L999
IndoForum Junior E
- No. Urut
- 44983
- Sejak
- 31 Mei 2008
- Pesan
- 1.587
- Nilai reaksi
- 38
- Poin
- 48
NEW YORK - Tak dipungkiri, hingga saat ini aborsi masih menjadi pertentangan dalam masyarakat dunia. Banyak studi sebelumnya yang menyatakan, aborsi memiliki dampak negatif pada kesehatan mental wanita di kemudian hari.
Namun, peneliti dari John Watkins Hospital (JWH), Baltimore AS membantah penelitian yang menyatakan aborsi mampu menyebabkan seorang wanita mengalami depresi dan stress pascaaborsi.
Softpedia, Jumat (5/11/2008) melansir, dokter di JWH mengungkapkan setelah mempelajari 21 studi dengan total lebih dari 150.000 responden wanita, ditemukan bahwa aborsi tidak memiliki kaitan dengan kesehatan mental.
Menurut peneliti JWH, dr Vignetta Charles, perempuan memiliki hak atas tubuhnya, dan tidak ada perbedaan mental yang berarti, antara wanita yang pernah mengalami aborsi dengan wanita yang tidak pernah melakukan aborsi. Kasus depresi yang sering menimpa wanita yang melakukan aborsi lebih banyak disebabkan karena pengaruh lingkungan sekitar, latar belakang budaya, dan bukan disebabkan fakta-fakta keilmuan.
Selain itu, Vignetta mengatakan, keputusan seorang wanita untuk melakukan aborsi sebaiknya jangan didasarkan pada emosi sesaat. Aborsi dapat dilakukan jika tujuannya untuk menyelamatkan nyawa perempuan.
Perdebatan mengenai aborsi hingga saat ini masih terjadi di beberapa negara bahkan melarang keras tindakan aborsi karena dianggap tak bermoral dan melanggar norma-norma agama.
Namun, peneliti dari John Watkins Hospital (JWH), Baltimore AS membantah penelitian yang menyatakan aborsi mampu menyebabkan seorang wanita mengalami depresi dan stress pascaaborsi.
Softpedia, Jumat (5/11/2008) melansir, dokter di JWH mengungkapkan setelah mempelajari 21 studi dengan total lebih dari 150.000 responden wanita, ditemukan bahwa aborsi tidak memiliki kaitan dengan kesehatan mental.
Menurut peneliti JWH, dr Vignetta Charles, perempuan memiliki hak atas tubuhnya, dan tidak ada perbedaan mental yang berarti, antara wanita yang pernah mengalami aborsi dengan wanita yang tidak pernah melakukan aborsi. Kasus depresi yang sering menimpa wanita yang melakukan aborsi lebih banyak disebabkan karena pengaruh lingkungan sekitar, latar belakang budaya, dan bukan disebabkan fakta-fakta keilmuan.
Selain itu, Vignetta mengatakan, keputusan seorang wanita untuk melakukan aborsi sebaiknya jangan didasarkan pada emosi sesaat. Aborsi dapat dilakukan jika tujuannya untuk menyelamatkan nyawa perempuan.
Perdebatan mengenai aborsi hingga saat ini masih terjadi di beberapa negara bahkan melarang keras tindakan aborsi karena dianggap tak bermoral dan melanggar norma-norma agama.