yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Ekspor Indonesia ke sejumlah negara-negara dunia kini makin membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juli ekspor Indonesia meningkat 4,60 persen dibanding Juni menjadi US$16,15 miliar. Namun, angka perdagangan Juli masih defisit US$176 juta, karena impor nasional masih tercatat US$16,32 miliar.
"Adapun bila dibandingkan Juli 2011, ekspor Juli ini masih turun 7,27 persen," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin 3 September 2012.
Bila dibandingkan dengan data ekspor-impor bulan-bulan sebelumnya, Juli lalu mengalami perbaikan dengan penurunan defisit yang cukup tajam. Sebab pada Juni defisit perdagangan mencapai US$1,33 miliar.
Memang sejak April, perdagangan Indonesia mengalami defisit terus menerus. Puncaknya pada Juni ketika ekspor turun 8,7 persen, sedangkan impor masih tinggi.
Peningkatan ekspor pada Juli disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar 5,04 persen, menjadi US$13,17 miliar. Demikian juga ekspor migas juga naik 2,69 persen menjadi US$2,97 miliar.
Kenaikan itu juga disebabkan oleh peningkatan ekspor minyak sebesar 8,14 persen menjadi US$356,5 juta, dan ekspor gas meningkat sebesar 4,98 persen menjadi US$1,71 miliar.
Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif selama Januari–Juli 2012 mencapai US$113,11 miliar atau turun 2,52 persen dibanding periode sama 2011. Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai US$89,96 miliar atau turun 2,90 persen.
China pasar utama
Hingga saat ini perdagangan Indonesia masih mengandalkan China. China merupakan tujuan utama ekspor nonmigas dengan jumlah US$1,57 miliar. Lalu disusul Jepang US$1,53 miliar, dan Amerika Serikat US$1,28 miliar. "Kontribusi ketiganya mencapai 33,32 persen," kata Suryamin.
Sementara, ekspor ke 27 negara di Uni Eropa yang saat inis edang dilanda krisis hanya US$1,66 miliar.
Total Ekspor nonmigas Juli 2012 mencapai US$13,17 miliar, naik 5,04 persen dibanding Juni 2012. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Juli 2012 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$831,7 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$171,8 juta.
Untuk impor, selama Juli mencapai US$16,32 miliar atau turun 2,39 persen jika dibanding Juni. Kondisi itu disebabkan oleh penurunan impor migas sebesar 18,51 persen, walaupun impor nonmigas meningkat 1,66 persen.
Penurunan impor migas juga disebabkan oleh turunnya impor minyak mentah dan hasil minyak masing-masing sebesar 17,48 persen serta 18,16 persen. Demikian juga dengan impor gas yang menurun 28,56 persen.
Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada April 2012 dengan nilai mencapai US$4,12 miliar dan terendah terjadi pada Juli, yaitu US$2,73 miliar. Sementara itu, nilai impor nonmigas tertinggi tercatat pada Juli, yaitu sebesar US$13,59 miliar dan terendah pada Agustus 2011 dengan nilai US$11,26 miliar.
Data ekspor-impor sepanjang tahun ini
[TABLE="class: grid, width: 368, align: center"]
[TR]
[TD="width: 64"]Bulan[/TD]
[TD="width: 81"]Ekspor*[/TD]
[TD="width: 86"]Impor*[/TD]
[TD="width: 137"]Neraca Perdagangan*[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Januari[/TD]
[TD]15,49[/TD]
[TD]14,57[/TD]
[TD]0,92[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Februari[/TD]
[TD]15,65[/TD]
[TD]14,95[/TD]
[TD]0,7[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Maret[/TD]
[TD]17,27[/TD]
[TD]16,43[/TD]
[TD]0,84[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]April[/TD]
[TD]15,98[/TD]
[TD]16,62[/TD]
[TD]-0,64[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Mei[/TD]
[TD]16,72[/TD]
[TD]17,21[/TD]
[TD]-0,49[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Juni[/TD]
[TD]15,36[/TD]
[TD]16,69[/TD]
[TD]-1,33[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Juli[/TD]
[TD]16,15[/TD]
[TD]16,33[/TD]
[TD]-0,18[/TD]
[/TR]
[/TABLE]
* Dalam miliar dolar AS
Fokus pasar lokal
Meski telah membaik dibandingkan bulan lalu, nilai ekspor secara total turun tajam dibandingkan tahun lalu. "Masih minus 7,27 persen," kata Ekonom Indef, Enny Sri Hartati, kepada VIVAnews, Senin.
Memang, bila dibandingkan dengan bulan lalu, terjadi 4,6 persen, tapi sebelumnya habis anjlok 8,7 persen.
Di tengah kondisi global yang masih krisis, sulit berharap terjadi peningkatan ekspor nonmigas, tentunya karena daya saing produk Indonesia yang rendah.
Di sisi migas juga tak lebih baik. Pada awal tahun ini terjadi penurunan harga migas dunia yang cukup signifikan. Apesnya lagi, harga migas telah terpatok dengan perjanjian jangka panjang, sehingga ekspor sulit meningkat.
China sebagai negara tujuan ekspor utama Indonesia juga mengalami koreksi pertumbuhan ekonomi. Demikian juga AS dan Jepang, juga mengalami nasib sama.
Satu-satunya cara memang melakukan deversifikasi negara tujuan ekspor, seperti Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah. "Tapi ini tak bisa instan," ujar Enny.
Alumni Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Management IPB ini mengatakan, defisit neraca perdagangan mustinya tidak perlu terjadi jika pemerintah bisa mengelola impor. Sebab faktor utama defisit adalah peningkatan impor yang sangat tajam. "Di tengah krisis global, Indonesia bisa lebih baik jika fokus pada pasar dalam negeri," katanya.
"Adapun bila dibandingkan Juli 2011, ekspor Juli ini masih turun 7,27 persen," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin 3 September 2012.
Bila dibandingkan dengan data ekspor-impor bulan-bulan sebelumnya, Juli lalu mengalami perbaikan dengan penurunan defisit yang cukup tajam. Sebab pada Juni defisit perdagangan mencapai US$1,33 miliar.
Memang sejak April, perdagangan Indonesia mengalami defisit terus menerus. Puncaknya pada Juni ketika ekspor turun 8,7 persen, sedangkan impor masih tinggi.
Peningkatan ekspor pada Juli disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar 5,04 persen, menjadi US$13,17 miliar. Demikian juga ekspor migas juga naik 2,69 persen menjadi US$2,97 miliar.
Kenaikan itu juga disebabkan oleh peningkatan ekspor minyak sebesar 8,14 persen menjadi US$356,5 juta, dan ekspor gas meningkat sebesar 4,98 persen menjadi US$1,71 miliar.
Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif selama Januari–Juli 2012 mencapai US$113,11 miliar atau turun 2,52 persen dibanding periode sama 2011. Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai US$89,96 miliar atau turun 2,90 persen.
China pasar utama
Hingga saat ini perdagangan Indonesia masih mengandalkan China. China merupakan tujuan utama ekspor nonmigas dengan jumlah US$1,57 miliar. Lalu disusul Jepang US$1,53 miliar, dan Amerika Serikat US$1,28 miliar. "Kontribusi ketiganya mencapai 33,32 persen," kata Suryamin.
Sementara, ekspor ke 27 negara di Uni Eropa yang saat inis edang dilanda krisis hanya US$1,66 miliar.
Total Ekspor nonmigas Juli 2012 mencapai US$13,17 miliar, naik 5,04 persen dibanding Juni 2012. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Juli 2012 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$831,7 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$171,8 juta.
Untuk impor, selama Juli mencapai US$16,32 miliar atau turun 2,39 persen jika dibanding Juni. Kondisi itu disebabkan oleh penurunan impor migas sebesar 18,51 persen, walaupun impor nonmigas meningkat 1,66 persen.
Penurunan impor migas juga disebabkan oleh turunnya impor minyak mentah dan hasil minyak masing-masing sebesar 17,48 persen serta 18,16 persen. Demikian juga dengan impor gas yang menurun 28,56 persen.
Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada April 2012 dengan nilai mencapai US$4,12 miliar dan terendah terjadi pada Juli, yaitu US$2,73 miliar. Sementara itu, nilai impor nonmigas tertinggi tercatat pada Juli, yaitu sebesar US$13,59 miliar dan terendah pada Agustus 2011 dengan nilai US$11,26 miliar.
Data ekspor-impor sepanjang tahun ini
[TABLE="class: grid, width: 368, align: center"]
[TR]
[TD="width: 64"]Bulan[/TD]
[TD="width: 81"]Ekspor*[/TD]
[TD="width: 86"]Impor*[/TD]
[TD="width: 137"]Neraca Perdagangan*[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Januari[/TD]
[TD]15,49[/TD]
[TD]14,57[/TD]
[TD]0,92[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Februari[/TD]
[TD]15,65[/TD]
[TD]14,95[/TD]
[TD]0,7[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Maret[/TD]
[TD]17,27[/TD]
[TD]16,43[/TD]
[TD]0,84[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]April[/TD]
[TD]15,98[/TD]
[TD]16,62[/TD]
[TD]-0,64[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Mei[/TD]
[TD]16,72[/TD]
[TD]17,21[/TD]
[TD]-0,49[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Juni[/TD]
[TD]15,36[/TD]
[TD]16,69[/TD]
[TD]-1,33[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD]Juli[/TD]
[TD]16,15[/TD]
[TD]16,33[/TD]
[TD]-0,18[/TD]
[/TR]
[/TABLE]
* Dalam miliar dolar AS
Fokus pasar lokal
Meski telah membaik dibandingkan bulan lalu, nilai ekspor secara total turun tajam dibandingkan tahun lalu. "Masih minus 7,27 persen," kata Ekonom Indef, Enny Sri Hartati, kepada VIVAnews, Senin.
Memang, bila dibandingkan dengan bulan lalu, terjadi 4,6 persen, tapi sebelumnya habis anjlok 8,7 persen.
Di tengah kondisi global yang masih krisis, sulit berharap terjadi peningkatan ekspor nonmigas, tentunya karena daya saing produk Indonesia yang rendah.
Di sisi migas juga tak lebih baik. Pada awal tahun ini terjadi penurunan harga migas dunia yang cukup signifikan. Apesnya lagi, harga migas telah terpatok dengan perjanjian jangka panjang, sehingga ekspor sulit meningkat.
China sebagai negara tujuan ekspor utama Indonesia juga mengalami koreksi pertumbuhan ekonomi. Demikian juga AS dan Jepang, juga mengalami nasib sama.
Satu-satunya cara memang melakukan deversifikasi negara tujuan ekspor, seperti Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah. "Tapi ini tak bisa instan," ujar Enny.
Alumni Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Management IPB ini mengatakan, defisit neraca perdagangan mustinya tidak perlu terjadi jika pemerintah bisa mengelola impor. Sebab faktor utama defisit adalah peningkatan impor yang sangat tajam. "Di tengah krisis global, Indonesia bisa lebih baik jika fokus pada pasar dalam negeri," katanya.