Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
BORONG,FLORESMERDEKA.COMDasyatnya ransangan Sarang Semut bikin emut-emut. Mungkin diantara pembaca setiaFloresmerdeka.compikir macam-macam. Yang segera melingkar di kepala..ya seputar-seputar urusan kelenjar. Yang bikin durasi lama atau apalah. He..he..Jangan ah!.
Tapi ini tentang industri kecil. Minuman khas lokalManggarai Timur. Sopi Sarang Semut, namanya. Dikemas dengan nuansa baru. Cara baru menghasilkan sopi bermutu. Kadar alkohol sudah teruji. Sudah memiliki izin resmi dari pemerintah daerah.
Sopi untuk masyarakat Manggarai Timur khusunya & NTT umumnya sudah mewaris & membudaya. Prosesi apa pun tanpa sopi bukan acara. Karena itu sopimenjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap prosesi adat berlangsung. Acara apa pun tanpa sopi ibarat sayur tanpa garam.
Kaki yg remuk itu mulai membusuk, bau & berulat. Karena itulah keluarga putuskan rujuk ke RSUD Bajawa
Racikan baru Sopi Sarang Semut menciptakanbrandnyameroket. Hasilnya pun membanggakan. Bukan cuma peraciknya tetapi masyarakatlokal juga. Soalnya material pendukung memberdayakan warga setempat. Ada sirkulasi kepentingan yg simultan. Simbiosis mutualisme, kira-kira begitu.
Adalah Gregorius Modo (51). Begitulah nama lengkapnya. Sapaanya beragam. Bisa Greg, kadang Goris, tak jarang pula Nggoik. Orangnya ganteng. Kulit hitam manis. Wajah bulat oval.
Pria kelahiran 4 April 1969 ini mengikthiarkan menyuling sopi sebagai sarana menyambung nyawa & napas keluarganya. Sudah dua tahun belakangan tenunan hidupannya mengandalkan usaha minuman khas Sopi Kobok. Usaha itu jadi satu-satunya sandaran hidup. Berkebun tidak mungkin. Sebab Nggoik menderita cacat permanen sejak tahun 2016 lalu.
Semula, Nggoik pria rambut keriting bola-bola ini, menjalani pekerjaan sopir kendaraan. Ditekuninya sejak tahun 1990. Sejak saat itu, Nggoik yg menikah dengan Ester Ndee, 21 Juni 1995 ini berpindah-pindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Baik angkutan biasa antara kabupaten, angkutan kota maupun dump truck.
Tempat penyulingan sopi milik Gregorius
Sebagai sopir, Nggoik, sering memagut prinsip. Berhadapan dengan majikan berhati lembut biasanya bertahan lama. Jika majikan galak, Nggoik, tak segan-segan tinggalkan. Sebab, baginya, menjalani pekerjaan harus nyaman. Jika nyaman, praktis kerja tulus & bertanggung jawab. Nggoik tak suka kerja dalam tekanan.
Namun naas baginya di tahun 2016 lalu. Persis siang condong ke arah senja. Nggoik yg mengangkut material proyek melintasi jalan tanjak di tikungan tajam Liang Lokat, Lewe, Kecamatan Borong. Apes, kendaraan tergelincir, terbalik & masuk jurang. Material muatan tumpah berserakan. Nggoik pun tertindis bodi kendaraan & material kelikir. Kakinya patah, bahkan remuk.
Sesaat setelah kejadian, Nggoik masuk Puskesmas Borong, Manggarai Timur. Namun cuma singgah sebentar. Sebab peralatan medis tidak memadai. Nggoik, dirujuk ke RSUD Ruteng.
Selama dua hari di rumah sakit Ruteng tidak ada tanda-tanda pertolongan serius. Alasan administrasi mengakibatkan penangan medis tersendat. Nggoik kecewa. Istirinya protes. Namun apalah daya suara orang kecil. Tidak lebih dari sepoi-sepoi berlalu. Nihil tanggapan.
Lantaran dibekap kecewa berat, Nggoik, putuskan pulang ke kampung halaman di Kobok, Waerana, Kelurahan Rongga Koe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Upaya pertolongan dukun kampung sepertinya sia-sia. Kaki yg remuk itu mulai membusuk, bau & berulat. Karena itulah keluarga putuskan rujuk ke RSUD Bajawa.
Beruntung saat masuk RSUD Bajawa tidak ada pasien lain di ruangan yg saya tempati. Jika ada pasti kami ditolak. Sebab kaki saya bau sekali, katanya.
Tiga Jenis Racikan
Tak butuh waktu lama saat masuk RSUD Bajawa. Usai diagnosa dokter putuskan amputasi. Nggoik, pasrah. Sebab tidak ada opsi lain. Bahkan lebih cepat lebih baik. Operasi berhasil. Tinggal proses pemulihan. Nggoik akan menjalani hari-hari hidupnya dengan satu kaki. Antara menjalani hidup dengan satu kaki & tuntutan tanggung jawab kepada istri & lima anak jadi pergulatan tanpa titik. Nggoik berada dalam dilematis. Berat & menyakitkan.
Tertinggal 15 cm saja dari pangkal paha. Hampir tiga bulan jalani pemulihan di RSUD Bajawa & setelah dinyatakan sembuh saya diizinkan pulang, terang Nggoik.
Saat duka sedang mendera, tuntutan menghidupkan istri & anak-anak adalah tukilan asa yg membutuhkan jalan keluar. Nggoik terus bergulat. Antara menolak & menerima kenyataan ibarat makan buah si malakama. Karena itulah Nggoik, terus bergulat. Sebab pasrah dengan kenyataan seperti sedang menggali kuburnya sendiri.
Getir & luka, memang. Tetapi mengelak bukan beradaban yg tepat. Memberdayakan sisa-sisa energi yg ada adalah opsi berakhlak. Maklumlah lima anak masih membutuhkan tanggung jawabnya. Buah hati, Maria Elvira Linda, Yohana Fransisca de Marlon, Ignasius Rivaldo Julson, Yohanes Arito Bala & Veronika Anjela Somat masih kecil & sedang berada di lembaga pendidikan. Kecuali si bungsu Veronika Anjela Somat yg belum mengenyam pendidikan.
Di saat itu, seperti mujizat jalan sunyi menggapai harap. Nggoikpun putuskan untuk menjalani tawaran bapak itu-usaha sopi
Di saat galau seperti itulah, Nggoik, teringat perjumpaanya dengan seorang bapak di Ena Lewa, Aimere, Kabupaten Ngada.Ada intuitif religius. Nggoik memantik semangat, perjumaan dengan seorang bapak di Ena Lewa jadi hembusan kekuatan baru. Bapak itu usaha sopi.
Memang selama menjalani pekerjaan sopir, beberapa kesempatan, Nggoik, mampir menikmati minuman khas bikinan bapak itu. Karena sering bersua, bapak itu sarankan supaya Nggoik, coba usaha yg sama itu. Usaha sampingan selain sopir kendaraan. Namun saat itu, tawaran bapak itu kurang ditanggapinya. Maklumlah masih segar. Apalagi penghasilan sebagai sopir cukup menjawabi kebutuhan keluarga.
Tetapi ketika kakinya sudah diamputasi, dilema opsi menghidupkan istri & anak-anak, saran bapak Ena Lewa itu menghampiri isi tenggkorak kepalanya. Di saat itu, seperti mujizat jalan sunyi menggapai harap. Nggoikpun putuskan untuk menjalani tawaran bapak itu-usaha sopi.
Waktu proses pemulihan di RSUD Bajawa, tiba-tiba saran bapak dari Ena Lewa menghampiri pikiran saya. Maka saya putuskan, setelah tinggalkan rumah sakit saya jalani usaha sopi. Karena kembali ke habitat sebagai sopir tidak mungkin lagi. Kondisi cacat permanen seperti ini. Syukur usaha ini membawa kedamaian, keteduhan & menyelamatkan keluarga saya dari belitan kesulitan ekonomi. Saya biaya pendidikan anak dari hasil menyuling sopi. Satu orang sudah sarjana. Seorang lagi sedang kuliah, SMA & SMP. Yang bungsu masih SD, urainya.
Pasca tinggalkan RSUD Bajawa, Nggoik mulai menyiapkan segala sesuatu berkaitan dengan usaha sopi. Bekerja secara cepat tidak mungkin. Cacat fisik jadi kendalanya. Nggoik mencoba usaha itu dengan pelan tapi pasti. Racikannya mulai ada hasil, tetapi pemasaran belum memadai.
Semula berusaha di Kobok, kampung halaman orang tuanya, namun kurang strategis. Karena itu Nggoik putuskan pindah lokasi. Rumah yg dibangun di Pongkling, mulai ditempati. Terhitung, 13 Juli 2018, Nggoik menjalani hari-harinya dengan kepulan asap api di Pongkling itu.
Tak sulit mendapatkan sopi olahan Om Nggoik ini. Sebab tempat usahanya persis di jalan sentral Trans Flores. Papan identitasjuga jelas. etapnya Pongkling, Kelurahan Ronggakoe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Sekitar 18 KM arah timur dari Kota Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur. Atau setelah 2 KM tinggalkan Wae Rana kita sudah dapat mendapatkan sopi Kobok, olahan Om Nggoik.
Semula cuma sopi arak atau lebih diketahui BM Kopok. Tetapi seiring waktu sudah tiga tipe racikan yg dikemasnya yakni BM Kobok Pinang Raci & Sarang Semut, jelasnya.
Bantu Cek Kondisi Tubuh
Belum lama ini, Ady Mbalur, Ketua KPUD Manggarai Timur, Kornelis Rahalaka (wartawan) & Kanis Lina Bana (wartawan) mendaratkan langkah di tempat usaha Om Nggoik. Tak ada pancaran istimewa. Sapaan akrabnya khas, dekat & melebur. Suasana penuh kekeluargaan.
Saat masuk gubuk usahanya, Nggoik, menyapa seraya persilahkan tempati kursi yg tersedia. Bangunan untuk pasarkan hasil racikanya berukuran sedang. Sementara tempat menyuling beberapa meter dari bangunan itu. Persisnya di samping rumah.
Ada lima jerigen jumbo yg sudah terisi minuman. Di dinding bangunan berukuran 4X6 M itu berjejer aneka tipe botol minum khasbeberapa negera. Antik.
Ini untuk koleksi saja. Saya pesan teman-teman sopir kendaraan jurusan Flores-Surabaya. Saya beli untuk koleksi, terang Nggoik.
Sambil menikmati sebatang rokok Surya, Nggoik menceritakan, usaha sopinya sudah memiliki izin resmi dari pemerintah. Apa yg diraciknya memenuhi standart ketentuan.
Selama proses penyulingan, tetesan-tetesan sopi mengalir ke bambu kemudian dikumpulkan ke dalam sebuah wadah berupa jerigen.
Tentang Sopi Sarang Semut, menurut Nggoik memiliki pesona lain. Jadi brand hasil olahannya. Kadar alkohol terukur. Sopi direndam dalam tempayan, lalu taburkan sarang semut. Jika warna sopi sudah berubah seperti coklat tua-anggur dilanjutkan pengukuran kadar alkhol. Jika memenuhi standart langsung dikemas dalam botol. Harga terjangkau Rp 50.000 per botol.
Bahan lokal tuak putih saya beli dari masyarakat lokal. Juga sarang semut dengan harga terjangkau. Hitung-hitung berdayakan masyarakat lokal, katanya.
Keunggulan lain, Sopi Sarang Semut, sebagaimana disharing Ketua KPUD Matim, Ady Mbalur. Menurutnya, racikan Om Nggoik dapat menolong mengetahui apakah dalam tubuh kita ada gejala penyakit tertentu atau tidak.
Caranya, jelas Ady Mbalur yg sudah jadi pelanggan tetap sopi Om Nggoik ini saat minum Sarang Semut, tahan sejenak pada tenggorok lalu menarik napas panjang & dalam. Apabila saat tarik napas ada batuk atau tersedak, maka dapat dipastikan ada penyakit tertentu dalam tubuh kita.
Ini bukan mutlak, tetapi banyak penikmati yg mengakuinya. Termasuk saya. Saya soba tidak tersedak atau batuk, ujar Ady Mbalur.
Menurut Om Nggoik, Sopi Sarang Semut sudah hingga ke Jawa, Sumatra & Irian Jaya. Meski distribusi ke wilayah itu masih dalam skala kecil. Tapi, setidaknya,racikannya punya nama, brand. Sebab Sopi Sarang Semut memiliki kekhasanya. Setiap penikmat akan alamai bagaimana enaknya. Bagaimana ransangan yg bikin tenggorokan emut-emut.
Arak rendam dengan sarang semut berkat ide pekerja asal jawa. Saya sedang jemur sarang semut sesuai permintaan seseorang untuk melayani kebutuhan Rumah Sakit Siloam. Tetapi tidak jadi ambil. Material itulah saya pakai untuk rendam sopi yg sudah suling, ujarnya.
Hari ini 00:26
Tapi ini tentang industri kecil. Minuman khas lokalManggarai Timur. Sopi Sarang Semut, namanya. Dikemas dengan nuansa baru. Cara baru menghasilkan sopi bermutu. Kadar alkohol sudah teruji. Sudah memiliki izin resmi dari pemerintah daerah.
Sopi untuk masyarakat Manggarai Timur khusunya & NTT umumnya sudah mewaris & membudaya. Prosesi apa pun tanpa sopi bukan acara. Karena itu sopimenjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap prosesi adat berlangsung. Acara apa pun tanpa sopi ibarat sayur tanpa garam.
Kaki yg remuk itu mulai membusuk, bau & berulat. Karena itulah keluarga putuskan rujuk ke RSUD Bajawa
Racikan baru Sopi Sarang Semut menciptakanbrandnyameroket. Hasilnya pun membanggakan. Bukan cuma peraciknya tetapi masyarakatlokal juga. Soalnya material pendukung memberdayakan warga setempat. Ada sirkulasi kepentingan yg simultan. Simbiosis mutualisme, kira-kira begitu.
Adalah Gregorius Modo (51). Begitulah nama lengkapnya. Sapaanya beragam. Bisa Greg, kadang Goris, tak jarang pula Nggoik. Orangnya ganteng. Kulit hitam manis. Wajah bulat oval.
Pria kelahiran 4 April 1969 ini mengikthiarkan menyuling sopi sebagai sarana menyambung nyawa & napas keluarganya. Sudah dua tahun belakangan tenunan hidupannya mengandalkan usaha minuman khas Sopi Kobok. Usaha itu jadi satu-satunya sandaran hidup. Berkebun tidak mungkin. Sebab Nggoik menderita cacat permanen sejak tahun 2016 lalu.
Semula, Nggoik pria rambut keriting bola-bola ini, menjalani pekerjaan sopir kendaraan. Ditekuninya sejak tahun 1990. Sejak saat itu, Nggoik yg menikah dengan Ester Ndee, 21 Juni 1995 ini berpindah-pindah dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Baik angkutan biasa antara kabupaten, angkutan kota maupun dump truck.
Tempat penyulingan sopi milik Gregorius
Sebagai sopir, Nggoik, sering memagut prinsip. Berhadapan dengan majikan berhati lembut biasanya bertahan lama. Jika majikan galak, Nggoik, tak segan-segan tinggalkan. Sebab, baginya, menjalani pekerjaan harus nyaman. Jika nyaman, praktis kerja tulus & bertanggung jawab. Nggoik tak suka kerja dalam tekanan.
Namun naas baginya di tahun 2016 lalu. Persis siang condong ke arah senja. Nggoik yg mengangkut material proyek melintasi jalan tanjak di tikungan tajam Liang Lokat, Lewe, Kecamatan Borong. Apes, kendaraan tergelincir, terbalik & masuk jurang. Material muatan tumpah berserakan. Nggoik pun tertindis bodi kendaraan & material kelikir. Kakinya patah, bahkan remuk.
Sesaat setelah kejadian, Nggoik masuk Puskesmas Borong, Manggarai Timur. Namun cuma singgah sebentar. Sebab peralatan medis tidak memadai. Nggoik, dirujuk ke RSUD Ruteng.
Selama dua hari di rumah sakit Ruteng tidak ada tanda-tanda pertolongan serius. Alasan administrasi mengakibatkan penangan medis tersendat. Nggoik kecewa. Istirinya protes. Namun apalah daya suara orang kecil. Tidak lebih dari sepoi-sepoi berlalu. Nihil tanggapan.
Lantaran dibekap kecewa berat, Nggoik, putuskan pulang ke kampung halaman di Kobok, Waerana, Kelurahan Rongga Koe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Upaya pertolongan dukun kampung sepertinya sia-sia. Kaki yg remuk itu mulai membusuk, bau & berulat. Karena itulah keluarga putuskan rujuk ke RSUD Bajawa.
Beruntung saat masuk RSUD Bajawa tidak ada pasien lain di ruangan yg saya tempati. Jika ada pasti kami ditolak. Sebab kaki saya bau sekali, katanya.
Tiga Jenis Racikan
Tak butuh waktu lama saat masuk RSUD Bajawa. Usai diagnosa dokter putuskan amputasi. Nggoik, pasrah. Sebab tidak ada opsi lain. Bahkan lebih cepat lebih baik. Operasi berhasil. Tinggal proses pemulihan. Nggoik akan menjalani hari-hari hidupnya dengan satu kaki. Antara menjalani hidup dengan satu kaki & tuntutan tanggung jawab kepada istri & lima anak jadi pergulatan tanpa titik. Nggoik berada dalam dilematis. Berat & menyakitkan.
Tertinggal 15 cm saja dari pangkal paha. Hampir tiga bulan jalani pemulihan di RSUD Bajawa & setelah dinyatakan sembuh saya diizinkan pulang, terang Nggoik.
Saat duka sedang mendera, tuntutan menghidupkan istri & anak-anak adalah tukilan asa yg membutuhkan jalan keluar. Nggoik terus bergulat. Antara menolak & menerima kenyataan ibarat makan buah si malakama. Karena itulah Nggoik, terus bergulat. Sebab pasrah dengan kenyataan seperti sedang menggali kuburnya sendiri.
Getir & luka, memang. Tetapi mengelak bukan beradaban yg tepat. Memberdayakan sisa-sisa energi yg ada adalah opsi berakhlak. Maklumlah lima anak masih membutuhkan tanggung jawabnya. Buah hati, Maria Elvira Linda, Yohana Fransisca de Marlon, Ignasius Rivaldo Julson, Yohanes Arito Bala & Veronika Anjela Somat masih kecil & sedang berada di lembaga pendidikan. Kecuali si bungsu Veronika Anjela Somat yg belum mengenyam pendidikan.
Di saat itu, seperti mujizat jalan sunyi menggapai harap. Nggoikpun putuskan untuk menjalani tawaran bapak itu-usaha sopi
Di saat galau seperti itulah, Nggoik, teringat perjumpaanya dengan seorang bapak di Ena Lewa, Aimere, Kabupaten Ngada.Ada intuitif religius. Nggoik memantik semangat, perjumaan dengan seorang bapak di Ena Lewa jadi hembusan kekuatan baru. Bapak itu usaha sopi.
Memang selama menjalani pekerjaan sopir, beberapa kesempatan, Nggoik, mampir menikmati minuman khas bikinan bapak itu. Karena sering bersua, bapak itu sarankan supaya Nggoik, coba usaha yg sama itu. Usaha sampingan selain sopir kendaraan. Namun saat itu, tawaran bapak itu kurang ditanggapinya. Maklumlah masih segar. Apalagi penghasilan sebagai sopir cukup menjawabi kebutuhan keluarga.
Tetapi ketika kakinya sudah diamputasi, dilema opsi menghidupkan istri & anak-anak, saran bapak Ena Lewa itu menghampiri isi tenggkorak kepalanya. Di saat itu, seperti mujizat jalan sunyi menggapai harap. Nggoikpun putuskan untuk menjalani tawaran bapak itu-usaha sopi.
Waktu proses pemulihan di RSUD Bajawa, tiba-tiba saran bapak dari Ena Lewa menghampiri pikiran saya. Maka saya putuskan, setelah tinggalkan rumah sakit saya jalani usaha sopi. Karena kembali ke habitat sebagai sopir tidak mungkin lagi. Kondisi cacat permanen seperti ini. Syukur usaha ini membawa kedamaian, keteduhan & menyelamatkan keluarga saya dari belitan kesulitan ekonomi. Saya biaya pendidikan anak dari hasil menyuling sopi. Satu orang sudah sarjana. Seorang lagi sedang kuliah, SMA & SMP. Yang bungsu masih SD, urainya.
Pasca tinggalkan RSUD Bajawa, Nggoik mulai menyiapkan segala sesuatu berkaitan dengan usaha sopi. Bekerja secara cepat tidak mungkin. Cacat fisik jadi kendalanya. Nggoik mencoba usaha itu dengan pelan tapi pasti. Racikannya mulai ada hasil, tetapi pemasaran belum memadai.
Semula berusaha di Kobok, kampung halaman orang tuanya, namun kurang strategis. Karena itu Nggoik putuskan pindah lokasi. Rumah yg dibangun di Pongkling, mulai ditempati. Terhitung, 13 Juli 2018, Nggoik menjalani hari-harinya dengan kepulan asap api di Pongkling itu.
Tak sulit mendapatkan sopi olahan Om Nggoik ini. Sebab tempat usahanya persis di jalan sentral Trans Flores. Papan identitasjuga jelas. etapnya Pongkling, Kelurahan Ronggakoe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Sekitar 18 KM arah timur dari Kota Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur. Atau setelah 2 KM tinggalkan Wae Rana kita sudah dapat mendapatkan sopi Kobok, olahan Om Nggoik.
Semula cuma sopi arak atau lebih diketahui BM Kopok. Tetapi seiring waktu sudah tiga tipe racikan yg dikemasnya yakni BM Kobok Pinang Raci & Sarang Semut, jelasnya.
Bantu Cek Kondisi Tubuh
Belum lama ini, Ady Mbalur, Ketua KPUD Manggarai Timur, Kornelis Rahalaka (wartawan) & Kanis Lina Bana (wartawan) mendaratkan langkah di tempat usaha Om Nggoik. Tak ada pancaran istimewa. Sapaan akrabnya khas, dekat & melebur. Suasana penuh kekeluargaan.
Saat masuk gubuk usahanya, Nggoik, menyapa seraya persilahkan tempati kursi yg tersedia. Bangunan untuk pasarkan hasil racikanya berukuran sedang. Sementara tempat menyuling beberapa meter dari bangunan itu. Persisnya di samping rumah.
Ada lima jerigen jumbo yg sudah terisi minuman. Di dinding bangunan berukuran 4X6 M itu berjejer aneka tipe botol minum khasbeberapa negera. Antik.
Ini untuk koleksi saja. Saya pesan teman-teman sopir kendaraan jurusan Flores-Surabaya. Saya beli untuk koleksi, terang Nggoik.
Sambil menikmati sebatang rokok Surya, Nggoik menceritakan, usaha sopinya sudah memiliki izin resmi dari pemerintah. Apa yg diraciknya memenuhi standart ketentuan.
Selama proses penyulingan, tetesan-tetesan sopi mengalir ke bambu kemudian dikumpulkan ke dalam sebuah wadah berupa jerigen.
Tentang Sopi Sarang Semut, menurut Nggoik memiliki pesona lain. Jadi brand hasil olahannya. Kadar alkohol terukur. Sopi direndam dalam tempayan, lalu taburkan sarang semut. Jika warna sopi sudah berubah seperti coklat tua-anggur dilanjutkan pengukuran kadar alkhol. Jika memenuhi standart langsung dikemas dalam botol. Harga terjangkau Rp 50.000 per botol.
Bahan lokal tuak putih saya beli dari masyarakat lokal. Juga sarang semut dengan harga terjangkau. Hitung-hitung berdayakan masyarakat lokal, katanya.
Keunggulan lain, Sopi Sarang Semut, sebagaimana disharing Ketua KPUD Matim, Ady Mbalur. Menurutnya, racikan Om Nggoik dapat menolong mengetahui apakah dalam tubuh kita ada gejala penyakit tertentu atau tidak.
Caranya, jelas Ady Mbalur yg sudah jadi pelanggan tetap sopi Om Nggoik ini saat minum Sarang Semut, tahan sejenak pada tenggorok lalu menarik napas panjang & dalam. Apabila saat tarik napas ada batuk atau tersedak, maka dapat dipastikan ada penyakit tertentu dalam tubuh kita.
Ini bukan mutlak, tetapi banyak penikmati yg mengakuinya. Termasuk saya. Saya soba tidak tersedak atau batuk, ujar Ady Mbalur.
Menurut Om Nggoik, Sopi Sarang Semut sudah hingga ke Jawa, Sumatra & Irian Jaya. Meski distribusi ke wilayah itu masih dalam skala kecil. Tapi, setidaknya,racikannya punya nama, brand. Sebab Sopi Sarang Semut memiliki kekhasanya. Setiap penikmat akan alamai bagaimana enaknya. Bagaimana ransangan yg bikin tenggorokan emut-emut.
Arak rendam dengan sarang semut berkat ide pekerja asal jawa. Saya sedang jemur sarang semut sesuai permintaan seseorang untuk melayani kebutuhan Rumah Sakit Siloam. Tetapi tidak jadi ambil. Material itulah saya pakai untuk rendam sopi yg sudah suling, ujarnya.
Hari ini 00:26