya produksinya. Hal ini sebelumnya jadi hal yg sangat penting bagi media maupun peminat film.

Bagi yg masih ingat, beberapa koran atau majalah kerap memperbincangkan film yg flip maupun flop dengan perbandingan satu ini. Pastinya target setiap filmmaker adalah mendapatkan profit dari penjualan tiket melebihi biaya produksi. Baik film dengan budget akbar maupun dengan budget minim. Film dengan budget kecil yg mendapatkan penghasilan berkali lipat tingginya juga kerap mendapat apresiasi lebih hingga jadi headline di media-media tertentu.


Sutradara Hollywood vs. Platform Streaming Film


Menjadi film peringkat tinggi di Box Office juga jadi prestasi tersendiri bagi seorang sutradara. Dimana sangat mudah diperoleh oleh sutradara Hollywood dengan nama besar. Bahkan pada skenario tertentu, misalkan sutradara kawakan seperti Quentin Tarantino merilis film yg tidak bagus sekalipun sangat memungkinkan tetap tembus Top 10 Box Office pada awal pekan perilisannya.

Sementara Netflix & platform streaming sejenisnya sama sekali tidak mengadaptasi model bisnis tersebut. Seperti yg kita ketahui, dengan membayar tagihan berupa tarif setiap bulan, kita langsung mendapatkan akses untuk banyak film & serial tak terbatas. Hal ini secara tidak langsung menciptakan film kualitas A+ seperti The Irishman, selevel dengan film rating paling rendah di platform tersebut.

Tak cuma soal kualitas, melainkan nama sutradaranya. Ketika sutradara papan atas memutuskan untuk merilis filmnya di platform streaming, mereka juga memiliki kesempatan sama dengan sutradara indie yg masih membangun nama mereka di industri perfilman.

Netflix Original Movie Bukan Film & Tidak Layak Masuk Nominasi Oscar

Tak Hanya Christopher Nolan, sutradara Steven Spielberg juga memiliki pendapat tentang film-film yg rilis di platform streaming. Bagi sutradara film Schindlers List ini, Netflix Original Movie bukan film. Baginya, ketika film memutuskan untuk rilis di televisi atau media internet, film tersebut tidak dapat disandingkan dengan film yg rilis di bioskop.

Statement ini merujuk pada komplain Spielberg tentang Netflix Original Movie yg tidak memenuhi kualifikasi untuk masuk dalam nominasi Oscar. Ada banyak alasan lain yg dijabarkan oleh Spielberg akan kritik tegasnya ini melalui Indiewire setelah Roma tembus Oscar. Roma karya sutradara Alfonso Cuaron berhasil membawa pulang tiga piala Oscar pada tahun 2019. Mulai dari Best International Feature, Best Director, & Best Cinematography.


Sutradara Hollywood vs. Platform Streaming Film


Film-film yg rilis di platform streaming dirasa lebih cocok untuk masuk dalam ajang penghargaan seperti Emmy Awards yg memang didedikasikan untuk serial atau acara televisi, kini berkembang untuk serial yg rilis di platform streaming juga.

Pada akhirnya, alasan yg cukup menonjol dari isu ini adalah model bisnis yg berbeda antara bioskop & platform streaming film. Kebanyakan sutradara Hollywood memiliki jalan yg mudah untuk memanjat tangga Box Office, hal tersebut tak lepas dari kerja keras mereka selama bertahun-tahun sebelumnya. Begitu juga keuntungan spesifik untuk dengan mudah masuk nominasi Oscar. Sementara platform streaming memberikan jalan pintas untuk sutradara baru maupun indie untuk bersanding dengan sutradara papan atas.

Masalah menghadirkan experience spesial bagi penonton, hal ini sepertinya bukan masalah akbar yg harus dikhawatirkan oleh sutradara. Faktanya, tak semua orang datang ke bioskop untuk menonton film dengan khidmat, bukan? Masih banyak penonton awam yg cuma masuk bioskop untuk nongkrong atau bahkan mengganggu penonton lainnya dengan main handphone & berbicara dengan keras. Begitu pula sebaliknya, tidak semua penonton yg cuma menonton dari rumah tidak mengapresiasi sebuah karya film.

Seperti halnya media musik sudah berubah serba digital, atau orang tidak lagi harus memiliki status tinggi untuk menyaksikan konser orkestra, alternatif distribusi film juga mulai mengalami perkembangan dengan berbagai alternatif platform. Setiap alternatif tetap memiliki sisi positif & negatif masing-masing, semua tergantung preferensi dari sutradara maupun penikmat film.


Original Article via Cultura.id Hari ini 14:27
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.