Surat kepada Ulama dan Pemimpin Muslim
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Pada kesempatan ini, marilah kita meningkatkan takwa kita kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar takwa. Marilah pula kita hiasi diri kita dengan akhlak yang mulia, akhlak Alquran. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kita akan ditanya oleh Allah terhadap apa yang telah diamanahkan-Nya kepada kita. Kita semua adalah pemimpin dan kita kelak akan ditanya terhadap apa yang kita pimpin. Ingatlah bahwa tidak ada izzah dan karamah kecuali dengan takwa kepada Allah, sementara kerugian dan kehancuran akan diperoleh bagi siapa saja yang menyelisihi dan mendurhakai perintah-Nya.
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Bila seseorang semakin hari dosanya semakin banyak dan menumpuk, hatinya akan tertutup dan jiwanya akan lalai. Ia akan memburu hal-hal yang enak dan berlomba-lomba dalam mengejar syahwat, harta, dan kenikmatan. Ia pun menjadi lalai terhadap ketaatan kepada Allah. Maha benar Allah yang telah berfirman yang artinya, "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Alquran pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main." (Al-Anbiya: 1-2).
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Marilah kita belajar kepada Imam Syafii rhm. yang telah mengisi dunia ini dengan ilmu, fikih, dan makrifah. Ketika beliau berada dalam detik-detik kematiannya, datanglah seorang muridnya, Imam Muzni rhm., seraya berkata, "Bagaimana engkau menjalani pagi hari wahai Abu Abdullah?" Beliau mengangkat kepalanya lalu berkata, "Terhadap dunia aku meninggalkannya. Terhadap gelas kematian aku meminumnya. Terhadap kejelakan amal perbuatanku aku menjumpainya. Terhadap Allah aku mendatangi-Nya. Aku pun tidak mengetahui, akan berada di manakah rohku kelak, apakah akan berjalan menuju surga dan aku bergembira, ataukah akan berajalan menuju neraka dan aku berduka cita. Kemudian, beliau pun meneteskan air mata.
Karena itu, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah. Ketahuilah bahwa kita akan dipanggil Allah dan dihisab amal perbuatan kita. Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan nafsunya dan berbuat untuk setelah kematian. Sementara, orang yang lemah adalah orang yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.
Maasyiral muslimin rahimakumullah!!
Hari ini umat Islam bagaikan buih di lautan. Ia tidak memiliki keinginan, karena keinginannya berada di tangan orang yang tidak mengetahui Alquran dan tidak berhukum dengan syariat Islam.
Ingatlah bahwa Rasulullah saw. telah mendidik para lelaki dan mujahid yang berhasil menundukkan Persia dan Romawi, membuka kota-kota dan daerah untuk menyebarkan Islam, membebaskan negara dan para hamba. Di samping itu, Rasulullah juga telah berhasil mencetak para ulama yang memenuhi dunia ini dengan makrifat dan ilmu serta menerapkan Islam secara perkataan maupun perbuatan. Mereka kasih sayang terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. Engkau lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Umat Islam pun terus dalam kondisi demikian, sebagai perwujudan atas firman Allah SWT yang artinya, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imron: 11).
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Mengapa pada hari ini ulama kita tidak berupaya untuk menegakkan hukum-hukum Islam? Apakah karena mereka berjalan dalam kendaran pemerintah dengan senang dan takut? Atau, karena mereka takut terhadap siksaan dan kezaliman mereka? Apabila ini jawabannya, maka sudah sepantasnyalah mereka keluar dari status sebagai pewaris para nabi. Bukankah Firaun juga telah mengancam para ahli sihirnya, "Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya."(Thaha: 71).
Apakah lantas para ahli sihir itu menanggalkan keimanannya? Dan, sujudnya kepada Allah Azza wa Jalla? Bukankah mereka telah meletakkan sikap tegas kepada para dai kebenaran dengan perkataannya, mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rab yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rab kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan, Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)." (Thaha: 72--73)
Para ahli sihir tersebut dalam permulaan siang mereka dalam keadaan kafir dan pada sore hari mereka telah berubah menjadi para syuhada, subhanallah! Beginikah keimanan itu mempengaruhi manusia? Sesungguhnya iman bila telah masuk ke dalam hati seorang mukmin, ia akan menerima perintah Allah Tabaraka wa Taala dan tidak melihat di dunia ini selain hanya Allah. Para ahli sihir itu beriman kepada Allah, membenarkan keimanan dan meminta pertolongan dari Allah. Para ahli sihir tersebut setelah sebelumnya mereka bersumpah dengan kebesaran Firaun, mereka kemudian mengubah dengan bersumpah dengan nama Allah.
"Wahai para ulama Islam, bertakwalah kepada Allah Tabaraka wa Taala dan tinggalkanlah syahwat dunia karena dunia itu akan hancur. Dengan bertakwa kepada Allah dan meninggalkan syahwat dunia, kalian akan menerima kebahagian di dunia dan akhirat. Seandainya Firaun mendapatkan seseorang yang memberinya nasihat, ia tidaklah berkata kepada manusia, "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Ilah bagimu selain aku ...." (Al-Qashash: 38).
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Marilah sejenak kita menengok kepada seorang khalifah sekaligus seorang alim dan penguasa yang adil, Umar bin Abdul Azir r.a., manakala ia menerima jabatan khalifah, ia berdiri di mimbar dan berkata, "Wahai manusia, bila kalian tidak menyukai saya, saya tidak akan berdiri di mimbar ini." Mereka pun menjawab, "Kami rela, kami rela." Umar yang masih membutuhkan bertanya pada jamannya di mana semua orang dalam keadaan kaya. Ia memiliki seorang penasihat khusus yang bernama Amru bin Muhajir. Apakah kalian tahu wahai maasyiral muslimin rahimakumullah! Apakah tugas penasihat ini? Umar berkata kepadanya, "Jadilah kamu senantiasa berada di sampingku, bila engkau melihatku menyimpang dari jalan maka tariklah leher bajuku dan ayunkanlah kepdaku dengan keras dan berkatalah, "Bertakwalah kepada Allah wahai Umar, karena besok engkau akan mati." Apa ini wahai hamba Allah?
Itu adalah takwa kepada Allah dan perasaan takut kepada-Nya. Ia tidak berkuasa dalam leher rakyatnya. Ia tidak pernah menzalimi seorang pun dari manusia. Tidak ada keinginan dalam siang dan malamnya kecuali kemaslahatan kaum muslimin dan untuk melayani mereka. Maka di manakah para pejabat dan penguasa kita pada hari ini? Sehingga, mereka pun mengetahui program harian Umar? Tidakkah mereka membaca firman Allah Tabaraka wa Taala, yang artinya, "Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya." (Ash-Shaaffaat: 24). Juga, firman-Nya yang lain yang artinya, "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shaad: 26).
Belumkah datang waktu bagi umat Islam untuk bangkit? Belumkah tiba saatnya bagi bangsa-bangsa Islam untuk bangkit dari perpecahannya dan bersungguh-sungguh mengembalikan umat ini kepada tempat, kebesaran, dan kemuliaannya?
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Lihatlah realita umat Islam yang telah berlalu, niscaya mata ini akan mengeluarkan air mata darah karena kesedihan dan kepedihan. Perhatikanlah fenomena umat hari ini, niscaya engkau akan mendapatkan perbedaan besar antara cahaya yang berkilauan dengan masa depan yang gelap gulita.
Marilah kita bersegera kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Adalah Nabi Yusuf a.s. berpuasa sehari dan berbuka sehari, padahal perbendaraan bumi berada di bawah tangannya. Manakala seseorang bertanya kepadanya mengapa memperbanyak puasa padahal perbendaharan bumi itu ada pada tangannya, ia menjawab, "Saya takut kenyang lalu saya lupa terhadap orang yang lapar." Ia meletakkan dirinya untuk juga merasakan kepedihan orang yang lapar.
Marilah kita kembali kepada Allah. Allah Tabara wa Taala Maha Mampu menolong kita dan mengatur urusan kehidupan kita. Ikhlaskanlah hati kalian untuk Allah dan bukalah hati untuk mengingat-Nya. Mintalah pertolongan kepada-Nya dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini akan diwariskannya untuk para hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan akibat yang baik adalah untuk orang-orang yang bertakwa. Wallahu a'lam bish-shawab. Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Pada kesempatan ini, marilah kita meningkatkan takwa kita kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar takwa. Marilah pula kita hiasi diri kita dengan akhlak yang mulia, akhlak Alquran. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kita akan ditanya oleh Allah terhadap apa yang telah diamanahkan-Nya kepada kita. Kita semua adalah pemimpin dan kita kelak akan ditanya terhadap apa yang kita pimpin. Ingatlah bahwa tidak ada izzah dan karamah kecuali dengan takwa kepada Allah, sementara kerugian dan kehancuran akan diperoleh bagi siapa saja yang menyelisihi dan mendurhakai perintah-Nya.
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Bila seseorang semakin hari dosanya semakin banyak dan menumpuk, hatinya akan tertutup dan jiwanya akan lalai. Ia akan memburu hal-hal yang enak dan berlomba-lomba dalam mengejar syahwat, harta, dan kenikmatan. Ia pun menjadi lalai terhadap ketaatan kepada Allah. Maha benar Allah yang telah berfirman yang artinya, "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Alquran pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main." (Al-Anbiya: 1-2).
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Marilah kita belajar kepada Imam Syafii rhm. yang telah mengisi dunia ini dengan ilmu, fikih, dan makrifah. Ketika beliau berada dalam detik-detik kematiannya, datanglah seorang muridnya, Imam Muzni rhm., seraya berkata, "Bagaimana engkau menjalani pagi hari wahai Abu Abdullah?" Beliau mengangkat kepalanya lalu berkata, "Terhadap dunia aku meninggalkannya. Terhadap gelas kematian aku meminumnya. Terhadap kejelakan amal perbuatanku aku menjumpainya. Terhadap Allah aku mendatangi-Nya. Aku pun tidak mengetahui, akan berada di manakah rohku kelak, apakah akan berjalan menuju surga dan aku bergembira, ataukah akan berajalan menuju neraka dan aku berduka cita. Kemudian, beliau pun meneteskan air mata.
Karena itu, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah. Ketahuilah bahwa kita akan dipanggil Allah dan dihisab amal perbuatan kita. Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan nafsunya dan berbuat untuk setelah kematian. Sementara, orang yang lemah adalah orang yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.
Maasyiral muslimin rahimakumullah!!
Hari ini umat Islam bagaikan buih di lautan. Ia tidak memiliki keinginan, karena keinginannya berada di tangan orang yang tidak mengetahui Alquran dan tidak berhukum dengan syariat Islam.
Ingatlah bahwa Rasulullah saw. telah mendidik para lelaki dan mujahid yang berhasil menundukkan Persia dan Romawi, membuka kota-kota dan daerah untuk menyebarkan Islam, membebaskan negara dan para hamba. Di samping itu, Rasulullah juga telah berhasil mencetak para ulama yang memenuhi dunia ini dengan makrifat dan ilmu serta menerapkan Islam secara perkataan maupun perbuatan. Mereka kasih sayang terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. Engkau lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Umat Islam pun terus dalam kondisi demikian, sebagai perwujudan atas firman Allah SWT yang artinya, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imron: 11).
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Mengapa pada hari ini ulama kita tidak berupaya untuk menegakkan hukum-hukum Islam? Apakah karena mereka berjalan dalam kendaran pemerintah dengan senang dan takut? Atau, karena mereka takut terhadap siksaan dan kezaliman mereka? Apabila ini jawabannya, maka sudah sepantasnyalah mereka keluar dari status sebagai pewaris para nabi. Bukankah Firaun juga telah mengancam para ahli sihirnya, "Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya."(Thaha: 71).
Apakah lantas para ahli sihir itu menanggalkan keimanannya? Dan, sujudnya kepada Allah Azza wa Jalla? Bukankah mereka telah meletakkan sikap tegas kepada para dai kebenaran dengan perkataannya, mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rab yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rab kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan, Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)." (Thaha: 72--73)
Para ahli sihir tersebut dalam permulaan siang mereka dalam keadaan kafir dan pada sore hari mereka telah berubah menjadi para syuhada, subhanallah! Beginikah keimanan itu mempengaruhi manusia? Sesungguhnya iman bila telah masuk ke dalam hati seorang mukmin, ia akan menerima perintah Allah Tabaraka wa Taala dan tidak melihat di dunia ini selain hanya Allah. Para ahli sihir itu beriman kepada Allah, membenarkan keimanan dan meminta pertolongan dari Allah. Para ahli sihir tersebut setelah sebelumnya mereka bersumpah dengan kebesaran Firaun, mereka kemudian mengubah dengan bersumpah dengan nama Allah.
"Wahai para ulama Islam, bertakwalah kepada Allah Tabaraka wa Taala dan tinggalkanlah syahwat dunia karena dunia itu akan hancur. Dengan bertakwa kepada Allah dan meninggalkan syahwat dunia, kalian akan menerima kebahagian di dunia dan akhirat. Seandainya Firaun mendapatkan seseorang yang memberinya nasihat, ia tidaklah berkata kepada manusia, "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Ilah bagimu selain aku ...." (Al-Qashash: 38).
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Marilah sejenak kita menengok kepada seorang khalifah sekaligus seorang alim dan penguasa yang adil, Umar bin Abdul Azir r.a., manakala ia menerima jabatan khalifah, ia berdiri di mimbar dan berkata, "Wahai manusia, bila kalian tidak menyukai saya, saya tidak akan berdiri di mimbar ini." Mereka pun menjawab, "Kami rela, kami rela." Umar yang masih membutuhkan bertanya pada jamannya di mana semua orang dalam keadaan kaya. Ia memiliki seorang penasihat khusus yang bernama Amru bin Muhajir. Apakah kalian tahu wahai maasyiral muslimin rahimakumullah! Apakah tugas penasihat ini? Umar berkata kepadanya, "Jadilah kamu senantiasa berada di sampingku, bila engkau melihatku menyimpang dari jalan maka tariklah leher bajuku dan ayunkanlah kepdaku dengan keras dan berkatalah, "Bertakwalah kepada Allah wahai Umar, karena besok engkau akan mati." Apa ini wahai hamba Allah?
Itu adalah takwa kepada Allah dan perasaan takut kepada-Nya. Ia tidak berkuasa dalam leher rakyatnya. Ia tidak pernah menzalimi seorang pun dari manusia. Tidak ada keinginan dalam siang dan malamnya kecuali kemaslahatan kaum muslimin dan untuk melayani mereka. Maka di manakah para pejabat dan penguasa kita pada hari ini? Sehingga, mereka pun mengetahui program harian Umar? Tidakkah mereka membaca firman Allah Tabaraka wa Taala, yang artinya, "Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya." (Ash-Shaaffaat: 24). Juga, firman-Nya yang lain yang artinya, "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shaad: 26).
Belumkah datang waktu bagi umat Islam untuk bangkit? Belumkah tiba saatnya bagi bangsa-bangsa Islam untuk bangkit dari perpecahannya dan bersungguh-sungguh mengembalikan umat ini kepada tempat, kebesaran, dan kemuliaannya?
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Lihatlah realita umat Islam yang telah berlalu, niscaya mata ini akan mengeluarkan air mata darah karena kesedihan dan kepedihan. Perhatikanlah fenomena umat hari ini, niscaya engkau akan mendapatkan perbedaan besar antara cahaya yang berkilauan dengan masa depan yang gelap gulita.
Marilah kita bersegera kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Adalah Nabi Yusuf a.s. berpuasa sehari dan berbuka sehari, padahal perbendaraan bumi berada di bawah tangannya. Manakala seseorang bertanya kepadanya mengapa memperbanyak puasa padahal perbendaharan bumi itu ada pada tangannya, ia menjawab, "Saya takut kenyang lalu saya lupa terhadap orang yang lapar." Ia meletakkan dirinya untuk juga merasakan kepedihan orang yang lapar.
Marilah kita kembali kepada Allah. Allah Tabara wa Taala Maha Mampu menolong kita dan mengatur urusan kehidupan kita. Ikhlaskanlah hati kalian untuk Allah dan bukalah hati untuk mengingat-Nya. Mintalah pertolongan kepada-Nya dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini akan diwariskannya untuk para hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan akibat yang baik adalah untuk orang-orang yang bertakwa. Wallahu a'lam bish-shawab. Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia