• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Setelah 'Tuhan' ada orang bernama 'syaiton'

facebookeb

IndoForum Senior A
No. Urut
210735
Sejak
9 Jan 2013
Pesan
7.471
Nilai reaksi
100
Poin
48
BOW1A.jpg
Ternyata banyak sekali nama-nama unik di Tanah Air. Setelah pria bernama Tuhan asal Banyuwangi, kali ini ada lagi seorang bapak bernama Saiton (sebelumnya ditulis Syaitan), asal Talang Jambe, Sukarame, Palembang.

Kepada merdeka.com, Saiton menceritakan awal mula kedua orangtuanya memberikan nama yang terdengar menyeramkan itu.

"Jadi saya itu sebenarnya kalau hidup semua ada 13 bersaudara," ungkapnya di awal perbincangan, Rabu (26/8).

Dari 13 anak yang dilahirkan, 10 orang saudara kandungnya meninggal dan hanya tiga orang yang hidup salah satunya Saiton. Kalau itu, orangtuanya sempat khawatir nyawa Saiton tak akan bertahan seperti 10 saudara kandungnya yang meninggal.

"Nah saya ini anak ketigabelas. Kata orangtua saya, dia putus asa, anggap saya juga enggak mungkin hidup," bebernya.

Rupanya, Allah berkehendak lain. Pria kelahiran 10 Februari 1976 di Desa Paldas Kabupaten Banyuasin itu tumbuh sehat. "Lalu orang tua saya bingung, dikasih lah nama itu (Saiton)," ucapnya tertawa.

Sebenarnya, kata Saiton, kedua orangtuanya sempat berniat mengubah nama bapak empat anak itu. Tapi yang terjadi Saiton malah sakit-sakitan.

"Setelah umur 3 tahun, mau diubah sebenarnya, ternyata saya sakit 3 bulan. Lalu kata orang kampung harus kembali ke nama awal enggak boleh diubah. Ya sampai sekarang lah," tambah pria yang baru saja menamatkan gelar S2 sebagai Magister Administrasi Publik ini.

Tak hanya saat itu, beberapa kali Saiton sempat diusulkan mengubahnya. Termasuk atasannya saat bekerja di satu perusahaan.

"Pernah ada yang pernah mau coba (ubah), udah baca Yassin tapi saya sakit, kembali ke awal lagi (namanya) dan sembuh. Pimpinan tempat saya kerja sampai keluar biaya, saya tetap sakit," ungkap pria yang kini berprofesi sebagai guru komputer itu.

"Sakitnya itu panas dingin, kontak ke badan saya, saya sering dapat mimpin firasat," sambung dia.

Belajar dari hal itu, Saiton memutuskan menerima nama yang sudah diberikan orangtuanya. Toh, kata dia, yang terpenting adalah kepribadian dan tingkah lakunya tak begitu.

"Saya punya prinsip, walaupun nama seperti itu yang penting sifatnya enggak gitu. Banyak nama Muhammad tapi kelakuannya gak kaya gitu. Kalau orang bilang apa lah arti sebuah nama, walaupun kata ustad nama adalah doa," ucapnya mantap.
 
Guru Komputer dan Wakil Kepala Sekolah
x7iwM.jpg
Selain menjadi guru komputer, Saiton (39) juga dipercaya menjabat sebagai wakil kepala salah satu SMK di Palembang. Meski namanya berkonotasi negatif dan tak lazim di masyarakat umum, Saiton mengaku tidak minder.

Kepada wartawan, Saiton menuturkan perjalanan hidup termasuk menempuh pendidikan hingga mengantongi ijazah magister. Saiton termasuk orang yang sejak kecil sudah terbiasa merantau.

Setelah taman SD di desanya di Desa Paldas, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Saiton melanjutkan sekolah di SMP Betung yang tak jauh dari kampungnya.

Begitu lulus, lagi-lagi menempuh pendidikan yang lebih jauh, yakni di SMA Pangkalan Balai, Banyuasin. Keinginannya untuk menjadi pengajar akhirnya membuat Saiton nekat merantau ke Palembang seorang diri untuk menimbah ilmu.

Di kota itu, Saiton seakan tak puas dengan ilmu yang didapatkan. Sebab, dia pernah menjadi mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi. Dimulai dari diploma satu (D1) di lembaga pelatihan Ristek, D3 sains dan teknologi, serta S1 di kampus Setya Negara.

Selang lima tahun lulus S1, Saiton kembali melanjutkan pendidikan S2 jurusan Administrasi Publik di Universitas Chandradimuka Palembang. Gelar magister dia dapatkan selama dua tahun masa pendidikan.

"Kalau sekolah itu saya ngebet sekali, alhamdulillah sekarang sudah dapat gelar S2," ungkap Saiton saat dijumpai di kediamannya di Perumahan Taman Mekar Sari, Kelurahan Talang Jambi, Kecamatan Sukarami, Palembang, Rabu (26/8) malam.

Saiton mengungkapkan, dirinya sudah bergelut menjadi pengajar sejak lulus D1. Karena berprestasi dan keahliannya dinilai cukup, dia dipekerjakan oleh almamaternya itu untuk menjadi pengajar dalam waktu beberapa tahun.

Karena sudah mengantongi ijazah sarjana, Saiton melamar menjadi guru honorer di SMK Bistek Palembang. Di sana dia menjadi guru mata pelajaran teknik komputer. Tak lama kemudian, Saiton diangkat sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum hingga sekarang.

"Alhamdulillah, jadi wakil kepala sekolah di SMK Bistek. Saya juga masih ngajar di SMK lain dengan pelajaran komputer," ujarnya.

"Tidak minder kok. Ya memang, orang tahunya syaitan itu sukanya mengganggu. Tapi saya sukanya belajar dan jadi pengajar," tutupnya tertawa.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.