• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Shalat Berjamaah

Da_VivoS

IndoForum Beginner A
No. Urut
11231
Sejak
8 Feb 2007
Pesan
1.054
Nilai reaksi
31
Poin
48
SHALAT BERJAMA’AH
بقلم : أبو عائشة الجوزاء

Saudaraku kaum muslimin,… pernahkah kita tertidur di suatu pagi yang dingin berteman selimut tebal lagi hangat, tiba-tiba telinga kita dikagetkan oleh suara adzan dari pengeras suara masjid di dekat rumah kita ? Kalau ya, apa yang segera kita lakukan ketika itu ?

Atau,… ketika kita sangat lelah sehabis bekerja di suatu sore, suara yang lama
memanggil kita untuk mendatangi rumah Allah yang jaraknya tidak jauh dari tempat istirahat kita ? Kalau ya, apa yang kita lakukan ketika itu ?

Dua contoh pengandaian situasi tersebut setidaknya akan menghasilkan dua respon berbeda satu dengan lainnya. Pertama; membiarkan suara adzan lewat dan selesai, tanpa beranjak dari tempat dan aktifitas kita semula. Kedua; segera bangkit mengambil air wudlu untuk bergegas melaksanakan shalat dan meninggalkan aktifitas. Jikalau kita dihadapkan dua pertanyaan lanjutan : “Mana di antara keduanya yang terbaik”; tentu semua muslim baligh dan berakal sehat akan sepakat menjawab bahwa sikap Kedua lah yang terbaik. Kita lanjutkan. Sikap Kedua yang menjadi pilihan tadi pun akan melahirkan dua macam keadaan. Pertama, kita melaksanakan shalat di rumah, baik munfarid (sendirian) ataupun berjama’ah dengan keluarga. Kedua, kita melaksanakannya berjama’ah di masjid dengan kaum muslimin lainnya. Kita pun yakin dengan pasti bahwa semua orang akan mengatakan shalat berjama’ah di masjid itu lebih utama daripada shalat di rumah.

Itulah fithrah yang diberikan Allah ta’ala kepada manusia. Sebuah fithrah dimana seorang manusia akan mengakui bahwa mengerjakan sebuah ketaatan adalah sebuah perbuatan mulia dan pilihan terbaik diantara semua pilihan. Allah telah berfirman mengenai fithrah ini :

فِطْرَةَ اللّهِ الّتِي فَطَرَ النّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللّهِ ذَلِكَ الدّينُ الْقَيّمُ وَلَـَكِنّ أَكْثَرَ النّاسِ لاَ يَعْلَمُو

”... (tetaplah di atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. QS. Ar-Ruum : 30).

Para ulama telah menjelaskan bahwa makna fithrah di sini adalah tauhid atau Ad-Dienul-Islam (lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari).

Adzan yang dikumandangkan oleh seorang muadzin terkandung seruan menuju fithrah tauhid (lihat perkataan An-Nawawi dalam Al-Majmu’ 3/81 dan Al-Qurthubi dalam Fathul-Bari 2/77). Jikalau kita mendatangi, pada hakikatnya kita mendatangi fithrah sebagai makhluk yang diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Sebaliknya, jikalau kita tetap diam di tempat, maka kita telah ingkar terhadap fithrah. Dan sungguh, betapa banyak orang yang mengingkari fithrah itu di hari ini.......

Allah telah mengikat manusia di atas fithrah tauhid dalam panggilan untuk mendatangi shalat berjama’ah. Allah pun telah menjadikannya (shalat berjama’ah) sebagai satu perintah yang pasti dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya :

وَأَقِيمُواْ الصّلاَةَ وَآتُواْ الزّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرّاكِعِين

”Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Al-Baqarah : 43).

Kalimat (وَارْكَعُواْ مَعَ الرّاكِعِينَ) ”rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” merupakan perintah untuk shalat bersama manusia secara berjama’ah. Shalat berjama’ah di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan telah menjadi salah satu syi’ar terbesar dalam agama Islam. Bahkan hal itu telah menjadi pembeda antara Daarul-Islam dan Daarul-Kufr (lihat keterangannya dalam Syarh Tsalatsatul-Ushul oleh Syaikh Al- ’Utsaimin). Apabila kita tengok dalam As-Sunnah dan sejarah jihad Islam, maka kita dapatkan bahwa ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya akan menyerang satu negeri, maka mereka tunggu sampai waktu shubuh tiba. Jikalau negeri tersebut terdengar suara adzan (yang tentunya ditegakkan di dalamnya shalat berjama’ah), maka mereka menahannya (tidak jadi menyerang), dan apabila mereka tidak mendengarnya maka mereka maju (untuk menyerang).

Simaklah apa yang dituturkan oleh seorang shahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ’anhu :

لقد رأيتنا وما يتخلف عن الصلاة إلا منافق قد علم نفاقه أو مريض إن كان المريض ليمشي بين رجلين حتى يأتي الصلاة وقال إن رسول الله صلى الله عليه وسلم علمنا سنن الهدى وإن من سنن الهدى الصلاة في المسجد الذي يؤذن في

”Sungguh aku telah melihat keadaan kami (yaitu keadaan para shahabat)! Tidaklah ada yang meninggalkan shalat berjama’ah (di masjid) kecuali orang munafik yang jelas kemunafikannya; atau orang yang yang sakit. Jika ia seorang yang sakit, tentu ia bisa berjalan dengan dipapah oleh dua orang sehingga dia bisa mendatangi shalat berjama’ah. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita ’sunnah-sunnah huda’ (= ajaran agama). Dan di antara sunnah-sunnah huda tersebut adalah shalat berjama’ah di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan” (HR. Muslim nomor 654 Bab : Shalatul-Jama’ah min Sunanil-Huda; lihat Mukhtashar Shahih Muslim nomor 323).

Seandainya Ibnu Mas’ud melihat keadaan masjid-masjid kaum muslimin saat ini yang kosong mlompong, entah apa yang akan beliau katakan. Itulah keadaan para shahabat sebagai generasi terbaik umat. Simbol kehidupan beragama yang terbaik. Simbol persatuan kaum muslimin yang layak untuk ditiru (yaitu persatuan di atas sunnah). Shalat jama’ah di masjid pada jaman Ibnu Mas’ud radliyallaahu ’anhu telah menjadi indikator pembeda antara yang mukmin dengan yang munafik. Tidaklah heran dengan keadaan di waktu itu jika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah berandai-andai akan membakar rumah siapa saja laki-laki dari kaum muslimin yang tidak mendatangi shalat berjama’ah di masjid sebagaimana dalam hadits :

لقد هممت أن آمر المؤذن فيقيم ثم آمر رجلا يؤم الناس ثم آخذ شعلا من نار فأحرق على من لا يخرج إلى الصلا

“Sungguh aku telah bertekad untuk memerintahkan seorang muadzin untuk berdiri mengumandangkan adzan (di masjid) dan kemudian aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami manusia. Setelah itu aku akan menyalakan api dimana akan aku bakar setiap rumah yang pemiliknya tidak mendatangi shalat berjama’ah” (HR. Bukhari nomor 626 dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu).

Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang bersegera mendatangi shalat berjama’ah di masjid. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

ولو يعلمون ما في العتمة والصبح لأتوهما ولو حبوا

“Seandainya kalian mengetahui keutamaan yang ada pada shalat jama’ah isya’ dan shubuh (di masjid), niscaya kalian akan mendatanginya meskipun dengan merangkak” (HR. Bukhari dan Muslim. Disebutkan oleh An-Nawawi dalam Riyadlush-Shalihin nomor 1079).

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam pun bersabda :

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حب

“Tidak ada shalat (jama’ah) yang paling berat bagi orang-orang munafiq selain shalat shubuh dan isya’. Dan andaikan mereka mengetahui keutamaan yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak” (HR. Bukhari dan Muslim. Disebutkan oleh An-Nawawi dalam Riyadlush-Shalihin nomor 1080).

Penyebutan keutamaan shalat berjama’ah shubuh dan ‘isya’ di atas bukan berarti menafikkan keutamaan shalat-shalat berjama’ah yang lain. Hal itu disebabkan karena dua shalat tersebut merupakan indikator terhadap shalat-shalat yang lain. Jika seorang muslim bersemangat untuk hadir dalam jama’ah shalat shubuh dan ‘isya’, maka tentu ia akan lebih bersemangat lagi untuk menghadiri shalat-shalat yang lain. Sehingga,..... Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebut dua shalat sebagai shalat yang paling berat dan paling sering ditinggalkan oleh para pemalas di antara kaum muslimin. Namun sayang,.... betapa banyak orang hari ini yang mengabaikan keutamaan ini.

Saudaraku kaum muslimin, banyak hikmah di balik perintah Allah dan Rasul-Nya untuk melazimkan shalat berjama’ah di masjid. Masjid adalah tempat yang paling baik dan mulia dalam Islam. Masjid adalah lambang kekuatan kaum muslimin. Tidaklah penuh jama’ah shalat lima waktu satu masjid kecuali di dalamnya tertanam benih-benih ukhuwah yang kuat.
Allah telah berfirman :


إِنّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ وَأَقَامَ الصّلاَةَ وَآتَىَ الزّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاّ اللّهَ فَعَسَىَ أُوْلَـَئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ


“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mereka tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah : 17-18).

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beriman lagi mendapat petunjuk dengan memakmurkan masjid (shalat berjama’ah). Dan juga memasukkan kita ke dalam golongan yang diisyaratkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله الإمام العادل وشاب نشأ في عبادة ربه ورجل قلبه معلق في المساجد...

“Tujuh golongan yang mendapat jaminan perlindungan dari Allah di hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya : Imam yang adil, pemuda yang kusyu’ dalam beribadah kepada Allah, seorang yang hatinya senantiasa bergantung kepada masjid,....” (HR. Bukhari nomor 629).

Sebagai penutup, akan kami bawakan sebuah kisah nyata yang ternukil dari seorang teman. Teman ini dulu mempunyai dua orang sahabat (yang saat ini keduanya telah tiada). Yang satu seorang yang taat dan rajin shalat berjama’ah, dan yang satunya lagi sebaliknya. Keduanya sama-sama sering menangis saat mendengar adzan dikumandangkan. Bedanya, yang satu menangis karena mengingat saat dia melakukan aktifitas shalat berjama’ah, dan yang lain hidayah datang dan punya keinginan shalat berjama’ah, namun badannya telah sakit, lemah dan tidak berdaya.

Silakan untuk menyimpulkan sendiri, semoga kita bisa mengambil ibrah dari secuil kisah ini. Amien...........
__________
myquran.org
 
:) nice...rahmat bagi TS n yang baca nya...amin..salam...
 
shalat berjamaah yang terberat adalah dilakukan saat shalat subuh :)
 
gw seneng kupasan macam ne...
selalu direferensikan/dirujukkan pada ayat/dalil yang bersangkutan.
saluut sist!
 
Kalau dipikir2....
kenapa ya shalat duhur (atau shalat wajib lainnya) berjama'ah di masjid, yang hanya 15 menit lebih sulit dibandingkan dengan nge net berjam2???

Setannya banyak kali ya???
 

:woroworo:Lewat masjid, Rasulullah membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis, progresif.

Tulisan ini, hanya sebagai pengingat bagi kita, Umat Islam, untuk merekonstruksi paradigma terhadap masjid, yang menurut saya, sekarang pandangan sebagian Umat Islam dalam melihat masjid tidak sesuai dengan khittahnya.

Saat ini sebagian Masjid ditelantarkan (dalam arti sebenarnya) oleh sebagian Umat Islam. Selama saya tinggal di Banjarbaru, kondisi sebagian masjid saat ini saya lihat sangat menyedihkan. Baik dari fisik bangunan, program kegiatannya maupun SDM pengelolanya. Bahkan yang membuat saya lebih miris, di antara masjid di Banjarbaru dan Pelaihari, jarang sekali anak muda yang shalat berjamaah.

"Barang siapa yang membangun rumah Allah (masjid) di dunia, maka Allah akan membangunkannya rumah di surga." (HR Muslim). Hadits itu jelas sekali maksudnya. Tapi karena kita memahaminya hanya secara harfiah, tanpa mengkaji lagi asbabul wurud (sebab hadits itu diturunkan) sehingga kita mungkin beranggapan: cukup menjadi panitia pembangunannya, Allah sudah membangunkan kita rumah di surga. Apalagi jika kita melakukan aktivitas shalat jamaah di masjid, memakmurkan masjid. Tentu hal yang luar biasa.

Padahal paradigma seperti itu keliru. Bayangkanlah, jika pikiran kita seluruhnya sama seperti itu, maka siapa yang akan merawat rumah Allah tersebut. Siapa yang akan memakmurkan masjid tersebut? Padahal, memakmurkan masjid jauh lebih baik dan mempunyai nilai sangat strategis bagi Umat Islam. Di antaranya, ukhuwwah islamiyah Umat Islam dapat terjaga. Di masjid, tidak memandang status sosial. Tidak memandang pangkat, jabatan, kekuasaan, dll, seperti ketika kita berada di kantor, di pasar misalnya. Di sini, di rumah Allah yang mulia, sangat terasa persaudaraan itu.

Jika kita ada pada zaman Rasulullah, mungkin rumah kita dibakar oleh Rasulullah karena kita tidak menjalankan shalat jamaah di masjid. Renungkanlah percakapan antara umi maktum, sahabat Rasulullah yang buta. "Ya Rasulullah adakah rukshah (keringanan) bagi saya untuk tidak melakukan shalat jamaah di masjid." Rasul menjawab: "Apakah engkau masih mendengar azan?" Umi Maktum menjawab: "Masih." "Maka wajib bagimu untuk mendatangi masjid itu," jawab Nabi. Hadits meriwayatkan, hampir-hampir akan dibakar rumah orang yang tidak mau ke masjid untuk shalat jamaah, jika tidak terjadi fitnah.

Pusat Revolusi Peradaban

Masjid di zaman Rasulullah mempunyai banyak fungsi, selain tempat ibadah. Itu sebabnya, Rasulullah membangun masjid terlebih dahulu.

Untuk mengumpulkan pengikut Rasulullah, tempat yang tepat adalah masjid karena bebas nilai. Hanya nilai kebaikan dalam rangka mengesakan Allah, yang ada di masjid. Madinah dijadikan Rasulullah sebagai prototipe masyarakat berperadaban Islam. Lewat masjid, Rasulullah membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis, progresif. Intinya dari masjid awal cahaya Islam menyebar ke seluruh cakrawala dunia.

Bagaimana kondisi masjid sekarang? :hmmm: Selain seperti yang saya jelaskan di atas, ada hal yang umumnya terjadi di sebagian masjid kita. Masjid fungsinya dibatasi, hanya sebagai tempat ibadah. Salah? Tidak. kemudian ada lagi permasalahan yang sering saya jumpai di masjid, yaitu ketika ada yang ingin melakukan kegiatan atas nama parpol tertentu, izinnya dipersulit. Bahkan pengurus juga tidak jarang mengatakan: "Masjid bukan tempat orang untuk bicara politik." Padahal di zaman Rasulullah, justru politik dibicarakan di masjid.

Ada juga persoalan yang sering terjadi jika ada ormas mau mengadakan kegiatan, tetapi mazhabnya berbeda dengan pengurus masjid, maka ormas itu tidak boleh memakai masjidnya.

Tips memakmurkan masjid:
Dari sisi SDM yaitu:
-Adakan pelatihan manajemen masjid dengan mengundang ahlinya sehingga diharapkan pengelolanya bisa maksimal mengurus masjid;
-Adakan pembinaan terhadap pemuda di sekitar masjid. Diharapkan mereka sebagai suplai SDM nantinya, jika orang tua sudah tidak ada.

Dari sisi program kerja:
Buat program kerja yang inovatif. Misalnya, selama satu tahun kepengurusan si Fulan yang ada di masjid hanya acara Shalat Tasbih, yasinan, maulid, kajian kitab kuning. Maka, tambahlah dengan bedah buku, mabit, ESQ, Talk Show, dll.

Back to Masjid :iyes:

Kiranya tidak berlebihan, jika hal itu membawa dampak positif yang signifikan bagi kemakmuran masjid maupun masyarakat sekitar. Apalagi baru saja kita melewati Ramadhan. Kenapa tidak kita teruskan ibadah berjamaahnya? Apalagi sekarang Muharam, bulan ini dijadikan sebagai momentum hijrah bagi muslim. Mari kita shalat berjamaah di masjid, jika tidak mau, berarti ada yang salah dalam diri kita. :hmmm:

Kemudian Shalat Subuh bersama forum RT/RW, sehingga terlihat kedekatan pejabat dengan rakyatnya. Dampaknya luar biasa. Bukan hanya masjid yang hidup, tempat kita tinggal akan mendapat berkah dari langit. Apalagi jika gaya memimpin bupati/walikota seperti Umar bin Abdul Aziz. Subhanallah.

Kini saatnya kita kembali ke masjid. khususnya melakukan Shalat Subuh jamaah. Seorang Yahudi berkata: "Bangsa kami, Yahudi, baru akan takut jika Umat Islam telah melaksanakan Shalat Subuh seperti melakukan Shalat Jumat."

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. Mari mulai sekarang juga, kita makmurkan masjid di kompleks perumahan kita, di tempat kerja maupun di pusat perbelanjaan (jika memungkinkan). Hilangkan perbedaan yang tidak syar’i, kecurigaan terhadap sesama umat.

Sumber:
http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/15274/180/


Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah).
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=18#18




Sukseskan Gerakan Back To Masjid ... :iyes: :iyes:

http://www.google.co.id/search?q="Back+to+Masjid"&btnG=Telusuri&hl=id

http://www.google.co.id/search?q="Back+to+Masjid"&hl=id&start=10&sa=N

INFO BUKU : :koran:
Nikmatnya Sholat Berjamaah - Suburkan Ruhiyah Eratkan Ukhuwah
Penerbit : Nawaitu Pustaka

Yahoogroup : remajamasjid
http://groups.yahoo.com/group/remajamasjid/

Back To Masjid !
http://azzam.wordpress.com/2007/07/02/back-to-masjid/

Membangun Peradaban Umat Melalui Pemakmuran Masjid
http://ntacaholic.blogspot.com/2008/02/membangun-peradaban-umat-melalui.html

Fungsi dan Peran Masjid :yihaa:
http://www.immasjid.com/?pilih=lihat&id=149



:yakyik:
Re: Manajemen Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Aktivitas Umat
http://myquran.org/forum/index.php/topic,11068.0.html



Fungsi dan Peran Masjid
:koran:​

Masjid berarti tempat untuk bersujud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut Baitullah (rumah Allah), yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah.

Pada waktu hijrah dari Mekah ke Madinah ditemani shahabat beliau, Abu Bakar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati daerah Quba di sana beliau mendirikan Masjid pertama sejak masa kenabiannya, yaitu Masjid Quba (QS 9:108, At Taubah). Setelah di Madinah Rasulullah juga mendirikan Masjid, tempat umat Islam melaksanakan shalat berjama’ah dan melaksanakan aktivitas sosial lainnya. Pada perkembangannya disebut dengan Masjid Nabawi.

Fungsi Masjid paling utama adalah sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat berjama’ah. Kalau kita perhatikan, shalat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok, sunnah Nabi dalam pengertian muhaditsin, bukan fuqaha, yang bermakna perbuatan yang selalu dikerjakan beliau. Ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan kepada kaum muslimin.

Abdullah Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Saya melihat semua kami (para shahabat) menghadiri jama’ah. Tiada yang ketinggalan menghadiri jama’ah, selain dari orang-orang munafiq yang telah nyata kemunafiqannya, dan sungguhlah sekarang di bawa ke Masjid dipegang lengannya oleh dua orang, seorang sebelah kanan, seorang sebelah kiri, sehingga didirikannya ke dalam shaff.” (HR: Al Jamaah selain Bukhory dan Turmudzy).

Ibnu Umar r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “Shalat berjama’ah melebihi shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajad.” (HR: Bukhory dan Muslim).

Sebenarnya, inti dari memakmurkan Masjid adalah menegakkan shalat berjama’ah, yang merupakan salah satu syi’ar Islam terbesar. Sementara yang lain adalah pengembangannya. Shalat berjama’ah merupakan indikator utama keberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid. Jadi keberhasilan dan kekurang-berhasilan kita dalam memakmurkan Masjid dapat diukur dengan seberapa jauh antusias umat dalam menegakkan shalat berjama’ah.
Meskipun fungsi utamanya sebagai tempat menegakkan shalat, namun Masjid bukanlah hanya tempat untuk melaksanakan shalat saja.

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain dipergunakan untuk shalat, berdzikir dan beri'tikaf, Masjid bisa dipergunakan untuk kepentingan sosial. Misalnya, sebagai tempat belajar dan mengajarkan kebajikan (menuntut ilmu), merawat orang sakit, menyelesaikan hukum li'an dan lain sebagainya.
Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya. Hampir dapat dikatakan, dimana ada komunitas muslim di situ ada Masjid. Memang umat Islam tidak bisa terlepas dari Masjid. Disamping menjadi tempat beribadah, Masjid telah menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat da’wah dan lain sebagainya.

Banyak Masjid didirikan umat Islam, baik Masjid umum, Masjid Sekolah, Masjid Kantor, Masjid Kampus maupun yang lainnya. Masjid didirikan untuk memenuhi hajat umat, khususnya kebutuhan spiritual, guna mendekatkan diri kepada Pencipta-nya. Tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Masjid menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembaraan hidup dan energi kehidupan umat.

Utsman Ibn ‘Affan r.a. berkata: “Rasul s.a.w. bersabda: Barangsiapa mendirikan karena Allah suatu Masjid, niscaya Allah mendirikan untuknya seperti yang ia telah dirikan itu di Syurga.” (HR: Bukhori & Muslim).

Masjid memiliki fungsi dan peran yang dominan dalam kehidupan umat Islam, beberapa di antaranya adalah:

1. Sebagai tempat beribadah.

Sesuai dengan namanya Masjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridla Allah, maka fungsi Masjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat beribadah secara luas sesuai dengan ajaran Islam.

2. Sebagai tempat menuntut ilmu.

Masjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di Masjid.

3. Sebagai tempat pembinaan jama’ah.

Dengan adanya umat Islam di sekitarnya, Masjid berperan dalam mengkoordinir mereka guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir secara rapi dalam organisasi Ta’mir Masjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhuwah imaniyah dan da’wah islamiyahnya. Sehingga Masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.

4. Sebagai pusat da’wah dan kebudayaan Islam.

Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di Masjid pula direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu Masjid, berperan sebagai sentra aktivitas da’wah dan kebudayaan.

5. Sebagai pusat kaderisasi umat.

Sebagai tempat pembinaan jama’ah dan kepemimpinan umat, Masjid memerlukan aktivis yang berjuang menegakkan Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh hilang berganti. Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di Masjid sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al Quraan (TPA), Remaja Masjid maupun Ta’mir Masjid beserta kegiatannya.

6. Sebagai basis Kebangkitan Umat Islam.

Abad ke-lima belas Hijriyah ini telah dicanangkan umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Umat Islam yang sekian lama tertidur dan tertinggal dalam percaturan peradaban dunia berusaha untuk bangkit dengan berlandaskan nilai-nilai agamanya. Islam dikaji dan ditelaah dari berbagai aspek, baik ideologi, hukum, ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya. Setelah itu dicoba untuk diaplikasikan dan dikembangkan dalam kehidupan riil umat. Menafasi kehidupan dunia ini dengan nilai-nilai Islam. Proses islamisasi dalam segala aspek kehidupan secara arif bijaksana digulirkan.

Umat Islam berusaha untuk bangkit. Kebangkitan ini memerlukan peran Masjid sebagai basis perjuangan. Kebangkitan berawal dari Masjid menuju masyarakat secara luas. Karena itu upaya aktualisasi fungsi dan peran Masjid pada abad lima belas Hijriyah adalah sangat mendesak (urgent) dilakukan umat Islam. Back to basic, Back to Masjid.


AKTUALISASI FUNGSI DAN PERAN MASJID

Secara umum pengelolaan Masjid kita masih memprihatinkan. Apa kiranya solusi yang bisa dicoba untuk ditawarkan dalam meng-aktualkan fungsi dan peran Masjid di era modern. Hal ini selayaknya perlu kita pikirkan bersama agar Masjid dapat menjadi sentra aktivitas kehidupan umat kembali sebagaimana telah ditauladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya.

Kita perlu melakukan pemberdayaan Masjid dahulu sebelum mengoptimalkan fungsi dan perannya. Dalam pemberdayaan ini kita bisa menggunakan [size=18pt]metode Continuous Consolidation and Improvement for Mosque (CCIM) atau Penguatan dan Perbaikan Berkelanjutan untuk Masjid .[/size]

CCIM adalah metode pemberdayaan Masjid dengan menata kembali organisasi Ta’mir Masjid melalui pemanfaatan segenap potensi yang dimiliki diikuti dengan perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Dalam metode ini kita dapat memanfaatkan metode-metode yang sudah dikenal dalam dunia management maupun mutu, seperti misalnya: Siklus PDCA, QC Tools, SAMIE, MMT, ISO 9000, Lima-R dan lain sebagainya.
Penguatan atau dalam istilah umum organisasi disebut konsolidasi (concolidation), adalah merupakan upaya menata sumber daya yang ada secara sistimatis dan terarah.

Yang perlu dilakukan adalah meliputi:
a. Konsolidasi pemahaman Islam.
b. Konsolidasi lembaga organisasi.
c. Konsolidasi program.
d. Konsolidasi jama’ah.


Perbaikan (improvement) diperlukan untuk meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan kepada jama’ah. Beberapa cara yang cukup efektif dalam upaya perbaikan dapat diseleksi dan disesuaikan dengan kebutuhan, agar upaya perbaikan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan (continuous improvement).

Sambil melakukan konsolidasi dan perbaikan, aktivitas memakmurkan Masjid dan jama’ahnya dilaksanakan sesuai dengan fungsi dan peran yang telah disebutkan di depan. Aktivitas disusun dengan melakukan perencanaan Program Kerja secara periodik dan diterjemahkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Pengelolaan (RKAP) setiap tahunnya.

Rencana yang telah ditetapkan selanjutnya ditindak lanjuti dengan melakukan koordinasi segenap sumber daya yang dimiliki dan dilaksanakan secara profesional. Aktivitas yang diselenggarakan dilaporkan, dievaluasi, distandardisasi dan dikaji untuk ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya.

Pada masa sekarang Masjid semakin perlu untuk difungsikan, diperluas jangkauan aktivitas dan pelayanannya serta ditangani dengan organisasi dan management yang baik. [size=16pt]Tegasnya, perlu tindakan meng-aktualkan fungsi dan peran Masjid[/size] dengan memberi warna dan nafas modern. Lokakarya idarah Masjid yang diselenggarakan di Jakarta oleh KODI DKI pada tanggal 9-10 November 1974 telah merumuskan pengertian istilah Masjid sebagai berikut: "Masjid ialah tempat untuk beribadah kepada Allah semata dan sebagai pusat kebudayaan Islam". Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa Masjid harus bebas dari aktivitas syirik dan harus dibersihkan dari semua kegiatan-kegiatan yang cenderung kepada kemusyrikan. Disamping itu kegiatan-kegiatan sosial yang dijiwai dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam dapat diselenggarakan di dalamnya.

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS 72:18, Al Jin).
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=72&No=18#18

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah).
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=18#18

Pengertian Masjid sebagi tempat ibadah dan pusat kebudayaan Islam telah memberi warna tersendiri bagi umat Islam modern. Tidaklah mengherankan bila suatu saat, insya Allah, kita jumpai Masjid yang telah dikelola dengan baik, terawat kebersihan, kesehatan dan keindahannya. Terorganisir dengan management yang baik serta memiliki tempat-tempat pelayanan sosial seperti, poliklinik, Taman Pendidikan Al Quraan, sekolah, madrasah diniyah, majelis ta'lim dan lain sebagainya.

Sumber:
alkautsar.jpg

Fungsi dan Peran Masjid
http://www.immasjid.com/?pilih=lihat&id=149
:yihaa:

hjm.jpg
pporm.jpg


Manajemen Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Aktivitas Umat O0
http://myquran.org/forum/index.php/topic,11068.0.html



* Sukseskan Gerakan Back To Masjid ... *
:yakyik:
http://sibin2007.multiply.com/tag/masjid
 
Rapatkan dan Luruskan Syaf !!!!???

Sholat berjamaah di masjid adalah salah satu ciri utama masyarakat Islam. Dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT memuji kaum muslimin yang komitmen dengan sholat berjamaah dan mencela orang yang menganggap remeh persoalan ini.

Di antara pujian Allah adalah :

1. Sholat berjamaah dijadikan salah satu indikator kesuksesan orang-orang mukmin. Allah berfirman:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1)... Dan orang-orang yang memelihara sholatnya (9)." (QS. Al Mu'minun : 1 dan 9)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir?SuratKe=23&No=1#1

2. Sholat berjamaah adalah salah satu indikator masyarakat yang bersyukur atas kemenangan yang di anugerahkan Allah kepada mereka. Allah berfirman:

"(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al Hajj : 41)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=22&No=41#41

Orang yang melalaikan dan menganggap remeh persoalan ini digambarkan oleh Allah sebagai salah satu sifat orang munafiq. Allah berfirman :
"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (QS. At Taubah : 54)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=54#54

Sholat jamaah adalah sunnah agung dari Rasulullah yang tidak boleh diabaikan. Jika diabaikan bisa berdampak kepada kesesatan. Ibnu Mas'ud menggambarkan urgensi sholat jamaah sebagai berikut :

من سره أن يلقى الله غدا مسلما فليحافظ على هؤلاء الصلوات حيث ينادى بهن فإن الله شرع لنبيكم صلى الله عليه وسلم سنن الهدى وإنهن من سنن الهدى ولو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم وما من رجل يتطهر فيحسن الطهور ثم يعمد إلى مسجد من هذه المساجد إلا كتب الله له بكل خطوة يخطوها حسنة ويرفعه بها درجة ويحط عنه بها سيئة ولقد رأيتنا وما يتخلف عنها إلا منافق معلوم النفاق ولقد كان الرجل يؤتى به يهادى بين الرجلين حتى يقام في الصف ( صحيح مسلم 1/ 453)

"Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah di hari esok dalam keadaan muslim hendaklah dia menjaga sholat-sholat mereka secara berjamaah di mana mereka diseru. Sesungguhnya Allah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah yang agung, dan sholat berjamaah adalah diantara sunnah yang agung tersebut.

Andaikan kalian sholat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang-orang yang 'suka tertinggal' itu sholat di rumahnya, maka kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian.

Jika kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka kalian sudah tersesat. Tidak ada seorangpun yang berwudhu' dengan sempurna, lalu berangkat ke masjid, kecuali Allah menulis untuk setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menggugurkan satu kesalahan.

Aku menyaksikan komunitas kami, tidak ada yang meninggalkan sholat jamaah kecuali munafik yang jelas kemunafikannya. Bahkan ada orang yang datang ke masjid dengan cara dibopong oleh dua orang sampai dia sampai ke shaf (sebagai bukti kesungguhan mereka melaksanakan sunnah Rasulullah)"

Dalam hadits lain disebutkan bahwa shaf yang tidak lurus saat sholat berjamaah adalah indikator tidak beresnya barisan kaum muslimin. Rasulullah bersabda saat meluruskan shaf :

عن أبي مسعود قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح مناكبنا في الصلاة ويقول استووا ولا تختلفوا فتختلف قلوبكم ليلني منكم أولو الأحلام والنهى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم قال أبو مسعود فأنتم اليوم أشد اختلافا ( صحيح مسلم ، جزء 1 - صفحة 323 )
”Dari Ibnu Mas'ud RA berkata : Rasulullah SAW menarik pundak-pundak kami pada saat mulai sholat. Beliau bersabda : luruskanlah shaf dan janganlah kalian berselisih sehingga hati-hati kalian menjadi berselisih. Hendaklah berdiri di belakangku orang-orang yang berilmu, kemudian orang setelahnya, kemudian orang setelahnya. Ibnu Mas'ud berkata : "Kalian hari ini perselisihannya jauh lebih hebat"

Jika shaf yang tidak lurus saat sholat jamaah menjadi salah satu indikator adanya ketidakberesan di dalam shaf kaum muslimin, apalagi meninggalkan sholat berjamaah.

قم إلى الصلاة متى سمعت النداء ، مهما كانت الظروف
"Dirikanlah sholat kapan saja kamu mendengar adzan, bagaimanapun kondisimu".


Artikel Lain..
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Wajib Sholat Berjamaah.asp
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Peringatan Meninggalkan Shalat.asp
http://ccc.1asphost.com/assalam/sholat/Keutamaan Shalat.asp

Download Audio 900 Kb
http://web.1asphost.com/assalamaagym/Kebangkitan.wav
 
Hidup Sehat Dengan Shalat Subuh
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Adnan ath-Tharsyah
Penelitian mutakhir membuktikan, shalat Subuh bisa menjadi terapi berbagai penyakit. Selain menghilangkan kemalasan dan menyegarkan badan, shalat yang dianggap berat oleh orang munafik ini juga dapat melancarkan peredaran darah pasca tidur. Tak hanya itu. Langkah kaki ke masjid ternyata dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengganti sel-sel rusak, memperbaiki kinerja jantung dan meningkatkan kemampuan otak.

Sungguh, sebuah manfaat luar biasa yang selama ini banyak dilupakan. Limpahan fasilitas hidup—seperti televisi—justru membuat kita beralasan untuk tidak shalat Subuh berjamaah tepat waktu. Pola hidup yang memforsir tubuh untuk bekerja hingga lelah di malam hari juga menjadi sorotan Syaikh Adnan Tharsyah, Sang Penulis, sebagai salah satu penyebab malas bangun dini hari. Lalu, bagaimana solusinya?

Dengan gaya tutur yang mengalir, Penulis memaparkan tips untuk mempermudah kita meraih manfaat besar pelaksanaan shalat Subuh. Lebih daripada itu, buku ini juga mengingatkan kembali keagungan shalat Subuh di mata syariat. Sebuah pembahasan penting, agar kita tak terjebak dalam niat yang keliru: shalat Subuh hanya untuk menjaga kesehatan.

http://www.aqwam.com/katalog/117.html
http://www.rumahbukuislam.com/index.php?id=10&kodebuku=AQW13&jml=2

sumber:
http://komunitassubuh.multiply.com




Keutamaan Subuh

Oleh : Muhammad Jihad Akbar

Shalat Subuh merupakan satu di antara shalat wajib lima waktu yang mempunyai kekhususan dari shalat lainnya dan mempunyai keutamaan yang luar biasa. Pada saat inilah pergantian malam dan siang dimulai. Pada saat ini pula malaikat malam dan siang berganti tugas (HR Al-Bukhari).

Karenanya, beruntunglah mereka yang dapat melaksanakan shalat Subuh pada awal waktu sebab disaksikan oleh malaikat, baik malaikat yang bertugas pada malam hari maupun siang. Allah SWT berfirman: ''Dan dirikanlah shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).'' (QS Al-Isra' [17]: 78).

Selain itu, shalat Subuh juga bisa menjadi penerang pada hari ketika semua orang berada dalam kekalutan (kiamat). Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, ''Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid (untuk mengerjakan shalat Subuh) dengan cahaya yang terang benderang (pertolongan) pada hari kiamat.'' (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majah).

Tak hanya itu, Allah pun telah menyiapkan pahala yang luar biasa bagi mereka yang membiasakan shalat Subuh tepat pada waktunya, yaitu mendapatkan pahala sebanding dengan melakukan shalat semalam suntuk. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, ''Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat semalam suntuk.'' (HR Bukhari).

Di antara hikmah dan alasannya adalah karena shalat Subuh merupakan shalat wajib yang paling ''sulit'' dikerjakan pada awal waktu. Banyak di antara kita lebih memilih untuk tidur di atas kasur empuk dan selimut yang hangat. Padahal, seruan Allah (adzan) pada waktu Subuh telah memberitahukan kita bahwa shalat itu lebih baik daripada tidur.

Secara ilmiah, benar adanya bahwa bangun pagi dan melakukan shalat lebih baik daripada terus tidur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Louis J Ignarro dan Ferid Murad, pembuluh darah manusia akan mengembang pada tengah malam terakhir sampai menjelang siang. Kemudian secara berangsur-angsur sekumpulan sel darah akan menggumpal pada dinding pembuluh sehingga terjadi penyempitan. Inilah yang mengakibatkan tekanan darah tinggi.

Menurut peraih Nobel bidang Fisiologi dan Kedokteran tahun 1998 ini, ada cara alamiah yang bisa dilakukan oleh setiap orang, yaitu menggerakkan tubuh sejak pagi buta. Karena, penelitian mereka menunjukkan bahwa dengan menggerak-gerakkan tubuh, gumpalan sel tadi akan melebur bersama aliran darah yang terpompa dengan kencang pada saat bergerak.

Maka, beruntunglah mereka yang terbiasa menggerakkan tubuh pada waktu Subuh dengan bangun tidur lalu berwudhu kemudian berjalan menuju masjid guna shalat Subuh berjamaah.

sumber:
http://komunitassubuh.multiply.com/links/item/8/Keutamaan_Subuh



Gerakan Subuh Massal

[Dipetik dari Buku "Menguak Misteri Shalat Subuh" hlm. 123]
http://komunitassubuh.multiply.com/reviews/item/3

Istilah ini menyeruak bersama terbitnya buku "Misteri Shalat Subuh" edisi Bahasa Indonesia. Gerakan Subuh Massal, gerakan apa pula ini? Penulis paham, bahwa ini hanya sebentuk ajakan, sebentuk dakwah untuk mengajak kaum muslimin melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Itu sungguh niat yang tulus. Tapi, semata-mata niat baik, di sisi Allah tidaklah cukup.

Abdullah bin Mas'ud ra menyatakan, "Berapa banyak orang yang berniat baik tetapi tidak mendapatkan kebaikan tersebut."[1]

Mengajak orang atau masyarakat Islam untuk rajin melaksanakan shalat Subuh, sangatlah bagus, bahkan itu tuntutan bagi setiap juru dakwah. Tapi untuk kemudian memberi istilah khusus bagi dakwah tersebut dengan gerakan subuh massal, masih sangat diragukan keabsahannya, kalau tidak bisa dibilang tidak benar dan cukup berbahaya. Karena kalau istulah itu baik, tentu sudah digunakan oleh para ulama. Dan kalau itu digunakan, kenapa tidak ada dipakai juga istilah gerakan Isya' massal, gerakan haji massal, gerakan puasa Ramadhan massal dan sejenisnya? Selain itu istilah gerakan subuh massal dikhawatirkan akan memberikan kekhususan tersendiri pada shalat Subuh. Betapapun keistimewaan dari shalat Subuh, pengkhususan seperti itu tidaklah pernah didengung-dengungkan oleh para ulama Ahlussunnah. Ini seolah-olah merupakan dakwah khusus, untuk memassalkan shalat Subuh.

Memang, penulis yakin, pencetus istilah ini tidaklah berkeinginan untuk membuat kerancuan dalam istilah dakwah. Tapi sebagai rambu-rambu, penulis selalu ingatkan dengan sabda Nabi saw,

"Barangsiapa yang membuat-buat suatu amalan baru dalam agama kita ini yang bukan darinya, maka amalannya tersebut tertolak."[2]

--

[1] Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya nomor 210, dengan tahqia Abdullah Hasyim Yamani. Sanadnya dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah dengan nomor 2005. Lihat Majma'uz Zawa-id I:181

[2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718) dari hadits 'Aisyah.

sumber:
http://komunitassubuh.multiply.com/journal/item/15/Gerakan_Subuh_Massal


rahasia salat subuh

oleh : Dr. dr. Barita Sitompul SpJP

Setiap pagi kalau kita tinggal didekat mesjid maka akan terbangun mendengar adzan subuh, yang menyuruh kita untuk melaksanakan shalat subuh. Bagi mereka yang beriman segera saja melemparkan selimut dan segera wudhu dan shalat baik di rumah masing-masing atau ke mushalla atau masjid terdekat dengan berjalan kaki.

Mungkin menjadi pertanyaan mengapa Tuhan memerintahkan kita bangun pagi dan shalat subuh? Berbagai jawaban dari semua disiplin ilmu tentunya akan banyak dijumpai dan membedah serta memberikan jawaban akan manfaat shalat subuh itu. Dibawah akan diulas sedikit mengani manfaat shalat subuh, instruksi Allah sejak 1400 tahun yang lalu.

Dalam adzan subuh juga akan terdengar kalimat lain dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang dikumandangkan muazin untuk waktu-waktu shalat selanjutnya. Kalimat yang terdengar berbeda dan tidak ada pada azan di lain waktu adalah “ash shalatu khairun minan naum”.

Arti kalimat itu adalah shalat itu lebih baik dari pada tidur. Pernahkah kita mencoba sedikit saja menghayati kalimat ”ash shalatu khairun minan naum”?

Mengapa kalimat itu justru dikumandangkan hanya pada shalat subuh, tatkala kita semua sedang terlelap, dan bukan pada adzan untuk shalat lain.

Sangat mudah bagi kita semua mengatakan bahwa shalat subuh memang baik karena menuruti perintah Allah SWT, Tuhan semesta Alam, Apapun perintahnya pasti bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tetapi disisi mana manfaat i tu? Apa supaya waktu banyak untuk mencari rezeki, tidak ketinggalan kereta atau bus karena macet? Pada waktu dulukan belum ada desak-desakan seperti sekarang semua masih lancar, untuk itu tinjauan dari sisi kesehatan kardiovaskular masih menarik untuk dicermati.

Untuk tidak berpanjang kata, maka dikemukakan data bahwa shalat subuh bermanfaat karena dapat mengurangi kecenderungan terjadinya gangguan kardiovaskular.

Pada studi MILIS, studi GISSI 2 dan studi-studi lain di luar negeri, yang dipercaya sebagai suatu penelitian yang shahih maka dikatakan puncak terjadinya serangan jantung sebagian besar dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Mengapa demikian? Karena pada saat itu sudah terjadi perubahan pada sistem tubuh dimana terjadi kenaikan tegangan saraf simpatis (istilah Cina:Yang) dan penurunan tegangan saraf parasimpatis (YIN). Tegangan simpatis yang meningkat akan menyebabkan kita siap tempur, tekanan darah akan meningkat, denyutan jantung lebih kuat dan sebagainya.

Pada tegangan saraf simpatis yang meningkat maka terjadi penurunan tekanan darah, denyut jantung kurang kuat dan ritmenya melambat. Terjadi peningkatan aliran darah ke perut untuk menggiling makanan dan berkurangnya aliran darah ke otak sehingga kita merasa mengantuk, pokoknya yang cenderung kepada keadaan istirahat.

Pada pergantian waktu pagi buta (mulai pukul 3 dinihari) sampai siang itulah secara diam-diam tekanan darah berangsur naik, terjadi peningkatan adrenalin yang berefek meningkatkan tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah (efek vasokontriksi) dan meningkatkan sifat agregasi trombosit (sifat saling menempel satu sma lain pada sel trombosit agar darah membeku) walaupun kita tertidur. Aneh bukan? Hal ini terjadi pada semua manusia, setiap hari termasuk anda dan saya maupun bayi anda. Hal seperti ini disebut sebagai ritme Circardian/Ritme sehari-hari, yang secara kodrati diberikan Tuhan kepada manusia. Kenapa begitu dan apa keuntungannya Tuhan yang berkuasa menerangkannya saat ini.

Namun apa kaitannya keterangan di atas dengan kalimat ”ash shalatu khairun minan naum”? Shalat subuh lebih baik dari tidur?

Secara tidak langsung hal ini dapat dirunut melalui penelitian Furgot dan Zawadsky yang pada tahun 1980 dalam penelitiannya mengeluarkan sekelompok sel dinding arteri sebelah dalam pada pembuluh darah yang sedang diseledikinya (dikerok).

Pembuluh darah yang normal yang tidak dibuang sel-sel yang melapisi dinding bagian dalamnya akan melebar bila ditetesi suatu zat kimia yaitu: Asetilkolin. Pada penelitian ini terjadi keanehan, dengan dikeluarkannya sel-sel dari dinding sebelah dalam pembuluh darah itu, maka pembuluh tadi tidak melebar kalau ditetesi asetilkolin.

Penemuan ini tentu saja menimbulkan kegemparan dalam dunia kedokteran.
“Jadi itu toh yang menentukan melebar atau menyempitnya pembuluh darah, sesuatu penemuan baru yang sudah sekian lama, sekian puluh tahun diteliti tapi tidak ketemu”.

Penelitian itu segera diikuti penelitian yang lain diseluruh dunia untuk mengetahui zat apa yang ada didalam sel bagian dalam pembuluh darah yang mampu mengembangkan/melebarkan pembuluh itu. Dari sekian ribu penelitian maka zat tadi ditemukan oleh Ignarro serta Murad dan disebut NO/Nitrik Oksida.

Ketiga penelitian itu Furchgott dan Ignarro serta Murad mendapat hadiah NOBEL tahun 1998.

Zat NO selalu diproduksi, dalam keadaan istirahat tidur pun selalu diproduksi, namun produksi dapat ditingkatkan oleh obat golongan Nifedipin dan nitrat dan lain-lain tetapi juga dapat ditingkatkan dengan bergerak, dengan olahraga.

Efek Nitrik oksida yang lain adalah mencegah kecenderungan membekunya darah dengan cara mengurangi sifat agregasi/sifat menempel satu sama lain dari trombosit pada darah kita.

Jadi kalau kita kita bangun tidur pada pagi buta dan bergerak, tatkala tamu yang tidak kita inginkan selalu saja sowan pada setiap pagi gelap, maka hal itu akan memberikan pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular. Naiknya kadar NO dalam darah karena exercise yaitu wudhu dan shalat sunnah dan wajib, apalagi bila disertai berjalan ke mesjid merupakan proteksi bagi pencegahan kejadian kardiovaskular.

Selain itu patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejan, posisi ini meningkatkan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis). Dengan exercise tubuh memproduksi NO untuk melawan peningkatan kadar zat adrenalin di atas yang berefek menyempitkan pembuluh darah dan membuat sel trombosit darah kita jadi bertambah liar dan inginnya rangkulan terus.

Demikianlah kekuasaan Allah, ciptaannya selalu dalam berpasang-pasangan, siang-malam, panas-dingin, dan NO-Kontra anti NO.

Allah, sudah sejak awal Islam datang menyerukan shalat subuh. Hanya saja Allah tidak secara jelas menyatakan manfaat akan hal ini karena tingkat ilmu pengetahuan manusia belum sampai dan masih harus mencarinya sendiri walaupun harus melalui rentang waktu ribuan tahun. Petunjuk bagi kemaslahatan umat adalah tanda kasihNya pada hambaNya. Bukti manfaat instruksi Allah baru datang 1400 tahun kemudian. Allahu Akbar.

Mudah-mudahan mulai saat ini kita tidak lagi memandang sholat sebagai perintahNya akan tetapi memandangnya sebagai kebutuan kita. Sehingga tidak merasa berat dan terpaksa dalam menjalankan ibadah dan selalu shalat subuh didahului dengan shalat sunnah dan kalau dapat jalan ke mesjid.

Dan juga anda jangan jadi terlalu bersemangat, karena ingin sehat sehingga shalat subuhnya jadi 3 atau 4 rakaat. Itu tidak ada dalam petunjuk shalat. Selamat shalat subuh dengan penuh rasa syukur pada Allah akan karunia ini. Amien.

sumber:
http://komunitassubuh.multiply.com/journal/item/11/rahasia_salat_subuh



KEAJAIBAN SHALAT SUBUH

Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Imad Ali Abdus Sami Husain
-Menguak Misteri Kemuliaan dalam Sholat Subuh-

Penulis adalah Doktor bidang Dakwah dan Tsaqofah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo
Penerbit: W.I.P (Wacana Ilmiah Press)

SINOPSIS:

Sungguh, masjid-masjid di seluruh penjuru dunia ini merintih pedih dan mengeluh kepada Allah karena dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika shalat Subuh tengah dilaksanakan. Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masjid itu mengadu kepada Robbnya Yang Agung.

Masjid-masjid itu semakin merintih tatkala di waktu jamaah sholat Subuh ditegakkan, keadaan dirinya laksana "panti jompo" saja, karena hanya dihadiri oleh orang-orang yang telah lanjut usia, itupun hanya beberapa gelintir orang saja. Dimanakah kaum muda kita? Dimanakah mereka yang begitu bersmangat menghadiri jamaah shalat Jum'at, namun merasa berat dan malas tatkala menghadiri jamaah shalat Subuh di waktu pagi buta itu? Tidak tahukah mereka bahwa Rasul saw. telah bersabda, "Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya' dan Subuh." (HR. Ahmad).

Buku ini disusun dilatarbelakangi oleh keprihatinan penulis tentang diremehkannya pelaksanaan shalat Subuh oleh umat Islam, padahal di dalamnya terkandung kemuliaan yang agung. Buku ini berusaha mengungkapkan keajaiban dan misteri kemuliaan yang ada di balik pelaksanaan shalat Subuh. Dalam buku ini juga dimuat beberapa kiat praktis untuk menggugah diri agar merasa enteng menghadiri jamaah shalat Subuh. Sebuah buku praktis dan penting untuk dimiliki oleh kaum muslimin di manapun saja berada.

sumber:
http://komunitassubuh.multiply.com/reviews/item/2


http://komunitassubuh.multiply.com

http://gerakansubuhmassal.multiply.com
 
Ajaran Sosial Shalat

Oleh : A Zaenal Muttaqien
Amal hamba yang pertama diperiksa pada hari kiamat adalah shalat. Jika sempurna shalatnya maka sempurna amal yang lainnya. (HR Ahmad). Shalat adalah tolok ukur utama untuk menentukan bagus tidaknya amalan seseorang, begitu kurang lebih maksud sabda Rasul SAW tersebut.

Sebagai ibadah wajib, shalat berbeda dengan ibadah yang lainnya. Dalam Alquran kata perintah yang dipakai oleh Allah untuk mewajibkan perintah shalat memakai kata iqoma yang artinya tegakkan. Kata tegak di sini mengandung pengertian bahwa shalat tidak berhenti pada pelaksanaannya saja, lebih dari itu adalah mewujudkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karena, shalat pada dasarnya miniatur kehidupan orang beriman.

Shalat termasuk ibadah ritual yang tidak dapat dipisahkan dengan masalah sosial. Baik tidaknya shalat seseorang tidak hanya dinilai dari segi teknisnya (kaifiyah) saja, tapi juga perilaku sosialnya. Firman Allah: Sesungguhnya shalat itu mencegah dari keji dan mungkar (QS Al-Ankabut [29]: 45). Bahkan, Allah mencela orang yang shalat tapi perilakunya buruk.

Firman Allah, ''Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan memberi dengan barang berguna.'' (QS Al Ma'un [107]: 4-5). Kalau selama ini kita mengerjakan shalat tapi perilaku sosial kita belum baik, itu artinya kita belum termasuk dalam kategori menegakkan shalat.

Budaya jam karet yang masih subur dan rendahnya disiplin di kalangan orang Islam, tidak sejalan dengan ajaran shalat yang lebih utama dilakukan di awal waktu. Makin suburnya individualisme, hedonisme, dan pudarnya rasa kegotongroyongan sangat betolak belakang dengan ajaran shalat yang lebih diutamakan dikerjakan dengan berjamaah.

Shalat sangat ditekankan untuk dilaksanakan dengan berjamaah. Perbandingan pahala shalat berjamaah dengan shalat sendirian satu berbanding dua puluh tujuh.

Shalat bila ditegakkan dengan benar, juga akan membuat jiwa-jiwa menjadi tenang dan tenteram. ''Bahwasanya manusia dijadikan berkeluh kesah, apabila ditimpa kesukaran ia gundah, dan apabila mendapat kebaikan ia kikir, kecuali orang-orang yang shalat. (QS Al Maarij [70]: 19-22).

Sudahkah kita menegakkan shalat? Ataukah kita sekadar melakukannya untuk menggugurkan kewajiban saja?

Sumber:
http://komunitassubuh.multiply.com/links/item/7


http://komunitassubuh.multiply.com
http://gerakansubuhmassal.multiply.com





Pembeda Orang Muslim dan Munafik

Keutamaan shalat shubuh, banyak dijelaskan Rasulullah SAW dalam berbagai hadisnya. Bahkan, dalam sebuah hadisnya ia menyebutkan bila umat Islam mengetahui bagaimana istimewanya shalat shubuh, maka mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.

Sayangnya, masjid sering kosong bila shalat shubuh. Sangat kontras dengan waktu-waktu lainnya apalagi dibandingkan dengan jamaah shalat Jumat. ''Shalat shubuh itu shalat istimewa bagi umat Islam walaupun semua shalat lima waktu itu wajib. Nabi Muhammad SAW yang mengatakan perbedaan orang muslim dengan munafik adalah menghadiri shalat berjamaah shubuh,'' ujar Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI) yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Ahmad Satori. Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, Senin (19/3), dia bertutur mengenai keistimewaan shalat shubuh dan upaya-upaya yang harus dilakukan agar umat Islam rajin shalat shubuh berjamaah.
Berikut petikannya:

Bagaimana kedudukan shalat Shubuh dalam Islam?

Shalat subuh itu shalat istimewa bagi umat Islam walapun semua shalat lima waktu itu wajib tetapi kewajiban untuk shalat Subuh apalagi berjamaah lebih istimewa karena ada hadis-hadis yang menyebutkan seperti, ''Barangsiapa yang shalat Subuh maka dia berada di dalam lindungan Allah SWT.'' Berarti kalau orang shalat Subuhnya berjamaah pada waktu itu dia akan mendapat lindungan dari Allah, dia pagi-pagi sudah keluar rumah mendapatkan udara segar, dia jalan menuju masjid sudah olahraga, dan sudah bertemu dengan sudara-saudaranya, berjabat tangan, silaturahim, pagi hari sudah dimulai dari itu. Oleh sebab itu shalat Subuh memang bagi umat Islam sangat istimewa. Apalagi ada hadis yang mengatakan perbedaan orang muslim dengan orang munafik adalah menghadiri shalat berjamaah Subuh. Kualitas keimanan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana shalat Subuhnya itu.

Tapi mengapa shalat Subuh “kalah pamor” ketimbang shalat Jumat, misalnya, sehingga jamaah Subuh selalu berbilang jari?

Karena kurangnya pemahaman. Padahal seseorang yang shalat Subuh berarti dia sudah menang dari setan. Seseorang yang tidur tidak membaca doa itu dikencingi setan. Maka, untuk menghilangkan pengaruh dari kencing setan itu pertama, dia bangun kemudian berdoa, Alhamdulillahillazi ahyana ba'dama amatana wailaihinnusyur. (Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami dari tidur dan kepada-Nyalah segala sesuatu akan kembali). Itu satu simpul setan akan hilang. Kemudian disambung dengan mengambil air wudu, hilang satu lagi. Kemudian dia ketika niat shalat Allahu Akbar ketika takbiratul ihram maka simpulnya akan hilang semua. Maka terlepas dari godaan setan, itu intinya.

Di sinilah perbedaan antara mukmin yang imannya mantap dengan mukmin yang di dalam dirinya ada kemunafikan. Itu sebagai ukuran shalat Subuh. Betul kalau kata umat lain seandainya umat Islam itu shalat Subuhnya seperti shalat Jumat, hebat sekali. Kalau saya perhatikan hampir-hampir orang Islam itu yang sehari-hari tidak melaksanakan shalat tapi ketika JUmat dia pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat.

Kalau shalat Subuh benar-benar dilaksanakan oleh umat Islam akan memiliki kekuatan yang dahsyat, ya?
Dahsyat. Karena waktu Subuh adalah waktu yang sangat mahal. Mengapa dikatakan mahal? Dikatakan juga dalam hadis kalau tidur sesudah shalat Subuh itu bisa menjadikan kita fakir. Dan bisa kelihatan orang yang shalat Subuh dengan orang yang tidak shalat Subuh. Orang yang shalat Subuh itu pagi harinya cerah kemudian banyak doa-doa yang perlu dibaca setelah shalat Subuh. ''Barangsiapa setelah shalat Subuh membaca doa tertentu seperti Ayat Kursi atau Sayyidul Istigfar akan mendapatkan jaminan bahwa dia kelak meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.'' Jadi, shalat Subuh banyak sekali keutamannya.

Adakah keinginan dari IKADI untuk menggerakkan para dai daerah-daerah agar budaya shalat shubuh bisa dibangkitkan?

[size=10pt]Kami dari IKADI meminta setiap daerah yang ada di 26 provinsi itu agar menggerakkan semua umat ini untuk rajin berjamaah.[/size] O0 Khusus yang shalat Jamaah Subuh. Kalau bisa mengadakan pengajian setelah shalat Subuh minimal pada hari Ahad atau Sabtu sampai matahari terbit. Sebab kata Rasulullah SAW, ''Barangsiapa shalat Subuh berjamaah di masjid kemudian dia zikir lalu mendengarkan pengajian sampai terbit matahari kemudian setelah terbit matahari dia shalat dua rakaat maka dia mendapatkan pahala seperti haji secara sempurna. Itu keutamaan shalat Subuh yang tidak didapat pada shalat-shalat lain.

Tetapi mengapa shalat Subuhnya hanya dua rakaat. Apa sebenarnya makna di balik itu?

Mengapa cuma dua rakaat? Dua itu kondisinya kita disunahkan ayatnya agak panjang. Supaya tadabburnya lebih. kemudian shalat itu sebenarnya di samping untuk beribadah kepada Allah, punya makna kesehatan jasmani. Nah, ketika orang shalat Subuh malamnya baru istirahat, tidak bekerja, kondisi otak fresh karena baru terlentang, suplay darah segar cukup banyak. Ketika shalat Subuh tidak usah panjang-panjang seperti shalat Zuhur empat rakaat karena ketika Subuh itu orang baru istirahat. Berbeda dengan shalat Zuhur, ditambah Qobliyah empat rakaat dan Ba'diyah empat rakaat, ada yang muakkad (ditekankan) dan gairu muakad (Tidak ditekankan). Hal ini untuk mengimbangi dari pagi sampai siang dia duduk atau berdiri yang mana ketika itu suplay darah ke otak berkurang. Maka perlu sujudnya cukup banyak, rukunya banyak.

http://gerakansubuhmassal.multiply.com/journal/item/9/Pembeda_Orang_Muslim_dan_Munafik
 
Kedahsyatan Sholat Berjamaah

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku’(QS. Al-Baqarah; 43)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=2&No=43#43

Hampir selama hidupnya, Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun, beliau bersama sahabatnya melaksanakan sholat dengan berjamaah. Padahal mereka sedang sibuk-sibuknya dengan tugas suci.

Kalau dibanding dengan kita memang sangat jauh, padahal kita tidak segenting keadaan perang. Kita bahkan sedang istirhat kerja siang, atau sedang asik menyantap makanan, atau sedang bercumbu dengan keluarga. Namun saat sedang terdengar adzan, kita masih santai saja. Tidak segera berangkat ke masjid atau musholla untuk melaksanakan sholat berjamaah.

Suatu hari datang seorang laki-laki buta kepada Rasulullah saw bermaksud ingin meminta keringanan dalam sholat berjamaah karena kondisinya yang buta. Orang buta itu berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak ada seorang penuntun yang menuntunku ke Masjid, bolehkah aku tidak sholat dengan berjamaah dan cukup sholat di rumah?” Lalu Nabi saw memberi keringanan tentang hal itu, namun tatkala orang itu mau beranjak, Rasulullah saw memanggilnya dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan panggilan sholat?” Orang buta itu menjawab, “Ya”. Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, sambutlah (berangkatlah sholat berjamaah)” (HR: Muslim)

Subhanallah !!, sebegitu pentingnyanya sholat berjamaah hingga kepada orang buta yang tidak ada seorang yang menuntunnya saja Rasulullah masih memerintahkan untuk sholat berjamaah, apalagi dengan kita yang masih sehat bugar?

Bahkan Rasulullah saw hampir-hampir akan membakar rumah orang muslim yang tidak berangkat sholat berjamaah. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh aku pernah akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan untuk shalat, lalu adzan pun dikumandangkan. setelah itu, aku menyuruh orang untuk menjadi imam shalat berjamaah. Lalu aku pergi ke rumah orang-orang yang tidak memenuhi panggilan shalat, dan aku bakar rumah mereka saat mereka berada di dalamnya. “ (HR: Bukhori Muslim).

Mengapa sholat berjamaah begitu penting?
Mengapa Rasulullah sangat menekankan sholat berjamaah?
Rahasia apa yang ada dibalik sholat berjamaah?

Beberapa keutamaan dan rahasia di balik shalat berjamaah antara lain:

Pertama, Orang yang sholat berjamaah akan mendapat pahala 27 derajat dibanding sholat sendirian. Rasulullah saw bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, dengan dua puluh tujuh derajat” (HR: Bukhori Muslim). Jadi, dengan sholat berjmaaah kualitas sholat kita 27 kali lipat dibanding sholat sendirian. Kalau dianalogikan dengan emas, sholat berjamaah itu 24 karat atau emas murni.

Kedua, Setiap langkah kaki dalam perjalanan kita ke Masjid diangkatnya derajat kita dan dihapuskannya dosa kita. Rasulullah saw bersabda, “Apabila dia wudhu sempurna, kemudian keluar menuju ke masjid dengan niat hanya untuk shalat, maka setiap kali ia melangkah, derajatnya dinaikkan dan kesalahan dosanya dihapuskan” (HR: Bukhori Muslim)

Ketiga, Orang yang sholat berjamaah senantiasa didoakan oleh para malaikat. Rasulullah saw bersabda, “Malaikat akan senantiasa memohonkan ampun dan rahmat untuknya, selama ia masih tetap berada di tempat shalatnya dan tidak berhadast. Malaikat berkata,”Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia” (HR: Bukhori Muslim)

Keempat, Orang yang rajin shalat berjamaah maka akan terhindar dari penguasaan syetan, seperti kesurupan atau kerasukan. Rasuluillah saw bersabda, “Tidaklah tiga orang berada di suatu desa atau kampung lalu mereka tidak melakukan shalat berjamaah, kecuali mereka telah dikuasai oleh syetan” (HR: Abu Daud)

Kelima, Suatu penduduk apabila rajin melaksanakan sholat berjamaah, maka akan diberikan ketentraman, persatuan, persaudaraan dan tidak mudah diprofokasi. Rasulullah saw bersabda, “Karena itu shalatlah dengan berjamaah !, karena srigala itu hanya menerkam kambing yang jauh terpencil dari kawan-kawannya (jamaahnya)” (HR: Abu Daud)

Ketika Eropa dikuasai Islam berabad-abad lamanya, orang Nasrani ingin merebut kembali Eropa, lalu diuituslah orang di antara mereka untuk menyelidiki kondisi umat Islam. Saat masuk, utusan ini menyaksikan di subuh hari masjid-mesjid penuh sesak dengan orang yang shalat dengan berjamaah, sedang di siang harinya, pemuda muslim merasa sedih hanya dapat memanah satu sasaran dalam latihan memanah dan tidak bisa lebih dari itu. Lalu orang nasrani ini melaporkan temuannya, dan mereka menyimpulkan bahwa orang islam sulit diserang secara fisik. Akhirnya mereka mengirim budak-budak wanita cantik ke negeri Islam. Lalu setelah setahun, mereka menyelidiki kondisi umat Islam lagi, sekarang terlihat masjid-mesjid sepi jamaah di subuh hari, dan pemuda Islam bersedih bukan karena tidak bisa memanah tapi karena wanita. Pada saat itulah orang Nasrani menyerang umat islam, dan akhirnya umat Islam pun hilang dari peta Eropa hingga kini. ##

sumber:
http://muhammadjamhuri.blogspot.com/2007/06/kedahsyatan-sholat-berjamaah.html


Telusuri lagi di
http://www.google.co.id/search?q=Sh...&rls=org.mozilla:en-US:official&start=10&sa=N
 
Mari Shalat Berjama’ah :yihaa:​

Betapa mudahnya kita mencari masjid (termasuk mushalla) di Jakarta. Hampir di setiap RT ada masjid. Ketika waktu shalat tiba, berkumandanglah adzan di mana-mana. Kumandang itu tidak hanya dari satu dua speaker, tetapi bisa jadi dari lima atau enam corong suara masjid. Subhanallah.

Akan tetapi tidak semua muslim yang mendengar seruan Allah itu terpanggil dan mendatangi masjid untuk shalat berjama’ah.

Kesadaran sebagian kaum muslimin akan pentingnya shalat berjama’ah –yang dalam sebuah hadits diterangkan jika manusia tahu keutamaan shalat berjama’ah, dia akan mendatanginya, walaupun dalam keadaan merangkak– masih belum tumbuh. :( Buktinya dapat kita lihat pada shaf-shaf shalat di masjid.

Pengaruh globalisasi juga terasa sampai ke rumah-rumah kaum muslimin. Mereka terkotak-kotak dalam batas administratif seperti RT/RW, desa/kelurahan. Jarang muslim yang sedang mukim di suatu wilayah administratif shalat di masjid seberang (lain RT/RT atau desa/kelurahan). Sehingga jika di suatu RT,misalnya, tidak terdapat masjid/musholla kebanyakan masyarakat memilih shalat di rumahnya daripada harus shalat di masjid lain RT.

Fenomena lainnya adalah adanya sebagian “ahli agama”, seperti yang biasa disebut “ustadz” yang jarang shalat lima waktu di masjid.
Mereka lebih sering kelihatan di masjid waktu Shalat Jumat saja. :-\

Ada cerita ironi yang aku dengar dari seorang teman. Seseorang mencari alamat seorang “ustadz” untuk suatu keperluan. Karena belum tahu alamat persisnya, dia mencari masjid di sekitar alamat rumah “ustadz” tersebut. Dalam pikirannya dia berharap akan bertemu “ustadz” di masjid atau kalaupun tidak ada di masjid dia bisa menanyakan alamatnya kepada salah satu jama’ah di masjid itu.

Akan tetapi, ternyata “ustadz” itu tidak dikenal oleh jamaah masjid. Bahkan beliau jarang/tidak pernah shalat di masjid itu. Subhanallah. :jaim:

Ada anekdot yang berkembang di sebagian ikhwah, setelah kejadian pemboman AW Restoran di Mal Kramat Jati Indah beberapa waktu yang lalu. Pelaku bom tersebut selamat. Ternyata dia itu seorang yang rajin beribadah, rajin shalat di masjid, rajin mengaji. Kemudian, orang-orang pada menebak, siapa dia. Ada yang menjawab, bahwa pelaku pemboman itu pasti bukan ikhwah. Alasannya adalah karena ikhwah sekarang sudah nggak rajin shalat berjamaah dan nggak rajin mengaji (membaca Al-Qur’an) lagi. Gubrak! Aku sendiri tidak setuju seratus persen dengan sindiran ini, walaupun fenomena ini mesti harus kita waspadai.

Memang masih ada beberapa kekurangan yang kita temui di masjid-masjid kita.

Pertama, masalah kebersihan masjid termasuk toilet. Seorang dai terkenal pernah menyindir kejorokan kita dengan mengatakan bahwa untuk mencari masjid cium saja yang bau-bau (maaf, maksudnya bau pesing). :wataw:

Yang kedua, mengenai ketepatan waktu shalat. Poros putar bumi terhadap matahari tidak tegak lurus. Hal ini mengakibatkan salah satunya waktu shalat yang berdasarkan matahari dari hari ke hari berubah-ubah secara periodik tahunan. Kadang-kadang waktu shalat Isya’ jam tujuh malam kurang. Kadang-kadang lebih dari jam setengah delapan malam baru masuk waktu Isya’. Beberapa masjid masih secara tradisional menentukan waktu shalat dengan berpedoman pada jam. Pokoknya waktu shalat Isya’ itu jam tujuh malam. Padahal, jadwal shalat selama setahun sudah banyak tersebar. Televisi dan radio pun juga sering memperdengarkan suara adzan (walaupun sebagian besar hanya untuk shalat maghrib doang). Dan satu lagi, masjid itu berada di tengah kota besar. Kan berabe kalau pas jadwal waktu shalat Isya’ jam setengah delapan lewat masjid itu sudah selesai shalat Isya’ jam tujuh seperempat. Ini mengenai sah dan tidahnya shalat. Shalat sah salah satunya jika dikerjakan pada waktunya.

Berikutnya, jeda waktu antara adzan dan iqamah hanya sebentar, :koran: sekitar dua rekaat ringan saja. Sehingga untuk orang yang letak rumahnya dengan masjid cukup jauh atau untuk orang yang masih harus BAK dulu rawan menjadi makmum masbuk. Apalagi untuk shalat subuh, dengan logika orang bangun tidur karena mendengar adzan subuh. Setelah itu dia tidak bisa langsung ke masjid.
Mungkin kucek-kucek mata dulu, melihat jam, pergi ke toilet, wudhu, lalu shalat sunnah fajar. Baru pergi ke masjid. Bukan tidak mungkin ketika dia sampai di masjid tinggal salam saja. Kalau tidak mengerjakan shalat sunnah fajar dan langsung ke masjid berarti dia meninggalkan shalat sunnah yang pahalanya lebih baik daripada dunia seisinya.
Al-Ustadz Daud Rasyid Sitorus dalam sebuah acara pernah mengatakan, idealnya, jarak waktu antara adzan dan iqamah itu sekitar 15 sampai 20 menit. Jadi, tidak banyak makmum yang masbuk seperti sekarang. dan ini akan meningkatkan semangat jamaah ke masjid karena dia berfikir bahwa pasti belum telat shalat berjamaah.

Berikutnya, sering kita temui bacaan imam yang belum sesuai dengan tajwid. Memang ini karena kemungkinan memang tidak ada yang lain yang mau memimpin shalat berjamaah.

Tata cara dzikir yang tidak sesuai juga agak mengganggu bagi jamaah yang tidak biasa. Terus terang, saya sejak kecil dibesarkan bukan di lingkungan yang menjaharkan dzikir dan doa setelah shalat fatdhu. Jadi agak terganggu dengan masjid yang di dalamnya ada dzikir dan doa setelah shalat secara jahr. :koran:

Betapapun masih banyak kekurangan yang kita temui di masjid-masjid kita, bukan berarti kita meninggalkan mereka. bahkan dengan kehadiran kita diharapkan kekurangan-kekurangan itu seduikit demi sedikit bisa kita kurangi.

Pernah seorang teman mengirim email yang berisi slide shalat berjamaah di berbagai negara yang karena susahnya mencari masjid sampai ada yang shalat di jalanan, di trotoar, di stasiun kereta api, dan sebagainya. Mereka bersemangat shalat berjamaah walaupun kondisinya jauh dari ideal, yaitu di masjid. Banyak pula walaupun kondisi perang, tetap mempertahankan syariat shalat berjamaah. Apalagi kita yang secara umum dalam keadaan aman.

So, mari kita shalat berjama’ah..... :yihaa: :iyes:

Sumber:
http://kaveleri.wordpress.com/2007/01/18/mari-shalat-berjamaah/

Referensi google O0: :koran:
Search GOOGLE.....:koran:



Mari... ^,^ Back To Masjid.....
http://sibin2007.multiply.com/tag/masjid
 
Shalat Kita

assalaamu’alaikum wr. wb.
Bagaimana pun saya haqqul yaqiin bahwa sebagian besar Muslim di Indonesia ini paham betul bahwa shalat adalah tiang agama. Jangankan Muslim, teman saya yang non-Muslim saja banyak yang mengetahui hal tersebut. Sebagai sarjana teknik sipil, saya bisa menjamin bahwa keberadaan tiang dalam sebuah bangunan itu sifatnya sangatlah struktural, bukan sekedar ornamental. Jangankan rubuh, tiang baru retak-retak pun kita harus sudah mulai waspada.

Ironisnya, banyak yang meremehkan shalat. :o Masih banyak hal yang dalam shalat yang digampangkan oleh sebagian besar jamaah shalat di masjid-masjid, apalagi mereka yang shalat sendirian di rumah. Perlu suara-suara kritis untuk mengumandangkan protes kepada umat ini,
Setujuh...ane... O0.... ;)
karena banyak diantara mereka yang telah mengabaikan shalatnya. Karena shalat lima waktu itu dianjurkan berjamaah (setidaknya buat laki-laki), dan shalat berjamaah adalah urusan publik, maka menjadi tanggung jawab kita bersama pula untuk meluruskannya. O0

Semoga tulisan serba ringkas dan sederhana ini bisa membuat kita lebih waspada akan tiang agama kita, sehingga tidak rubuh begitu saja ketika diterpa badai, atau digerogoti oleh rayap secara perlahan.

Kerapatan Shaf

Apa susahnya merapatkan shaf? Pertanyaan ini sudah bergayut-gayut dalam pikiran saya sejak SD. Mengapa orang-orang begitu sulit merapatkan shaf? Apakah mereka jijik dengan orang di sebelahnya? Ataukah mereka ingin terlihat ‘terpisah dari yang lain’, dengan kata lain : asal beda? Karena ego, gengsi, atau sajadah yang terlalu lebar?

Saya seringkali kecewa menyaksikan bapak-bapak yang selalu tiba duluan sebelum adzan berkumandang, duduk dengan setia menunggu waktu shalat, dengan pakaian yang rapi, kemudian berdzikir dan (kelihatannya) khusyuk sekali. Akan tetapi, ketika berdiri untuk shalat, mereka mengambil jarak terlalu jauh sesuai lebar sajadahnya yang bagus-bagus itu. Ini shalat atau pagelaran fashion sajadah??? Barangkali banyak yang lupa bahwa sajadah itu sama sekali tidak wajib untuk dibawa. Ia bisa digantikan dengan tikar, atau jika tempatnya sudah cukup bersih, lantai marmer atau beton pun sah untuk shalat. Adapun kerapatan shaf adalah syarat bagi kesempurnaan shalat. Apa di negeri ini memang sudah jarang orang yang ingin menyempurnakan shalatnya?

Keseriusan Bacaan

Jangan pernah mengadakan survei pengetahuan tentang makna bacaan shalat, karena kelihatannya Anda pasti kecewa!

Ketika bacaan hanya menjadi sekedar komat-kamit di mulut dan tidak menghasilkan getaran perasaan apa pun di dalam dada, maka perbedaan antara mereka yang shalat dan dukun yang mencari wangsit di kuburan sangatlah tipis. Barangkali banyak yang akan tersinggung jika dirinya diperbandingkan dengan para pelaku khurafat seperti dukun, akan tetapi maafkanlah perbandingan ini jika sekiranya memang ekstrem, dan pikirlah baik-baik. Apa bedanya?

Jika agama ini kita anut atas dasar ketidakmengertian kita, atau kita memutuskan untuk menjadi Muslim dengan niat untung-untungan seperti membeli lotere, maka tidaklah heran jika shalat kita tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan pribadi. Jangan banyak berteori tentang bagaimana shalat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, karena yang biasa kita lakukan selama ini hanyalah ‘jurus’ dan ‘mantera’ belaka. ‘Jurus’ adalah gerakan-gerakan shalat, sedangkan bacaan-bacaan yang tidak kita mengerti itu kurang lebih sama saja dengan ‘mantera’.

Mana yang Didahulukan?

Jika Anda disuruh memilih antara yang bid’ah dan yang wajib, manakah yang akan Anda tunaikan terlebih dahulu? Orang waras pasti memilih yang wajib. Namun kenyataannya, yang wajib dalam shalat justru sering diabaikan, sementara yang bid’ah (harap diingat bahwa bid’ah belum tentu buruk) dipraktekkan secara konsisten.

Di masjid-masjid, kebiasaan bersalaman setelah shalat justru lebih konsisten dilakukan daripada menjaga kerapatan shaf atau melaksanakan shalat dengan tuma’ninah. Jangankan para ma’mum, imamnya pun seringkali membaca dengan kecepatan tinggi, sehingga prinsip tuma’ninah hanya menjadi materi hapalan buat anak-anak SD saja. Sulit mengharapkan anak-anak untuk mempraktekkan tuma’ninah jika orang tuanya sendiri shalat lebih cepat dari bayangannya sendiri (ungkapan hiperbola yang dipinjam dari komik Lucky Luke tanpa ijin – red).

Menunggu Pionir...:hmmm:
O0
Sebenarnya tidak sulit membiasakan shalat yang benar. Sayangnya, sudah terlanjur mewabah ucapan semacam : “Jadi orang baik itu susah!”. Jika kita yakin bahwa ajaran Islam itu sesuai dengan fitrah, maka sudah barang tentu Islam ini tidak sulit. Justru melanggar aturan Islam itulah yang menyusahkan hati manusia. Ketimbang melaksanakan shalat dengan benar, mengabaikan aturan-aturan shalat sudah pasti lebih menyusahkan, karena akan menimbulkan akibat negatif, atau setidaknya, membuat shalat kita menjadi tidak ‘tepat sasaran’.

Mengajak teman-teman sekantor untuk shalat tepat waktu itu tidak sulit.
Mengajak mereka untuk shalat di Masjid pun bukan mustahil.
Barangkali perubahan tidak akan terjadi dalam sekejap, tapi pasti ada hasilnya. O0

Mengapa banyak yang terlalu takut untuk menjadi pionir? ::)
Mengapa terlalu malu untuk menerima sebutan ‘orang alim’,
padahal seorang Muslim memang tidak boleh tidak alim?
Mengapa harus menahan diri untuk melakukan perubahan?
Mengapa harus menunggu-nunggu orang lain untuk sebuah inisiatif sederhana?
Aneh bukan kepalang... :-\
wassalaamu’alaikum wr. wb.

kutip:
http://akmal.multiply.com/journal/item/524/Shalat_Kita
 
Aktifkan GSM-mu!

3 jaringan GSM-mu!. Heheh pake 3 memang ngirit. Bayangkan aja, dengan voucher sms cukup 10 rb gratis sms sesama 3,nelpon 1 rp/menit dari jam 1 pagi ampe jam 1 siang, sms ke lain operator Rp 110. Murah banget oey.. Sampai-sampai anak DS Sleman yang se amanah dengan saya pada punya nomor wajib n nomor sunnah, nomor sunnahnya ya nomor 3. Ada keunggulan pasti ada kelemahan, memang itulah sifak fisis dunia. Klo udah pulkam, 3 ga ada sinyal, klo mau SMS atau nerima SMS harus mendeket tower listrik duluw, di tengah sawah. [waduw]. Huayoo para provider dan developer 3 diperbagus dunk jaringannya, kalahkan dengan teknologi kengiritan jaringan CDMA. Semoga aja yang baca ada salah satunya provider 3. [Hehehe]. Udah aghh ngiklannya…


GSM disini sebenarnya bukan rivalnya si CDMA.
Tapi GSM, Gerakan Subuh Massal.
Aktifkan GSM-mu!.


Berdasarkan survey saya sholat ini yang paling banyak ditinggalkan anak-anak SMA.
Kesiangan lah, terlalu dingin, keburu sekolah lah dsb. Lawong namanya juga punya mutarobi anak SMA ya harus benar-benar sabar, memang beda karakteristiknya dengan anak-anak kampus. Beda jauh!.Kelompok halaqoh yang beda, problem pun juga beda begitu pula terapi penyembuhannya. Ehm,.. harus belajar ulang mensejajarkan level pemikiran, menaikkan pemahaman yang memang harus dinaikkan. Berusaha ‘berbicaralah sesuai denagn kaumnya’ ya itu dia.. . Dimana-mana mah praktek mah lebih susye dari teori, so keinginan kuat untuk melakukan suatu hal yang kita niati.

Semoga yang merequest tulisan ini, tidak berkecil hati karena saya baru sempat nulis tentang hal ini. Akhir-akhir ini memang agak padat kesibukannya. [ Afwan yaa..].

The next, menuju keshalihan pribadi dan keshalihan umat. Gimana mau sholeh secara jamai lawong kesholehan diri saja susye melakukannya. Logika gampangannya seperti itu. Sedikit mengintip kebiasaan Rosul zaman dahulu, yang tak henti-hentinya segala peradaban di zaman itu merupakan peradaban yang ‘unic n wonderfull’ dan merupakan kiblat ibadah untuk segala zaman.

Salah satu peradaban lingkungan yang membudaya adalah, masjid menjadi center of activity, center learning, n center of solution.

Oleh karena itu hati para syuhada dan sahabat begitu dekat sekali dengan yang namanya Masjid. Untuk mengecheck seberapa kuat barisan perang, ya di check pada saat aktivitas sholat berjamaah di masjid. Untuk mengecheck iltizam ( komitmen-red) seorang sahabat ya dilihat dari kedatangan sahabat tersebut dalam forum sholat berjamaah. Terlambatkah? Tepat waktunya kah? Kondisi sholatnya? Dsb.

Sehingga dari masjid tercipta basis sosial Islami. Saya teringat pas ramadhan lalu, i’tikaf di masjid Jogokaryan. Hampir sama kondisinya, masyarakat di sekitar masjid benar-benar terkondisikan menjadi masyarakat yang Islami. Wagh klo pas jualan pun waktu sholat benar-benar dialokasikan untuk sholat.

Wagh angannya saya mulai terbayang ke masa gemilang itu, indah kali ya berada di lingkungan seperti itu. Mulai dari sebuah masjid sebuah peradaban baru mulai dibentuk dan dibina. Mulai dari sebuah masjid tatanan pemerintahan mulai dirancang.

Sungguh masjid punya peran besar dalam pembentukan karakter seseorang, jujur saja terbilang agak ‘kacaw’ dan lumayan ‘tersandung’ bahkan mungkin hamper ‘jatuh’ pasca KKN dan amanah saya kelar untuk ngurusi dakwah kampus yang juga center of activitynya di MMU ( Mushola Mipa Utara).
Sertasa ada yang berbeda. Mulai menjerambah dakwah sekolah, center of activitynya juga di Masjid, ya agak lumayan terkondisikan. Kemudian ganti amanah untuk daerah local yang berbeda, center of activity-nya bukan lagidi Masjid, walaupun aktivitasnya masih aktivitas yang berbau dakwah, tapi ternyata kerasa juga bedanya. Memang rumahNya lebih terasa adem dan tenang disbanding bangunan lain, sesimple apapun rumahNya itu.

Sempat protes juga dalam hati, ruangan sesempit itu koq digunakan syuro untuk ikhwan akhwat segh! Ga nyaman ajah!. Sekali lagi, jamaah ini adalah jamaah manusia yang punya banyak kekurangan disana sini, saya bisa terima itu, tapi akan lebih bagus lagi klo qt benahi bersama bukan?. Terlepas saya sebagai seorang manusia juga, yang mungkin Alloh masih menutupi aib saya, dan semoga yang tahu hanya saya dan Dia SWT. Dan Astaghfirulloh… Izinkan aku memperbaikinya ya Robb secepatnya sebisanya…

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz said that “ Menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk takut kepada Allah dalam meninggalkan shalat berjamaah, serta berhati-hati terhadap musibah yang banyak menimpa manusia (musibah tidak shalat berjamaah). ‘Berlindunglah kepada Allah dari akibat shalat di rumah dan ketinggalan shalat di masjid. Keadaan mereka nyaris menyerupai keadaan kaum munafik.

Ia melaksanakan shalat fardhu di rumah, padahal Allah telah mengaruniakan kesehatan kepadanya, barangkali juga ia mengakhirkan shalat Shubuh hingga terbitnya matahari, bahkan sampai waktu ia akan berangkat kerja baru melaksanakan shalat Shubuh, atau bahkan ia tinggalkan shalat sama sekali.

Ini adalah musibah yang besar dan kemungkaran yang membahayakan, karena shalat adalah tiangnya Islam. Barangsiapa menjaga berarti menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya tentulah ia akan lebih menyia-nyiakan hal yang lain, barangsiapa meninggalkannya maka termasuk kafir. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam neraka” (QS At-Taubah: 17).

Mari aktifkan GSM qt. Gerakan Subuh Massal, yang ikhwan berduyun-duyun ke Masjid. O0
Dan yang akhwat bersama-sama juga menggiatkan GSM di lngkungannya. Hehhehe termasuk juga mensupport diri untuk kembali menggiatkan GSM di Karima yang sempat mati akhir-akhir ini karena kesibukan diri, wagh kadang males banget ngebangunin anak-anak, sok cuek, sok males. Alhasil ga kompak degh subuhannya. Gimana mau sholeh secara jamai ngelola subuhan di kost aja ga bisa, koreksi besar buwatmu Mel…

Yupz.. mari perbaiki diri kondisi dan lingkungan sekitar kita, aktifkan GSM-m, mulai dari lingkungan yang terdekat denganmu. Menuju kesholehan umat berawal dari kesholehan pribadi. Mustahil dakwah social bisa berjalan tanpa qt juga berjalan didalamnya.

sumber:
http://melati-asih.web.ugm.ac.id/2008/02/26/aktifkan-gsm-mu/
 
Assalaamu’alaikum....

mengenai sholat berjamaah, da tuh yg berkenaan dengan masbuk. da yg bisa bantu yah tentang tuntunan masbuk. trims

wassalam
 
Andaikan Shalat Shubuh dan Isya bisa seramai shalat Idul Fitri >:D<>:D<>:D<
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.