Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Membahas hal ini dijamin akan panjang, karena akan banyak sisi-sisi yg akan kita kulik, terlebih pembahasan ini sering dikaitkan dengan kesesatan, kekafiran, & banyak hal lainnya.
Terkadang dapat dituduh sebagai orang gila kalau ternyata benar-benar meresapi apa yg diajarkan dalam mencari ilmu dari Manunggaling Kawula Gusti.
Sebelumnya kita harus melihat sejarah di masa lampau di masa ulama akbar dari basra, Irak Hasan al-Basri tinggal. Saat itu banyak golongan bawah terjadi perpecahan & jadi beberapa kelompok, seperti sunni, syiah, murjiah, & lainnya, sedangkan disisi lain pemerintahnya hidup foya-foya, bergelimang harta, yg kaya hidup terlalu kaya & sebaliknya.
Sebelum Sultan Umar bin Abdul Aziz, masa awal & pertengahan dinasti ummayah itu melarang orang untuk berdakwah. Tentu hal itu menciptakan kecewa banyak orang, terlebih dimasa Hasan al-Basri kecil yg masih di pegang kepemimpinan Islam oleh Umar bin Khattab, seorang pemimpin yg kaya raya namun hidupnya penuh kesederhanaan. Berbeda ketika ia sudah dewasa dimana pemimpin negara dipegang oleh dinasti Ummayah. Maka dapat dibilang peradaban Islam saat itu sangat maju & unggul namun akhlaknya sudah tidak baik lagi.
Maka Hasan al-Basri cuma dapat merenung & menangis, lambat laun fiqihnya tidak jadi prioritas, lebih banyak berfatwa tentang spiritual, disini ia pun beralih dari pakar fiqih jadi pakar zahid karena pada waktu itu belum ada tasawuf namanya masih zahid.
Setelah Hasan al-Basri wafat, gerakan tasawuf jadi lebih radikal. Pelopornya adalah muridnya rabiah al adawiyah, syair-syairnya memberi pemahaman baru tentang spiritual. Walau tidak ada surga & neraka, tetap harus berbuat baik sesuai yg diajarkan Tuhan. Kalau cuma bermotif surga & neraka maka itu orang yg salah dalam ber aqidah.
Semenjak pemikiran Rabiah itu, kita anggap saja itu tassawuf, maka terpecah jadi dua. Ada tassawuf bijak yg di gagas oleh Al Muhasibi & ada tasawuf gila/mabuk pelopornya adalah Abu Yazid al bustami / Bayazid.
Kalau Al Muhasibi, tasawuf boleh saja berkembang tetapi jangan hingga lepas dari syari'at. Namun kalau Abu Yazid/ Bayazid, pernah karena sayangnya pada Allah hingga alhirnya berdzikir dengan lafad "SUBHANI" yg artinya maha suci aku, tentu ini secara harfiah dirinya adalah Tuhan.
Jadi sebenarnya hal ini dilakukan secara tidak sadar, karena ketika ia sadar beliau sangat memegang teguh syariat.
Kondisi seperti inilah yg dinamakan syatahat ( perkataan aneh ketika di tengah mabuknya kepada Tuhan), bahkan pemikirannya dapat melampui orang normal pada umumnya hingga tercipta pengalaman "menyatu" dengan Tuhan.
Tentu kondisi seperti ini dianggap gila, berlebihan, ghuluw tetapi itulah yg terjadi pada mereka, bahkan kalau mereka sedang sadar minta tolong dipenggal bila mengucapkan mengatakan yg aneh tersebut. Jadi pada dasarnya mereka tak dapat mengendalikan dirinya ketika sedang mabuk sayang seperti itu, hal ini juga yg menjangkiti syekh Siti Jenar.
Dan hal itu juga dibenarkan oleh tokoh Sufi yg namanya Al Junaidi Al Baghdadi, namun ia beranggapan supaya orang seperti ini harus belajar kembali jadi manusia, & mengembalikan nilai Tuhan kepada kehidupan nyata. Namun ucapan Al Junaidi tidak diikuti oleh muridnya yg bernama Al Halaj.
Beliau bernama Abu Mughits Abdillah al-Husain bin Mansur al-Hallaj, namun dianggap kontroversial karena dakwah bersatu dengan Allah, & dituduh menyebarkan ideologi inkarnasionisme.
Quote:
Al-Hallaj mengucapkan kalimat yg menurut orang-orang, nyeleneh & ngawur;
.
wahai manusia!, sesungguhnya apa yg kalian sembah itu ada dibawah telapak kakiku
Seketika orang-orang bertanya-tanya, Apa yg anda ucapkan?, tapi, tanpa memedulikannya, Al-Hallaj mengulangi lagi ucapan yg sama terus menerus.
Setelah kejadian tersebut, beberapa orang melaporkan Al-Hallaj kepada Raja masa itu. Sang Raja, setelah bermusyawarah dengan pembesar lain, yg sebetulnya sama-sama belum paham maksud ucapan Al-Hallaj memutuskan untuk menghukum mati di hari itu juga.
Kejadian ini lah yg akhirnya menciptakan orang-orang mulai paham apa maksud Al-Hallaj, bahwa mereka terlalu sibuk dengan harta & urusan duniawi, yg menciptakan mereka lupa menyibukkan diri untuk menyembah Sang Maha Kuasa.
Sumber kutipan https://pecihitam.org/mansur-al-hall...di-hukum-mati/
Jadi itulah kisah Manunggaling Kawula Gusti dimasa lampau. Lalu ini juga yg menjadikan syekh Siti Jenar seperti sekarang ini.
Seperti ketika para wali sedang berkumpul, beliau mengatakan
Quote:
Menyembah Allah dengan bersujud beserta ruku'-nya, pada dasarnya sama dengan Allah, baik yg menyembah maupun yg disembah. Dengan demikian, hambalah yg berkuasa, & yg menghukum pun hamba juga." (Ngabei Ranggasutrasna, dkk.,Centhini: Tambangraras-Amongraga, Jilid I, 1991:120-123).
Beberapa wali memperingatkan bahwa pemikiran Syekh Siti Jenar itu dapat berdampak sanksi mati karena melenceng dari Islam (Achmad Chodjim,Syekh Siti Jenar: Makrifat & Makna Kehidupan, 2007:11).
Pandangan Syekh Siti Jenar dianggap mengancam proses tumbuh-kembang Islam yg sedang subur-suburnya di Jawa selepas runtuhnya Majapahit itu. Apalagi Syekh Siti Jenar punya banyak murid & pengikut yg beberapa di antaranya cukup berpengaruh.
Sosok sufi yg memantik kontroversi di kalangan Walisongo & kaum ulama serta tokoh-tokoh penting dalam pusaran kekuasaan di pusat peradaban Jawa itulah yg juga diketahui dengan nama Syekh Siti Jenar.
Sumber kutipan https://tirto.id/jalan-setapak-syekh...iti-jenar-cAMA
Maka Syekh Siti Jenar, nasibnya seperti Al Halaj yg dihukum mati. Ditakutkan pemikirannya ini belum sanggup dicerna oleh banyak orang dimasa itu, tentu akan cukup berbahaya & dapat jadi masalah kedepannya.
Kalau ada penambahan lain monggo, karena para filsuf seperti Al Farabi, Ibunu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Farabi mereka juga mempelajari hal ini & banyak mengeluarkan buku yg cukup rumit kalau dipelajari orang awam.
Quote:
Dan pada akhirnya dalam bukunya munqid addalal al gazhali menyampaikan bahwa,
"Orang - orang yg masih sangat lemah imannya (awam) jangan pernah dikasih tahu tentang ide ini ( filsafat, kalam, tasawuf)". Makanya al ghazali menciptakan dua buku yg kedua - duanya bertentangan yaitu ihya ulumudin untuk kalangan awam sangat terkenal di indonesia & sangat tebal. Dan untuk kalangan terbatas adalah miskat al anwar tafsir surat annur & sangat tipis tetapi pecah sekali bagi kalangan tasawuf falsafi.
Sumber kutipan https://www.kompasiana.com/nelivera9...&page_images=1
Itulah uniknya khasanah dari para orang yg berilmu, setidaknya jadikan hal ini sebagai bagian dari ilmu. Inti dari semua ilmu tujuannya adalah berbuat baik, bila ada ilmu yg dipakai untuk sebaliknya maka yg datang kehancuran.
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2022
referensi : klik, klik, klik, klik
Pic : google