Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
sumber : pixabay.com/steveriot1
Dibuka untuk tatap muka , salah belajar daring juga salah. Nah itulah dilema & problem pendidikan kita di tengah kasus covid-19 ini. Semenjak kasus ini merebak maret lalu semua pembelajaran dilakukan secara daring atau dalam jaringan. Hal ini bertujuan untuk mencegah penularan covid-19 yg memang akan rentan di usia anak-anak saat ini. Kita tahu semua bahwa anak-anak memang paling susah di atur protokol kesehatanya. Inilah yg menyebabkan anak-anak belajar di rumah masing-masing untuk menghindari kluster sekolah. Diharpkan dengan belajar daring ini anak-anak akan kondusif & tidak tertular covid-19. Apalagi kasus anak terkonfirmasi covid -19 memang cukup banyak.
Namun sudah hampir satu tahun ajaran sekolah daring ini dilakukan seabrek masalah terjadi. Pertama masalah perangkat yg dipakai untuk belajar daring. Tidak semua anak memiliki gawai atau laptop untuk pembelajaran. Hal ini menciptakan mereka terkadang harus menunggu orang tuanya pulang dari kerja dulu baru dapat mengpakai gawai. Jelas hal ini menciptakan keterlambatan mereka dalam mengikuti pembelajaran. Bahkan mereka hingga numpang ke rumah teman untuk berbagi gawai. Kita sudah mengetahui fasilitas penunjang pendidikan memang masih belum memadai.
Kemudian masalah kuota & jaringan. Kementerian Pendidikan & Kebudayaan memang sudah memberikan bantuan kuota belajar. Memang sangat menolong anak-anak dalam belajar daring. Apalagi tidak semua anak sanggup untuk membeli kuota belajar. Masalah terbesarnya adalah jaringanya . Tidak semua daerah mendapat akses jaringan yg bagus sehingga para siswa harus rela naik bukit bahkan ke daerah yg memiliki jangkauan sinyal. Hal itu tentu saja sangat menyusahkan siswa. Apalagi mengpakai aplikasi pertemuan online seperti zoom. Jika jaringan di daerahnya lemah bahkan tidak ada , pembelajaran mereka jadi terganggu. Jika demikan lalu untuk apa memberi kuota dengan jumlah banyak kalau jaringan di daerahnya minim.
Yang paling fatal adalah masalah supervisi orang tua & efektifitas belajar daring. Siswa yg orang tuanya bekerja seharian tentu saja tidak mendapatkan pengawasan. Selain itu orang tua yg mengawasi anak-anaknya menggantikan guru merasa sangat kerepotan & kewalahan. Hal ini tentu buruk karena kalau supervisi anak minim saat belajar mereka akan memanfaatkanya untuk bolos sekolah & mengerjakan hal negatif. Selain itu orang tua yg tidak terbiasa menggantikan tugas guru membimbing & mengawasi anak di rumah akan mengerjakan tindakan yg negatif kepada anak, Tentunya kita sering dengar penganiayaan anak saat belajar daring. Belajar daring juga dianggap tidak efektif karena anak tidak akan mengerti sepenuhnya tentang materi pelajaran khususnya hitung-hitungan. Hal ini menciptakan budaya copy paste tugas & plagiat akan terus dilakukan siswa .
Mendikbud kita Mas Nadiem Markarim pernah mengatakan bahwa belajar daring terlalu lama akan merusak masa depan anak. Maka dari itu tatap muka harus secepatnya dilakukan. Hal itu juga didukung oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) . Namun kenyataanya membuka sekolah tatap muka tidak semudah membuka pintu gerbang sekolah. Kasus covid-19 saat ini sedang berada di puncaknya. Selain itu pelaksanaanya juga akan memberatkan para guru & pelaksana sekolah yg harus mengontrol protokol kesehatan anak. Kita tahu sendiri kan di awal bahwa anak-anak sudah diatur protokol kesehatanya. Ikatan Dokter Indonesia Anak juga mengatakan bahwa terlalu beresiko memperlakukan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi yg melonjak. Karena ini menyangkut nyawa generasi penerus kita.
Serba salah jadinya pendidikan kita saat pandemi. Inilah tantangan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan untuk memaksimalkan pembelajaran daring ini. Infrastukrur pendidikan harus segera dibenahi supaya siswa sanggup mendapatkan akses jaringan & fasilitas belajar yg memadai. Selain itu penting juga edukasi orang tua mengenai supervisi & kerjasama dengan guru dalam belajar daring. Siswa juga mestinya fokus diberi pembelajaran tentang pentingnya protokol kesehatan supaya ketika tatap muka dilakukan, siswa jadi lebih paham & patuh dengan protokol.
Inilah diperlukan kerjasama antara pemerintah, sekolah, guru & orang tua siswa menghadapi serba salah pendidikan saat pandemi ini. Kerjasama ini bertujuan untuk membentuk kenyamanan & efektifitas belajar secara daring ini sehingga anak-anak sanggup mendapatkan hasil belajar yg maksimal walaupun secara daring.
Hari ini 21:14