roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Soekarno Visited Elvis Presley
Iwan Kamah - Jakarta
Presiden Soekarno pernah menemui Raja Rock ‘n’ Roll. Bukan di Istana Merdeka. Tapi di lokasi shooting. Pertemuan itu tak sepenting “Elvis Meets Nixon”, ketika Elvis sowan ke Presiden AS Richard Nixon. Apa pentingnya Soekarno bertemu Elvis?
“Kennedy memahami jalan pikiranku”, kata Soekarno. Alasan itu dia jauh-jauh menemuinya hanya untuk membantu melakukan proyek sejarahnya: mengembalikan Irian Barat ke Indonesia. Setelah bertemu Kennedy lebih 2 jam pada hari Rabu pagi, 24 April 1961.
Empat hari sebelum ke Gedung Putih, Soekarno mampir di Hawaii, lalu ke Los Angeles. Kebetulan Elvis sedang syuting sebuah film musikal yang sukses besar, “Blue Hawaii”, bermain dengan aktris cantik Joan Blackman. Entah apa yang membuat Soekarno tiba-tiba bertemu dengan Elvis, yang lagunya saat itu
“Are You Lonesome Tonight” bertahan lama di tahta tangga pertama lagu Amerika.
Soekarno dengan topi safari datang dan berpose dengan Elvis yang mengenakan jas tanpa dasi bersama aktris Joan Blackman, yang menatap wajah sang raja rock ‘n’ roll itu. Mereka tertawa riang seperti sahabat lama yang lama tak jumpa. Bukan kali ini Elvis didatangi presiden raja atau presiden.
Mengapa Soekarno bertemu Elvis?
Pertemuan Soekarno dengan Elvis, memang tidak semashyur drama “Elvis Meets Nixon”. Disini memang Elvis yang sengaja ingin bertemu Presiden AS Richard Nixon di Gedung Putih pada Desember 1972. Kali ini beda, sepertinya Soekarno yang ingin menemuinya. Mengapa?
Mungkin saja ini semacam PR bagi Soekarno, yang pandai menjual image, baik untuk dirinya maupun untuk Indonesia. Sering terdengar pameo, kalau Soekarno datang satu hari di suatu negara, itu sama saja 2 tahun tugas PR dubes kita di negara tersebut.
Sosok Soekarno, seperti diakuinya sendiri, adalah sebuah teka-teki. Kadang sebuah pertanyaan yang tak punya jawaban. Dia ingin menjawab, bahwa dia bukannlah komunis dan dia juga sosok yang mengerti banyak tentang Amerika. Tidak seperti karakter tokoh-tokoh blok komunis, yang membenci Amerika sampai ke akar-akarnya. Soekarno bukan seperti itu.
Pada tahun 1956, Presiden Eisenhower mengundangnya dengan ramah. Tapi dua tahun berselang dia dipaksa ingin digulingkan oleh pemberontakan daerah yang didukung Eisenhower. Anehnya, setelah itu Soekarno datang kembali bertemu Eisenhower tahun 1960, setelah berpidato cemerlang di PBB. Setelah itu dia ingin membuktikan bahwa dia sahabat Amerika di bawah Presiden Kennedy. Meski beberapa tahun kemudian, dia memusuhinya karena Presiden Lyndon Johnson, pengganti Kennedy, tak menyukainya.
Baik Elvis dan Soekarno, dua-duanya menyenangi wanita cantik. Mungkin hal ini ingin dibuktikan Soekarno kepada Elvis, bahwa “we are the same barricade” dalam hal wanita. Pun, mereka berdua dipuja-puja banyak orang meski sudah tiada.
Namun yang paling bisa dimengerti mengapa Soekarno bertemu Elvis, adalah untuk membuktikan efek kalimat “Men Want To Be Like Him and Women Want To Be With Him”, yang melekat pada julukan Elvis. Soekarno ingin sekali dipuja wanita. Seperi Elvis.
Siapa yang raja, Elvis atau Soekarno?
Bukan hanya Soekarno yang menemui Elvis. Raja Bhumiphol Adulyadej dari Thailand, Raja Nepal pernah ngobrol langsung dengan Elvis. Bahkan Presiden Rusia Boris Yeltsin sangat menyayanginya. Presiden AS Jimmy Carter meratapi kematiannya. Lucunya juga, Presiden George Bush pernah menemani PM Jepang Koizumi (penggila Elvis) datang Graceland, istana abadi Elvis Presley. Lebih anehnya lagi, Presiden Clinton bersumpah mengagumi Elvis. Bahkan “code name” Bill Clinton untuk Secret Service (Paspampres-nya AS) adalah “Elvis”!
Bagi sebagian besar orang Indonesia, memang Soekarno dianggap “raja”, meski ada yang tak menyukainya. Hari ulang tahunnya dirayakan banyak orang Indonesia. Hari lahir Elvis nyaris dinyatakan sebagai ‘public holiday’ semasa Presiden Ronald Reagan, meski yang dikabulkan hanya HUT-nya Martin Luther King, Jr. Tapi untuk Elvis, memang tidak ada perdebatan, bahwa ELVIS IS THE KING!
Iwan Kamah - Jakarta
Presiden Soekarno pernah menemui Raja Rock ‘n’ Roll. Bukan di Istana Merdeka. Tapi di lokasi shooting. Pertemuan itu tak sepenting “Elvis Meets Nixon”, ketika Elvis sowan ke Presiden AS Richard Nixon. Apa pentingnya Soekarno bertemu Elvis?
“Kennedy memahami jalan pikiranku”, kata Soekarno. Alasan itu dia jauh-jauh menemuinya hanya untuk membantu melakukan proyek sejarahnya: mengembalikan Irian Barat ke Indonesia. Setelah bertemu Kennedy lebih 2 jam pada hari Rabu pagi, 24 April 1961.
Empat hari sebelum ke Gedung Putih, Soekarno mampir di Hawaii, lalu ke Los Angeles. Kebetulan Elvis sedang syuting sebuah film musikal yang sukses besar, “Blue Hawaii”, bermain dengan aktris cantik Joan Blackman. Entah apa yang membuat Soekarno tiba-tiba bertemu dengan Elvis, yang lagunya saat itu
“Are You Lonesome Tonight” bertahan lama di tahta tangga pertama lagu Amerika.
Soekarno dengan topi safari datang dan berpose dengan Elvis yang mengenakan jas tanpa dasi bersama aktris Joan Blackman, yang menatap wajah sang raja rock ‘n’ roll itu. Mereka tertawa riang seperti sahabat lama yang lama tak jumpa. Bukan kali ini Elvis didatangi presiden raja atau presiden.
Mengapa Soekarno bertemu Elvis?
Pertemuan Soekarno dengan Elvis, memang tidak semashyur drama “Elvis Meets Nixon”. Disini memang Elvis yang sengaja ingin bertemu Presiden AS Richard Nixon di Gedung Putih pada Desember 1972. Kali ini beda, sepertinya Soekarno yang ingin menemuinya. Mengapa?
Mungkin saja ini semacam PR bagi Soekarno, yang pandai menjual image, baik untuk dirinya maupun untuk Indonesia. Sering terdengar pameo, kalau Soekarno datang satu hari di suatu negara, itu sama saja 2 tahun tugas PR dubes kita di negara tersebut.
Sosok Soekarno, seperti diakuinya sendiri, adalah sebuah teka-teki. Kadang sebuah pertanyaan yang tak punya jawaban. Dia ingin menjawab, bahwa dia bukannlah komunis dan dia juga sosok yang mengerti banyak tentang Amerika. Tidak seperti karakter tokoh-tokoh blok komunis, yang membenci Amerika sampai ke akar-akarnya. Soekarno bukan seperti itu.
Pada tahun 1956, Presiden Eisenhower mengundangnya dengan ramah. Tapi dua tahun berselang dia dipaksa ingin digulingkan oleh pemberontakan daerah yang didukung Eisenhower. Anehnya, setelah itu Soekarno datang kembali bertemu Eisenhower tahun 1960, setelah berpidato cemerlang di PBB. Setelah itu dia ingin membuktikan bahwa dia sahabat Amerika di bawah Presiden Kennedy. Meski beberapa tahun kemudian, dia memusuhinya karena Presiden Lyndon Johnson, pengganti Kennedy, tak menyukainya.
Baik Elvis dan Soekarno, dua-duanya menyenangi wanita cantik. Mungkin hal ini ingin dibuktikan Soekarno kepada Elvis, bahwa “we are the same barricade” dalam hal wanita. Pun, mereka berdua dipuja-puja banyak orang meski sudah tiada.
Namun yang paling bisa dimengerti mengapa Soekarno bertemu Elvis, adalah untuk membuktikan efek kalimat “Men Want To Be Like Him and Women Want To Be With Him”, yang melekat pada julukan Elvis. Soekarno ingin sekali dipuja wanita. Seperi Elvis.
Siapa yang raja, Elvis atau Soekarno?
Bukan hanya Soekarno yang menemui Elvis. Raja Bhumiphol Adulyadej dari Thailand, Raja Nepal pernah ngobrol langsung dengan Elvis. Bahkan Presiden Rusia Boris Yeltsin sangat menyayanginya. Presiden AS Jimmy Carter meratapi kematiannya. Lucunya juga, Presiden George Bush pernah menemani PM Jepang Koizumi (penggila Elvis) datang Graceland, istana abadi Elvis Presley. Lebih anehnya lagi, Presiden Clinton bersumpah mengagumi Elvis. Bahkan “code name” Bill Clinton untuk Secret Service (Paspampres-nya AS) adalah “Elvis”!
Bagi sebagian besar orang Indonesia, memang Soekarno dianggap “raja”, meski ada yang tak menyukainya. Hari ulang tahunnya dirayakan banyak orang Indonesia. Hari lahir Elvis nyaris dinyatakan sebagai ‘public holiday’ semasa Presiden Ronald Reagan, meski yang dikabulkan hanya HUT-nya Martin Luther King, Jr. Tapi untuk Elvis, memang tidak ada perdebatan, bahwa ELVIS IS THE KING!