yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
SURABAYA– Sindikat Sucipto tak hanya memproduksi ijazah palsu. Dia juga membuka praktik perkuliahan abal-abal atas nama kampus tertentu. Untuk memuluskannya, polisi menduga Sucipto bersekongkol dengan oknum kampus.
Dari hasil penyidikan sementara, polisi menduga alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jember (Unej) dan pascasarjana Universitas Merdeka Malang (Unmer) itu bersekongkol dengan orang dalam kampus. Selain melayani orangorang yang menginginkan ijazah instan, Sucipto juga membuka kelas untuk kuliah. Modus ini khusus ditujukan Sucipto untuk mereka yang memang ingin kuliah dan dapat ijazah resmi.
Dia pun berpura-pura membuka praktik belajar-mengajar layaknya program kelas jarak jauh.Lokasi praktik perkuliahan abal-abalitu pun berpindah, salah satu di antaranya adalah di SMA Cokro Kota Malang. Kasubdit I Pidek Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Ahmad Yusep Gunawan menjelaskan, untuk mengelabui ”mahasiswa” mangsanya,Sucipto mendatangkan seorang dosen dalam setiap perkuliahan.Sayang Yusep tidak bersedia menyebut identitas dosen yang pernah atau kerap diminta mengajar dalam kelas abal-abalSucipto.
Namun dia mengatakan, nama-nama yang disebutkan Sucipto memang punya kapasitas sebagai dosen. Polisi menduga mereka memang benarbenar dosen pengajar dari perguruan tinggi resmi. ”Dengan cara seperti ini, di mata korbannya seolah-olah perkuliahan itu resmi.Padahal sebenarnya tidak terdaftar pada perguruan tinggi yang namanya dicatut.Tapi ini masih dugaan, kami masih menyelidiki,” tutur Kasubdit I Pidek Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Ahmad Yusep Gunawan. Meski demikian, tak jarang para pemesan ijazah merupakan orang-orang yang memang membutuhkan ijazah secara cepat atau memang berniat membeli ijazah palsu untuk memperoleh gelar atau ke-perluan lain.
Harga yang dipatok bervariasi sesuai negosiasi. Rata-rata jenjang S1 dihargai Rp12 juta,S2 Rp30-40 juta,dan S3 atau doktor adalah Rp70 juta. Pembayaran biasaya diangsur atau melalui dua tahap, yaitu uang muka dan sisanaya dilunasi saat ijazah sudah jadi. Para pemesan ijazah Sucipto memang beragam, namun yang paling banyak adalah para guru.Mereka umumnya memanfaatkan fasilitas tersebut lantaran untuk mengejar program sertifikasi. ”Kalau harus kuliah resmi kan susah. Nah jalan pintasnya adalah dengan cara membeli,”imbuhnya.
Meski begitu, Yusep mengaku masih kesulitan menelusuri pihak-pihak mana saja yang ikut terlibat dalam pembuatan ijazah palsu tersebut. Alasannya,informasi begitu minim, karena hanya dari tersanga dan beberapa korban saja.”Kalau banyak korban yang melapor mungkin enak,karena kami bisa menggali lebih jauh.Mungkin para korban maupun pemesan ini takut sehingga tidak berani melapor,”terangnya. Itusebabnya,mulai hariini pihaknya telah membuka posko pengakuan bagi korban ijazah palsu tersebut.
Yakni dengan menghubungi di nomor hotline (031) 71878481 atau langsung datang di Ditreskrimsus Subdit Ekonomi Polda Jatim. Menurutnya posko pengakuan tersebut ditujukan agar masyarakat yang menjadi korban aksi tipu-tipu pelaku dapat di inventarisasi dengan jelas oleh pihak Polda Jatim.”Masyarakat tidak perlu khawatir,karena akan kami berikan perlindungan hukum. Justru dengan pengakuan dari masyarakat akan membantu proses penyelidikan kasus ini,”tegas Yusep.
Sementara itu, belasan sivitas akademika dari unsur dosen dan beberapa mahasiswa dari Universitas dr Soetomo, siang kemarin mendatangi Mapolda Jatim. Mereka berencana menemui Kapolda Jatim Irjen Pol Hadiyatmoko untuk menyampaikan dukungan terhadap pengungkapan kasus pemalsuan ijazah ini. Namun lanyaran kapolda sedang tidak berada di tempat, para dosen tersebut akhirnya ditemui Sekertaris Pimpinan Kompol Boby Tambunan.
Kepala Departemen Komunikasi Unitomo Dandy Patria Wirawan berjanji akan melakukan pemeriksaan internal tentang kemungkinan keterlibatan orang dalam dalam kasus ini. ”Jika memang ada unsur orang dalam,kami akan serahkan kepada Polda Jatim,”kata dia.
Dekan Undar Diperiksa
Di pihak lain,Rektor Undar Jombang Mamurotus Sadiyah mengakui didatangi penyidik Polda Jatim pada Jumat (8/6). Mereka mengklarifikasi kebenarandugaanijazahUndaryang dipalsu. Dalam pertemuan pertama itu,tim penyidik belum memeriksa sivitas kampus. Polisi hanya meminta Undar memeriksa data-data yang tertera dalam ijazah yang mengatasnamakan Undar.
”Nama mahasiswa yang dibawa itu tak ada dalam database kami.Rektor yang menandatangani dalam ijazah itu juga dipalsukan dan bukan rektorat yang resmi,” terang Mamurotus Sadiyah. Senin (11/6) lalu, tim penyidik Polda Jatim kembali datang memeriksa dekan Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum.Polisi juga memeriksa Kepala Badan Administrasi Kemahasiswaan (BAK) untuk dimintai keterangan seputar ijazah palsu tersebut.
”Apa hasil dari penyidik itu,kami masih belum menerima informasinya,” tandasnya. Sejauh ini, ia masih belum bisa memastikan berapa ijazah palsu yang mencatut nama universitasnya itu.Hanya dia memastikan barang bukti yang dibawa polisi itu adalah ijazah mahasiswa dari fakultas ekonomi dan hukum.”Karena ini masih dalam penyidikan dan belum tuntas.Kami ingin agar polisi menuntaskan kasus ini.Termasuk adanya kemungkinan ijazah palsu lainnya yang mencatut nama Undar,”tegasnya.
Sementara itu, dugaan keterlibatan orang dalam dibantah Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Rektor Unmer Malang Prof DR Anwar Sanusi SE MM menegaskan,lembaganya sama sekali tak pernah berhubungan dengan Sucipto. ”Dia juga bukan karyawan atau tenaga dosen kami. Kami sudah lakukan pengecekan di internal kampus,”tegasnya.
Dari hasil penyidikan sementara, polisi menduga alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jember (Unej) dan pascasarjana Universitas Merdeka Malang (Unmer) itu bersekongkol dengan orang dalam kampus. Selain melayani orangorang yang menginginkan ijazah instan, Sucipto juga membuka kelas untuk kuliah. Modus ini khusus ditujukan Sucipto untuk mereka yang memang ingin kuliah dan dapat ijazah resmi.
Dia pun berpura-pura membuka praktik belajar-mengajar layaknya program kelas jarak jauh.Lokasi praktik perkuliahan abal-abalitu pun berpindah, salah satu di antaranya adalah di SMA Cokro Kota Malang. Kasubdit I Pidek Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Ahmad Yusep Gunawan menjelaskan, untuk mengelabui ”mahasiswa” mangsanya,Sucipto mendatangkan seorang dosen dalam setiap perkuliahan.Sayang Yusep tidak bersedia menyebut identitas dosen yang pernah atau kerap diminta mengajar dalam kelas abal-abalSucipto.
Namun dia mengatakan, nama-nama yang disebutkan Sucipto memang punya kapasitas sebagai dosen. Polisi menduga mereka memang benarbenar dosen pengajar dari perguruan tinggi resmi. ”Dengan cara seperti ini, di mata korbannya seolah-olah perkuliahan itu resmi.Padahal sebenarnya tidak terdaftar pada perguruan tinggi yang namanya dicatut.Tapi ini masih dugaan, kami masih menyelidiki,” tutur Kasubdit I Pidek Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Ahmad Yusep Gunawan. Meski demikian, tak jarang para pemesan ijazah merupakan orang-orang yang memang membutuhkan ijazah secara cepat atau memang berniat membeli ijazah palsu untuk memperoleh gelar atau ke-perluan lain.
Harga yang dipatok bervariasi sesuai negosiasi. Rata-rata jenjang S1 dihargai Rp12 juta,S2 Rp30-40 juta,dan S3 atau doktor adalah Rp70 juta. Pembayaran biasaya diangsur atau melalui dua tahap, yaitu uang muka dan sisanaya dilunasi saat ijazah sudah jadi. Para pemesan ijazah Sucipto memang beragam, namun yang paling banyak adalah para guru.Mereka umumnya memanfaatkan fasilitas tersebut lantaran untuk mengejar program sertifikasi. ”Kalau harus kuliah resmi kan susah. Nah jalan pintasnya adalah dengan cara membeli,”imbuhnya.
Meski begitu, Yusep mengaku masih kesulitan menelusuri pihak-pihak mana saja yang ikut terlibat dalam pembuatan ijazah palsu tersebut. Alasannya,informasi begitu minim, karena hanya dari tersanga dan beberapa korban saja.”Kalau banyak korban yang melapor mungkin enak,karena kami bisa menggali lebih jauh.Mungkin para korban maupun pemesan ini takut sehingga tidak berani melapor,”terangnya. Itusebabnya,mulai hariini pihaknya telah membuka posko pengakuan bagi korban ijazah palsu tersebut.
Yakni dengan menghubungi di nomor hotline (031) 71878481 atau langsung datang di Ditreskrimsus Subdit Ekonomi Polda Jatim. Menurutnya posko pengakuan tersebut ditujukan agar masyarakat yang menjadi korban aksi tipu-tipu pelaku dapat di inventarisasi dengan jelas oleh pihak Polda Jatim.”Masyarakat tidak perlu khawatir,karena akan kami berikan perlindungan hukum. Justru dengan pengakuan dari masyarakat akan membantu proses penyelidikan kasus ini,”tegas Yusep.
Sementara itu, belasan sivitas akademika dari unsur dosen dan beberapa mahasiswa dari Universitas dr Soetomo, siang kemarin mendatangi Mapolda Jatim. Mereka berencana menemui Kapolda Jatim Irjen Pol Hadiyatmoko untuk menyampaikan dukungan terhadap pengungkapan kasus pemalsuan ijazah ini. Namun lanyaran kapolda sedang tidak berada di tempat, para dosen tersebut akhirnya ditemui Sekertaris Pimpinan Kompol Boby Tambunan.
Kepala Departemen Komunikasi Unitomo Dandy Patria Wirawan berjanji akan melakukan pemeriksaan internal tentang kemungkinan keterlibatan orang dalam dalam kasus ini. ”Jika memang ada unsur orang dalam,kami akan serahkan kepada Polda Jatim,”kata dia.
Dekan Undar Diperiksa
Di pihak lain,Rektor Undar Jombang Mamurotus Sadiyah mengakui didatangi penyidik Polda Jatim pada Jumat (8/6). Mereka mengklarifikasi kebenarandugaanijazahUndaryang dipalsu. Dalam pertemuan pertama itu,tim penyidik belum memeriksa sivitas kampus. Polisi hanya meminta Undar memeriksa data-data yang tertera dalam ijazah yang mengatasnamakan Undar.
”Nama mahasiswa yang dibawa itu tak ada dalam database kami.Rektor yang menandatangani dalam ijazah itu juga dipalsukan dan bukan rektorat yang resmi,” terang Mamurotus Sadiyah. Senin (11/6) lalu, tim penyidik Polda Jatim kembali datang memeriksa dekan Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum.Polisi juga memeriksa Kepala Badan Administrasi Kemahasiswaan (BAK) untuk dimintai keterangan seputar ijazah palsu tersebut.
”Apa hasil dari penyidik itu,kami masih belum menerima informasinya,” tandasnya. Sejauh ini, ia masih belum bisa memastikan berapa ijazah palsu yang mencatut nama universitasnya itu.Hanya dia memastikan barang bukti yang dibawa polisi itu adalah ijazah mahasiswa dari fakultas ekonomi dan hukum.”Karena ini masih dalam penyidikan dan belum tuntas.Kami ingin agar polisi menuntaskan kasus ini.Termasuk adanya kemungkinan ijazah palsu lainnya yang mencatut nama Undar,”tegasnya.
Sementara itu, dugaan keterlibatan orang dalam dibantah Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Rektor Unmer Malang Prof DR Anwar Sanusi SE MM menegaskan,lembaganya sama sekali tak pernah berhubungan dengan Sucipto. ”Dia juga bukan karyawan atau tenaga dosen kami. Kami sudah lakukan pengecekan di internal kampus,”tegasnya.