• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sexism Erotica Itu Feminin?

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
UU Pornografi dibuat untuk siapa? Yang jelas obyeknya adalah perempuan. Sexism adalah aura perempuan. Erotism adalah pancaran sihir perempuan. Begitulah inti genderism UU Pornografi.

Laki-laki sepertinya mahluk tanpa akhlak yang selalu ingin mengumbar birahinya bukan hanya untuk bereproduksi tapi sekedar nafsu, sekedar kesenangan. Laki-laki seperti selalu mudah terangsang. Sekalipun impotent nafsunya tetap menggelora walaupun tidak mampu tegak. Kiamat. Begitulah laki-laki digambarkan. Mahluk yang harga dirinya berpusat pada kelaminnya.

Tabloid-tabloid murah yang mengumbar gambar-gambar erotis pembangkit syahwat begitu banyak dan mudah didapat. Katanya perempuan harus dilindungi dan tidak menjadi obyek exploitasi sexualitas. Benarkah? Tidakkah terbalik. Gambar-gambar yang memancing, membuat lelaki merogoh koceknya. Gambar-gambar yang membuat laki-laki muda sulit tidur dan selalu berfantasi bahkan sakit kepala. Laki-lakilah yang harus dilindungi.

sexy2.jpg


Katanya karena banyak ketidak senonohan terjadi. Lelaki selalu berpikir cabul. Melihat pantat indah bergoyang-goyang. Sensasi sensual mengumbar fantasi liar insting dominasi seksual atas perempuan yang sekali lagi menjadi obyek dalam pikiran, dalam imajinasi dan dalam keinginan laki-laki. Seolah laki-laki hanya akan menjadi pejantan. Bukankah laki-laki harus menjadi lebih terhormat, seorang gentleman yang tidak hanya memikirkan aurat atau berpikir dengan kelaminnya? Sungguh lelaki sepertinya memang perlu dilindungi kehormatannya.

Tenar dalam cerita hikayat bagaimana Ken Arok darahnya menggelegak hingga tragis menumpahkan darah. Melakukan makar, hanya demi melihat betis mulus Ken Dedes, walau tanpa rok mini. Laki-laki seolah memang susah dikendalikan syahwatnya.

Betis, paha, dada, leher, bibir, bahkan suara perempuan bisa membangkitkan imaginasi liar dalam diri laki-laki normal. Laki-laki mudah bangkit syahwatnya dan selalu ingin mengumbarnya walaupun tidak senonoh. Ini tidak boleh dibiarkan. Ini harus dicegah. Segala sumber keliaran imajinasi laki-laki normal harus dilarang.

Laki-laki memang mahluk syahwat, bukan perempuan. Laki-laki harus dijaga kehormatannya, tidak boleh dibiarkan menjadi liar dan rendah karena kelaminnya. Perempuan adalah penyebab laki-laki tersungkur, berwajah mesum dengan liur menetes tanpa terkendali, jadi mahluk rendah. Tubuh perempuan selalu menjadikan laki-laki cuma menjadi pejantan tanpa bisa menjadi gentleman yang terhormat.

Tapi siapa peduli sexualitas perempuan? Bahkan urusan O pun seakan tidak semua perempuan ditakdirkan boleh menikmatinya? Bahkan dalam urusan kamarpun perempuan harus menempatkan diri sebagai pelayan dan bukan dilayani? Diminta tetapi tidak boleh meminta? Tidakkah ada yang peduli fantasi sexual perempuan?

Siapa peduli perempuan akan terangsang dan sakit kepala melihat lelaki tampan bertelanjang dada, dengan otot-otot kekarnya dan perut yang mengguratkan keperkasaan? Siapa peduli perempuan akan selalu terbayang bagaimana indahnya perasaan didekap dan bercinta dengan lelaki pemilik tubuh atletis yang mengumbar keindahan raganya dalam balutan kaus ketat? Yang mungkin bisa memberikan multiple O?

Ataukah bukan tidak peduli, tetapi perempuan dianggap tidak bisa demikian. Tidak seperti laki-laki yang selalu memikirkan syahwat. Ataukah perempuan tidak pantas berorientasi sexual. Perempuan tidak memiliki hak untuk itu. Perempuan tidak boleh demikian.

Tidakkah perempuan juga bisa terangsang oleh suara bariton, postur yang gagah dan tubuh atletis. Tidakkah perempuan juga bisa terangsang oleh ketelanjangan laki-laki? Bukankah itu berarti erotika?

Tapi mengapa pornografi selalu dikaitkan dengan ketelanjangan perempuan? Selalu dikaitkan dengan dada perempuan, tidak dengan dada laki-laki?

Sungguh haruslah dipuji kejeniusan ide pembuat vibrator. Barang ‘berbahaya’ yang bisa menjadi saingan terberat ‘kelamin’ laki-laki ini bahkan bisa tampil sebagai symbol feminism yang melambangkan hak seksual perempuan dan kesetaraan ketika berada di atas ranjang bahkan kemandirian.

Undang-undang pornografi memang tidak eksplisit menyebut peruntukannya adalah perempuan. Tidak semua perlu tersurat dengan jelas bila yang tersirat sudah dapat dimengerti. Apakah laki-laki bertelanjang dada itu porno?
 
ge ngga setuju sama UU app, sangat diskriminasi pada wanita banget ,
 
g juga ga setuju bgt sama RUU APP.. ngurusin yg korupsi aja blm becus mau urusin yg lain...
kaya orng sok suci aj.. masa orng mau pke ap musti di atur2..
dmana kebebasan kita sebagai manusia yg mempunyai hak asasi, klo berpakaian aj di atur2..
 
g juga ga setuju bgt sama RUU APP.. ngurusin yg korupsi aja blm becus mau urusin yg lain...
kaya orng sok suci aj.. masa orng mau pke ap musti di atur2..
dmana kebebasan kita sebagai manusia yg mempunyai hak asasi, klo berpakaian aj di atur2..

Udah disahkan Loh.... bukan RUU lagi....:D
 
Kasihan Indonesia

Semakin terjajah diatas hitam putihnya kemerdekaan kita
 
diskriminatif........YA..........

useless..........NO!

emang si ini UU gagal,soalnya cakupanya cuma wanita doang sebagai oblyek,bukan para kaum adam...
tapi kan ini juga bisa jadi momentum buat evaluasi masyarakat??
 
Setuju2, gw rasa banyakan yg nolak tapi kob bisa2nya di sahkan...
negara Demokratis?
cuihh...
 
Suply dan Deman masih tinggi ..... pasti ga berlaku

Ada Peraturan pasti ....

Banyak Jalan Menuju Roma ..... /gg /gg
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.