roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Pukul 14.00 siang, kereta api akan bertolak menuju Medan. 5 buah tas besar 2 buah ransel, diangkut oleh 6 orang. Siah dan Norman hari ini berangkat, meninggalkan kami teman-temannya. 4 orang, diantaranya aku, Budi, Tita dan Butet mengiringi sebisanya Norman dan Siah.
Aku bersalaman dengan keduanya. Tiba-tiba Siah menangis.... Die mencium tanganku, berpelukan dengan Budi (yang lebih tua), dan menangis kuat pada Tita dan Butet.
Ada Apa?
Hari ini adalah hari penentuan. Siah sudah memilih. Seeprti flash back, kenangan-kenangan terulang kembali dengan cepat. Tidak menyurutkan air matanya, malah semakin membanjir. Norman kelihatan serba salah.
Awalnya sekitar 4 tahun yang lalu. Awalnya iseng, awalnya tidak sampai sedalam sekarang. Norman, temanku yang kerja di sebuah pabrik pengolahan getah karet asal Kalimantan, jatuh cinta pada Siah, gadis manis berkulit putih, dersahaja, yang kerja di sebuah Department Store di kotaku.
Keduanya saling cinta. Perbedaan agama tidak mereka lihat ketika itu. Beberapa kali kasus selingkuh Norman, toh tidak menyurutkan cinta Siah kepadanya. Singkat kata, percintaan pemuda turunan Chinese dengan gadis Batak ini sampai pada tahapan yang lebih serius. Perkawinan.
Norman serius dengan cintanya, demikian juga Siah. Norman masuk Islam, demi cintanya pada Siah agar mereka dapat dipertemukan dalam maligai rumah tangga. Norman kasak-kusuk mencari wali agar dapat meminang Siah. Ketemu.... banyak karyawan bermarga Siregar di Pabrik getah yang bergairah merestui percintaan kedua anak muda ini.
Apa daya. Ayah Siah yang sudah bereputasi 2 kali tidak mengakui/tidak setuju pada perkawinan anak-anaknya, kali ini tidak bersikap lain. Lamaran Norman ditolak mentah-mentah. Walaupun Norman sudah mengalah dalam hal keyakinan, bagi ayah Siah, Norman belum memenuhi kretaria yang cukup andal sebagai suami anaknya, Siah. Kali ini yang dipermasalahkan adalah kesukuan. Ayah Siah mengharapkan mendapatkan pemuda dari marga Harahap - yang secara tradisional dianggap mampu mengatasi perempuan Siregar.
Kondisinya seperti itu. Surutkah niat mereka?
Ternyata tidak. Rencana disusun. Ayah Siah dengan kekeras-kepalaannya justru menantang Siah, "Jika kau mau dengan pemuda China itu... pergilah... tinggalkan rumah ini..."
Siah menangis waktu itu. Menghujam ke bantal guling untuk melampiaskan marah dan sedihnya.
Tapi cinta tetap cinta. Bila cinta sudah berkata 'iya' adakah yang dapat menghalangi? Walaupun ada ayah yang masih kolot dengan adat istiadat yang mengikat di tanah-tanah pedalaman?
Kedua mendaftarkan nikah di KUA. Keduanya sudah jauh diatas umur untuk menikah. Norman 26 tahun, Siah 24 tahun. Sangat ideal, kalau tidak bisa dibilang, Norman malah lebih pendek sedikit dari Siah.
Fasilitas pelarian disiapkan oleh teman-teman dari pabrik.
Siah menulis surat kepada kedua orang tuanya. Disertakan juga foto copy dari Surat Perkawinan keduanya. Satu helai kain dan sarung. Orang-orang mengistilahkan ini kawin lari.
Konsekuensi besar harus diambil Siah. Meninggalkan kelaurga. Meninggalkan teman. Mengikuti laki-laki yang dicintainya. Dicampakkan dari keluarga. Kemana? Aku sendiri yang mengantarkan tidak tahu. Sehabis dari Medan, keduanya mungkin ke Bali untuk buka usaha Warnet. Atau ke Kalimantan ke kampung halaman Norman. Atau mungkin mencoba peruntungan di Jakarta.
Pernah secara keras aku berucap kepada Norman, agar baik-baik menjaga Siah. Bila, Norman macam-macam, gadis ini bisa menjual diri hanya untuk hidup. Semuanya bisa terjadi. Dan konsekuensi ini sudah dipertimbangkan lama sekali oelh Siah.
Beruntung kau Norman, dapat istri dengan penyerahan diri total seperti itu.
Bila kau macam-macem, aku pesankan kepada Siah untuk menghubungi kami teman-temannya di sini. Kami akan kirim dana, untuk Siah pulang saja....
Dan, Siah menangis..... sangat deras air matanya. Melihat ke jendela. Melihat kepada kami 4 teman-teman dekat mereka berdua.
Selamat jalan kawan.... selamat renangi air mata
Hai sahabat yang terbuang.....
Engkau sahabatku..... tetap sahabatku.....
Aku bersalaman dengan keduanya. Tiba-tiba Siah menangis.... Die mencium tanganku, berpelukan dengan Budi (yang lebih tua), dan menangis kuat pada Tita dan Butet.
Ada Apa?

Hari ini adalah hari penentuan. Siah sudah memilih. Seeprti flash back, kenangan-kenangan terulang kembali dengan cepat. Tidak menyurutkan air matanya, malah semakin membanjir. Norman kelihatan serba salah.
Awalnya sekitar 4 tahun yang lalu. Awalnya iseng, awalnya tidak sampai sedalam sekarang. Norman, temanku yang kerja di sebuah pabrik pengolahan getah karet asal Kalimantan, jatuh cinta pada Siah, gadis manis berkulit putih, dersahaja, yang kerja di sebuah Department Store di kotaku.
Keduanya saling cinta. Perbedaan agama tidak mereka lihat ketika itu. Beberapa kali kasus selingkuh Norman, toh tidak menyurutkan cinta Siah kepadanya. Singkat kata, percintaan pemuda turunan Chinese dengan gadis Batak ini sampai pada tahapan yang lebih serius. Perkawinan.
Norman serius dengan cintanya, demikian juga Siah. Norman masuk Islam, demi cintanya pada Siah agar mereka dapat dipertemukan dalam maligai rumah tangga. Norman kasak-kusuk mencari wali agar dapat meminang Siah. Ketemu.... banyak karyawan bermarga Siregar di Pabrik getah yang bergairah merestui percintaan kedua anak muda ini.
Apa daya. Ayah Siah yang sudah bereputasi 2 kali tidak mengakui/tidak setuju pada perkawinan anak-anaknya, kali ini tidak bersikap lain. Lamaran Norman ditolak mentah-mentah. Walaupun Norman sudah mengalah dalam hal keyakinan, bagi ayah Siah, Norman belum memenuhi kretaria yang cukup andal sebagai suami anaknya, Siah. Kali ini yang dipermasalahkan adalah kesukuan. Ayah Siah mengharapkan mendapatkan pemuda dari marga Harahap - yang secara tradisional dianggap mampu mengatasi perempuan Siregar.
Kondisinya seperti itu. Surutkah niat mereka?
Ternyata tidak. Rencana disusun. Ayah Siah dengan kekeras-kepalaannya justru menantang Siah, "Jika kau mau dengan pemuda China itu... pergilah... tinggalkan rumah ini..."
Siah menangis waktu itu. Menghujam ke bantal guling untuk melampiaskan marah dan sedihnya.
Tapi cinta tetap cinta. Bila cinta sudah berkata 'iya' adakah yang dapat menghalangi? Walaupun ada ayah yang masih kolot dengan adat istiadat yang mengikat di tanah-tanah pedalaman?
Kedua mendaftarkan nikah di KUA. Keduanya sudah jauh diatas umur untuk menikah. Norman 26 tahun, Siah 24 tahun. Sangat ideal, kalau tidak bisa dibilang, Norman malah lebih pendek sedikit dari Siah.
Fasilitas pelarian disiapkan oleh teman-teman dari pabrik.
Siah menulis surat kepada kedua orang tuanya. Disertakan juga foto copy dari Surat Perkawinan keduanya. Satu helai kain dan sarung. Orang-orang mengistilahkan ini kawin lari.
Konsekuensi besar harus diambil Siah. Meninggalkan kelaurga. Meninggalkan teman. Mengikuti laki-laki yang dicintainya. Dicampakkan dari keluarga. Kemana? Aku sendiri yang mengantarkan tidak tahu. Sehabis dari Medan, keduanya mungkin ke Bali untuk buka usaha Warnet. Atau ke Kalimantan ke kampung halaman Norman. Atau mungkin mencoba peruntungan di Jakarta.
Pernah secara keras aku berucap kepada Norman, agar baik-baik menjaga Siah. Bila, Norman macam-macam, gadis ini bisa menjual diri hanya untuk hidup. Semuanya bisa terjadi. Dan konsekuensi ini sudah dipertimbangkan lama sekali oelh Siah.
Beruntung kau Norman, dapat istri dengan penyerahan diri total seperti itu.
Bila kau macam-macem, aku pesankan kepada Siah untuk menghubungi kami teman-temannya di sini. Kami akan kirim dana, untuk Siah pulang saja....
Dan, Siah menangis..... sangat deras air matanya. Melihat ke jendela. Melihat kepada kami 4 teman-teman dekat mereka berdua.
Selamat jalan kawan.... selamat renangi air mata
Hai sahabat yang terbuang.....
Engkau sahabatku..... tetap sahabatku.....