• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Setelah Entong Gendut Ditembak di Kali Ciliwung

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Setelah Entong Gendut Ditembak di Kali Ciliwung

Ilustrasi Entong Gendut - Foto : Dok Detikcom

Entong Gendut bagi masyarakat Betawi adalah pahlawan. Berani melawan kesewenang-wenangan tuan tanah Belanda. Tapi hingga kini keberadaan makamnya masih misterius.

Baca Juga : Siasat Busuk Belanda Menumpas Entong Gendut

Nama Entong Gendut memang sangat melegenda bagi masyarakat Jakarta, khususnya warga di Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur. Tokoh yg satu ini disejajarkan dengan tokoh Betawi seperti Pitung, Jampang, Sabeni & Murtadho Macan Kemayoran. Tapi sayang, hingga kini tak ada yg tahu di mana letak makam tokoh pejuang perlawanan kepada tuan tanah Belanda tersebut.

Hampir beberapa akbar literasi yg ditemukan cuma menyebutkan Entong Gendut meninggal dunia setelah ditembak punggawa polisi Belanda atau marsose yg dipimpin langsung Asisten Residen Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) D. Heyting pada Senin, 10 April 1916. Entong Gendut gugur setelah tubuhnya diberondong timah panas senapan Belanda ketika menyeberang Kali Ciluwung di daerah Balekambang.

Entong Gendut mati setelah kelemahannya dibocorkan pengkhianat yg jadi mata-mata Belanda. Ia disebut-sebut memiliki ilmu kanuragan yg sakti, namun punya kelemahan yaitu tak boleh masuk atau terkena air. Entong Gendut sendiri memang diketahui sebagai pendekar & pemimpin perguruan pencak silat beraliran jurus Silau Macan. Selain itu, memiliki golok sakti sebagai senjatanya.

Diceritain kalau, tuh, sarung golok dibuka, Belanda langsung pada berenang aja gitu di tanah. Soalnya kalau perasaan mereka itu lagi ada di laut, tutur cucu Entong Gendut bernama Babe Taceh, yg sempat ditemui detikcom di rumahnya Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur, pada 18 Juni 2013, silam.


Setelah Entong Gendut Ditembak di Kali Ciliwung

Babe Taceh, cucu Entong Gendut sekitar tahun 2013 - Foto: Dok Detikcom

Biasanya, setelah berenang di tanah, punggawa Belanda yg sadar langsung lari kocar-kacir. Babe Taceh menjelaskan, golok sakti milik kakeknya memiliki panjang 50 Cm. Golok itu masih tersimpan di rumah salah satu kerabat Babeh Taceh. Sayangnya, golok tersebut tak boleh dipublikasikan, termasuk ketika detikcom harap melihatnya.

Berdasarkan keterangan Babe Taceh, kakeknya meninggal terkena peluru emas buatan Belanda. Menurutnya, Entong Gendut memang memiliki ilmu kebal kepada peluru, tetapi itu cuma berlaku di wilayah Condet. Ia sendiri tak tahu di mana keberadaan makam kakeknya.

Babeh Taceh mengatakan, usai tertembak punggawa Belanda, jenazah kakeknya dibawa ke pos milik Belanda dengan mengpakai mobil ambulans. Tapi begitu hingga & akan diturunkan dari mobil ambulans, jenazah Entong Gendut menghilang. "Itu yg namanya ilmu mupus. Jadi dapat ngilang & muncul di satu tempat, ungkap cucu Entong Gendut yg saat ditemui berusia 70 tahun lebih.

Babe Taceh menduga, kakeknya sempat ditemukan di daerah Cikarang, Bekasi. Setelah mupus kedua kalinya, Entong Gendut muncul lagi di daerah Karawang, Jawa Barat. Tapi tak ada yg benar-benar tahu & dapat memastikan di mana makam Entong Gendut.

Sementara di dalam buku Betawi Queen of The East tulisan wartawan senior & pemerhati sejarah, Alwi Shahab, makam Entong Gendut juga disebut tak diketahui rimbanya. Ada yg bilang beliau dimakamkan di Kemang, Jakarta Selatan. Ada juga yg bilang dimakamkan di Kampung Wadas, Bogor," mengatakan Haji Sapri Josen, salah satu cucu Entong Gendut yg lain dalam buku Alwi Shahab tersebut.


Setelah Entong Gendut Ditembak di Kali Ciliwung

Ilustrasi Entong Gendut - Ilustrator: Edi Wahyono

Dalam Simposium Sejarah Condet di Balai Karawitan Condet, Kramatjati, Jakarta Timur, 26 Juni 2019 terungkap bahwa Entong Gendut tertembak ketika menyeberang sungai di Condet Batu Ampar menjelang subuh. Entong Gendut bersama dua pengikutnya yg terluka dibawa ke rumah sakit Stovia (sekarang RSPAD Gatot Subroto).

Karena luka-lukanya cukup parah di bagian dada, Entong Gendut dirujuk ke rumah sakit Stadverband, Glodok. Namun di dalam perjalanan nyawanya tak tertolong. Di koran Bataviaasch Nieuwsblad, 11 April 1916, dituliskan dalam pertempuran itu ada tiga pengawas polisi Belanda tewas & 40 pengikut Entong Gendut ditangkap. Tapi tak disebutkan di mana jasad Entong Gendut dikuburkan. Ada yg menuliskan bahwa jasad Entong Gendut dibuang ke laut.

Yang menarik, di dalam buku Pitung (Pituan Pitulung): Jihad fi Sabilillah Para Pejuang Menyelamatkan Jayakarta (2017) karya Iwan Mahmoed Al Fatah, disebutkan Entong Gendut bagian dari perjuangan Gerakan Ki Dalang antara tahun 1914-1924. Awalnya gerakan Ki Dalang ini dibentuk untuk membersihkan kekuatan komunis yg dikembangkan Henk Sneevliet di kawasan Batavia (Jakarta, Tangerang, & Bekasi) yg didukung pemerintah kolonial Belanda.

Perjuangan Ki Dalang sendiri dimotori oleh tiga tokoh, yaitu Ki Semaun dari Teluk Naga (Tangerang), Kiai Ahmad Syari Mertakusuma dari Kampung Larangan, Cengkareng (Jakarta Barat) & Ki Abdul Karim Nitikusuma dari Kampung Duri. Gerakan perjuangan Ki Dalang ini dituliskan oleh Kiai Syari dalam kitab Al Fatawi. Selain melawan gerakan komunis, Ki Dalang juga melawan kezoliman para tuan tanah Belanda yg menguasai lahan di Jayakarta.


Setelah Entong Gendut Ditembak di Kali Ciliwung

Radin Ahmad Syar'i Mertakusuma, pimpinan Gerakan Ki Dalang (1914-1924) - Foto: Repro Buku Pitung (Pituan Pitulung)

Dalam perjuangan Ki Dalang ini, Entong Gendut mendapatkan tugas di bagian timur Jayakarta, termasuk Desa Condet. Sedangkan bagian selatan yg mendapat tugas adalah Entong Geger dari Jati Padang, Pasar Minggu, tulis Iwan dalam bukunya.

Peta pergerakan Entong Gendut dimulai dari Kampung Condet hingga ke wilayah Tanjung Barat. Namun, perjuangannya terhenti hingga tahun 1920. Pada saat itu Entong Gendut ditangkap Belanda bersama tokoh gerakan Ki Dalang lainnya, yaitu Kiai Abdul Karim Nitikusuma, Kiai Ahmad Syari, & Entong Geger. Mereka berempat ditangkap & dibawa ke penjara di Jambi, Sumatera.

Tak beberapa lama, Kiai Ahmad Syari berhasil kabur kembali ke pulau Jawa. Sementara Kiai Abdul Karim sempat dipindahkan ke Tanjung Pinang, Riau & wafat di Rumah Sakit Sungai Liat tahun 1940. Sedangkan Entong Gendut & Entong Geger disebutkan meninggal dunia secara syahid di penjara & dimakamkan di Jambi.



Sumber
Hari ini 13:01
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.