hendladi
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 113568
- Sejak
- 15 Jan 2011
- Pesan
- 685
- Nilai reaksi
- 2
- Poin
- 18
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi III DPR berencana memanggil Kepala Kepolisian RI, Jenderal (Pol) Timur Pradopo untuk meminta penjelasan tentang teror paket bom buku. Puluhan laporan paket mencurigakan masuk ke polisi. Setelah dicek, kebanyakan paket tersebut tidak berisi bom.
Anggota Komisi III DPR, Ahmad Yani mengatakan, pihaknya tengah membicarakan waktu rencana pemanggilan tersebut dalam rapat internal komisi. "Jadi secepatnya kita minta penjelasan dari Kapolri. Sejauh mana penanganan dari Kapolri," katanya saat menghadiri vonis politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang juga mantan Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (22/3/2011).
Berdasarkan data yang dihimpum Kompas hingga kemarin, Senin (21/3/2011), sedikitnya 25 pengakuan masuk ke kepolisian di wilayah Jabodetabek. Dari jumlah itu, lima paket berisi bom. Empat paket bom ditujukan kepada aktivis Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional Komjen Pol Gories Mere, Ketua Umum Partai Patriot Yapto Soerjosumarno, dan artis Ahmad Dani. Sementara, satu paket bom tergeletak di pinggir jalan di kawasan Cibubur.
Selebihnya, paket mencurigakan yang dilaporkan berisi aneka barang seperti sepatu, kain, buku, jok mobil, bingkai foto, kaset, boneka, jas hujan, hingga cokelat (baca: Bom Buku dan Paranoia Kita).
Ahmad Yani melanjutkan, jika tidak memungkinkan menghadirkan Kapolri dalam Rapat Dengar Pendapat di DPR, maka kemungkinan DPR akan mendatangi Kapolri. "Kalau memang tidak bisa, kita beberapa orang langsung ke Kapolri untuk menanyakan sejauh mana langkah yang sudah diambil Kepolisian untuk memberi rasa aman kepada masyarakat," ucapnya.
Ahmad Yani menilai, bom yang dikemas dalam bentuk paket merupakan modus baru teror dan telah meresahkan masyarakat secara keseluruhan. Hal tersebut, lanjutnya, menunjukkan pola penanganan teror yang ada saat ini belum efektif. "Sehingga harus dicari pendekatan lain," katanya.