• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sukseskan Gerakan "Back To Masjid ..."

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. sibin
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

sibin

IndoForum Newbie A
No. Urut
29651
Sejak
3 Jan 2008
Pesan
268
Nilai reaksi
4
Poin
18
Memakmurkan Masjid

Lewat masjid,.... Rasulullah membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis, progresif.

Tulisan ini, hanya sebagai pengingat bagi kita, Umat Islam, untuk merekonstruksi paradigma terhadap masjid, yang menurut saya, sekarang pandangan sebagian Umat Islam dalam melihat masjid tidak sesuai dengan khittahnya.

Saat ini sebagian Masjid ditelantarkan (dalam arti sebenarnya) oleh sebagian Umat Islam. Selama saya tinggal di Banjarbaru, kondisi sebagian masjid saat ini saya lihat sangat menyedihkan. Baik dari fisik bangunan, program kegiatannya maupun SDM pengelolanya. Bahkan yang membuat saya lebih miris, di antara masjid di Banjarbaru dan Pelaihari, jarang sekali anak muda yang shalat berjamaah.

"Barang siapa yang membangun rumah Allah (masjid) di dunia, maka Allah akan membangunkannya rumah di surga." (HR Muslim). Hadits itu jelas sekali maksudnya. Tapi karena kita memahaminya hanya secara harfiah, tanpa mengkaji lagi asbabul wurud (sebab hadits itu diturunkan) sehingga kita mungkin beranggapan: cukup menjadi panitia pembangunannya, Allah sudah membangunkan kita rumah di surga. Apalagi jika kita melakukan aktivitas shalat jamaah di masjid, memakmurkan masjid. Tentu hal yang luar biasa.

Padahal paradigma seperti itu keliru. Bayangkanlah, jika pikiran kita seluruhnya sama seperti itu, maka siapa yang akan merawat rumah Allah tersebut. Siapa yang akan memakmurkan masjid tersebut? Padahal, memakmurkan masjid jauh lebih baik dan mempunyai nilai sangat strategis bagi Umat Islam. Di antaranya, ukhuwwah islamiyah Umat Islam dapat terjaga. Di masjid, tidak memandang status sosial. Tidak memandang pangkat, jabatan, kekuasaan, dll, seperti ketika kita berada di kantor, di pasar misalnya. Di sini, di rumah Allah yang mulia, sangat terasa persaudaraan itu.

Jika kita ada pada zaman Rasulullah, mungkin rumah kita dibakar oleh Rasulullah karena kita tidak menjalankan shalat jamaah di masjid. Renungkanlah percakapan antara umi maktum, sahabat Rasulullah yang buta. "Ya Rasulullah adakah rukshah (keringanan) bagi saya untuk tidak melakukan shalat jamaah di masjid." Rasul menjawab: "Apakah engkau masih mendengar azan?" Umi Maktum menjawab: "Masih." "Maka wajib bagimu untuk mendatangi masjid itu," jawab Nabi. Hadits meriwayatkan, hampir-hampir akan dibakar rumah orang yang tidak mau ke masjid untuk shalat jamaah, jika tidak terjadi fitnah.

Pusat Revolusi Peradaban

Masjid di zaman Rasulullah mempunyai banyak fungsi, selain tempat ibadah. Itu sebabnya, Rasulullah membangun masjid terlebih dahulu.

Untuk mengumpulkan pengikut Rasulullah, tempat yang tepat adalah masjid karena bebas nilai. Hanya nilai kebaikan dalam rangka mengesakan Allah, yang ada di masjid. Madinah dijadikan Rasulullah sebagai prototipe masyarakat berperadaban Islam. Lewat masjid, Rasulullah membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis, progresif. Intinya dari masjid awal cahaya Islam menyebar ke seluruh cakrawala dunia.

Bagaimana kondisi masjid sekarang? Selain seperti yang saya jelaskan di atas, ada hal yang umumnya terjadi di sebagian masjid kita. Masjid fungsinya dibatasi, hanya sebagai tempat ibadah. Salah? Tidak. kemudian ada lagi permasalahan yang sering saya jumpai di masjid, yaitu ketika ada yang ingin melakukan kegiatan atas nama parpol tertentu, izinnya dipersulit. Bahkan pengurus juga tidak jarang mengatakan: "Masjid bukan tempat orang untuk bicara politik." Padahal di zaman Rasulullah, justru politik dibicarakan di masjid.

Ada juga persoalan yang sering terjadi jika ada ormas mau mengadakan kegiatan, tetapi mazhabnya berbeda dengan pengurus masjid, maka ormas itu tidak boleh memakai masjidnya.

Tips memakmurkan masjid:

Dari sisi SDM yaitu:

-Adakan pelatihan manajemen masjid dengan mengundang ahlinya sehingga diharapkan pengelolanya bisa maksimal mengurus masjid;

-Adakan pembinaan terhadap pemuda di sekitar masjid. Diharapkan mereka sebagai suplai SDM nantinya, jika orang tua sudah tidak ada.

Dari sisi program kerja:
Buat program kerja yang inovatif. Misalnya, selama satu tahun kepengurusan si Fulan yang ada di masjid hanya acara Shalat Tasbih, yasinan, maulid, kajian kitab kuning. Maka, tambahlah dengan bedah buku, mabit, ESQ, Talk Show, dll.

Back to Masjid

Kiranya tidak berlebihan, jika hal itu membawa dampak positif yang signifikan bagi kemakmuran masjid maupun masyarakat sekitar. Apalagi baru saja kita melewati Ramadhan. Kenapa tidak kita teruskan ibadah berjamaahnya? Apalagi sekarang Muharam, bulan ini dijadikan sebagai momentum hijrah bagi muslim. Mari kita shalat berjamaah di masjid, jika tidak mau, berarti ada yang salah dalam diri kita.

Kemudian Shalat Subuh bersama forum RT/RW, sehingga terlihat kedekatan pejabat dengan rakyatnya. Dampaknya luar biasa. Bukan hanya masjid yang hidup, tempat kita tinggal akan mendapat berkah dari langit. Apalagi jika gaya memimpin bupati/walikota seperti Umar bin Abdul Aziz. Subhanallah.

Kini saatnya kita kembali ke masjid. khususnya melakukan Shalat Subuh jamaah. Seorang Yahudi berkata: "Bangsa kami, Yahudi, baru akan takut jika Umat Islam telah melaksanakan Shalat Subuh seperti melakukan Shalat Jumat."

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. Mari mulai sekarang juga, kita makmurkan masjid di kompleks perumahan kita, di tempat kerja maupun di pusat perbelanjaan (jika memungkinkan). Hilangkan perbedaan yang tidak syar’i, kecurigaan terhadap sesama umat.

Sumber:
http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/15274/180/

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah).
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=18#18


Sukseskan Gerakan Back To Masjid ...

http://www.google.co.id/search?q="Back+to+Masjid"&btnG=Telusuri&hl=id

http://www.google.co.id/search?q="Back+to+Masjid"&hl=id&start=10&sa=N

INFO BUKU:
Nikmatnya Sholat Berjamaah - Suburkan Ruhiyah Eratkan Ukhuwah
Sukseskan Gerakan "Back To Masjid"
Penerbit : Nawaitu Pustaka

Fungsi dan Peran Masjid :yihaa:
http://www.immasjid.com/?pilih=lihat&id=149

hjm.jpg
pporm.jpg




Download 70kb
Sukseskan Gerakan "Back To Masjid"

http://c.1asphost.com/sibin/Sukseskan_Gerakan_Back_To_Masjid.doc
:arrow: ...PRINT DAN TEMPELKAN DIMASJID %peace%


Download file doc, 200kb
MEMBANGUN GENERASI QUR'ANI
http://ccc.1asphost.com/assalamquran/DOC_MEMBANGUN_GENERASI_QURANI.doc
http://c.1asphost.com/sibin/DOC_MEMBANGUN_GENERASI_QURANI.doc
 
Fungsi dan Peran Masjid

Masjid berarti tempat untuk bersujud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut Baitullah (rumah Allah), yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah.

Pada waktu hijrah dari Mekah ke Madinah ditemani shahabat beliau, Abu Bakar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati daerah Quba di sana beliau mendirikan Masjid pertama sejak masa kenabiannya, yaitu Masjid Quba (QS 9:108, At Taubah). Setelah di Madinah Rasulullah juga mendirikan Masjid, tempat umat Islam melaksanakan shalat berjama’ah dan melaksanakan aktivitas sosial lainnya. Pada perkembangannya disebut dengan Masjid Nabawi.

Fungsi Masjid paling utama adalah sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat berjama’ah. Kalau kita perhatikan, shalat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok, sunnah Nabi dalam pengertian muhaditsin, bukan fuqaha, yang bermakna perbuatan yang selalu dikerjakan beliau. Ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan kepada kaum muslimin.

Abdullah Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Saya melihat semua kami (para shahabat) menghadiri jama’ah. Tiada yang ketinggalan menghadiri jama’ah, selain dari orang-orang munafiq yang telah nyata kemunafiqannya, dan sungguhlah sekarang di bawa ke Masjid dipegang lengannya oleh dua orang, seorang sebelah kanan, seorang sebelah kiri, sehingga didirikannya ke dalam shaff.” (HR: Al Jamaah selain Bukhory dan Turmudzy).

Ibnu Umar r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “Shalat berjama’ah melebihi shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajad.” (HR: Bukhory dan Muslim).

Sebenarnya, inti dari memakmurkan Masjid adalah menegakkan shalat berjama’ah, yang merupakan salah satu syi’ar Islam terbesar. Sementara yang lain adalah pengembangannya. Shalat berjama’ah merupakan indikator utama keberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid. Jadi keberhasilan dan kekurang-berhasilan kita dalam memakmurkan Masjid dapat diukur dengan seberapa jauh antusias umat dalam menegakkan shalat berjama’ah.
Meskipun fungsi utamanya sebagai tempat menegakkan shalat, namun Masjid bukanlah hanya tempat untuk melaksanakan shalat saja.

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain dipergunakan untuk shalat, berdzikir dan beri'tikaf, Masjid bisa dipergunakan untuk kepentingan sosial. Misalnya, sebagai tempat belajar dan mengajarkan kebajikan (menuntut ilmu), merawat orang sakit, menyelesaikan hukum li'an dan lain sebagainya.
Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya. Hampir dapat dikatakan, dimana ada komunitas muslim di situ ada Masjid. Memang umat Islam tidak bisa terlepas dari Masjid. Disamping menjadi tempat beribadah, Masjid telah menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat da’wah dan lain sebagainya.

Banyak Masjid didirikan umat Islam, baik Masjid umum, Masjid Sekolah, Masjid Kantor, Masjid Kampus maupun yang lainnya. Masjid didirikan untuk memenuhi hajat umat, khususnya kebutuhan spiritual, guna mendekatkan diri kepada Pencipta-nya. Tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Masjid menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembaraan hidup dan energi kehidupan umat.

Utsman Ibn ‘Affan r.a. berkata: “Rasul s.a.w. bersabda: Barangsiapa mendirikan karena Allah suatu Masjid, niscaya Allah mendirikan untuknya seperti yang ia telah dirikan itu di Syurga.” (HR: Bukhori & Muslim).

Masjid memiliki fungsi dan peran yang dominan dalam kehidupan umat Islam, beberapa di antaranya adalah:

1. Sebagai tempat beribadah.

Sesuai dengan namanya Masjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridla Allah, maka fungsi Masjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat beribadah secara luas sesuai dengan ajaran Islam.

2. Sebagai tempat menuntut ilmu.

Masjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di Masjid.

3. Sebagai tempat pembinaan jama’ah.

Dengan adanya umat Islam di sekitarnya, Masjid berperan dalam mengkoordinir mereka guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir secara rapi dalam organisasi Ta’mir Masjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhuwah imaniyah dan da’wah islamiyahnya. Sehingga Masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.

4. Sebagai pusat da’wah dan kebudayaan Islam.

Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di Masjid pula direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu Masjid, berperan sebagai sentra aktivitas da’wah dan kebudayaan.

5. Sebagai pusat kaderisasi umat.

Sebagai tempat pembinaan jama’ah dan kepemimpinan umat, Masjid memerlukan aktivis yang berjuang menegakkan Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh hilang berganti. Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di Masjid sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al Quraan (TPA), Remaja Masjid maupun Ta’mir Masjid beserta kegiatannya.

6. Sebagai basis Kebangkitan Umat Islam.

Abad ke-lima belas Hijriyah ini telah dicanangkan umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Umat Islam yang sekian lama tertidur dan tertinggal dalam percaturan peradaban dunia berusaha untuk bangkit dengan berlandaskan nilai-nilai agamanya. Islam dikaji dan ditelaah dari berbagai aspek, baik ideologi, hukum, ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya. Setelah itu dicoba untuk diaplikasikan dan dikembangkan dalam kehidupan riil umat. Menafasi kehidupan dunia ini dengan nilai-nilai Islam. Proses islamisasi dalam segala aspek kehidupan secara arif bijaksana digulirkan.

Umat Islam berusaha untuk bangkit. Kebangkitan ini memerlukan peran Masjid sebagai basis perjuangan. Kebangkitan berawal dari Masjid menuju masyarakat secara luas. Karena itu upaya aktualisasi fungsi dan peran Masjid pada abad lima belas Hijriyah adalah sangat mendesak (urgent) dilakukan umat Islam. Back to basic, Back to Masjid.


AKTUALISASI FUNGSI DAN PERAN MASJID

Secara umum pengelolaan Masjid kita masih memprihatinkan. Apa kiranya solusi yang bisa dicoba untuk ditawarkan dalam meng-aktualkan fungsi dan peran Masjid di era modern. Hal ini selayaknya perlu kita pikirkan bersama agar Masjid dapat menjadi sentra aktivitas kehidupan umat kembali sebagaimana telah ditauladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya.

Kita perlu melakukan pemberdayaan Masjid dahulu sebelum mengoptimalkan fungsi dan perannya. Dalam pemberdayaan ini kita bisa menggunakan metode Continuous Consolidation and Improvement for Mosque (CCIM) atau Penguatan dan Perbaikan Berkelanjutan untuk Masjid .

CCIM adalah metode pemberdayaan Masjid dengan menata kembali organisasi Ta’mir Masjid melalui pemanfaatan segenap potensi yang dimiliki diikuti dengan perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Dalam metode ini kita dapat memanfaatkan metode-metode yang sudah dikenal dalam dunia management maupun mutu, seperti misalnya: Siklus PDCA, QC Tools, SAMIE, MMT, ISO 9000, Lima-R dan lain sebagainya.
Penguatan atau dalam istilah umum organisasi disebut konsolidasi (concolidation), adalah merupakan upaya menata sumber daya yang ada secara sistimatis dan terarah.

Yang perlu dilakukan adalah meliputi:

a. Konsolidasi pemahaman Islam.

b. Konsolidasi lembaga organisasi.

c. Konsolidasi program.

d. Konsolidasi jama’ah.


Perbaikan (improvement) diperlukan untuk meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan kepada jama’ah. Beberapa cara yang cukup efektif dalam upaya perbaikan dapat diseleksi dan disesuaikan dengan kebutuhan, agar upaya perbaikan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan (continuous improvement).

Sambil melakukan konsolidasi dan perbaikan, aktivitas memakmurkan Masjid dan jama’ahnya dilaksanakan sesuai dengan fungsi dan peran yang telah disebutkan di depan. Aktivitas disusun dengan melakukan perencanaan Program Kerja secara periodik dan diterjemahkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Pengelolaan (RKAP) setiap tahunnya.

Rencana yang telah ditetapkan selanjutnya ditindak lanjuti dengan melakukan koordinasi segenap sumber daya yang dimiliki dan dilaksanakan secara profesional. Aktivitas yang diselenggarakan dilaporkan, dievaluasi, distandardisasi dan dikaji untuk ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya.

Pada masa sekarang Masjid semakin perlu untuk difungsikan, diperluas jangkauan aktivitas dan pelayanannya serta ditangani dengan organisasi dan management yang baik. [size=16pt]Tegasnya, perlu tindakan meng-aktualkan fungsi dan peran Masjid[/size] dengan memberi warna dan nafas modern. Lokakarya idarah Masjid yang diselenggarakan di Jakarta oleh KODI DKI pada tanggal 9-10 November 1974 telah merumuskan pengertian istilah Masjid sebagai berikut: "Masjid ialah tempat untuk beribadah kepada Allah semata dan sebagai pusat kebudayaan Islam". Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa Masjid harus bebas dari aktivitas syirik dan harus dibersihkan dari semua kegiatan-kegiatan yang cenderung kepada kemusyrikan. Disamping itu kegiatan-kegiatan sosial yang dijiwai dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam dapat diselenggarakan di dalamnya.

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS 72:18, Al Jin).
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=72&No=18#18

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah).
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=18#18

Pengertian Masjid sebagi tempat ibadah dan pusat kebudayaan Islam telah memberi warna tersendiri bagi umat Islam modern. Tidaklah mengherankan bila suatu saat, insya Allah, kita jumpai Masjid yang telah dikelola dengan baik, terawat kebersihan, kesehatan dan keindahannya. Terorganisir dengan management yang baik serta memiliki tempat-tempat pelayanan sosial seperti, poliklinik, Taman Pendidikan Al Quraan, sekolah, madrasah diniyah, majelis ta'lim dan lain sebagainya.

Sumber:
alkautsar.jpg

Fungsi dan Peran Masjid
http://www.immasjid.com/?pilih=lihat&id=149
 
Rapatkan dan Luruskan Syaf !!!!???

Sholat berjamaah di masjid adalah salah satu ciri utama masyarakat Islam. Dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT memuji kaum muslimin yang komitmen dengan sholat berjamaah dan mencela orang yang menganggap remeh persoalan ini.

Di antara pujian Allah adalah :

1. Sholat berjamaah dijadikan salah satu indikator kesuksesan orang-orang mukmin. Allah berfirman:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1)... Dan orang-orang yang memelihara sholatnya (9)." (QS. Al Mu'minun : 1 dan 9)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir?SuratKe=23&No=1#1

2. Sholat berjamaah adalah salah satu indikator masyarakat yang bersyukur atas kemenangan yang di anugerahkan Allah kepada mereka. Allah berfirman:

"(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al Hajj : 41)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=22&No=41#41

Orang yang melalaikan dan menganggap remeh persoalan ini digambarkan oleh Allah sebagai salah satu sifat orang munafiq. Allah berfirman :
"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (QS. At Taubah : 54)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=54#54

Sholat jamaah adalah sunnah agung dari Rasulullah yang tidak boleh diabaikan. Jika diabaikan bisa berdampak kepada kesesatan. Ibnu Mas'ud menggambarkan urgensi sholat jamaah sebagai berikut :

من سره أن يلقى الله غدا مسلما فليحافظ على هؤلاء الصلوات حيث ينادى بهن فإن الله شرع لنبيكم صلى الله عليه وسلم سنن الهدى وإنهن من سنن الهدى ولو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم وما من رجل يتطهر فيحسن الطهور ثم يعمد إلى مسجد من هذه المساجد إلا كتب الله له بكل خطوة يخطوها حسنة ويرفعه بها درجة ويحط عنه بها سيئة ولقد رأيتنا وما يتخلف عنها إلا منافق معلوم النفاق ولقد كان الرجل يؤتى به يهادى بين الرجلين حتى يقام في الصف ( صحيح مسلم 1/ 453)

"Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah di hari esok dalam keadaan muslim hendaklah dia menjaga sholat-sholat mereka secara berjamaah di mana mereka diseru. Sesungguhnya Allah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah yang agung, dan sholat berjamaah adalah diantara sunnah yang agung tersebut.

Andaikan kalian sholat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang-orang yang 'suka tertinggal' itu sholat di rumahnya, maka kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian.

Jika kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka kalian sudah tersesat. Tidak ada seorangpun yang berwudhu' dengan sempurna, lalu berangkat ke masjid, kecuali Allah menulis untuk setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menggugurkan satu kesalahan.

Aku menyaksikan komunitas kami, tidak ada yang meninggalkan sholat jamaah kecuali munafik yang jelas kemunafikannya. Bahkan ada orang yang datang ke masjid dengan cara dibopong oleh dua orang sampai dia sampai ke shaf (sebagai bukti kesungguhan mereka melaksanakan sunnah Rasulullah)"

Dalam hadits lain disebutkan bahwa shaf yang tidak lurus saat sholat berjamaah adalah indikator tidak beresnya barisan kaum muslimin. Rasulullah bersabda saat meluruskan shaf :

عن أبي مسعود قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح مناكبنا في الصلاة ويقول استووا ولا تختلفوا فتختلف قلوبكم ليلني منكم أولو الأحلام والنهى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم قال أبو مسعود فأنتم اليوم أشد اختلافا ( صحيح مسلم ، جزء 1 - صفحة 323 )
”Dari Ibnu Mas'ud RA berkata : Rasulullah SAW menarik pundak-pundak kami pada saat mulai sholat. Beliau bersabda : luruskanlah shaf dan janganlah kalian berselisih sehingga hati-hati kalian menjadi berselisih. Hendaklah berdiri di belakangku orang-orang yang berilmu, kemudian orang setelahnya, kemudian orang setelahnya. Ibnu Mas'ud berkata : "Kalian hari ini perselisihannya jauh lebih hebat"

Jika shaf yang tidak lurus saat sholat jamaah menjadi salah satu indikator adanya ketidakberesan di dalam shaf kaum muslimin, apalagi meninggalkan sholat berjamaah.

قم إلى الصلاة متى سمعت النداء ، مهما كانت الظروف
"Dirikanlah sholat kapan saja kamu mendengar adzan, bagaimanapun kondisimu".


Artikel Lain..
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Wajib Sholat Berjamaah.asp
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Peringatan Meninggalkan Shalat.asp
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Keutamaan Shalat.asp

Download Audio 900 Kb
http://web.1asphost.com/assalamaagym/Kebangkitan.wav
 
ente muslim yah broo...sori ane kemarin kirim bata merah buat ente....
 
Gw juga heran dengan orang-orang yang rumahnya deket banget ama mesjid tapi ketika tiba waktu sholat, mereka lebih memilih untuk nongkrok di pinggir jalan daripada sholat berjamaah di masjid. Mungkin inilah salah satu tanda datangnya hari kiamat, kita ditinggalkan oleh para pencari ilmu/ulama.
 
Aduh ane jadi malu sama diri ane sendiri karena jarang shalat di masjid

syukron ya, udah posting hal yang keren kaya gini
Insya ALLAH ntar ane bakal rajin datang ke masjid
 
Semoga kita selalu dinaungi oleh Alloh berupa nikmat kesehatan sehingga kita dapat selalu melaksanakan sholat lima waktu berjamaah di masjid. Karena pahala sholat berjamaah di masjid seorang pemuda yang sehat wal afiat lebih besar daripada pahala orang yang sudah tua renta. Hal ini dikarenakan pemuda lebih banyak godaannya dalam melalaikan perintah Alloh dikarenakan nafsu dan kepentingan dunianya.
 
Sang Kakek

Oleh Darul Ulum

"Assalamu'alaikum"…sapaku kepada seorang kakek. Kakek itu kira-kira berumur 60-tahunan yang sudah kukenal dua tahun silam.

"Wa'alaikumussalam" jawabnya lirih dengan perangai berseri-seri dan gerakan bibir yang merekah tersenyum ciri khasnya, kurasakan kesejukan hati bila saling tegur sapa dengan beliau.

"Kaifa haluk (apa kabar)" lanjutku kepadanya yang masih menggenggam tanganku sehabis salaman tadi.

"Alhamdulillah quwaisy (Alhamdulillah baik)."

"Wa inta? (dan kamu?)" tanyanya kepadaku.

"Alhamdulillah quwaisy (Alhamdulillah baik)" jawabku.

Obrolan panjang pun terus berjalan mulai membicarakan tentang kuliahku di Al-azhar yang baru saja beres ujian mid semester, sampai kabar orangtuaku yang ada di Indonesia pun menjadi buah obrolan di antara kami berdua.

Masih kurasakan keramahan sang kakek tersebut, hatiku bisa merekam betapa ikhlas dan bersihnya hati si kakek ini.

Syekh Taufik nama kakek itu. Dia tinggal di Mujawwarah 8, Nashr City, Cairo. Rumahnya bersebrangan dengan rumah kostku, hanyalah sebidang taman berukuran sepuluh kali lima belas meter yang memisahkan antara kost-anku dan rumahnya.

Semua orang yang tinggal di Mujawarrah 8 dan sering sholat berjama'ah di masjid AR-RAHMAN pasti mengenal sosok kakek berbadan kecil munggil ini. Syekh Taufik, selain terkenal dengan keramahanya, dia juga terkenal dengan tutur katanya yang begitu santun, bersahaja, lembut dan selalu berisikan wejangan-wejangan.

Bagi diriku peribadi, ada lagi yang paling terkesan dari sosok syekh Taufik ini, walaupun dia merupakan kakek yang sudah lanjut usia, tapi tak pernah meninggalkan sholat berjama'ah di masjid, lebih kagum lagi dia tidak pernah masbuk dalam berjama'ahnya dan pasti ada di barisan depan, tepatnya di belakang sang Imam.

Ketepatan waktu dalam setiap sholat sudah menjadi jadwal rutinan beliau, setiap mendengar panggilan adzan sepertinya muncul tenaga yang berlipat untuk menyeret langkah kaki menuju masjid, demi bertemu sang Kholiq. Jarak pun tidak menjadi halangan yang berarti baginya, padahal jarak yang di tempuh dari rumah ke masjid mencapai setengah kilo meter.

Selain jarak yang jauh dari rumah ke masjid ada pula yang perlu kita kagumi dari sang kakek ini, tiap hari dia menaiki tangga rumah susun yang menuju rumahnya di lantai tiga, walaupun puluhan tangga menantang dan meletihkan kaki, tetapi seakan semua itu dia jadikan sebagai hitungan langkah kebaikan.

Setelah dua tahun aku merasakan kehidupan bersama beliau di negri Piramid ini, semua musim pun telah aku rasakan, mulai musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi, tetapi berubah-ubahnya musim tidak menjadi penghalang untuk menggiring dua langkah kakinya menysuri jalan menuju masjid.

"Subhanallah" hatiku bergumam setiap kali melihat sosok kakek berkewarga negaraan Mesir ini mengayunkan kedua kakinya di subuh hari musim dingin. Semua orang tahu betapa dinginya gigitan udara musim dingin di negri Kinanah.

Jangankan kakek-kakek yang telah berusia lanjut, seorang pemuda dua puluh tahun-an pun harus memakai jaket dalam semua aktifitasnya, tapi dengan jubahnya yang tebal dia tetap menjaga semangatnya untuk berjamaah.

Decak kagum pada beliau pun tidak hanya dalam urusan berjamaah, tetapi diriku terpana dengan ke istiqomahanya dalam membaca alquran setiap setelah sholat.

Sungguh ini hikmah bagi kita. Berbadan sehat, usia masih sangat muda, kendaraan ada dan jarak yang dekat kadang belum bisa menjadi wasilah (jalan) untuk beristiqomah dalam menjalankan solat berjamaah di masjid dan menjaga amalan lainya.

Kesibukan kadang menjadi kambing hitam semua kegagalan kita dalam menjaga hubungan kita dengan Allah Swt.

Wallahu al-mussta'an.

sumber: Oase Iman -eramuslim.com
http://www.eramuslim.com/atk/oim/8302023142-sang-kakek.htm



Ayo...Ke Masjid !!!
http://acmy.id.or.id/web/index.php?option=com_content&task=view&id=314&Itemid=68

Dari Kampus, Back To Masjid
http://nuansakabar.web.id/new/index.php?option=com_content&task=view&id=44&Itemid=2

Download : Manajemen Masjid
http://www.immasjid.com/?pilih=dl&mod=yes


Forum MASJID
http://www.forum.immasjid.com/

MISTERI SHOLAT SUBUH
Disajikan dalam format persentasi, silahkan download file dibawah ini, selamat menikmati, semoga bermanfaat :
500kb
misteri_sholat_subuh.pps

atau
http://buletinakhlak.multiply.com/journal/item/21/MISTERI_SHOLAT_SUBUH
 
M A S J I D >:D<

Rangkaian peristiwa Isra' dan Mi'raj dimulai dari masjid ke masjid. Memperingati peristiwa ini seharusnya mendorong kaum muslimin mengorientasikan dirinya ke masjid, ikut memakmurkan tempat ibadah itu dengan menjadi jamaah yang aktif. Dalam risalah Islam, 'masjid' memang mempunyai fungsi dan peranan tertentu yang melambangkan masyarakat Islam bukan perseorangan yang tanpa ikatan. Masjid melambangkan Islam sebagai Agama 'jamaah'. Idealnya bukan hanya dalam shalat, tetapi di luar shalat juga berlangsung hidup berjamaah.

Artinya, masjid bukan sekadar untuk shalat berjamaah, fungsi masjid lebih luas dari itu. Hal ini dapat dimengerti dari tindakan Rasulullah sesampainya di Masjidil Haram sepulang Mi'raj untuk mengajak masyarakat meyakini kebenaran perjalanannya. Atau ketika Nabi sampai di Yatsrib sewaktu hijrah.

Pertama kali yang beliau bangun adalah mendirikan masjid. Dari masjid itulah masyarakat Islam disusun, nilai-nilai Islam dihidupkan dan dilembagakan dalam kehidupan bersama. Fungsi masjid yang demikian itu lebih ditegaskan di masa Khalifah Abu Bakar, bahkan disertai pesan, ''Jika sekiranya datang cengkeraman dari pihak yang batil dan timbul perlawanan dari pihak yang hak (perlawanan yang tidak akan sia-sia lantaran kebajikannya), maka di kala itu, di masjidlah tempat kamu menetap dan dari Alquranlah kamu mencari petunjuk.'' (Pidato Khalifah Abu Bakar). Bagi Khalifah Abu Bakar, masjid harus difungsikan sebagai pusat 'reintegrasi umat'.

Di negeri kita ini, citra kemajuan umat baru ditandai oleh banyaknya bangunan fisik masjid. Itu saja tentu belum cukup. Masjid yang benar-benar makmur (difungsikan sebagaimana seharusnya) masih bisa dihitung dengan jari. Banyak masjid baru berfungsi pada saat shalat Jumat berlangsung. :-O Kadang-kadang keberadaan masjid malah tidak bersambung dengan kehidupan riel masyarakat tetangga masjid, sehingga ia ibarat Kuburan Cina yang pakai marmer berukir tapi tak bernyawa di dalamnya. :-O

Untuk itu sudah saatnya dimunculkan gerakan cinta masjid yang diprogram secara nasional. Kalau perlu melalui Keppres agar lebih efektif. Dan ini bukan tidak mungkin, mengingat kepeloporan Presiden Soeharto dalam membangun ribuan masjid menghendaki tindak lanjut usaha pemakmurannya. Secara tradisi pun pernah berlangsung dalam tata kota kekuasaan di Jawa dalam lambang menyatunya Masjid, Keraton, dan Alun-alun. Firman Allah: Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan tidak merasa takut melainkan kepada Allah; mudah-mudahan mereka itu makin terpimpin kepada kebenaran.'' (QS At-Taubah: 18).

Dengan gerakan yang bersifat nasional :), pemakmuran masjid akan mampu menyentuh bukan saja pada aktivitas ibadah shalat berjamaah, melainkan juga dapat kita harapkan masjid akan mampu menjadi sentra pembinaan umat baik keimanan dan ketaqwaannya maupun kehidupan sosial ekonominya. Gerakan koperasi, misalnya, dapat lebih dipercepat perkembangannya melalui masjid-masjid. Wallahu A'lam.

sumber: republika
http://www.republika.co.id/berita/60722/Masjid

Artikel - Dewan Masjid Indonesia (DMI)
http://www.republika.co.id/halaman/195/232

AYO..BACK TO MASJID >:D<
http://c.1asphost.com/sibin/detail.asp?Id=157

Manajemen Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Aktivitas Umat
http://myquran.org/forum/index.php/topic,11068.0/all.html
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.