roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
DI balik sejumlah hasil jajak pendapat yang ada atau daftar keunggulan salah satu calon presiden AS, ternyata jawaban dari pertanyaan di atas tadi tetap sulit untuk dijawab. Terutama apabila pertanyaan ini diajukan kepada seorang diplomat AS yang notabene harus tunduk pada pemerintah yang berkuasa.
"Hasil jajak pendapat memang dapat digunakan sebagai indikator, tetapi itu bukan berarti dapat dijadikan sebagai acuan mutlak. Sebagai contoh, pluraritas yang terbentuk di kalangan pemilih AS setidaknya menentukan kepentingan yang berbeda," kata Atase Pers Kedutaan AS, Tristram Perry saat menerima Kompas.com di kantornya di Jakarta akhir pekan lalu.
"Ada yang harus diingat bahwa 1 dari 8 orang AS tidak dilahirkan di AS. Para imigran ini tentu mempunyai kepentingan yang berbeda dalam pemilu," jelas Perry yang mengaku harus bersikap netral sebagai anggota diplomat.
"Sebagai diplomat karir, saya harus mendukung siapapun yang terpilih nantinya, entah itu Barack Obama atau John McCain. Karena siapapun presiden AS yang terpilih nantinya berasal dari suara mayoritas rakyat AS."
Menurut Perry, tujuan pemilihan umum AS adalah memenangkan suara mayoritas di Electoral College. Electoral College, yang diberi mandat oleh Konstitusi AS pada 1787, mengalokasikan pemilih (elector) dengan jumlah tertentu untuk masing-masing negara bagian.
Jumlah elector ini sama dengan jumlah senator dan anggota Kongres yang dimiliki setiap negara bagian. Negara-negara bagian yang berpenduduk padat memiliki lebih banyak elector daripada negara-negara bagian yang jarang penduduknya. Perry menerangkan, pada tahun ini, jumlah total suara electoral adalah 538.270 suara yang dinilai mayoritas dibutuhkan untuk memenangkan kursi presiden AS.
Di hampir semua negara bagian, memenangkan suara mayoritas publik berarti memenangkan 100 persen suara electoral. Sebagai contoh, bila seorang kandidat memenangkan suara mayoritas publik di Ohio dengan selisih yang amat kecil sekalipun, ia akan meraih seluruh suara electoral di negara bagian tersebut yang berjumlah 20.
Secara teknis warga AS tidak memilih langsung presiden dan wakil presiden. Sebaliknya berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Dewan Pemilihan tersebut, mereka memilih di dalam setiap negara bagian untuk sebuah kelompok "pemilih" yang mendukung salah seorang calon presiden.
Jumlah "pemilih" sesuai dengan banyaknya delegasi kongres sebuah negara bagian, yaitu jumlah wakil rakyat dan senator dari negara bagian itu. Pemilihan presiden mensyaratkan mayoritas mutlak suara pemilih yang berjumlah 538 dari 50 negara bagian.
Peserta Pemilu AS di Indonesia
Perry menerangkan terdapat sekitar 15.000 warga AS yang terdaftar di Indonesia. "Namun, tak setiap warga AS itu mendaftarkan diri untuk memilih mengingat pemilu AS itu tidak diwajibkan."
"Kedubes AS membantu mereka untuk mengikuti untuk pemilu. Jumlah mereka yang memerlukan bantuan bisa ratusan bahkan ribuan. Ada juga yang mendaftarkan diri sendiri tanpa nbantuan kedubes AS dengan mengirim e-mail atau lewat jasa pos," tambah Perry.
Perry mengaku tak mengetahui kecenderungan warga AS di Indonesia terhadap presiden baru
AS yang mereka dambakan. "Masalah itu menjadi privasi setiap warga negara. Saya sendiri
bahkan tak akan menceritakan pada istri saya tentang dukungan yang saya berikan," ungkap
Perry.
"Bahkan kalau ada yang menanyakan siapa yang saya pilih, saya akan menjawabnya: "Saya pilih Golkar," tutur Perry disertai gelak tawa.
"Hasil jajak pendapat memang dapat digunakan sebagai indikator, tetapi itu bukan berarti dapat dijadikan sebagai acuan mutlak. Sebagai contoh, pluraritas yang terbentuk di kalangan pemilih AS setidaknya menentukan kepentingan yang berbeda," kata Atase Pers Kedutaan AS, Tristram Perry saat menerima Kompas.com di kantornya di Jakarta akhir pekan lalu.
"Ada yang harus diingat bahwa 1 dari 8 orang AS tidak dilahirkan di AS. Para imigran ini tentu mempunyai kepentingan yang berbeda dalam pemilu," jelas Perry yang mengaku harus bersikap netral sebagai anggota diplomat.
"Sebagai diplomat karir, saya harus mendukung siapapun yang terpilih nantinya, entah itu Barack Obama atau John McCain. Karena siapapun presiden AS yang terpilih nantinya berasal dari suara mayoritas rakyat AS."
Menurut Perry, tujuan pemilihan umum AS adalah memenangkan suara mayoritas di Electoral College. Electoral College, yang diberi mandat oleh Konstitusi AS pada 1787, mengalokasikan pemilih (elector) dengan jumlah tertentu untuk masing-masing negara bagian.
Jumlah elector ini sama dengan jumlah senator dan anggota Kongres yang dimiliki setiap negara bagian. Negara-negara bagian yang berpenduduk padat memiliki lebih banyak elector daripada negara-negara bagian yang jarang penduduknya. Perry menerangkan, pada tahun ini, jumlah total suara electoral adalah 538.270 suara yang dinilai mayoritas dibutuhkan untuk memenangkan kursi presiden AS.
Di hampir semua negara bagian, memenangkan suara mayoritas publik berarti memenangkan 100 persen suara electoral. Sebagai contoh, bila seorang kandidat memenangkan suara mayoritas publik di Ohio dengan selisih yang amat kecil sekalipun, ia akan meraih seluruh suara electoral di negara bagian tersebut yang berjumlah 20.
Secara teknis warga AS tidak memilih langsung presiden dan wakil presiden. Sebaliknya berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Dewan Pemilihan tersebut, mereka memilih di dalam setiap negara bagian untuk sebuah kelompok "pemilih" yang mendukung salah seorang calon presiden.
Jumlah "pemilih" sesuai dengan banyaknya delegasi kongres sebuah negara bagian, yaitu jumlah wakil rakyat dan senator dari negara bagian itu. Pemilihan presiden mensyaratkan mayoritas mutlak suara pemilih yang berjumlah 538 dari 50 negara bagian.
Peserta Pemilu AS di Indonesia
Perry menerangkan terdapat sekitar 15.000 warga AS yang terdaftar di Indonesia. "Namun, tak setiap warga AS itu mendaftarkan diri untuk memilih mengingat pemilu AS itu tidak diwajibkan."
"Kedubes AS membantu mereka untuk mengikuti untuk pemilu. Jumlah mereka yang memerlukan bantuan bisa ratusan bahkan ribuan. Ada juga yang mendaftarkan diri sendiri tanpa nbantuan kedubes AS dengan mengirim e-mail atau lewat jasa pos," tambah Perry.
Perry mengaku tak mengetahui kecenderungan warga AS di Indonesia terhadap presiden baru
AS yang mereka dambakan. "Masalah itu menjadi privasi setiap warga negara. Saya sendiri
bahkan tak akan menceritakan pada istri saya tentang dukungan yang saya berikan," ungkap
Perry.
"Bahkan kalau ada yang menanyakan siapa yang saya pilih, saya akan menjawabnya: "Saya pilih Golkar," tutur Perry disertai gelak tawa.
... Obama aja ah ... janjinya bakal narik seluruh pasukan dari iraq dan negara2 laennya, dia gak suka perang dan gak suka ngeretokin masalah rumah tangga negara laen ... 