• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

SUKA DUKA PUNYA USAHA WARUNG

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Suka Duka Punya Usaha Warung
SUKA DUKA PUNYA USAHA WARUNG

sumber gambar: https://www.gambar.radarnonstop.co/g...-kelontong.jpg

IFers sekalian mungkin pernah membeli sabun atau rokok di warung dekat rumah, yg tentu saja penjualnya juga adalah tetangga sendiri. IFers mungkin memperhatikan betapa enaknya si penjual alias si tetangga itu mendapat uang. Tidak perlu bangun pagi-pagi, tinggal buka pintu rumah sendiri, lalu rebahan di kursi atau tikar, sambil menonton televisi atau bermain smartphone, & uangpun datang sendiri. Nah, apakah benar seenak itu atau tidak, saya akan menjabarkannya berdasarkan pengalaman & pemikiran pribadi.

Pertama, pekerjaannya memang santai. Dugaan IFers benar. Penjual yg biasanya juga pemilik membuka warung di rumahnya sendiri. Tidak perlu aturan ketat untuk jadwal buka warung, dapat pukul 7 pagi, 8 pagi, atau bahkan sebelumnya. Tetapi juga, pemilik terlambat buka warung setengah jam pun tidak ada yg memarahi, bandingkan dengan pegawai kantor. Penjual juga tidak perlu terjebak kemacetan pagi hari menuju ke tempat kerja karena tempat kerjanya adalah rumahnya sendiri. Sifat yg informal juga merupakan kenikmatan yg ditawarkan. Pemilik dapat duduk di kursi goyang sambil menonton televisi atau tidur di lantai yg dilapisi tikar.

Kedua, konsumennya tetangga sendiri. Kecenderungannya tetangga sendiri menciptakan laku usaha warung. Kemungkinan ini adalah gabungan dari rasa sungkan ditambah rasa malas berbelanja ke tempat jauh. Sungkan maksudnya begini, bayangkan kalau warung depan rumah IFers menjual rokok & IFers setiap hari merokok tetapi tidak pernah membeli rokok di warung itu, rasanya sungkan pada si tetangga itu bukan? Apalagi kalau yg punya warung adalah Pak RT atau Pak RW sendiri. Malas pergi berbelanja ke tempat jauh maksudnya begini, biasanya harga barang di warung lebih mahal daripada di pasar atau di toko besar, tetapi kadang ada "biaya" seperti ongkos bensin & parkir untuk pergi ke pasar atau toko besar, & malas menunggu antrian kasir. Nah semua ini berarti, sudah ada pelanggan tetap dari pemilik warung, sehingga tidak perlu jungkir balik untuk mendapatkan pembeli. Jika IFers membuka warung & kebetulan punya tetangga cantik (atau tampan kalau IFers adalah wanita), maka itu adalah poin plus lainnya. Namun kalau punya tetangga yg galak, ya sudahlah, semoga cobaannya segera berlalu.
https://dl.kaskus.id/cdn2.tstatic.net/jogja/foto/bunk/images/resta-penjaga-warung-mbak-pesek_2401_2_20180124_074502.jpg
sumber gambar: http://cdn2.tstatic.net/jogja/foto/...-warung-mbak-pesek_2401_2_20180124_074502.jpg

Ketiga, sulit berkembang. Umumnya warung dibatasi oleh faktor geografi, yaitu luasnya rumah yg dijadikan warung, letak yg kurang strategis (banyak yg berada di gang sempit atau perkampungan), & harga yg relatif lebih mahal. Kecuali ada perubahan radikal, maka kemungkinan laba & omzet warung cuma segitu-segitu saja seumur hidup.

Keempat, utang is everywhere. Karena pembelinya adalah orang yg itu-itu juga dan tetangga sendiri, maka sikap menyepelekan pun mulai terjadi. Karena sedang terburu-buru, lupa membawa uang, nominal pembelian cuma sedikit, hingga alasan sudah saling kenal, maka utang tanpa surat utang pun bertebaran seperti teror yg menghantui. Masalahnya, mayoritas dari utang tersebut tidak akan pernah lunas.

Kelima, dapat mengambil untung akbar karena sifatnya eceran. Biasanya orang membeli barang di warung cuma dalam jumlah sedikit (eceran). Saya tidak pernah melihat orang membeli beras satu truk di warung. Nah, karena dijual dengan harga eceran, maka penjual dapat mengambil untung lebih banyak daripada toko grosir. Meskipun ini adalah pisau bermata dua. Di satu sisi laba per dagangan dapat besar, tetapi jumlah pembeliannya lebih sedikit dari toko grosir. Salah satu pekerjaan mudah & santai yg dapat menghasilkan duit adalah membuka warung.

Keenam, Repot dengan kembalian. Misalnya ada yg membeli rokok satu batang lalu menyodorkan selembar 100 ribuan, maka si penjual harus menyerahkan selembar 50 ribuan, 2 lembar 20 ribuan, selembar 5 ribuan, selembar 2 ribuan, & sekeping seribuan. Pusing kan? Itu baru 1 pembeli. Jika ada 10 pembeli seperti itu, maka penjualnya akan kembung dengan uang bernominal besar. Jika uang receh sudah habis, maka tinggal 2 pilihan: mengikhlaskannya sebagai utang yg selamanya utang, atau membatalkan transaksi yg mengakibatkan tidak adanya pemasukan.

Ketujuh, pembeli anak kecil menyebalkan. Sering terjadi anak kecil mengerjakan kecerobohan dengan menyenggol sehingga menumpahkan atau memecahkan barang pajangan. Sering pula uang yg dibawa anak tersebut tidak cukup. Tapi tidak jarang ada anak kecil yg memang bermental pencuri, misalnya dengan mengaku membeli satu namun mengambil dua barang.

Kedelapan, minimarket adalah pesaing besar. Bukan toko grosir yg cuma melayani pembelian partai akbar & letaknya nun jauh di pinggir kota, minimarketlah yg jadi ancaman. Ini karena barang yg dijual relatif sama (bahkan lebih lengkap), sifatnya yg juga eceran, & letaknya cuma berseberangan dengan warung yg kita bahas. Juga biasanya kasir minimarket cantik-cantik, hahaha!
SUKA DUKA PUNYA USAHA WARUNG

sumber gambar: https://cdn-brilio-net.akamaized.net...ret-cantik.jpg

Kesembilan, barang yg dijual kadang berdebu, kumal, apek, & mendekati masa kadaluarsa. Ini adalah kelemahan telak warung daripada minimarket. Dagangan ditaruh di tempat terbuka, terkena kelembaban udara, manajemen FIFO (first in first out atau barang yg datang lebih dulu dijual lebih dulu juga) yg buruk, barang yg tidak laku namun dipaksakan dijual meski melewati masa kadaluarsa (karena tidak mau merugi).

Kesepuluh, kalau ada tetangga lain yg ikut buka warung, maka warung kita akan kehilangan setengah pemasukan. Tapi itu masih tergantung dari beberapa hal. Misalnya kalau tetangga kita lebih populer, lebih senior, lebih tampan atau cantik, lebih punya pengaruh (misalnya beliau adalah ketua RT atau RW) maka pembeli akan banyak tersedot ke sana.

Kesebelas, PBB rumah lebih mahal. Tentu saja, mustahil untuk menipu pemerintah, kecuali mereka meremehkan potensi warung sehingga malas memeriksa keakuratan setoran pajaknya. Nah karena rumah dijadikan sebagai tempat usaha, maka perhitungan PBB akan ikut naik (padahal biasanya PBB naik tiap tahunnya).

Keduabelas, repot kulakan ke pasar atau tempat grosir. Kalau yg ini semua pedagang juga mengalami. Maksudnya, inilah kelebihan pegawai kantoran dari usaha warung. Tiap hari atau tiap pekan harus pergi ke pasar atau toko grosir akbar untuk berkulakan (berbelanja barang untuk dijual lagi), membawa berkarung-karung barang dengan mobil, sepedamotor, atau becak.

Nah itu tadi suka duka punya usaha warung, khususnya warung sembako yg menjual berbagai barang kebutuhan hidup sehari-hari. Ada enaknya, ada juga tidak enaknya. Apakah IFers punya pengalaman yg sama, sebagai pembeli atau penjual? Apakah ada pengalaman lainnya? Silakan hinggakan komentarnya. Sampai jumpa di thread selanjutnya.

Sumber tulisan: pemikiran, pengalaman pribadi, & hasil dialog dengan pengusaha warung.


Hari ini 17:10
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.