Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat pagi GanSist semuanya!
Dalam masyarakat Indonesia, istilah tomboy sering dipakai untuk menggambarkan perempuan yg tidak sepenuhnya mengikuti ekspresi gender feminin yg dianggap umum. Mulai dari cara berpakaian, gaya bicara, hingga minat pada aktivitas fisik, perempuan tomboy kerap berada di wilayah abu-abu antara kekaguman & stigma.
Sayangnya, diskusi tentang tomboy sering kali berhenti pada permukaan, entah karena penampilan, kekuatan fisik, atau sikap yg dianggap terlalu keras. Padahal, dari sudut pandang psikologi, sosiologi, & ilmu kesehatan, yg menentukan kualitas seorang wanita bukanlah ekspresi gendernya, melainkan sistem nilai yg wanita itu pegang.
Dalam thread Superwoman Series seri #9 ini, kita tidak membahas tomboy sebagai gaya hidup perempuan semata, melainkan sebagai fenomena kepribadian. Fokus utama pembahasan thread ini adalah disparitas mendasar antara low-value tomboy & high-value tomboy, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengedukasi & meluruskan persepsi.
Quote:
Tomboy dalam Perspektif Ilmiah
Secara psikologis, tomboy bukanlah penyimpangan seksual. Penelitian perkembangan menunjukkan bahwa ragam ekspresi gender adalah hal yg normal & dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, & budaya (Halpern, 2012). Ketertarikan pada aktivitas fisik, keberanian mengambil risiko, atau gaya berpakaian netral gender tidak otomatis menghapus bukti diri feminin seseorang.
Masalah muncul ketika ekspresi tersebut tidak diiringi kedewasaan kognitif & moral. Di sinilah konsep high-value tomboy & low-value tomboy jadi relevan, bukan sebagai label sosial, melainkan sebagai indikator kualitas kepribadian perempuan.
Quote:
Low-Value Tomboy
Low-value tomboy bukanlah perempuan yg kuat secara fisik, melainkan perempuan yg mengagungkan kekuatan fisik tanpa adanya keseimbangan intelektual & emosional.
1. Mendahulukan Otot sebelum Otak
Dalam psikologi kepribadian, dominasi impuls tanpa pengendalian kognitif sering dikaitkan dengan rendahnya executive function, yaitu kemampuan otak manusia untuk berpikir strategis, menahan emosi, & mempertimbangkan konsekuensi (Diamond, 2013).
Low-value tomboy:
1) Bangga pada kekuatan fisik, tetapi menyepelekan kecerdasan
2) Menganggap berpikir kritis sebagai tanda kelemahan
3) Lebih reaktif daripada reflektif
Kekuatan fisik tanpa kendali kognitif justru berpotensi jadi sumber konflik sosial.
2. Melupakan Kodrat sebagai Perempuan
Dalam konteks ini, kodrat tidak dimaknai secara sempit sebagai kewajiban rumah tangga, melainkan pencerahan biologis & psikososial sebagai perempuan, yaitu kemampuan empati, pengendalian emosi, & kepekaan sosial.
Low-value tomboy sering kali menganggap empati sebagai tanda kelemahan, meremehkan kesehatan reproduksi & mental perempuan, serta menolak aspek kewanitaan demi validasi eksternal.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa kekuatan perempuan justru terletak pada integrasi antara rasionalitas & empati (Eagly & Carli, 2007).
3. Tomboy untuk Pamer Kekuatan
Low-value tomboy menjadikan bukti diri tomboy sebagai alat pamer, baik itu pamer dominasi, pamer keberanian tanpa tujuan, & pamer sikap anti-feminin demi mencari perhatian.
Sikap ini sering memicu resistensi sosial. Bukan karena masyarakat anti kepada perempuan kuat, melainkan karena kekuatan yg dipamerkan tanpa nilai cenderung menciptakan jarak emosional. Inilah sebabnya low-value tomboy sering dijauhi orang lain, tidak dibenci, tetapi tidak dipercaya.
Quote:
High-Value Tomboy
Berbeda jauh dari citra di atas, high-value tomboy adalah perempuan dengan integritas internal yg kuat. Wanita tipe ini mungkin tomboy cuma dalam gaya, tetapi sangat dewasa dalam cara berpikir.
1. Mendahulukan Otak sebelum Otot
High-value tomboy memahami bahwa kekuatan sejati dimulai dari pikiran. Wanita tipe ini melatih ototnya sendiri sebagai alat, bukan sebagai bukti diri utama.
Ciri khasnya:
1) Berpikir strategis sebelum bertindak
2) Mengpakai kekuatan fisik secara fungsional
3) Menyadari batas & tanggung jawab
Dalam ilmu saraf, latihan fisik yg dilakukan secara bersamaan dengan refleksi kognitif terbukti dapat meningkatkan self-regulation & pengambilan keputusan (Ratey & Loehr, 2011).
2. Selalu Ingat Kodrat Perempuan
High-value tomboy tidak alergi kepada bukti diri kewanitaannya. Wanita high-value tomboy justru memahami tubuh & perannya secara utuh.
Wanita high-value tomboy peduli pada kesehatan hormonal & mental perempuan, mengpakai empatinya sebagai kekuatan psikologis, serta tidak merasa perlu membuktikan sisi maskulinnya dengan merendahkan nilai-nilai kewanitaan.
Kesadaran ini menciptakan high-value tomboy stabil secara emosional, & disegani secara alami.
3. Tomboy untuk mandilu, Bukan Cari Apresiasi
High-value tomboy cenderung berlatih fisik supaya mandilu, belajar hingga pintar supaya tidak bergantung kepada orang lain, & terus aktif berkarya tanpa menuntut pujian.
Penelitian tentang intrinsic motivation menunjukkan bahwa perseorangan yg bertindak tanpa ketergantungan pada apresiasi eksternal cenderung lebih konsisten & tahan tekanan (Ryan & Deci, 2017).
Inilah sebabnya high-value tomboy dikagumi, bukan karena berisik, melainkan karena keberadaannya menenangkan.
Quote:
Mengapa High-Value Tomboy Dibutuhkan di Era Modern?
Di tengah dunia yg kompetitif & penuh tekanan, perempuan dituntut tidak cuma kuat, tetapi juga cerdas, stabil, & berprinsip. High-value tomboy menjawab tantangan ini dengan keseimbangan antara kuat tanpa arogan, berdikari tanpa mengasingkan diri, & tegas tanpa kehilangan empati.
Dalam konteks Superwoman Series, high-value tomboy adalah bukti bahwa perempuan tidak perlu memilih antara kekuatan & kebijaksanaan. Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Quote:
PENUTUP
Menjadi perempuan tomboy bukanlah masalah. Masalah cuma muncul ketika kekuatan dijadikan topeng untuk menutupi kekosongan nilai. Low-value tomboy berisik karena meminta validasi. High-value tomboy tenang karena penuh kesadaran.
Dan pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak perempuan yg sekadar kuat.
Dunia membutuhkan perempuan yg kuat, cerdas, & berintegritas. Itulah esensi utama dari perempuan super.
Quote:
SUMBER
Diamond, A. (2013). Executive functions. Annual Review of Psychology, 64, 135168.
Eagly, A. H., & Carli, L. L. (2007). Through the labyrinth: The truth about how women become leaders. Harvard Business School Press.
Halpern, D. F. (2012). Sex differences in cognitive abilities (4th ed.). Psychology Press.
Ratey, J. J., & Loehr, J. E. (2011). The positive impact of physical activity on cognition during adulthood. Nature Reviews Neuroscience, 12(8), 573584.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2017). Self-determination theory: Basic psychological needs in motivation, development, and wellness. Guilford Press.
@pabuaranwetan @bukhorigan @sahabat.006