Spiritualitas Kerja dari Perspektif Iman Katolik

SHARE2JOY

IndoForum Newbie F

"People change and so do their perspectives!" Perspektif setiap orang dapat berubah, namun ada hal-hal yang tidak mudah berubah dan cenderung mempunyai konsistensi yang tinggi. Mungkin terlihat kontradiktif, di satu sisi orang merasa ada idealisme yang tidak mudah berubah dari kita kecil hingga sekarang. Namun di sisi lain, ada hal-hal yang dapat berubah karena adanya ideologi-ideologi baru yang mampu mendoktrin perspektif yang kita pegang.

Seseorang kiranya sangat penting untuk memiliki "perspektif" terhadap segala sesuatu yang akan dilakukan sehingga dapat mengarahkankan perbuatannya pada tataran nilai yang tinggi. "Perspektif" (pandangan) dapat dikatakan sebagai pondasi dari segala pemikiran kita, pondasi dalam menentukan apa yang benar dan yang salah, mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk diri sendiri mapun sesama.

Walaupun "perspektif" tidak bisa dipakai sebagai alat pencari kebenaran yang mutlak, namun cukup penting, terkait dengan eksistensi diri dalam kehidupan sehari-hari. Inilah gunanya perspektif, yakni untuk menunjukkan bahwa kita ada dan karena itu, apa yang kita lakukan layak untuk diapresiasikan. Disini kita akan melihat "kerja" dari sudut spiritualitas kristiani.


Pengantar | Hidup sejahtera merupakan harapan semua orang. Pendapat umum mengatakan bahwa orang dikatakan sudah hidup sejahtera bila cukup sandang, pangan, papan, terjamin kesehatan dan pendidikannya. Namun demikian kesejahteraan tentu tidak hanya diukur dari sisi duniawi saja. Kesejahteraan juga menyangkut segi batin seseorang. Kedekatan seseorang dengan Allah sebagai sumber kehidupan juga merupakan salah satu sisi ukuran kesejahteraan seseorang. Manusia diharapkan sungguh-sungguh menyadari bahwa segala yang duniawi itu berasal dari Allah yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia, Allah menciptakan barang-barang duniawi berupa alam semesta dan segala isinya. Allah memberi tugas kepada manusia,”penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala yang merayap di bumi.” (Kej 1:28) Manusia dipanggil oleh Allah untuk “berkuasa” atas alam semesta demi kesejahteraan hidupnya. Manusia diberi wewenang dan tanggung jawab mengolah bumi dan segala isinya melalui kerjanya. Karena itu dalam mengerjakan alam ciptaan itu manusia ditentukan Allah sebagai penjaga yang bijaksana dan adil. (bdk. Redemptor Hominis, art.15)

Melalui kerjanya manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan sumber-sumber alam pemberian Tuhan. Tantangan yang kita hadapi saat ini berkaitan dengan kerja manusia adalah pudarnya atau bahkan hilangnya kebijaksanaan. Manusia menjadi menjadi serakah. Kerja hanya melulu mengejar materi sehingga untuk memenuhi materi itu manusia mengorbankan harga dirinya. Manusia sebagian sudah kehilangan kendali kebijaksanaan, budaya korupsi, merampas harta orang lain sudah dianggap hal yang wajar. Orang tidak tahu malu lagi, mereka bekerja tidak semestinya. Sudah saatnya kita kembali memaknai kerja sebagai upaya kita bersama untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam “menguasai” alam semesta. Hasil bumi dan alam sekitar yang melimpah bukan untuk memperkaya diri sendiri tetapi untuk membangun kesejahteraan kita bersama. Melalui pekerjaan yang kita tekuni apapun pekerjaan kita, kita ingin memberi kesaksian bahwa kerja itu suci. Kerja itu suci jika dilaksanakan dengan jujur, gembira, bijaksana dan mensejahterkan kehidupan bersama.

Makna Kerja Secara Biblis dan Teologis | Sebagai orang beriman, hal-hal yang berkaitan dengan kerja sudah semestinya jika kita tempatkan dalam terang Kitab Suci. “Perjanjian Lama menampilkan Allah sebagai Pencipta mahakuasa (bdk. Kej 2:2; Ayb 38-41; Mzm 104; Mzm 147) yang membentuk manusia seturut citra-Nya dan mengundang dia untuk mengolah tanah (bdk. Kej 2:5-6) serta mengusahakan dan memelihara taman Eden di mana Allah telah menempatkannya. Kepada pasangan manusia pertama Allah mempercayakan tugas untuk menaklukkan bumi dan berkuasa atas semua makhluk hidup. (bdk. Kej 1:28) Namun kekuasaan yang dilaksanakan manusia atas semua makhluk hidup yang lain, bukanlah sesuatu yang lalim atau sewenang-wenang; sebaliknya, ia harus “mengusahakan dan memelihara” (Kej 2:15) harta benda yang telah diciptakan Allah. Harta benda ini tidak diciptakan manusia, tetapi telah diterimanya sebagai suatu karunia berharga yang ditempatkan Sang Pencipta di bawah tanggung jawabnya. Mengusahakan bumi berarti tidak membiarkan dan menelantarkannya; menaklukkannya berarti memeliharanya, seperti seorang raja arif yang mengayomi rakyatnya dan seorang gembala yang menjaga kawanan dombanya.” (Kompendium ASG No.255).

Gereja sungguh menghargai setiap pekerjaan dan menempatkan manusia sebagai subyek atas pekerjaan. Sebagai ciptaan yang sungguh amat baik, ciptaan yang mempunyai akal budi, manusia sungguh-sungguh dipercaya oleh Allah dalam meneruskan karya Allah yang begitu agung dan mulia. Kita diharapkan dapat menemukan nilai-nilai dalam setiap pekerjaan untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dan sesama. Sebab sering kali masih kita jumpai dimana orang begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga melupakan Tuhan dan sesama. Mungkin masih ada di antara kita yang tidak sempat ikut kegiatan lingkungan karena alasan pekerjaan. Bisa jadi kesibukan kerja dapat menjauhkan kita dengan Tuhan dan sesama. “Dalam khotbah-Nya, Yesus mengajarkan agar manusia jangan diperbudak oleh kerja. Sebelum segala sesuatu yang lain, ia mesti peduli dengan jiwanya; memperoleh seluruh dunia bukanlah tujuan hidupnya, (bdk. Mrk 8:36) Harta benda duniawi malah fana, sedangkan harta milik surgawi tidak dapat binasa. Pada harta milik yang terakhir itulah manusia mesti menaruh hati mereka (bdk. Mat 6:19-21). Maka, kerja tidak boleh menjadi sumber kecemasan. (bdk. Mat 6:25,31,34) Kalau orang khawatir dan menyusahkan dirinya dengan banyak hal, mereka menanggung risiko akan mengabaikan Kerajaan Allah beserta kebenaran-Nya (bdk. Mat 6:33), yang sebenarnya mereka butuhkan. Segala sesuatu yang lain, termasuk kerja, akan menemukan tempat, makna dan nilainya yang tepat jika diarahkan kepada hanya satu yang perlu dan yang tidak akan diambil darinya. (bdk. Luk 10:40-42) (Kompendium ASG No.260)

Yesus sendiri adalah seorang pekerja. Ia hidup di keluarga Nasareth bersama dengan Yusup, seorang tukang kayu dan bersama dengan Maria. Yesus juga mencela perilaku hamba yang tidak berguna, yang menyembunyikan talentanya di dalam tanah (bdk. Mat 25:14-30) dan memuji hamba yang setia lagi bijaksana yang didapati sang Tuan sedang melakukan tugas yang telah dipercayakan kepadanya (bdk. Mat 24:46). Yesus menerangkan misiNya sendiri sebagai ihwal bekerja:”BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yoh 5:17) (Kompendium ASG No.259)


Martabat Kerja dan Martabat Manusia | Kerja manusia memiliki dua makna ganda: obyektif dan subyektif. Dalam arti obyektif, kerja merupakan jumlah aneka kegiatan, sumber daya, sarana serta teknologi yang digunakan menusia untuk menghasilkan barang-barang. Kerja dalam arti objektif merupakan segi yang dapat berubah dari kegiatan manusia, yang senantiasa bervariasi dalam bentuk ungkapannya sesuai dengan kondisi-kondisi teknologi, budaya, sosial dan politik yang tengah berubah.

Dalam arti subyektif, kerja adalah kegiatan pribadi manusia sebagai makluk dinamis yang mampu melaksanakan aneka ragam tindakan yang merupakan bagian dari proses kerja dan yang bersepadanan dengan panggilan pribadinya. Kerja dalam arti subjektif adalah matranya yang stabil, karena tidak bergantung pada orang-orang yang menghasilkannya atau pada jenis kegiatan yang mereka lakukan, tetapi hanya dan semata-mata pada martabat mereka sebagai manusia. Pemilahan ini penting, baik untuk memahami apa yang menjadi landasan paling tinggi nilai dan martabat kerja, maupun yang berkenaan dengan berbagai kesukaran dalam menata sistem ekonomi dan sistem sosial yang menghormati hak asasi manusia. (Kompendium ASG No. 270)

Memang harus diakui bahwa antara kerja dan kehidupan ekonomi ada kaitan yang begitu erat. Kebanyakan orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Singkatnya, orang bekerja untuk mendapatkan uang. Fakta ini tidak dapat disangkal. Dengan bekerja orang berharap kesejahteraan hidupnya meningkat dan akhirnya tidak jatuh dalam kemiskinan. Sebab saat ini masalah kemiskinan manusiawi cukup menonjol dan masih dirasakan oleh banyak orang. Di satu pihak bisa diamati bahwa belum semua jenis pekerjaan menguntungkan semua orang, dan dari lain pihak disadari bahwa sikap manusia terhadap kerja cukup berbeda. Namun demikian kerja harus dipandang dan diperlakukan sebagai kunci seluruh persoalan sosial. (bdk. Laborem Exercens art.3) Karena itu makna dan nilai kerja pertama-tama harus diarahkan sebagai suatu tindakan yang membebaskan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan. Unsur non ekonomis dalam kerja manusia tidak boleh diabaikan atau dimatikan oleh unsur yang semata-mata bercorak ekonomis, antara lain mendapatkan keuntungan stinggi-tingginya, konsumsi sampai habis, penghisapan dan penindasan manusia lain. Dalam setiap pekerjaan martabat manusia tetap harus dijunjung tinggi sebab mereka adalah pribadi yang luhur, citra Allah sendiri. Maka dari itu setiap orang apapun pekerjaannya harus diperlakukan secara manusiawi.

Dalam setiap pekerjaan, manusia harus mendapat kesempatan untuk mengungkapkan kepribadiannya; hasil kerjanya hendaknya memampukan manusia untuk mengembangkan harga diri. Dengan bekerja, manusia mengungkapkan dan menyempurnakan diri. Sekaligus kerja mempunyai dimensi sosial karena hubungannya dengan keluarga maupun dengan kesejahteraan sosial. (Centesimus Anus art.6) Kerja, baik kerja di kantoran, buruh pabrik, penjual rokok di pinggir jalan, pemulung, petani, nelayan sampai kerja yang dilakukan oleh ibu rumah tangga, merupakan ungkapan hakiki dari kepenuhan pribadi manusia yang adalah Gambar dan Citra Allah. Landasan untuk menetapkan makna dan nilai kerja manusia bukanlah pertama-tama corak kerja yang sedang dijalankan, melainkan kenyataan bahwa pelakunya adalah pribadi manusia. (Laborem Exercens art. 6)

Kenyataannya, masih banyak terjadi bahwa kerja manusia lebih diukur oleh pengalaman yang coraknya terlalu materialistik. Hal seperti ini dapat kita maklumi karena kerja dan penghidupan yang layak berkaitan erat sekali. Sebagaimana ditegaskan dalam Ajaran Sosial Gereja,”Kerja mempunyai suatu tempat terhormat karena kerja merupakan sumber berbagai kekayaan, atau setidak-tidaknya syarat bagi suatu kehidupan yang layak, dan pada prinsipnya merupakan sebuah sarana yang efektif melawan kemiskinan. (bdk. Ams 10:4) Namun orang tidak boleh jatuh ke dalam godaan menjadikan kerja sebagai berhala, sebab makna kehidupan yang paling tinggi dan menentukan tidak boleh dicari dan ditemukan dalam kerja. Kerja itu hakiki, namun Allah itulah – dan bukan kerja – yang merupakan sumber kehidupan serta tujuan akhir manusia.” (Kompendium ASG 257)

Ajaran Gereja mencita-citakan hal seperti itu. Namun cita-cita kadang berbeda dengan kenyataan. Kemiskinan masih mewarnai kehidupan kita. Orang membutuhkan makan, orang membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak jarang kita masih menjumpai seorang anak harus bekerja membantu orang tuanya karena himpitan ekonomi. Ada yang menjadi pemulung, pengamen atau bahkan menjadi buruh. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak dan memadai menjadi hilang. Orang menjadi tidak peduli lagi apakah kerjanya menjadikannya semakin seorang manusia menurut gambar pencipta-Nya atau tidak.

Pekerjaan apapun harus diarahkan untuk menjunjung tinggi martabat manusia sebab manusia adalah subyek atas pekerjaannya. Gereja menegaskan bahwa,” Kerja manusia tidak hanya berasal dari pribadi, tetapi juga secara hakiki ditata menuju dan memiliki sasaran akhirnya pada pribadi manusia. Terlepas dari muatan objektifnya, kerja mesti diarahkan kepada subjek yang melaksanakannya, karena tujuan kerja, jenis kerja yang mana pun, adalah selalu manusia. Bahkan walaupun orang tidak dapat mengabaikan komponen objektif kerja yang berkenaan dengan kualitasnya, namun bagaimanapun juga unsur tersebut mesti dikebawahkan pada perwujudan diri pribadi, dan karenanya pada matra subjektif, dan berkat itu pula menjadi mungkinlah untuk menegaskan bahwa kerja untuk manusia dan bukan manusia untuk kerja. “Selalu manusia itulah yang merupakan tujuan kerja, entah kerja mana pun yang dijalankannya – juga kalau tatanan nilai pada umumnya menganggapnya sebagai sekadar ‘pengabdian’ belaka, sebagai kerja yang sangat monoton, bahkan kerja yang paling mengasingkan.” (Kompendium ASG no.272).

Spiritualitas Kerja | Spiritualitas kerja manusia harus digali dari semangat hidup Yesus sendiri. Yesus juga seorang pekerja keras. Siang malam Dia terus bekerja melalui sabda dan karyaNya sehingga makanpun tidak sempat. (bdk. Mrk 6:31) Selama pelayananNya di atas bumi, Yesus bekerja tiada heti-hentinya, seraya melakukan perbuatan-perbuatan menakjubkan untuk membebaskan manusia dari penyakit, penderitaan dan kematian. Bahkan hari Sabat yang menjadi larangan dalam tradisi Yahudi untuk bekerja tetap dijadikan sarana bagi Yesus untuk berbuat baik. “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” (Mrk 2:27) Dengan menyembuhkan orang pada hari Sabat Ia berkehendak menunjukkan bahwa hari Sabat adalah milikNya, karena sesungguhnya Ia adalah Putra Allah, dan bahwa inilah hari ketika manusia hendaknya membaktikan diri mereka kepada Allah dan kepada sesama/ (Kompendium ASG No.261) Dan satu hal yang menarik adalah bahwa di dalam Yesus Kristus, dunia yang telah rusak oleh dosa manusia, melalui karyaNya telah dipulihkan kembali hubungannya dengan Allah sumber ilahi Kebijaksanaan dan Cinta Kasih. Dengan cara ini, artinya, seraya menerangkan dalam takaran yang semakin besar “kekayaan Kristus yang tak terduga” (Ef 3:8) dalam ciptaan, kerja manusia menjadi sebuah pelayanan yang diangkat ke kemuliaan Allah.

Sebagai umat beriman, kitapun sudah semestinya dalam bekerja selalu berpegang pada semangat dan perintah Kristus. Dalam kisah panggilan murid-murid yang pertama dikisahkan amat bagus oleh Lukas. Ketika itu Simon dan kawan-kawannya sudah bekerja sepanjang malam namun tidak mendapatkan apa-apa. “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga. Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.” (Luk 5:5-6) Kerja dalam bentuk apapun harus dimengerti sebagai keikutsertaan pribadi Yesus Kristus, manusia pekerja. (Laborem Exercens art.25) Orang beriman kristiani yang melaksanakan pekerjaannya berdasarkan prinsip iman kristiani mewujudkan kemuridan Kristus dalam hidupnya. Keutamaan-keutamaan yang mesti dihidupi dalam kerja adalah tanggung jawab, disiplin, kerja keras, inisiatif dan kreatif, jujur, cermat, tertib, tekun dan teliti.

Selain keutamaan-keutamaan tersebut di atas, sebagai murid-murid Yesus Kristus, spriritualitas salib juga harus ditempatkan dalam setiap pekerjaan kita. Berulang kali Yesus menegaskan bahwa Anak Manusia harus menderita sengsara dan pada hari ketiga dibangkitkan dari alam maut. (bdk. Mrk 8:31) Sejak awal karyaNya, Yesus menegaskan bahwa pekerjaanNya adalah melaksanakan kehendak Bapa. (bdk. Yoh 4:34) Kehendak Bapa tersebut dituntaskan oleh Yesus saat Dia ditinggikan dan wafat di kayu salib. (bdk. Yoh 20:30) Yesus setia dan taat kepada kehendak Bapa sampai wafat. Ini mengandung arti yang sangat dalam bahwa bekerja membutuhkan totalitas atau kterlibatan sepenuh hati dan harus dapat menyelesaikan sampai tuntas. Kerja mewakili satu matra hakiki dari keberadaan manusia sebagai keterlibatan tidak saja dalam tindakan penciptaan tetapi juga tindakan penebusan. Orang-orang yang menerima tanpa mengeluh keras dan sulitnya kerja dalam persatuan dengan Yesus, dalam arti tertentu mereka bekerja sama dengan Sang Putra Allah dalam karya penebusan-Nya, dan menunjukkan bahwa mereka adalah para murid Kristus seraya memikul salib-Nya setiap hari, dalam kegiatan baginya mereka dipanggil untuk melaksanakannya. Seturut perspektif ini, kerja dapat dipandang sebagai sebuah sarana pengudusan serta menerangi aneka realitas duniawi dengan Roh Kristus (Kompendium ASG No.263)

© Gagasan Dasar APP Tahun 2013
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang

 

janganbilang

IndoForum Newbie E
Jual obat aborsi. obat aborsi memggugurkan kandungan Juga obat telat bulan 100% TUNTAS anda MINAT CALL :081804882777

INFO KLIK : obat aborsi

SYARAT KETENTUAN PEMBELIAN OBAT ABORSI

Pembelian obat terlambat datang bulan "Syarat dan Ketentuan" (OBAT ABORSI) ini kami buat dengan sesungguh-sungguhnya, dikarenakan maraknya penjual obat aborsi atau obat telat bulan baik secara online maupun secara langsung (ditoko-toko obat), oleh karena itu ada kekhawatiran bagi kami selaku perpanjangan tangan dari pihak "Medical Abortion" akan dianggap penjualan OBAT ABORSI di Indonesia ini legal*.

Syarat dan ketentuan ini dibuat untuk menjaga keamanan antara penjual dan pembeli obat, dalam perjanjian ini pembeli harus terlebih dahulu menyepakati syarat dan ketentuan yang kami buat sebelum melakukan pemesanan, hal-hal yang berkaitan dengan perjanjian ini kami buat dengan mengingat hukum yang berlaku di Indonesia masih belum melegalkan proses aborsi.

1. Dengan mengirim order untuk pemesanan, berarti anda telah setuju dengan syarat dan ketentuan yang telah tertera dibawah ini.

2. Dengan mengirim order berarti pembeli telah dianggap memahami dan setuju dengan peraturan yang berlaku.

3. Segala akibat hukum dari tindakan aborsi yang dilakukan pembeli atau pasien adalah diluar tanggung jawab KAMI.

Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis”
Yang menerima hukuman adalah:
1. Ibu yang melakukan aborsi
2. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
3. Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi

4. Tindakan aborsi beresiko terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita jika tidak sesuai dosis dan aturan pengunaan yang tepat pada obat yang kami berikan.

Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia “tidak merasakan apa-apa ”. Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi. Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi:
1. Resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik
2. Resiko gangguan psikologis

5. Segala sesuatu yang berhubungan dengan proses abrosi yang pembeli lakukan adalah bukan suruhan, paksaan ataupun atas keinginan dari pihak "medical abortion"

6. Untuk saat ini transfer harga obat dan ongkos kirim hanya melalui Bank BRI / BCA / MANDIRI.

7. Kami tidak melayani adanya komplain dalam bentuk apapun dikarenakan kelalaian pembeli yang tidak melakukan konfirmasi setelah transfer (lebih dari 24jam)

*Perjanjian ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2012, untuk pengguna saat ini, dan setelah penerimaan untuk pengguna baru. Amandemen Perjanjian ini juga efektif untuk semua pengguna sebelumnya. Perjanjian ini menetapkan seluruh pemahaman dan kesepakatan antara kami dengan pembeli " obat aborsi

(obat telat bulan)






HARGA OBAT ABORSI KAMI JUAL OBAT ABORSI DALAM BENTUK PAKET SESEUAI USIA KEHAMILAN. MENGHITUNG USIA KEHAMILAN, ADALAH DARI HARI TERAKHIR MENSTRUASI ATAU UNTUK LEBIH TEPATNYA LAGI ADALAH DENGAN USG UNTUK USIA KEHAMILAN LEBIH DARI 16 MINGGU, HUBUNGI KAMI UNTUK KONSULATASI LEBIH LANJUT.

HARGA OBAT ABORSI 1 BULAN :

Untuk usia 1 bulan dihitung dari tanggal terakhir menstuasi. OBAT ABORSI 1 BULAN isinya adalah Cytotec asli pfizer USA / Gastrul (Misoprostol 200mcg) untuk paket STANDARD.

Untuk paket TUNTAS berisi Cytotec asli pfizer USA / Gastrul (Misoprostol 200mcg) ditambah Tablet Mifeprex (Mifepristone 200mg) dan Tablet obat pembersih.

Standard : Rp. 600.000,- (Misoprostol Cytotec/Gastrul).
Tuntas : Rp. 1.000.000,- (Mifprex + Cytotec+ Pembersih ).

HARGA OBAT ABORSI 2 BULAN :

Untuk usia 2 bulan dihitung dari tanggal terakhir menstuasi. OBAT ABORSI 2 BULAN isinya adalah Cytotec asli pfizer USA / Gastrul (Misoprostol 200mcg) untuk paket STANDARD.

Untuk paket TUNTAS berisi Cytotec asli pfizer USA / Gastrul (Misoprostol 200mcg) ditambah Tablet Mifeprex (Mifepristone 200mg) dan Tablet obat pembersih.

Standard : Rp. 1.000.000,- (Misoprostol Cytotec/Gastrul).
Tuntas : Rp. 1.500.000,- (Mifprex + Cytotec + Pembersih).


HARGA OBAT ABORSI 3 BULAN :

Untuk usia 3 bulan dihitung dari tanggal terakhir menstuasi. OBAT ABORSI 3 BULAN isinya adalah Cytotec asli pfizer USA / Gastrul (Misoprostol 200mcg) untuk paket STANDARD.

Untuk paket TUNTAS berisi Cytotec asli pfizer USA / Gastrul (Misoprostol 200mcg) ditambah Tablet Mifeprex (Mifepristone 200mg) dan Tablet obat pembersih.

Standard : Rp. 1.500.000,- (Misoprostol Cytotec/Gastrul).
Tuntas : Rp. 2.000.000,-(Mifprex + Cytotec + Pembersih).



HARGA OBAT ABORSI 4 BULAN :

Untuk usia 4 bulan dihitung dari tanggal terakhir menstuasi. OBAT ABORSI 4 BULAN isinya adalah Cytotec asli pfizer USA / Gastrul (Misoprostol 200mcg) untuk paket STANDARD.

Untuk paket TUNTAS berisi Cytotec asli pfizer USA / Gastrul (Misoprostol 200mcg) ditambah Tablet Mifeprex (Mifepristone 200mg) dan Tablet obat pembersih.

Standard : Rp. 2.000.000,- (Misoprostol Cytotec/Gastrul).
Tuntas : Rp. 2.500.000,- (Mifprex + Cytotec + Pembersih).



No Tipu" Anda Butuh, Kami Juga Butuh Anda.

PEMESANAN OBAT ABORSI TELAT BULAN BISA HUBUNGI


No HP: 081 804 882 777

FORMAT PEMESANAN OBAT TELAT BULAN.

NAMA:...
ALAMAT:...
NAMA PAKET OBAT TELAT BULAN:..
NO HP:...


( Contoh Order Obat Aborsi )

Nama: EDY

Alamat : Jl. gang buntu no. 45 SBY.

Pesanan: Obat Aborsi 1bulan Tuntas.

No Hp: 081 804 882 777
 
Last edited:

Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact us untuk memulai.
Top