Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Di umur saya yg baru atau sudah -entah mengatakan mana yg tepat antara baru atau sudah- seperempat zaman ini, saya baru atau sudah beberpa kali mengalami gonjang-ganjing dalam beragama. Mulai dari mempertanyakan fungsi-fungsi keberagamaan hingga puncaknya mungkin mempertanyakan keeksisan Tuhan sebagai komponen utama dalam beragama.
Dalam banyak hal, saya termasuk orang yg cukup keras kepala. Termasuk dalam beragama. Saya seperti umat beragama yg lain akan sering mengatakan bahwa apa yg saya anut & percayai adalah suatu hal yg benar. Tentang apa yg orang anut, saya berlepas dari padanya. Tapi saya dapat pastikan kalau saya akan membela hal-hal yg saya yakini.
Hal-hal yg saya yakini di atas bukan cuma terbatas pada apa agama saya, tetapi hingga apa madzhab yg saya anut, syariat yg saya jalankan hingga ke-tetek bengek lainnya. Makanya sejak lama misalkan ada orang bertanya tentang suatu perkara syariat, maka saya akan menyebutkan apa yg saya anut dengan memberikan penegasan-penegasa bahwa yg saya yakini tersebut adalah kebenaran.
Tapi waktu berjalan. Pertanyaan-pertanyaan dalam hidup saya masih terus berjalan. Hingga kadang saya bertanya,"Apakah dalam beragama saya sudah ideal? Bahkan untuk membenarkan pendepat-pendapat saya, apakah saya mengerjakan pembenaran dengan baik?"
Saya dapat dengan mudah menjawab pertanyaan teman-teman di luar Islam kenapa ada disparitas jumlah rakaat taraweh, penentuan awal bulan Ramadan hingga hal-hal kilafiyah lainnya. Dengan berbagai macam cara, saya akan menjelaskan kepada mereka bahwa sesungguhnya Islam itu satu, hal-hal yg membangun Islam yg satu itu berasal dari banyak tafsir itu adalah yg wajar. Tapi sebaliknya, saya kerap kali terlalu keras kepada sesama muslim kalau saya membela hal-hal yg saya yakini & akan sering mencari pembenaran bahwa yg saya yakini lebih benar daripada yg diyakini teman-teman muslim lainnya yg berbeda. Ironis memang setelah saya pikir-pikir.
Apakah tujuan beragama adalah seperti itu? Membela mati-matian agamanya, lalu saling serang antar madhzabnya? Antar tarekat-tarekatnya?
Saya teringat suatu ayat yg sering dibaca saat kita tertimpa musibah,"Inna lillahi wa inna ilaih rajiuun,"yang memuat arti bahwa apa yg dari Allah akan kembali kepada Allah.
Lantas, kalau segala hal yg saya yakini & imami adalah hasil proses berpikir yg semuanya adalah berasal dari Allah, apakah sudah saya perpakai & jalankan hingga outputnya untuk Allah? Atau jangan-jangan saya selama ini memperpakai yg dari Allah cuma untuk ego saya semata?
Lagipula setelah saya pikir-pikir kembali, kita semua termasuk saya belum tentu menjalankan kebeneran-kebeneran yg hakiki. Karena pada dasarnya, tak ada dari kita yg benar-benar memiliki jalan yg lurus. Setiap dari kita pasti mengalami lika-liku hidupnya masing-masing termasuk lika-liku dalam berpikir & beragama. Maka Allah sering mengingatkan kita minimal sehari 17 kali melalu salat untuk sering membaca Al-Fatihah yg di mana ayat ke-enamnya mengajak kita untuk tahu diri bahwa kita orang yg berada dalam jalan yg berliku, kita adalah kesesatan hingga harus sering memintasiratal mustaqim,jalan yg lurus.
Segala perbedaan-perbedaan dari kita adalahsunnatullah.Karena pada hakikatnya tak ada manusia yg benar-benar sama. Tak ada yg pernah mengalami suatu hal secara sama dalam ruang & waktu yg sama. Kita semua berliku, kita semua sesat dalam kesesatannya masing-masing. Jika kita tak pernah tiba padasiratal mustaqimyang sering kita minta setiap harinya, setidaknya kita menyadari kesesatan kita sebelum menunjuk yg lain sesat.
Tulisan ini ditulis oleh Fatio Nurul Efendi diCangkemanpada tanggal 6 April 2022.
Kemarin 22:51