• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

SINAR ISLAM [UPDATE-InsyaAllah]

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. arcala
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai
Assalammualaikum

coba ya... ada acara .....semua balita dari semua agama diberi kebebasan memilih agamanya.....kita lihat betapa agungnya ISlam kita lihat berapa banyak anak2 yg akan memeluk islam.....subhanallah

Wassalam
 
Yvonne Ridley Masuk Islam setelah Ditawan Pasukan Taliban

Inilah salah satu fakta yang akan meluruskan bagaimana sesungguhnya sepak terjang tentara Taliban yang saat ini dijelek-jelekkan media Barat. Belum lama Taliban dituduh bertanggung jawab atas berbagai persitiwa pengeboman di Pakistan dan dicap sebagai teoris nomer wahid di Timur Tengah setelah Al-Qaeda oleh Amerika. Padahal, fakta yang sesungguhnya tidak demikian. Salah satunya akan diungkap pada pengalaman Yvonne Ridley yang sempat menjadi tawanan Taliban dan kemudian masuk Islam justru setelah ia tahu bagaimana Taliban yang sesungguhnya.

***

Apa perasaan Anda jika tertawan dan ditangkap musuh? Mungkin susah untuk membayangkan nasib Anda akan berakhir pada sebuah kebahagiaan. Apalagi, jika menghadapi tuduhan sebagai mata-mata, penyusup, dan lain sebagainya.

Namun, tidak demikian dengan yang dirasakan Yvonne Ridley, seorang wartawati Inggris. Perempuan paruh baya ini justru mengaku bahagia setelah ditangkap dan diinterogasi pasukan Taliban yang oleh media massa Amerika Serikat (AS), digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras dan kejam.

Pengalaman Ridley di Afganistan saat ditangkap pasukan Taliban, justru membuatnya mengenal Islam lebih dalam. Dan, dengan bersentuhan langsung dengan kelompok Taliban, Ridley merasakan perbedaan dengan tuduhan yang dilontarkan. Ridley menyebut kelompok yang oleh banyak negara dicap sebagai teroris ini sebagai keluarga terbesar dan terbaik di dunia.

Dikisahkan, mantan guru sekolah Minggu yang juga mantan peminum (gemar mabuk) itu masuk Islam setelah membaca Alquran seusai dilepas oleh Taliban.Bekerja sebagai wartawan Sunday Express , surat kabar terbitan Inggris, pada September 2001 lalu, Ridley diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afganistan untuk melakukan tugas jurnalistik. Saat itu, perempuan kelahiran Stanley, Distrik Durham, Inggris, tahun 1959 ini mencoba menyusup ke Afganistan secara ilegal. Tanpa paspor maupun visa.

Seperti dilansir dalam banyak pemberitaan di media massa, wartawati Inggris yang sudah kerap ditugaskan ke daerah-daerah konflik di dunia ini, tertangkap basah di sebelah timur Kota Jalalabad. Penyamarannya terungkap ketika ia jatuh dari seekor keledai persis di depan seorang tentara Taliban dan kameranya jatuh. Saat ditangkap, Ridley terlihat mengenakan burqa , sejenis busana Muslimah tradisional Afganistan.

Yang ada di benaknya ketika tentara itu dengan marah mendatanginya adalah rasa takjub. ”Luar biasa tampan. Bola matanya hijau, khas bola mata dari daerah itu dan dengan jenggot yang tebal,” batinnya.Tak berselang lama, ketakutan mulai merayapinya. Ridley diinterogasi selama 10 hari tanpa diperbolehkan menggunakan telepon (ponsel) ataupun menghubungi anak perempuannya yang sedang berulang tahun ke-9.

Selama menjalani proses interogasi, Ridley mengaku tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh kaum Taliban ataupun apa yang mereka percaya sebagai kebenaran. Awalnya, bagi Ridley, Taliban sama seperti yang digambarkan media massa Eropa tentang kelompok Islam ini.

Namun, perlakuan yang diterima Ridley selama menjalani masa penahanan dan interogasi justru mengubah semua pandangannya mengenai orang-orang Taliban. Menurutnya, anggapan umum kaum Taliban yang selama ini digambarkan sebagai monster sangat jauh dari realitas. ”Orang-orang Taliban adalah orang-orang yang baik dan mereka sangat ramah,” ujarnya.

Dalam acara keterangan pers yang digelar di Peshawar, Pakistan, seusai pembebasannya, Ridley menuturkan bahwa selama dirinya ditahan, secara fisik ia tak pernah diperlakukan dengan buruk oleh Taliban. Bahkan, perlakuan yang diterimanya tergolong cukup istimewa dibandingkan pesakitan para penghuni penjara lainnya.

Di dalam tahanan, Ridley dipisahkan dengan penghuni lainnya, termasuk para tahanan wanita. Selain itu, secara khusus, ruang tahanannya telah dibersihkan dari segala gangguan kecoa dan kalajengking. Berbeda dengan sel di sebelahnya, kamar di balik terali itu tetap kotor seperti biasanya, kata Ridley.

Atas pengakuan Ridley ini, banyak pihak yang mengatakan ibu dari seorang putri bernama Daisy ini terkena Sindrom Stockholm , di mana sandera malah kemudian memihak penyandera. Tetapi, ia membantahnya, ”Saya membenci mereka yang menangkap saya. Saya meludahi mereka, kasar terhadap mereka dan menolak makan. Saya tertarik Islam hanya ketika saya sudah bebas,” katanya menegaskan.

Kagum dengan Alquran

Dalam sebuah wawancara kepada situs Islamonline beberapa waktu lalu, Ridley mengungkapkan saat menjadi tawanan Taliban, seorang ulama mendatangi dirinya. Sang ulama menanyakan beberapa pertanyaan tentang agama dan menanyakan apakah ia mau pindah agama.

”Saat itu, saya takut kalau saya salah memberikan respons, saya akan dibunuh. Setelah berpikir masak-masak, saya berterima kasih pada ulama tadi atas tawarannya yang baik itu. Dan, saya bilang bahwa sulit bagi saya membuat keputusan untuk mengubah hidup saya saat sedang menjadi tawanan,” paparnya.

Kepada sang ulama, Ridley berjanji akan mempelajari agama Islam setelah dibebaskan dan kembali ke London. Begitu kembali ke Inggris, Ridley membaca Alquran melalui terjemahannya untuk mencoba memahami pengalaman yang baru dilewatinya.”Saya luluh dengan apa yang saya baca. Tak ada satu pun yang berubah dari isi buku ini, baik titiknya maupun yang lain sejak 1.400 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Dalam mempelajari Islam, Ridley memilih surat-surat dalam Alquran hanya yang ingin ia baca. Ia sangat mengagumi hak-hak yang diberikan Islam pada kaum perempuan dan inilah yang paling membuat dirinya tertarik pada Islam. Dalam buku yang ia tulis setelah pembebasannya, Ridley menceritakan bahwa dirinya juga sempat menemui Dr Zaki Badawi, ketua Islamic Centre London, dan berdiskusi dengannya seputar ajaran Islam.

Dari sinilah kemudian Ridley memutuskan untuk memilih Islam sebagai keyakinan barunya. Proses keislaman Ridley ini terjadi pada tahun 2003 silam. Mengenai pilihannya ini, Ridley mengungkapkan bahwa dirinya telah bergabung dengan apa yang ia anggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini.

Bagaimana reaksi orang tuanya yang beragama Protestan Anglikan saat Ridley masuk Islam? ”Pada awalnya, keluarga dan teman saya khawatir, tetapi ketika mereka melihat bagaimana bahagianya saya. Saya lebih sehat dan merasa hidup saya lebih punya arti, mereka sangat senang,” papar Ridley.

Kebahagiaan, ungkap Ridley, terutama dirasakan sang ibu ketika ia memeluk Islam. Kebahagiaan tersebut disebabkan semenjak menjadi seorang Muslimah, Ridley memutuskan untuk meninggalkan kebiasaannya minum minuman keras. ”Ibu saya sangat gembira, karena saya sudah tak minum lagi.”

Setelah memeluk Islam, Ridley memutuskan untuk mengenakan baju Muslim dan jilbab. Ia pun hingga kini masih menjalankan profesinya sebagai seorang wartawan. Dedikasi Ridley sebagai wartawan memang tak diragukan lagi. Muslimah ini pernah bekerja pada sederet media bergengsi, seperti News of the World, The Daily Mirror, The Sunday Times, The Observer, The Independent, dan Sunday Express.

Redaktur Sunday Express , Martin Townsend, pernah mengungkapkan komentarnya mengenai Ridley, ”Dia adalah seorang jurnalis yang sangat berpengalaman dan berani.” Sementara itu, Colin Patterson, wakil redaktur dari Sunday Sun, menyebutnya sebagai pribadi yang hangat dan suka bersahabat.

Pascatragedi Lockerbie sembilan tahun lalu, Ridley adalah wartawan pertama yang berhasil mewawancarai Ahmad Jibril, pemimpin populer Front for the Liberation of Palestina (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina). (www.republika.or.id)
 
Jamilah Kolocotronis - Misionaris/Filsuf/Penulis (USA)

Jamilah Kolocotronis Menemukan Kebenaran dalam Islam

20091015152026.jpg

Saat sedang mencari kesalahan dan ketidakkonsistenan dalam Alquran, dia justru terkesan dengan surat Al-An'am.

Jalan berliku harus dilalui Jamilah Kolocotronis sebelum menjadi seorang Muslimah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan mengikrarkan dua kalimat syahadat justru ketika sedang menempuh pendidikan demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pendeta. Berawal pada tahun 1976. Keinginannya begitu kuat untuk menjadi seorang pendeta. Saat itu, dia masih berkuliah di sebuah universitas negeri.

Jamilah lalu mendatangi seorang pastor di sebuah gereja Lutheran. Ia sampaikan apa yang menjadi harapannya, bahkan bersedia membantu apa saja di gereja. Sang pastor menyanggupi dan meminta Jamilah mewakilinya pada acara piknik untuk para mahasiswa baru dari negara lain.

Dalam acara ini, untuk pertama kalinya, Jamilah bertemu dengan seorang Muslim. Namanya Abdul Mun'im Jitmoud yang berasal dari Thailand. ''Ia punya senyum yang manis dan sangat sopan. Saat kami berbincang-bincang, ia sering kali menyebut kata Allah,'' kenang Muslimah yang memiliki nama lahir Linda Kay Kolocotronis ini.

Jamilah mengaku agak aneh saat mendengar Mun'im menyebut nama Tuhan. Karena, sejak kecil, ia diajarkan bahwa orang di luar agamanya bakal masuk neraka. Tak ayal, Jamilah merasa bahwa Mun'im adalah golongan orang yang akan masuk neraka meski Mun'im percaya pada Tuhan dan berperilaku baik.

Dia lantas bertekad untuk mengajak Mun'im mengikuti keyakinannya. Jamilah mengundang Mun'im ke gereja. Tapi, betapa malu hatinya ketika melihat Mun'im datang dengan membawa Alquran. Usai kebaktian, Jamilah dan Mun'im berbincang panjang tentang Islam dan Alquran.

Padahal, selama ini, setiap mendengar istilah 'Muslim', dia memahaminya dengan hal-hal yang negatif. Kala itu, sejak era tahun 1960-an, warga kulit putih di Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa warga Muslim kulit hitam ingin menyingkirkan warga kulit putih.

Selama dua tahun, Jamilah tetap menjalin kontak dengan Mun'im (yang kini menjadi suaminya). Lewat aktivitasnya di sebuah klub internasional, Jamilah juga bertemu dengan beberapa Muslim lainnya.

Jamilah tetap berusaha melakukan kegiatan misionarisnya untuk membawa mereka beralih akidah. Dia masih memendam hasrat menjadi pendeta meski waktu itu, di era 70-an, gereja-gereja belum bisa menerima perempuan di sekolah seminari.

Waktu terus berjalan, kebijakan pun berubah. Setelah menyelesaikan studinya di Truman State University pada Mei 1978, sebuah seminari Lutheran yang berada di Chicago, School of Theology, bersedia menerimanya sebagai siswa.

Tapi, hanya satu semester Jamilah bersemangat belajar. Jamilah sangat kecewa dengan kenyataan bahwa di sekolah itu tidak lebih sebagai tempat untuk bersosialisasi di mana pesta-pesta digelar dan minum-minuman keras sudah menjadi hal yang biasa.

Jamilah akhirnya memutuskan pulang ke rumah. Ia ingin lebih meluangkan waktu untuk mencari kebenaran agama. Tak lama kemudian, Jamilah diterima bekerja sebagai sekretaris di daerah pinggiran St Louis, tak jauh dari rumahnya.

Mencari kesalahan Alquran

Hingga suatu hari, Jamilah masuk ke sebuah toko buku dan menemukan Alquran di sana. Jamilah tertarik untuk membelinya karena ia ingin mencari kelemahan dalam Alquran.

Jamilah berpikir, sebagai orang yang bergelar sarjana di bidang filsafat dan agama serta pernah mengenyam pendidikan di seminari, pastilah mudah baginya menemukan kelemahan-kelemahan Alquran. Dengan 'bekal' itu, ia berharap bisa meyakinkan teman-teman Muslimnya bahwa mereka salah.

Dia segera mencari-cari kesalahan serta ketidakkonsistenan ayat-ayat dalam Alquran. Tapi, hasilnya nihil.''Saya justru terkesan saat membaca surat al-An'am ayat 73. Untuk pertama kalinya, saya ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam,'' ujar perempuan kelahiran St Louis, Missouri, tahun 1956 ini.

Jamilah memutuskan kembali ke universitasnya dulu, mengambil gelar master di bidang filsafat dan agama. Di saat yang sama, selain mengunjungi kebaktian, Jamilah juga kerap datang ke masjid, terutama ketika shalat Jumat.

Walau hatinya mulai tersentuh cahaya Islam, Jamilah mengaku belum siap menjadi seorang Muslimah. Masih banyak ganjalan pertanyaan memenuhi kepalanya. Dan, Jamilah terus melanjutkan pencariannya tentang agama.

Selama kurun waktu dua tahun masa pencarian, selain mempelajari Islam, Jamilah juga mempelajari berbagai agama lainnya, termasuk Zoroaster, Hindu, Buddha, Baha'i, dan agama yang dianut oleh etnis Cina. ''Saya cuma ingin menemukan kebenaran,'' kata Jamilah.

Mengucap dua kalimat syahadat
Namun, Jamilah lebih merasakan kedekatan pada Islam. Satu pertanyaan yang masih mengganggu pikirannya, mengapa orang Islam harus berwudhu sebelum shalat?

Ia menganggap itu tidak logis karena manusia seharusnya bisa mengakses dirinya pada Tuhan kapan saja. Namun, pertanyaan yang mengganggu itu akhirnya terjawab dan Jamilah bisa menerima jawabannya.

Akhirnya, malam itu, Jamilah membulatkan tekad untuk menerima Islam sebagai agamanya. Ia pergi ke sebuah masjid kecil dekat universitas. Peristiwa terpenting dalam hidupnya ini terjadi pada musim panas 1980, bersamaan dengan tibanya bulan Ramadhan.

Tepat pada malam ke-19 di bulan Ramadhan, Jamilah mengucapkan dua kalimat syahadat yang disaksikan sejumlah pengunjung masjid. ''Butuh beberapa hari untuk beradaptasi, tapi saya sudah merasakan kedamaian. Saya melakukan pencarian begitu lama dan sekarang saya menemukan tempat yang damai,'' papar ibu dari enam orang putra ini.

Pada awalnya, setelah menjadi Muslimah, Jamilah menyembunyikan keislamannya dari teman-teman di kampus, bahkan keluarganya. Bercerita kepada keluarganya bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim bukan persoalan gampang buat Jamilah.

Begitu pula ketika ingin mengenakan jilbab. Tapi, jalan berliku dan berat itu berhasil dilaluinya. Kini, Jamilah sudah berjilbab dan menjadi kepala sekolah di Salam School, Milwaukee.

Pendidik, Penulis, dan Ibu Enam Anak

Komunitas Muslim di Amerika Serikat mengenal Jamilah Kolocotronis sebagai seorang Muslimah dengan segudang aktivitas. Di tengah kesibukan mengurus enam putranya, Jamilah masih sempat mengajar paruh waktu.

Ia mengajar mata pelajaran ilmu-ilmu sosial di sebuah sekolah Islam sesuai dengan gelar master dan doktoral di bidang pendidikan ilmu sosial yang ia peroleh dari Ball State University.

Dalam memberikan materi pelajaran kepada para muridnya, Jamilah kerap menggunakan pendekatan secara Islam. Ketika peristiwa 11 September 2001 terjadi, Jamilah sedang mengajar dalam kelas. Sebagai seorang pendidik, ia pun memberikan penjelasan kepada murid-muridnya yang duduk di bangku sekolah menengah mengenai tragedi yang terjadi di New York.

Jamilah juga aktif dalam kegiatan menulis. Menjadi seorang penulis memang merupakan impiannya ketika ia memutuskan pensiun dari dunia pendidikan. Karena itu, ia selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk menulis.

Sejumlah novel sudah dia hasilkan, di antaranya Innocent People, Echoes, Rebounding, Turbulence, Ripples, dan Silence. Novel pertamanya, Innocent People, menceritakan kehidupan keluarga Muslim Amerika sesudah peristiwa 9/11. Seperti novel pertamanya, semua novel yang ditulis Jamilah bertemakan kehidupan Muslim Amerika dan tantangan-tantangan yang mereka hadapi.

Karya lain Jamilah yang sudah dipublikasikan adalah tulisan disertasi doktoralnya sebagai buku nonfiksi dengan judul Jihad Islam. Karya ini mengulas prinsip-prinsip dan praktik jihad militer. Ia pun rajin menulis puisi dan sejumlah catatan kecil di blog pribadinya.

Di samping hobi menulis, Jamilah juga menyukai dunia travelling. Ia pernah tinggal di enam negara berbeda dan sudah menjelajahi seluruh wilayah di Amerika Serikat.

Ia juga pernah mengunjungi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, terlebih karena suaminya berasal dari Thailand. Saat ini, Jamilah beserta keluarganya menetap di Lexington, Kentucky, Amerika Serikat.
 
Semoga orang yang SELALU MENCARI-CARI KESALAHAN ISLAM di balikkan HATINYA jadi MENCINTAI ISLAM,,,, Amin
 
Tina Styliandou - Yunani

Semoga orang yang SELALU MENCARI-CARI KESALAHAN ISLAM di balikkan HATINYA jadi MENCINTAI ISLAM,,,, Amin

Aminnnn ya rabb alamin..

-------------------
Tina Styliandou: Saya Dididik Untuk Membenci Islam​

1265oh1.jpg
Tina Styliandou, seorang perempuan Yunani yang sejak kecil hidup di lingkungan kelurga yang membenci Islam. Bahkan ia mendapatkan pendidikan yang memdoktrin orang untuk membenci Islam. Tapi hidayah Allah Swt menjauhkan hati Tina dari perasaan benci itu dan Tina malah menjadi seorang Muslim.

Menurut Tina, kebencian terhadap Muslim dalam lingkungan keluarganya berakar dari sejarah masa lalu. Ayah Tina dan keluarganya menghabiskan hampir sebagian besar hidupnya di Istanbul, Turki. Mereka adalah keluarga penganut Kristen Ortodoks, berpendidikan dan kaya. Seperti umumnya penganut Kristen Ortodoks yang tinggal di negeri-negeri Muslim, mereka sangat memegang teguh ajaran agamanya.

Situasinya berubah total ketika pemerintah Turki membuat kebijakan untuk mengusir penduduk Turki asal Yunani dan merampas seluruh harta benda, rumah dan bisnis mereka. Keluarga ayah Tina pun pulang ke Yunani dengan tangan kosong.

"Itulah yang dilakukan Muslim Turki terhadap orang-orang Yunani", peristiwa itu tertanam kuat di benak mereka dan menjadi pemicu kebencian terhadap Islam dan Muslim.

Pengalaman serupa yang juga menimbulkan kebencian terhadap Muslim di lingkungan keluarga ibu Tina. Pada masa itu, keluarga ibunya tinggal di sebuah wilayah di Yunani yang berbatasan dengan Turki. Lalu terjadi serangan yang dilakukan oleh pasukan Turki ke wilayah tersebut. Pasukan Turki, menurut cerita ibunya, membakar rumah-rumah warga Yunani dan mereka harus mengungsi untuk menyelamatkan diri. Sejak itulah tumbuh kebencian terhadap Muslim, khususnya Muslim Turki.

Turki memang pernah menduduki Yunani selama hampir 400 tahun. "Dan kami diajarkan untuk percaya bahwa Islam bertanggungjawab atas kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang Yunani. Orang-orang Turki adalah Muslim dan kejahatan mereka dianggap sebagai refleksi dari agama mereka," ujar Tina.

Tak heran, ketika marak karikatur dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad Saw beberapa waktu lalu, penghinaan dan pelecehan itu menjadi bagian dari mata pelajaran dan ujian di sekolah Tina. "Selama beratus-ratus tahun, buku sejarah dan agama kami mengajarkan untuk membenci dan mengolok-olok agama Islam," ungkap Tina.

Tina mengatakan,"Dalam buku-buku kami, Islami bukan agama dan Muhammad bukan nabi. Muhammad hanya seorang pemimpin yang sangat cerdas dan seorang politisi yang menggabungkan hukum dan aturan-aturan dalam keyakinan orang Yahudi dan Kristen, kemudian menambahkannya dengan ide-idenya sendiri dan menaklukkan dunia."

"Di sekolah, kami diajarkan untuk mengolok-olok Nabi Muhammad, para isteri dan sahabat-sahabatnya," sambung Tina.

Meski demikian, Tina menyatakan bahwa saat ini tidak orang Yunani yang masih mempercayai ajaran semacam itu. "Alhamdulillah, Allah melindungi hati saya. Banyak orang-orang Yunani lainnya yang berhasil melepaskan diri dari kepercayaan yang diwariskan agama Kristen Ortodoks, yang dibebankan pada pundak mereka. Dengan kehendak Allah, mata, hati dan telinga mereka telah terbuka untuk melihat bahwa Islam adalah agama yang benar yang diturunkan oleh Allah. Dan Muhammad adalah seorang Nabi, Nabi terakhir dari seluruh Nabi," papar Tina.

Tina bersyukur karena tidak sulit baginya untuk memeluk Islam, karena kedua orangtua Tina sendiri bukanlah penganut Kristen Ortodoks yang relijius. "Mereka jarang beribadah dan hanya ke gereka jika ada pemakaman atau acara pernikahan," kata Tina.

Ia menambahkan, "Ayah saya jauh dari agamanya, karena ia hampir setiap hari menyaksikan penyelewangan yang dilakukan para pendeta. Bagaimana mereka bisa ceramah soal Tuhan dan ketuhanan, jika pada saat yang sama mereka mencuri uang gereja untuk membeli villa, mobil Mercedes dan melakukan homokseksualitas di kalangan mereka?Ayah saya jadi muak dan memutuskan untuk jadi ateis."

Menurut Tina, dalam kekristenan, menjadi seorang pendeta adalah profesi yang menguntungkan. Para pendeta yang korup memicu anak-anak muda Kristen menjauh dari agama Kristen dan mereka mencari keyakinan yang lain. Termasuk Tina yang kala itu masih remaja.

Menjadi Seorang Muslim
Tina mengaku sejak remaja ia sudah merasa tidak puas dan tidak percaya lagi dengan ajaran Kristen. Tina percaya Tuhan itu ada, ia mencintai Tuhan dan takut pada Tuhan. Tapi ajaran Kristen membuatnya bingung. Tina pun mulai melakukan pencarian, tapi tidak pernah melirik agama Islam. "Mungkin karena latar belakang lingkungan saya yang membenci Islam," tukasnya.

Hidayah itu datang dari seorang lelaki Muslim yang kemudian menikah dengan Tina. Suaminya menjawab semua pertanyaan Tina tentang agama Islam tanpa merendahkan agama yang dipeluk Tina sejak lahir. "Suami saya juga tidak pernah menekan saya atau menyuruh saya pindah agama," aku Tina.

Tiga tahun menjalani pernikahan, Tina belajar banyak tentang Islam, membaca Al-Quran dan buku-buku agama. Wawasannya tentang ketuhanan mulai terbuka, bahwa tidak ada konsep trinitas dalam Islam dan bahwa Yesus bukan Tuhan. Muslim meyakini bahwa Tuhan itu satu dan Yesus adalah seorang Nabi. Keyakinan itu yang mendorong Tina mengucapkan dua kalimat syahadat untuk menjadi seorang Muslim.

"Selama bertahun-tahun saya merahasiakan keislaman saya dari orang tua, keluarga dan teman-teman saya. Saya dan suami tinggal di Yunani dan berusaha ibadah sesuai ajaran Islam meski sangat sulit karena dii tempat tinggal saya, tidak ada masjid dan tidak akses untuk belajar Islam. Ia juga tidak pernah menjumpai orang salat atau mengenakan jilbab, " tutur Tina.

Yang ada, kata Tina, hanya sejumlah imigran Muslim yang datang ke Yunani untuk mengembangkan bisnis. Tapi mereka sudah terpengaruh oleh budaya dan gaya hidup Barat dan tidak lagi menjalankan ajaran Islam.

"Saya dan suami melaksanakan salat dan puasa dengan mengandalkan kalender. Kami tidak pernah mendengar adzan di sini dan tidak ada komunitas Muslim yang bisa memberikan dukungan moril pada kami. Lama kelamaan, kami merasakan adanya penurunan dari sisi keimanan. Bisa dibayangkan, saya seorang mualaf tanpa dasar-dasar pengetahuan tentang Islam yang memadai," ujar Tina.

Oleh sebab itu, Tina dan suaminya memutuskan pindah ke salah satu negara Muslim ketika anak perempuannya lahir. "Kami ingin menyelamatkan puteri dan jiwa kami. Kami tidak ingin puteri kami hidup di lingkungan budaya Barat dimana ia harus berjuang untuk mempertahankan identitasnya sebagai Muslim atau bahkan identitasnya itu hilang sama sekali," papar Tina.
 
Assalammualaikum

saya hampir bisa menyimpulkan bahwa hampir semua mualaf adalah karena hidayah berupa ilmu...atau dengankata lain orang2 yang mau berfikir...subhanAllah.

Wassalam
 
Aaron Kohen - Pendeta Yahudi Turki

Pendeta Yahudi Turki Terkemuka Memeluk Islam

5uzgh.jpg

Tokoh ternama Yahudi Turki, Aaron Kohen memeluk Islam bersama istri dan anaknya. Komunitas Yahudi mengecamnya. “Saya tidak peduli akan reaksinya”, ujar Kohen.

Baru-baru ini Turki tengah mengalami sebuah sejarah besar dan fenomenal. Seorang pendeta Yahudi Turki terkemuka, Aaron Kohen, bersama keluarganya memutuskan diri mereka untuk memeluk agama Islam. Harian Turki berbahasa Arab, Akhbaralaalam (5/11) mengabarkan, Kohin (45) dan keluarganya mengikrarkan keislaman mereka di hadapan mufti Istanbul, Syaikh Bey Oglu, sejak sebulan silam. Namun, mereka baru mengumumkannya ke khalayak luas pada awal bulan ini.

“Saya sangat menghormati ketiga agama samawi. Agama Islam adalah agama yang memeluk semuanya. Asas inti ketiga agama hadir dalam Al-Quran,” ujar Kohen, sebagaimana dikutip Harian Hürriyet. (Did U know? Mustafa Kemal is Gay, Jewish & Freemason? )

Kohen juga mengatakan, bahwa ajaran dan syari'at agama Islam benar-benar memuat, melengkapi, dan menyempurnakan syari'at agama samawi sebelumnya, yaitu Yahudi dan Kristen. "Dalam kitab suci Al-Quran, sesungguhnya terkumpul ajaran-ajaran mulia agama-agama sebelumnya," tambah Kohin.

Terkait alasan mengapa Aaron Kohen memilih Islam, pendeta muda yang mengaku menghabiskan hampir 20 tahun di kehidupan sinagog Istanbul itu mengatakan, dirinya telah mengkaji secara mendalam antara akidah dan syari'ah Yahudi, Kristen, dan Islam.

"Dan saya memutuskan untuk memeluk Islam karena saya dan keluarga saya ingin mendapatkan kebahagiaan hidup sejati," tegasnya.

Kohen memeluk Islam bersama istrinya, Filori dan anaknya. Sikapnya berganti agama sempat mengundang kecaman. Bahkan untuk menebus keislamannya, Kohen harus menghadapi beberapa tantangan dari komunitas Yahudi nya terdulu.

"Saya banyak menerima kritik dan kecaman dari saudra-saudara Yahudi saya," ujar Kohen. “Saya tidak peduli akan reaksinya. “Kedamaian dalam hati saya jauh lebih penting bagi saya,” tambahnya.

Turki tercatat sebagai negara Muslim yang memiliki sejarah gemilang terkait hidup berdampingan dengan umat Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi mengalami pengusiran di Spanyol (abad ke-16 M), dan negara-negara Eropa menolak untuk menerima mereka, justru kekaiasran Islam Turki-Utsmani-lah yang dengan sukarela membukakan pintu untuk menolong mereka.

Hingga saat ini, populasi umat Yahudi di Turki terbilang signifikan. Di Istanbul saja, terdapat sekitar 200.000 pemeluk agama Yahudi. Yahudi Turki, sebagaimana yahudi-Yahudi yang hidup di negara-negara Muslim lainnya, disebut juga sebagai "Yahudi Timur".
 
Benar² luar biasa hidayah yang diperoleh Rabi diatas. /ok

Memang kalau dipelajari dengan benar, akan diketahui bahwa Islam sesungguhnya merupakan penyempurna dari agama² samawi terdahulu. Yang dibawa oleh Nabi Daud AS. dengan Tauratnya dan Nabi Isa A.S. dengan Injilnya.

Subhanallah ....
 
Assalammualaikum

terkadang saya berpikir seorang yahudi tidak mungkin masuk islam dan mungkin keislamannya tidaklah asli...semua kecurigaan itu berdasarkan pada kisah parasahabat Rasullulah SAW.....semoga keislaman Rabi yg satu ini adalah benar....bukan krn konspirasi....

Wassalam
 
Aminah Assilmi - pembaptis (Oklahoma, USA)

Dari Baptis Menjadi Syahadah​

aminah_zoom_wince.jpg

Aminah Assilmi Saat menjadi pembaptis dari Oklahoma wanita ini mempelajari Islam untuk mengajak teman sekampusnya memeluk Kristen. Tapi yang terjadi kemudian sungguh jauh dari dugaan.


Namanya Aminah Assilmi. Saat kuliah dia mengambil program studi pariwisata di sebuah perguruan tinggi di Amerika. Pertama kali dia bertemu orang Islam saat kuliah, tepatnya pada tahun pertama memasuki dunia akademik perkuliahan.

Saat perkuliahan berlangsung, Aminah biasanya duduk di barisan terdepan. Dia selalu mencatat dan mengingat penjelasan para dosen. Dia adalah peraih beberapa penghargaan di kampusnya, sebuah prestasi yang membuat namanya mudah diingat orang.

Aminah bukan orang yang mudah bergaul. Agak sulit baginya untuk memulai pembicaraan, terlebih menjadi pemecah keheningan. Aminah mau berbicara jika terpaksa.

Hanya kepada satu golongan saja dia sungguh merasa nyaman, dan mudah berinteraksi. “Anak-anak adalah sekumpulan orang yang membuat saya nyaman,” terangnya.

Kalau sudah bersama mereka, senyuman perempuan ini terlihat bagai bunga merekah di musim semi. Senyuman itu muncul bukan karena kesenangan materi, tapi karena sebuah kebahagiaan bercengkerama sekaligus mendidik makhluk Tuhan yang masih suci dari dosa pengotor hati.

Mungkin menjadi beban pikirannya juga jika selama ini dia sulit bergaul dengan teman-temannya. Entah dia merencanakan untuk menghilangkan kelemahannya itu atau tidak, yang jelas dia terpilih mengikuti drama teaterikal.

Tak sanggup rasanya meneruskan kegiatan ini. Bayangkan, berhadapan dengan sedikit orang saja Aminah sulit memulai pembicaraan, apalagi ketika berhadapan dengan ratusan atau ribuan orang yang menonton pentasnya.

“Sangat mengerikan,” kesannya, “di hadapan kelas saja saya tidak berani bertanya bagaimana caranya pergi ke panggung berhadapan dengan orang banyak?”

Sesampainya di rumah, dia keluhkan masalah itu kepada suaminya. Berdasarkan saran suaminya, Aminah perlu menjelaskan kepada gurunya tentang kekurangannya itu, dan mengganti kegiatan drama teaterikal dengan seni lukis.

Kali ini Aminah berani berhadapan dengan gurunya. Dan berhasil. Permintaan Aminah diterima. Hari berikutnya dia masuk kelas seni lukis dengan penuh bahagia. Tidak ada lagi yang menonton, yang melihat wajah Aminah hanya koas, kertas, atupun kain kanvas untuk melukis.

Ketika membuka pintu kelas perasaan gamang mulai menghantui pikirannya. Pada mulanya dia mengira pengikut kelas seni lukis adalah orang-orang sebangsanya, orang Amerika, atau kulit putih pada umumnya. Ternyata bukan. Kelas itu penuh dengan orang Arab Muslim. Aminah menganggap mereka “penunggang onta”

Dalam pikiran Aminah, orang-orang Muslim tidak bisa dipercaya. Mereka dianggap penipu dan selalu dibenci. Keinginan untuk melangkah masuk dia tahan. Pintu kelas ditutupnya dan kembali pulang. “Bagaimana bisa saya berkumpul dengan penyakit membahayakan, bisa tertular juga di kemudian hari,” ungkapnya mengenang isi hatinya saat itu.

Kembali dia melapor tentang kejadian itu kepada suaminya. Aminah bisa saja memutuskan langsung apa yang hendak dia perbuat kemudian, tetapi harus dipikirkan dulu, barangkali Tuhan punya maksud tertentu, begitu suaminya memberi saran.

Di samping itu, dia juga tidak mau menyia-nyiakan beasiswanya. Kalau disia-siakan, huruf F, abjad yang menggambarkan nilai terendah mahasiswa, akan merenggut beasiswanya.

Suatu ketika dia paksa dirinya masuk kelas. Dia masuk dan mengikuti kegiatan kelas. Di saat pengajar tidak ada dia berdiri di depan kelas, menjelaskan betapa cintanya Yesus kepada semua manusia. “Saking besar cintanya, dia korbankan dirinya untuk menebus dosa-dosa kalian semua,” ungkapnya. Yang harus dilakukan manusia kini hanyalah mengakui keyakinan itu di dalam lubuk hatinya.

Para pelajar Islam itu diam saja. Dengan penuh sopan – tanpa tindakan anarkhis sedikit pun – mereka menolak ajakan Aminah.

Tidak putus asa, kali lain Aminah mencoba membenarkan ajaran Yesus dengan meminjam argumentasi-argumentasi Islam. Dia pelajari al-Qur’an. Dia baca 15 buku Islam, salah satunya sahih Bukhari. Tanpa dia sadari, mempelajari ajaran Islam mengubah kesehariannya. Biasanya setiap Jumat dan Sabtu selalu pergi ke bar, atau ke sebuah pesta, bersama suami. Setelah mempelajari Islam tidak lagi. “Sedikit berubah memang, tapi cukup mengganggu suami saya,” ungkapnya.

Kepribadiannya pun ikut berubah. Aminah terlihat lebih sering tutup mulut dan menjaga jarak, tidak seperti biasanya. Karena merasa terganggu, sang suami meninggalkannya. Aminah pindah ke sebuah apartemen bersama anak-anaknya.

Di apartemen baru itu – suatu ketika – seseorang mengetuk pintu. Apartemen Aminah kedatangan seorang Muslim. Tamu itu bernama Abdul Aziz al-Syaikh. Sabar orangnya. Dalam berdiskusi tidak pernah menjatuhkan lawan bicara. Sang tamu bertanya apakah Aminah mempercayai keesaan Tuhan, dan mengakui kenabian Muhammad. Kedua jawabannya adalah iya.

“Selamat, Anda sudah menjadi seorang Muslim,” ungkap tamu itu. Aminah membantah. “Saya tidak ingin menjadi Muslim. Saya ini orang Kristen,” ungkapnya.

Terbayang dalam hati, dirinya tidak bisa menjadi Muslim. “Apa kata suamiku nanti jika aku Muslim. Bisa-bisa cerai nanti, dan keluargaku bisa mati,” keluhnya jika benar dia sudah menjadi Muslim.

Atas kekhawatiran Aminah, Abdul Aziz menjelaskan, untuk memahami pengetahuan, dan menggapai hirarki spiritual, seseorang itu ibarat menaiki tangga. Satu per satu anak tangga dipijak. Jika satu anak tangga saja diabaikan, maka berpotensi jatuh. Dan Syahadah adalah anak tangga pertama yang harus dipijak.

Pada bulan Mei 1977 – tanggal 21 tepatnya – Aminah mengucap Syahadah, memalingkan keyakinannya dari Kristen ke Islam. Masih ada keraguan yang dia terima. Meski bersyahadah, dia tidak mau memakai jilbab.

Memang benar, syahadah adalah pondasi awal yang kuat bagi bangunan pengetahuan spiritual, menjadi pintu awal menuju ridha Ilahi. Dan rasanya, semenjak mengucapkan syahadah, terbuka peluang Aminah menggapai keduanya.

Semenjak itu, Abdul Aziz sering datang ke rumahnya untuk berdialog. Kepada Aminah dia menjelaskan, ”Bertanya adalah salah satu cara menggapai pengetahuan.”

Semakin sering dia mempelajari Islam semakin dalam ilmu yang didapat. Aminah memutuskan untuk mengenakan jilbab. “Sudah lupa saya kapan pertama kali berjilbab,” ungkapnya, “itu saya lakukan begitu saja.”

Setelah sekian lama mempelajari Islam dia berkesan, pada mulanya tidak bermaksud menemukan apapun yang dia inginkan untuk hidupnya sekarang ini. “Kini aku menyadari Islam mengubah kehidupanku,” jelasnya, “dan tidak seorang pun meyakinkanku mencapai kedamaian, cinta, dan kesenangan karena Islam.

Berat terasa. Kehidupannya hanya sebatang kara, tinggal di lautan manusia tapi dianggap seperti bukan manusia. Aminah yang kini berjilbab dipandang sebagai makhluk teraneh di dunia. Dia bercerai dari suaminya. Anak-anaknya diasuh oleh suaminya, begitu pengadilan memutuskan, karena agama Aminah dianggap ancaman bagi perkembangan psikologi anak.

Hati Aminah sungguh terluka. Pikirannya terus merekam perpisahan dengan anak-anaknya, buah hati yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa. Setelah buah hatinya pergi seluruh keluarganya ikut meninggalkan Aminah. Teman-temannya pun menghilang. Pekerjaan pun sirna.

Di tengah kesedihan itu, hanya seorang saja yang mau menemaninya. Hanya neneknya saja yang mau menampung. Dan ikut menjadi Muslim. Sayang tidak lama kemudian dia meninggal.

Dalam kesehariannya, Aminah selalu mempelajari Islam. Banyak perubahan terjadi di kemudian hari, dari sosok yang alergi tampil di depan publik menjadi seorang orator. Dia berceramah dari satu seminar ke seminar lainnya.

Beberapa tahun kemudian kesendiriannya mulai terobati. Sang Ibu yang menolaknya kini memanggilnya kembali, dan menyatakan ingin menjadi Muslim.

“Apa yang harus aku lakukan,” tanya sang ibu. Aminah dengan rendah hati menjawab, hanya dengan mengakui keesaan Tuhan dan mengakui Muhammad sebagai nabi.

“Itu saja?” ungkap sang ibu terkesima, betapa mudahnya menjadi seorang Muslim, “semua orang pun bisa mengetahui itu.” semenjak itu sang ibu memeluk Islam. “Tapi jangan kasih tahu ayahmu dulu ya,” pesannya.

Tidak lama kemudian diketahui, sang ayah rupanya sudah lebih dulu memeluk Islam. saudaranya juga demikian. Sang suami yang dulu menceraikannya juga ikut menjadi Muslim.

Sebuah pertemuan dengan sang suami terjadi. Di hadapan Aminah, sang suami meminta maaf atas kesalahannya. “Aku sudah memaafkanmu sejak dulu,” ungkap Aminah.

Kini Aminah tidak lagi sebatang kara. Keluarganya kini kembali dengan utuh. Anak pertamanya, Whittney, menyusul menjadi Muslim.

Bertahun-tahun berdakwah tanpa putus asa. Bukan tanpa hasil, di dunia saja dia sudah merasakan, betapa bahagianya kembali berkumpul bersama keluarga. Begitulah Aminah berjuang. Tiada yang dia yakini kecuali Islam, agama yang baginya patut dibela, dan diperjuangkan.
 
Arcadi Yamortsov - Pelukis (Rusia)

Memeluk Islam, Pelukis Rusia Ekspresikan Keimanannya Lewat Lukisan

lukisan_thumb.JPG

Seorang pelukis kenamaan Rusia, Arcadi Yamortsov, dikabarkan telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam. Pilihan Yamortsov atas Islam jatuh setelah melalui pengembaraan dan pencarian hakikat keimanan yang teramat panjang.

Televisi Rusia berbahasa Arab Rusiya al-Yaum (22/3) mengabarkan, Yamortsov (60) melabuhkan hidupnya pada dermaga Islam setelah bertahun-tahun ia tenggelam dalam penelaahan panjang tentang tiga agama samawi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.

Sejak masa kuliah, Yamortsov sangat gandrung dengan kajian agama-agama. Ia pun banyak membaca buku-buku perbandingan agama. Iklim Uni Sovyet yang komunis menjadikannya berada pada posisi yang kosong di hadapan semua agama.

Di usianya yang ke-48, Yamortsov mulai berkenalan lebih jauh dengan Islam. Di samping mengetahui Islam dari buku-buku yang dibacanya, Yamortsov juga mengenal agama pungkasan itu dari orang-orang Tatar-Rusia yang mayoritas Muslim.

Saat bekerja di Ukrania, Yamortsov banyak memiliki kawan kerja orang-orang Tatar itu. Hubungan sehari-hari dengan mereka menjadikan Yamortsov mengetahui lebih jauh tentang Islam.

Hingga akhirnya, Yamortsov memutuskan untuk memeluk agama Islam di usia enam puluhannya. Ia pun mengganti namanya dengan Hasan Yamortsov.

Meski telah menjadi seoran Muslim yang taat, namun pamor Hasan Yamortsov dalam dunia seni lukis tetap bersinar terang. Ia kini banyak melukis lukisan-lukisan keislaman, semisal ka’bah, ayat-ayat Al-Qur’an, masjid, dan lain-lain.

Yamortsov adalah putra pelukis kenamaan Rusia di masa Sovyet, yaitu Carilia Boris Yamorstsov.
 
Sebenarnya di negeri lain banyak bgt orang non muslim yang dalam mempelajari agama Islam melebihi orang muslim asli sendiri, namun kebanyakan dari itu masih banyak sekali dari mereka bimbang mengambil keputusan untuk meyakini atau menjadi mualaf setelah mereka mengetahui kebenaran tentang islam yang mereka pelajari tersebut. Semoga saja mereka semua di berikan Hidayah dari Allah Swt supaya mereka bisa memeluk agama Islam..

Nice post..
 
Assalammualaikum

hanya menambah kan doa dari mas aland spoor.....dan semoga mereka tetap menjaga aqidah Islam..meski mereka baru.........sebab kebanyakan mereka tidak begitu menggubrisnya...dengan alasan "baru masuk"...................Assalam yaa.... mUalaf.....

Wassalam
 
http://www.dakwatuna.com/2008/jirri-tudur-syuhada-bumi-yarmuk/

dakwatuna.com - “Gergorius sudah mati. Aku yang menikamnya karena Gergorius yang malang telah membelot menjadi seorang muslim,” perasaan gundah menyelimuti Margiteus yang tengah mengusap-usap pedang panjangnya yang berukiran matahari dengan 12 jilatan api itu.

“Hah, mustahil mana mungkin terjadi, dia seorang Kristiani yang taat.” Argenta menatap tajam Margiteus

“Ya aku cuma bisa kesal, bingung dan sedih kenapa seorang panglima perang Romawi yang ulung harus mati di ujung mata pedangku.” Sesal Margiteus sambil membersihkan sisa darah di pedangnya.

Debu-debu beterbangan, menggumpal di atas bumi Yarmuk. Suara teriakan riuh jelas terdengar seiring rengekan suara onta dan kuda. Nyaring dan ngeri.

Saat itu, pasukan Islam tengah bertempur sengit di Yarmuk –wilayah perbatasan dengan Syria. Pasukan Islam bermarkas di bukit-bukit yang menjadi benteng alam, sedangkan Romawi terpaksa menempati lembah di hadapannya. Dengan jumlah tak kurang dari 240 ribu pasukan romawi, mereka kewalahan menghadapi pasukan muslimin yang hanya berjumlah 39 ribu orang saja. Puluhan ribu pasukan Romawi –baik yang berasal dari Arab Syria maupun yang didatangkan dari Yunani– tewas. Lalu terjadilah pertistiwa mengesankan itu.

Kondisi ini jelas tidak menguntungkan pasukan Romawi walaupun sebenarnya kehebatan pasukan Islam membuat kagum para panglima Romawi dan komandan pasukannya. Termasuk Gregorius Theodorus –orang-orang Arab menyebutnya “Jirri Tudur”– ingin menghindari jatuhnya banyak korban. Maka saat masuk waktu istirahat Gregorius mendatangi Khalid untuk perang tanding. Dia menantang Khalid untuk berduel satu lawan satu. Sekilas tawaran ini dapat mengurangi jatuh korban, namun bisa saja menjadi taktik sekaligus sebagai ‘psy war’ dalam sebuah pertempuran yang malah dapat menganulir kemenangan kaum muslimin.

Theodorus adalah seorang panglima pilihan yang mempunyai hubungan erat dengan pembesar Bani Ghassan, sebuah kerajaan satelit Romawi di Syam (Syiria), oleh karena itu ia fasih berbahasa Arab. Khalid bin Walid tidak melewatkan tantangan itu, dan dengan serta merta menerimanya dengan sikap ksatria.

Dengan disaksikan oleh kedua kubu pasukan yang berseteru dari kejauhan dan di tengah-tengah benturan pedang kedua panglima tersebut. Dalam duel maut itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Luar biasa, rasa ta’jub begitu saja muncul di benak Gregorius, betapa tidak! Tombak bergagang baja itu rontok oleh sabetan pedang Khalid, padahal sepanjang pertempuran yang dipimpinnya tombak itu menjadi tumpuan pertahanan dirinya. Kepiawaian Khalid memainkan pedangkah? Tenaganya yang kuatkah? Atau memang benar pedangnya diturunkan dari langit? Rasa penasaran panglima Romawi ini makin menjadi-jadi. Dia seperti baru menemukan lawan tanding yang setimpal.

Dengan cepat dia ganti mengambil pedang besarnya. Kali yang kedua Gregorius berdecak kagum pasalnya dia merasa Khalid memberinya kesempatan untuk berancang-ancang karena dalam benak dia petarung sekaliber Khalid pastinya akan segera menyudahi duel itu disaat musuhnya lengah. Tetapi ternyata Khalid tidak melibas habis lawannya padahal kesempatan itu ada. Sikap patriot sejati tidak selamanya tercermin dari kegarangan menebas batang leher musuh. Ada kalanya kelembutan mengukir bukti atas sikap ksatria.

Akhirnya kedua paglima itu saling mendekat sampai-sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu. Saat itulah panglima Gregorius menyempatkan diri berdialog dengan Khalid:

“Ya Khalid, coba katakan dengan sebenar-benarnya dan jangan bohongi saya. Apakah benar Allah telah turun kepada Nabi anda dengan membawa pedang dari langit, lalu menyerahkannya kepada anda, sehingga anda memperoleh julukan “Pedang Allah”? Saya tahu setiap anda mencabut pedang itu, maka tidak ada lawan yang tidak tunduk!”

“Semua itu tidak benar!” tukas Khalid dengan singkat seraya tetap mempermainkan pedangnya untuk menangkis serangan pedang panglima Gregorius.

“Lantas mengapa anda dijuluki Pedang Allah?” tanya Gregorius lagi. Dan bagaikan tumbuh saling pengertian, keduanya kemudian menghentikan ayunan pedang. Keduanya tegak berhadapan di tengah laga, masih tetap bersiaga, dan meneruskan dialog.

“Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia mengutus seorang Nabi kepada kami. Semula kami menentangnya dan memusuhinya. Sebagian dari kami beriman dan mengikutinya. Saya termasuk pihak yang mendustainya dan memusuhinya, tetapi kemudian Allah menurunkan hidayah ke dalam hatiku. Sayapun beriman dan menjadi pengikutnya. Rasulullah SAW berkata kepadaku: ‘Ya Khalid, engkau adalah sebuah pedang di antara sekian banyak pedang Allah yang terhunus untuk menghadapi kaum musyrikin!’ Ia mendoakan saya supaya tetap menang. Sebab itulah aku dijuluki ‘Pedang Allah’ …” Khalid menuturkan apa adanya.

“Saya menerima keterangan anda itu dan tidak lagi percaya dengan segala legenda tentang diri anda,” ujar Gregorius yang kemudian meneruskan pertanyaannya.

“Di dalam tugas dakwah anda, apa sajakah yang anda sampaikan?”

“Mengakui bahwa tiada yang patut disembah selain Allah, dan mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah, dan berikrar dalam hati bahwa ajarannya itu datang dari Allah.”

“Jika seseorang tidak bersedia menerimanya?”

“Membayar jizyah, mengakui kepemimpinan Islam, dan setelah itu kami berkewajiban menjamin hak miliknya, jiwanya dan juga kepercayaan, keyakinan, agama yang dianutnya!”

“Jika ia tetap tidak mau menerimanya?”

“Pilihan akhir adalah perang, dan kami siap untuk itu!” jawab Khalid singkat-singkat, jelas dan tegas. Sementara di kedua kubu pasukan yang masih bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi di dalam perang tanding itu, panglima Gregorius meneruskan lagi dialognya,

“Bagaimanakah kedudukan seseorang yang menerima Islam pada pilihan pertama pada hari ini?”

“Kedudukan dan derajat bagi kami hanya satu di antara dua, yaitu apa yang ditetapkan oleh Allah. Mulia atau hina. Tak peduli ia menerima Islam lebih dulu atau belakangan!”

“Jadi, orang yang menerima Islam pada hari ini, ya Khalid, apakah sama kedudukannya dengan yang lain dalam segala hal?”

“Ya, Anda benar!”

“Mengapa bisa sama ya Khalid? Padahal anda sudah lebih dulu Islam dari padanya?”

“Kami memeluk Islam dan mengikat bai’at dengan Rasul Muhammad SAW. Ia hidup bersama kami, dan kami menyaksikan kebesaran dan mu’jizat-mu’jizatnya, hingga beliau wafat. Sedangkan orang yang menerima Islam pada hari ini, tidak pernah berjumpa dengan beliau dan tidak pernah menyaksikan semua itu. Jika orang itu menerima Islam dan menerima kerasulan Muhammad dan pembenarannya itu jujur serta ikhlas, maka sesungguhnya ia jauh lebih mulia dari pada kami!”

“Ya Khalid, keterangan anda sangat benar! Anda tidak menipu, tidak berlebih-lebihan dan tidak membujuk. Demi Allah, saya menerima Islam pada pilihan pertama!”

Seraya menuntaskan dialognya, panglima Gregorius melemparkan perisainya dan menyarungkan pedangnya. Ia bersama Khalid kemudian berjalan beriring menuju kubu perkemahan pasukan muslimin. Pasukan Romawi terkejut, mereka menyangka Gregorius telah ditaklukkan dan ditawan oleh Panglima Islam yang masyhur itu, yang kehidupannya nyaris menjadi sebuah legenda. Mereka panik, dan serunai perang pun ditiup guna mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam.

Sementara itu, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius menyatakan diri masuk Islam. Panglima Gregorius bersyahadat dan minta pengajaran Islam di dalam kemah kaum muslimin. Setelah itu ia minta disediakan air bersih untuk berwudhu. Untuk pertama kalinya ia melaksanakan sendi ajaran Islam yang kedua, shalat dua rakaat!

Setelah selesai mengerjakan shalat, maka Khalid bin Walid bersama dengan Gregorius Teodorus dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar dengan isyarat saja.

Subhanallah! Khalid bin Walid menundukkan Gregorius bukan dengan ketajaman pedangnya, tapi dengan kejujuran dan sikap sportifitasnya. Hal ini sebenarnya pernah berlaku pada diri Khalid sendiri. Khalid adalah lakon penting dibalik ambruknya kaum muslimin di perang Uhud. Berikutnya, bukan hunusan senjata yang membuatnya bertekuk lutut, kelembutan dakwah yang menjadikannya mukmin sejati. Dialah pedang Allah (Saifullah) yang menyiarkan Islam hingga membuka mata dunia. Alhasil, Rasulullah saw tidak membutuhkan kilatan pedang untuk menundukkan orang yang ganas. Cukup menyiraminya dengan kasih sayang. Dan pesona kelembutan sanggup melelehkan hati yang membatu sekalipun.

Sementara di luar kemah, pertempuran mulai berkecamuk. Kedua pihak mengerahkan kekuatan manusia, senjata dan strateginya. Di tengah-tengah sengitnya suara denting pedang dan raungan nafas yang terputus, tiba-tiba majulah dua orang panglima pasukan muslimin. Keduanya berdampingan dan saling bahu membahu. Mereka adalah Khalid bin Walid dan Panglima Gregorius Teodorus yang telah bersyahadat.

Pertempuran berlangsung selama dua hari. Medan laga telah bersimbah darah. Pekikan takbir dan kobaran semangat sambung menyambung tak putus-putusnya, seiring dengan tumbangnya tubuh-tubuh tak bernyawa ke permukaan bumi. Pasukan Romawi pada hari itu merasakan pedihnya sebuah kekalahan. Tentaranya kocar-kacir dan meninggalkan 50.000 jasad pasukan mereka yang bergelimpangan di medan laga. Di tengah rasa syukur kemenangan, kaum muslimin juga harus membayar mahal dengan merelakan 3000 orang syahidnya.

Pasukan Romawi mengalami kekalahan telak di tangan kaum muslimin. Mereka kehilangan 50.000 tentaranya. Pasukan Romawi kocar kacir, mereka mencari perlindungan di Damascus, Antokiah dan Caesarea serta ada juga yang turut serta dengan Kaisar Heraklius ke Constantinople. Pertempuran sehari itu meninggalkan cacatan hitam dalam sejarah perang Romawi yang sukar dipadamkan dalam sejarah. Mereka kalah telak dari pejuang yang kecil bilangannya dengan peralatan perang yang jauh ketinggalan dibanding mereka.

Dalam pertempuran itu, Gregorius yang telah bergabung dengan barisan kaum Muslimin itu terbunuh, dan dia hanya baru mengerjakan shalat dua rakaat bersama dengan Khalid bin Walid. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya.

Di sebuah lembah berbatu, panglima Khalid bin Walid tertunduk sedih, haru dan sekaligus bangga. Di hadapannya terbujur jasad asy-syahid Gregorius Teodorus dengan puluhan luka di sekujur tubuhnya. Gregorius syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Namun pasukan Islam mencatat kemenangan besar di Yarmuk, meskipun sejumlah sahabat meninggal di sana. Di antaranya adalah Juwariah, putri Abu Sofyan.

Gregorius telah syahid. Panggilan fitrah telah membimbingnya kepada Islam. Kepada iman yang benar. Gregorius tak membutuhkan diskusi yang bertele-tele dan melelahkan untuk menerima Islam. Keberanian, kejujuran, sportifitasnya dan kehebatan strategi perang Khalid telah membawanya kepada pintu gerbang hidayah Islam.

Mantan panglima Romawi ini menjadi saksi atas agama mulia ini yang akan berkembang pesat justru berkat perilaku santun pemeluknya yang lekas menarik simpati berupa untaian indah akhlak dan kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Terbukti bahkan dalam peperangan, etika sosial sangat dijaga. Harkat kemanusiaan tetap terpelihara dalam bingkai kasih sayang. Tidak merusak fasilitas umum, tidak menggangu wanita, orang tua dan anak-anak, dilarangnya menebang tanaman, tidak membunuh lawan yang sudah menyerah dan berbagai perilaku indah lainnya, sehingga musuh pun terpikat seraya berseru, “Betapa indah ajaran ini!”

Dan tentunya keindahan persaudaraan dalam Islam dirasakannya seperti ikan yang mendapatkan airnya kembali. Begitupun pertemanannya dengan Khalid walau terbilang singkat tapi dirasakannya begitu akrab.

Sejarah mencatat bahwa Gregorius Teodorus adalah seorang muslim yang sepanjang hayatnya dapat merasakan manisnya iman dan jihad sekaligus yaitu saat detik-detik dua kalimat syahadat diikrarkan. Dan seperti mendapat pasokan energi yang besar, Gregorius langsung berbalik memerangi pasukannya sendiri dengan semangat jihad.
http://www.dakwatuna.com/2008/jirri-tudur-syuhada-bumi-yarmuk/
 
Assalammualakum

cerita yang bagus.......salud sama Khalid bin Walid RadiyAllahuanhu.......serta mualaf yang syahid.......

Sekalian saya mau nambah ini cerita....

Pakar Psikoterapi Atheis Terkenal India Masuk Islam

Seorang ahli psikoterapi terkenal India menyatakan dirinya masuk Islam pada hari Kamis lalu.

Dr. Periyadarshan yang merupakan ahli psikoterapi dan seorang atheis, setelah memeluk agama Islam, ia mengganti namanya menjadi Abdullah, seperti dilaporkan Arab News pada hari Jumat.

Dr. Abdullah mengatakan dalam salah satu pernyataannya bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama di dunia yang mengikuti kitab suci yang langsung diwahyukan dari Allah SWT.

Dia mengatakan bahwa sebagai orang yang mempelajari perbandingan agama, ia meyakini bahwa kitab-kitab suci dari agama lain tidak secara langsung di wahyukan Allah kepada manusia. Dia menambahkan bahwa hanya Al-Quran lah kitab suci yang masih dalam format yang sama seperti yang di wahyukan kepada nabi Muhammad SAW dari Allah SWT.

Dr. Abdullah adalah seorang dosen tamu di Universitas California Los Angeles. Dia juga sempat bermain dalam film Tamil terkenal berjudul "Karuthamma", sebuah film yang berkisah tentang peristiwa pembunuhan bayi perempuan yang baru lahir yang banyak terjadi di beberapa desa-desa terpencil di India.

"Saya terkenal di India sebagai seseorang yang berteologi Atheis dan saya kemudian menjadi sadar bahwa hanya agamalah satu-satunya jalan keluar bagi umat manusia baik di dunia maupun di akhirat," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dr. Abdullah direncanakan Sabtu kemarin (13/3) akan melaksanakan ibadah umroh pertamanya ke kota-kota suci Makkah dan Madinah. (fq/iina)Sorce Era Muslim.......dan semoga trit ini terus up to date...amin

Wassalam
 
Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai !

Namanya Ibrahim, berumur kira-kira 4 tahun. Lahir dari pasangan muslim Pakistan dan muslimah Jepang. Jika ditanya cita-cita "Kalau sudah besar mau jadi apa?" Jawaban tegasnya selalu membuat bulu tangan berdiri. "Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai ! (Kalau sudah besar pengen jadi Imam di Masjidil Haram!). " Di usianya yang masih belia, Ibrahim hapal hampir seluruh juz ke-30 Al-Quran. Sebuah prestasi yang menggembirakan bagi seorang anak yang dididik dalam lingkungan negeri yang tidak mengenal agama seperti Jepang.
Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir daripasangan muslim Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya akan polos terdengar. "Okikunattara suika ni naritai (Kalau sudah besar ingin jadi buah semangka)" Jawaban khas anak kecil yang mungkin akan membuat orang dewasa tersenyum geli. Namun tidak begitu jika ditanya "Ismail orang mana?" Sosok kecilnya akan tegas menjawab "Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang Islam). " Sosok kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di dunia, yang ia tahu hanyalah kebangaan menjadi orang Islam – seorang anak muslim yang lahir di negeri sakura.

Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha, Nurjanah, Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhahserta beberapa jundi cilik lainnya yang tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir dari pasangan campuran muslim asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti anak-anak muslim di Indonesia, mungkin mereka jarang sekali mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering berkumpul dengan sesama anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak tentang Islam serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.

Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka begitu giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw sejak masih dalam buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara khusus, saya memiliki kesempatan bertemu dengan para jundi ini di sebuah masjid di sekitar kawasan Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh sepertinya tidak menjadi halangan. Semata semua dilakukan untuk menambah 'charge' ruhaninya tentang Islam.

Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap memiliki semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan cerita shirah nabawi ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika diajarkan huruf hijaiyah dengan permainan kotak dadu, serta kadang terbata-bata berusaha menghapalkan setiap untaian ayat, surat-surat ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di antara kelincahannya sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat sosok mungilnya yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu melompat pada beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.

Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di Uhud. Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan membawa bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki hapalan Qur`an yang baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari cilik tercepat hingga dapat menahan para perampok unta-unta Rasulullah saw dengan teknik berlarinya. Aisyah binti As-Shiddiq gadis cilik cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an, hadits, ataupun syair. Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan izzah sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman dengan kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang lebih besar daripada badanya.

Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita kehebatan para pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para jundi negeri sakura belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Namun tak berlebihan jika para orang tua termasuk saya, memiliki harapan yang sama. Bahwa para jundi cilik tersebut suatu saat akan menjadi pahlawan pembela Islam di negeri sakura. Dalam jiwa kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang muslim. Dapat gagah berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang melawan kezaliman berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan sekuler yang siap menghancurkan mutiara imannya.

Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh menjadi generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Mereka akan menjadipenegak panji Allah swt. Yang selalu bangga mengatakan "Saya adalah muslim. " Yang dapat meluaskan syiar Islam hingga semakin menyebar dan kokoh tegak di bumi sakura. Insya Allah.
 
Mantab bener kang ... hatur tenkiu ka sadayana...

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya..
 
Wah, nice post kk qmmu..

Dan saya harap di Indonesia akan banyak lahir anak2 muslim seperti para jundi di negeri sakura dan bisa membawa nama baik Islam di mata dunia...
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.