Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pagi itu,saya menemukan sebuah kantong plastik hitam yg sengaja diletakkan oleh seseorang di celah atas pintu depan rumah saya.
Dengan penuh rasa penasaran,saya buka untuk mrlihat isinya.Ternyata itu adalah dompet saya yg beberapa hari lalu kecopetan.Saya segera memeriksa isinya,masih utuh & tidak ada yg berkurang.
Lama saya melihat dompet itu & melamun.Masih sulit untuk percaya.Seorang pencopet ,dalam keadaan perekonomian yg morat marit seperti ini,mengembalikan uang yg sudah di genggamnya,bukankah itu ajaib?
Bersama dgn dompet itu,saya juga menrmukan surat yg dilipat tidak rapi.Saya baca surat yg berhari hari kemudian tidak lepas dari pikiran & hati saya .
Isinya seperti ini
Ibu yg baik,ma'afkan saya sudah mengambil dompet ibu.Tadinya saya cuma harap mengembalikan dompet ibu saja ,tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu,maka saya tulis surat ini,semoga ibu mau membacanya.
Sudah empat bulan saya berhenti sekolah .Bapak saya di PHK & tidak sanggup membayar uang SPP yg berbulan bulan sudah nunggak,membeli alat alat sekolah & memberi ongkos .
Karena kemampuan keluarga yg minim itu,saya berpikir tidak apa apa saya sekolah hingga kelas 2 SMA saja.Tapi yg menciptakan saya sakit hati,bapak kemudian sering mabuk & berjudi..Adik saya yg 2 orang,semuanya keluar sekolah.Emak berjualan goreng gorengan yg dititipkan di warung warung.Adik adik saya menolong mengantarkannya.Saya berjualan koran,membantu bantu untuk beli beras.
Saya sadar,kalau keadaan seperti ini,saya harus berjuang lebih keras .Saya mau mengerjakannya.Dari pagi hingga malam saya bekerja.Tidak saja jualan koran,saya juga menolong nyuci piring di warung nasi & kadang saya juga jadi kuli angkut barang.Tapi uang yg pas pasan itu masih juga diminta bapak untuk memasang judi kupon gelap.Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat.
Selama ini belum pernah tebakan bapak tepat.Lagi pula emak yg taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi,saya yakin itu.Ketika bapak semakin sering meminta uang kepada emak,kadang sambil marah marah & memukul,saya tidak kuat untuk diam.Saya mengusir bapak & begitu bapak memukul,saya membalasnya hingga bapak terjatuh jatuh.Emak memarahi saya sebagai anak laknat.Saya sakit hati.Saya binggung.Mesti bagaimana saya? Saat emak sakit & bapak semakin jadi dengan judi buntutnya,sakit hati saya semakin menggumpal,tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa.
Hanya untuk membawa emak ke dokter saja saya tidak sanggup.Bapak yg semakin sering tidur entah di mana,tidak perduli.Hampir saya memukulnya lagi.Di jalan,saat saya jualan koran,saya sering merasa punya dendam yg akbar tetapi tidak tahu dendam oleh siapa & karena apa.Emak tidak dapat ke dokter.Tapi orang lain dapat dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya,sesekali bertelepon dengan handphone .Dan diseberang stopan itu,di warung jajan bertingkat,orang orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.Maka tekad saya,emak harus ke dokter.Karena dari jualan koran tidak cukup,saya merencanakan untuk mencopet.
Berhari hari saya mengikuti bus kota,tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.Keringat dharap malah membasahi baju.Saya gagal jadi pencopet.Dan begitu saya melihat orang orang belanja di toko,saya melihat ibu memasukkan dompet ke kantong plastik.Maka saya ikuti ibu.Di atas jembatan penyeberangan,saya pura pura menabrak ibu & cepat mengambil dompet.Saya gembira ketika mendapatkan uang 500 ribu lebih.Saya segera mendatangi emak & mengajaknya ke dokter.
Tapi ibu,emak malah menatap saya tajam.Dia menanyakan,dari mana saya dapat uang.Saya sebenarnya harap mengatakan bahwa itu tabungan saya ,atau meminjam dari teman.Tapi saya tidak dapat berbohong.Saya mengatakan sejujurnya,emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir butir air.Emak menangis.Ibu,tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini.Saya harap berteriak.Sekeras kerasnya.Sepuas puasnya.Dengan uang 500 ribu lebih sebenarnya saya dapat makan makan,mabuk,hura hura.Tidak apa saya jadi pencuri.Tidak perduli dengan ibu,dengan orang orang yg kehilangan.Karena orang orang pun tidak perduli kepada saya.Tapi saya tidak dapat mengerjakannya.Saya harus mengembalikan dompet ibu.Ma'af.
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca.Ada keharapan untuk mencari keberadaan pencopet itu tetapi binggung,kemana & bagaimana caranya.Saya bahkan tidak ingat wajahnya.
Berhari hari saya merenung,mencari cara untuk menemukannya....
Lelah berpikir,saya membaca & membaca lagi surat dari pencopet ituSurat sederhana itu menciptakan saya tidak tenang.Ada sesuatu yg mempengaruhi pikiran & perasaan saya.Diam diam air mata mengalir di mata saya.....
" Saya Tidak Lagi Silau Dengan Segala Kemewahan " Hari ini 15:15