• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Subkultur Di Jepang Yang Pernah Hidup

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Subkultur Di Jepang Yang Pernah Hidup

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.​


Subkultur Yang Pernah Hidup di Jepang - Kebudayaan yg hidup di suatu masyarakat atau kaum merupakan sebuah simbol bagaimana masyarakat tersebut menjalani hidup setiap harinya. Setiap kebudayaan yg dimiliki suatu suku atau masyarakat akan memiliki disparitas dengan kebudayaan yg lain. Kebudayaan dapat saja berubah mengikuti perkembangan zaman atau kondisi yg sedang dialami masyarakat bahkan dapat saja menimbulkan suatu kebudayaan baru di luar ekspetasi.

Dalam penjelasnya subculture merupakan sebuah perilaku dari sekelompok orang atau beberapa orang yg memiliki perbuatan serta kepercayaan yg berbeda dengan kultur asli kebudayaan mereka. Perkembangan sebuah subculture bahkan dapat mengubah banyak orang bukan cuma beberapa orang bahkan dapat jadi tren masal, kita ambil saja contohnya di Indonesia seperti citayem fasion week atau Jamet. Jaman dahulu di Indonesia banyak orang yg bergaya seperti Jamet yaitu dengan berpenampilan nyentrik dengan rambut dipanjangkan.

Baiklah sob kita kali ini akan membahas mengenai Subkultur Yang Pernah Hidup di Jepang jadi ikuti pembahasanya ya gan.

GYARU

Subkultur Di Jepang Yang Pernah Hidup

Gyaru merupakan subkultur kebudayaan dari jepang yg menyerang para kaum wanita. Perkembangan subkultur ini dimulai pada tahun 1980 an penyebab utama munculnya subkultur ini diakibarkan oleh semakin tingginya gaya materialistik perempuan di perkotaan jepang. Jadi munculnya mereka berawal dari orang-orang kota yg notabenya mereka memiliki harta yg berkecukupan bahkan kaya. Berbeda dengan jamet yg ada di Indonesia, kalau disini mereka berasal dari kaum-kaum yg kurang beruntung dalam perekonomianya.

Gyaru diambil dari mengatakan serapan bahasa inggris bernama girl yg memiliki arti perempuan. Budaya ini menyerang perempuan yg masih berada di masa anak-anak hingga remaja pada rentang umur 10 - 20 tahun. Gaya berpakaian mereka cukup menarik mata atau nyentrik dengan rambut kebanyakan diwarnai dengan warna coklat keemasan namun ada juga yg diwarnai dengan warna cerah lainya.

Alasan Wanita Jepang Menjadi Gyaru

Para wanita jepang memilki alasanya sendiri untuk jadi gyaru, hal tersebut dilakukan karena mereka harap mencoba mengekspresikan fashion dirinya sendiri, bukan cuma itu saja terdapat faktor lainya yaitu seperti harap melawan atau menentang standart kecantikan tradisional di jepang. Kita tahu bahwa kebanyakan perempuan jepang memiliki kulit putih & cara mengpakai fashionya yg itu-itu saja. Jika tidak berpakaian seperti itu perempuan dapat jadi dianggap tidak cantik atau menarik.

Standart kecantikan itulah yg dilawan oleh kaum gyaru dengan merubah total kulit yg semula putih dijadikan jadi warna hitam, yg semula rambut mereka hitam diubah jadi warna warni. Dengan perjalanan waktu, semakin lama Gyaru bertumbuh pesat & akhirnya Gyaru dibagi lagi jadi beberapa kategori, hal ini dibuat supaya mempermudah seseorang dari kaum yg ekonominya kurang baik dapat bergabung.


DECORA

Subkultur Di Jepang Yang Pernah Hidup

Decora merupakan subkultur di jepang yg berperan dalam bidang fashion sama seperti dengan Gyaru, namun disini kita nanti akan menemukan perbedaanya. Kata Decora berasal dari serapan mengatakan Decoration yanga artinya menghias. Subkultur ini berkembang di jalanan Harajaku, mereka dapat dengan mudah dikenali, cukup dengan melihat pakaian mereka saja. Pakaian Decora memiliki corak warna warni & memiliki banyak aksesoris.

Awal mula subkultur ini dimulai pada sekitar tahun 1990 an & hingga sekarang masih hidup di Jepang. Harajuku disinyalir jadi awal mula perkembangan subkultur Decora, semakin zaman berkembang subkultur ini tidak pernah mati karena perkembanganya menyebar di pusat Harajuku yg sekarang seperti jadi kotanya fashion jepang.

BOSOZOKU

Subkultur Di Jepang Yang Pernah Hidup


Bosozoku mulai hidup setelah perang dunia ke 2, pada saat itu banyak dari tentara jepang yg mengerjakan tindakan bernama "Kamikaze" yaitu menabrakan dirinya sebagai peluru terakhir ke arah musuh, jadi saat perang dunia ke 2 berlangsung kalau terdapat pilot dari tentara jepang kehadapatn pelurunya maka dia akan jadi peluru terakhir yg ditembakkan bersama dirinya sendiri. Namun terdapat juga tentara jepang yg tidak mengerjakan kamikaze dengan alasan apapun atau takut maka dirinya sendiri akan menganggap gagal sudah jadi manusia.

Dari tentara yg gagal inilah Subkultur Bosozoku lahir, karena mereka sudah tertanam mindset bahwa gagal jadi manusia karena tidak mengerjakan kamikaze, para tentara ini sulit menyesuaikan diri dalam masyarakat, seperti sulit untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Akhirnya mereka berpindah haluan dari seorang tentara jadi pengendara. Generasi perdana dari Bosozoku diketahui sebagai Kaminari Zoku, mereka mengendarai sepeda motor pada malam hari dengan suara knalpot bising. Perilaku ini mulai muncul dampaknya pada masyarakat apalagi untuk kaum remaja, banyak dari remaja dengan masalah kehidupanya seperti broken home, masalah sekolah mulai mengikuti trend ini.

Kemunculan Bosozoku Modern

Setelah berkembang di masyarakat, bosozoku mulai semakin berubah yg semula dilakukan oleh tentara sekarang dilakukan oleh anak-anak muda umur 16 hingga 20 tahun. Untuk stylenya, pada bagian rambut mengpakai gaya pampadour, pakaian dengan simbol-simbol nasionalis dibelakangnya, biasanya mereka mengpakai jaket, baju kontruksi bangunan atau pakaian lain. Penambahan aksesoris seperti masker, kacamata hitam & juga Hachimaki (ikat kepala khas jepang) tidak luput dipakai, bertujuan supaya polisi tidak dapat mengenali paras mereka.

Semakin lama Bosozoku mulai meresahkan warga, dikarenakan mereka sudah membentuk banyak geng-geng berbahaya yg sering memperebutkan wilayah masing-masing, setiap geng bosozoku akan dipersenjati dengan senjata seperti stik bisboll atau pipa bahkan ada juga yg membawa pisau.

Read More Subkultur​


Itulah sob pembahasan kita kali ini mengenai subkultur di negara jepang. Sebenarnya subkultur di Jepang kebanyakan mengarah ke fasion namun terdapat juga yg lainya. Pengaruh sebuah subkultur dapatnya berdampak akbar tetapi banyak dari masyarakat kurang menyenangi meskipun begitu kalau mereka tidak menimbulkan kerusuhan seabiknya kita sebagai masyarakat dapat menerima perilaku "nyleneh" mereka.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hari ini 21:34
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.