Florentina
IndoForum Beginner A
- No. Urut
- 3755
- Sejak
- 26 Jul 2006
- Pesan
- 1.160
- Nilai reaksi
- 156
- Poin
- 63
Pelaku Orangtua Angkat, Disundut Rokok, Jari Dijepitkan Pintu, Disuruh Ngamen.
BALIKPAPAN - Kekerasan terhadap anak tak hanya terjadi pada anak-anak normal, namun juga dialami anak yang memiliki kekurangan. Seperti dialami Vivi (14) yang menderita tuna netra sejak bayi. Dia diduga mendapat perlakukan tak sewajarnya dari orangutua angkatnya yang tak lain adalah adik dari ibu kandungnya.
Vivi keseharinya merupakan siswi kelas II SMP Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Balikpapan Jalan Syarifudien Yoes Kelurahan Gunung Bahagia Balikpapan Selatan. Dia kerap mengeluh pada gurunya sering mengalami siksaan fisik dari kedua orangtua angkatnya yang merawatnya sejak bayi.
Terungkapnya remaja yang pandai bernyanyi kerap dianiaya setelah Vivi menceritakan kejadian dialaminya terhadap guru wali kelasnya bernama Eni. Penyiksaan terhadap dirinya berlangsung sejak kelas 3 SD hingga sekarang. Ditemui di sekolahnya Senin (22/11) kemarin, Vivi menceritakan kejadian dialaminya.
Bersama guru wali kelasnya serta kedua orangtua angkatnya yakni Marliana (40) dan Satya (43) warga Jalan Strat I Balikpapan Utara. Dari pengakuan Vivi, jari tangannya pernah dijepitkan ke pintu oleh Marliana, selain itu, tangannya pernah pula disundut bara rokok. Penyebabnya sepele, karena Vivi tak dapat menyelesaikan pekerjaan di rumahnya.
Kadang kalau tidak bisa menjaga adiknya, dia terkena marah kemudian dipukul. “Dari curahan hati Vivi, dia sering dimarahi kemudian dipukul oleh ibu angkatnya,” terang Eni wali kelas sekaligus pengajar di SLB Balikpapan. Ibu kandung Vivi adalah kakak kandung Satya, ayah angkat Vivi.
Luka lebam ditangannya membekas dan lebam, sedangkan bekas sundutan rokok juga masih terlihat di jari tangan Vivi. Tidak hanya curhat dengan gurunya, dia juga kerap bercerita dengan sejumlah wali murid teman-temannya di sekolah. “Bapak bilang tidak sengaja mengenai rokok ke tangan saya,” ujar Vivi tersedu-sedu menangis.
Meski menderita tuna netra, kondisi kesehariannya Vivi normal seperti anak-anak seusianya. Dia kerap menangis saat menceritakan siksaan dialaminya. “Kalau dia curhat di sekolah, dia menagis karena habis dipukul oleh ibunya hingga tangannya bengkak. Dia takut pulang ke rumah,” kata Siti orangtua murid, teman Vivi.
Tak hanya mengalami penederitaan fisik, Vivi juga pernah disuruh mengamen. “Dari ceritanya dia pernah disuruh mengamen juga, dari jam 6 sore sampai malam. Mengamennya di perempatan lampu merah tapi dia tidak memberikan dimana lokasinya,” imbuh Siti.
Penyebab dipukulnya jika salah sedikit dalam melakukan tugasnya di rumah. Dengan alat pemukul rotan, Vivi dipukul. “Mukulnya pakai rotan. Yang dipukul kaki dan tangan, juga kadang ditendang. Terus kalau malam disuruh mengamen,” ungkap Vivi dengan berlinang airmata sambil memeluk gurunya.
Pihak sekolah sendiri sudah memanggil orangtua angkat Vivi, namun mereka mengelak semua tuduhan yang dibeberkan oleh Vivia. Bahkan sebaliknya, Vivi kerap disayang seperti anak kandungnya sendiri.
Kasus kekerasan pada anak dibawah umur ini hingga kini masih belum dilaporkan ke kepolisian. Pihak Koalisi Perempuan Balikpapan (KPB) mendampingi korban dalam proses pemulihan serta nantinya apabila kasus tersebut ditangani kepolisian.
“Kami sudah terima laporan dan saat ini korban masih trauma dan belum dapat dimintai keterangan secara jelas. Untuk sementara sambil menunggu proses pemulihan, korban akan dirawat oleh gurunya,” kata Bidang Hukum KPB Tutup Sardi SH.
Bersama Tutup dan gurunya, Vivi dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan terhadap luka yang diduga dilakukan oleh kedau orangtua angkatnya itu. Sebab, dampak psikologis korban sangat berpengaruh karena mengalami penganiyaaan.
src://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=46338
BALIKPAPAN - Kekerasan terhadap anak tak hanya terjadi pada anak-anak normal, namun juga dialami anak yang memiliki kekurangan. Seperti dialami Vivi (14) yang menderita tuna netra sejak bayi. Dia diduga mendapat perlakukan tak sewajarnya dari orangutua angkatnya yang tak lain adalah adik dari ibu kandungnya.
Vivi keseharinya merupakan siswi kelas II SMP Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Balikpapan Jalan Syarifudien Yoes Kelurahan Gunung Bahagia Balikpapan Selatan. Dia kerap mengeluh pada gurunya sering mengalami siksaan fisik dari kedua orangtua angkatnya yang merawatnya sejak bayi.
Terungkapnya remaja yang pandai bernyanyi kerap dianiaya setelah Vivi menceritakan kejadian dialaminya terhadap guru wali kelasnya bernama Eni. Penyiksaan terhadap dirinya berlangsung sejak kelas 3 SD hingga sekarang. Ditemui di sekolahnya Senin (22/11) kemarin, Vivi menceritakan kejadian dialaminya.
Bersama guru wali kelasnya serta kedua orangtua angkatnya yakni Marliana (40) dan Satya (43) warga Jalan Strat I Balikpapan Utara. Dari pengakuan Vivi, jari tangannya pernah dijepitkan ke pintu oleh Marliana, selain itu, tangannya pernah pula disundut bara rokok. Penyebabnya sepele, karena Vivi tak dapat menyelesaikan pekerjaan di rumahnya.
Kadang kalau tidak bisa menjaga adiknya, dia terkena marah kemudian dipukul. “Dari curahan hati Vivi, dia sering dimarahi kemudian dipukul oleh ibu angkatnya,” terang Eni wali kelas sekaligus pengajar di SLB Balikpapan. Ibu kandung Vivi adalah kakak kandung Satya, ayah angkat Vivi.
Luka lebam ditangannya membekas dan lebam, sedangkan bekas sundutan rokok juga masih terlihat di jari tangan Vivi. Tidak hanya curhat dengan gurunya, dia juga kerap bercerita dengan sejumlah wali murid teman-temannya di sekolah. “Bapak bilang tidak sengaja mengenai rokok ke tangan saya,” ujar Vivi tersedu-sedu menangis.
Meski menderita tuna netra, kondisi kesehariannya Vivi normal seperti anak-anak seusianya. Dia kerap menangis saat menceritakan siksaan dialaminya. “Kalau dia curhat di sekolah, dia menagis karena habis dipukul oleh ibunya hingga tangannya bengkak. Dia takut pulang ke rumah,” kata Siti orangtua murid, teman Vivi.
Tak hanya mengalami penederitaan fisik, Vivi juga pernah disuruh mengamen. “Dari ceritanya dia pernah disuruh mengamen juga, dari jam 6 sore sampai malam. Mengamennya di perempatan lampu merah tapi dia tidak memberikan dimana lokasinya,” imbuh Siti.
Penyebab dipukulnya jika salah sedikit dalam melakukan tugasnya di rumah. Dengan alat pemukul rotan, Vivi dipukul. “Mukulnya pakai rotan. Yang dipukul kaki dan tangan, juga kadang ditendang. Terus kalau malam disuruh mengamen,” ungkap Vivi dengan berlinang airmata sambil memeluk gurunya.
Pihak sekolah sendiri sudah memanggil orangtua angkat Vivi, namun mereka mengelak semua tuduhan yang dibeberkan oleh Vivia. Bahkan sebaliknya, Vivi kerap disayang seperti anak kandungnya sendiri.
Kasus kekerasan pada anak dibawah umur ini hingga kini masih belum dilaporkan ke kepolisian. Pihak Koalisi Perempuan Balikpapan (KPB) mendampingi korban dalam proses pemulihan serta nantinya apabila kasus tersebut ditangani kepolisian.
“Kami sudah terima laporan dan saat ini korban masih trauma dan belum dapat dimintai keterangan secara jelas. Untuk sementara sambil menunggu proses pemulihan, korban akan dirawat oleh gurunya,” kata Bidang Hukum KPB Tutup Sardi SH.
Bersama Tutup dan gurunya, Vivi dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan terhadap luka yang diduga dilakukan oleh kedau orangtua angkatnya itu. Sebab, dampak psikologis korban sangat berpengaruh karena mengalami penganiyaaan.
src://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=46338