Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Sebelum Ramadan kemarin, saya mengunjungi Solo. Sebuah kota yg cukup unik, di mana penyebutan walikota maupun sesuatu yg berhubungan dengan wisata memakai embel-embel Solo, tetapi dalam penyebutan hal administratif -selain penyebutan Walikota- seperti nama sekolah atau Perguruan Tinggi, sering memakai mengatakan Surakarta.
Iya, semua hal yg berhubungan dengan wisata akan diberi mengatakan Solo. Misalnya, alun-alun kota Solo, Stadium Manahan Solo, Stasiun Balapan Solo, & sebagainya. Beda lagi kalau menyangkut sekolah, kampus, atau kedinasan, akan diberi embel-embel Surakarta. Sebut saja SMAN 1 Surakarta, Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), UIN Raden Mas Said Surakarta, & lain sebagainya.
Lantas, sebenarnya ini Solo atau Surakarta, sih?
Kalau kita telusuri, nama resmi kotanya adalah Surakarta, sedangkan Solo adalah nama desa tempat didirikannya keraton Surakarta yg entah bagaimana lebih populer & diingat oleh masyarakat. Mungkin karena nama Solo sering dipakai sebagaibrandingdalam Pariwisata daerah ini.
Sebenarnya sama kok dengan Jogja, yg nama sejatinya adalah Yogyakarta. Nama Jogja juga dipilih karena lebih mudah dilafalkan & diingat. Kota Solo juga demikian.
Selain itu, kota ini juga punya kontradiksi lain. Teman saya si A pernah cerita di kota ini pengendara motornya cukup berisik & grusa-grusu. Tapi di suatu sudut lain, saya menyaksikan teman saya si B hampir tertabrak oleh pengguna motor karena tak lihat kanan-kiri ketika menyabrang jalan. Tak disangka, pengendara motor tersebut cuma lewat begitu saja. Tak ada klakson, tak ada umpatan, & tak ada ceramah mengenai hati-hati di jalan. Terasa cukup santuy sekali. Entahlah, saya juga kebingungan menyebut masyarakat Solo ini sebagai masyarakat yg ramah atau tidak.
Untuk masalah kuliner, masakan di kota ini cukup menyenangkan. Setidaknya saya pernah mencicipi tiga makanan khasnya, yaitu: Selat, Timlo, & Serabi. Semuanya enak. Tentu akan lebih enak kalau dimakan bersama ayang. Selain itu masakan kota ini jarang ditemui di kota lain. Dengan mengatakan lain, otentik.
Bagi yg belum tahu, Selat merupakan kombinasi antara sayur & daging. Komposisinya terdiri dari daun selada, tomat, timun, wortel, buncis, acar, kentang yg digoreng, telur, & galantin (perpaduan daging sapi & ayam dengan rempah). Semua komposisi tersebut disiram dengan kuah saus segar yg punya rasa manis, asam, & gurih. Perpaduan yg menyenangkan untuk dinikmati.
Sedangkan Timlo adalah makanan yg sekilas mirip dengan soto bening yg memiliki toping tambahan berupa sosis solo & wortel. Secara rinci, komposisi makanan ini adalah potongan sosis solo, ampela ati, telur, kaldu ayam, & kuah tawar yg terasa gurih. Di beberapa tempat ada juga yg menambahkan dengan wortel & bihun.
Kalau Serabi saya kira kita semua sudah sering mendengar bahkan mencicipi oleh-oleh yg cukup melegenda ini. Rasa dari serabi Solo cukup sedap karena memiliki rasa manis yg pas, tekstur yg lembut, & gurih dari santannya cukup kentara. Benar-benar nikmat.
Solo tidak berhenti hingga sini, masih ada beragam tempat yg sering menyenangan untuk dikunjungi, misalnya Keraton Solo, sebuah tempat yg tidak pernah membosankan. Setidaknya bagi saya.
Ketika mengunjungi Solo (entah tempat yg baru perdana kusinggahi, maupun yg sudah pernah dikunjungi) saya sering mengunggahnya di media sosial. Bukan saja sebab kota ini punya aura yg menyenangkan, bukan juga sekadar merawat media sosial, tetapi lebih dari itu. Ada manfaat yg berkali-kali lipat: Membuat kenangan bekerja.
Teman saya pernah mengatakan kalau tempat yg perdana kali kita kunjungi dapat saja jadi kunjungan terakhir kita di sana. Iya, kita nggak pernah tahu apa yg direncanakan semesta. Karena itu mengabadikan momen merupakan investasi ingatan yg cukup berharga.
Dia juga bilang kalau foto memiliki efek cukupmagis. Bahkan foto sebuah kaki saja dapat mengingatkan kita pada sebuah momen yg mencakup segala rasa. Mulai dari gelisah, kecewa, berdebar, hingga bahagia. Iya, efeknya akan sedahsyat itu kalau dikombinasikan dengantimingyang pas.
Intinya apapun momen yg sedang dijalani, abadikan saja. Esok kalau waktunya pas, kenangan tersebut akan bekerja secara tiba-tiba & menciptakan lekukan tipis di bibirmu mengarah ke atas.
Tulisan ini ditulis oleh Afiqul Adib diCangkemanpada tanggal 18 Mei 2022. Hari ini 14:21